Halal tapi Asing

Omelan Wardah

"Jujur aja, Ibu prihatin."

Aku diam menunduk, rasanya sikap ini lebih aman buatku.

"Anak sulung masuk rumah sakit. Dan satunya lagi hampir kabur dari rumah."

Kalimat ibu membuat jemariku perlahan mencengkeram ujung tas.

"Menurut kamu itu normal, Rin?"

"Maaf, Bu."

Wardah mengembuskan napas panjang, "Setiap kali ada masalah, kamu nangis."

Aku terdiam.

"Capek dikit nangis. Anak bermasalah nangis. Suami sibuk nangis." Suaranya terdengar tajam meski tidak meninggi. "Padahal jadi istri itu bukan cuma soal sabar."

Aku bisa merasakan tenggorokanku mulai mengencang. Kulirik, Nivean juga bergeser sedikit.

"Buu..." sela suamiku.

"Tunggu dulu." Wardah memotong putranya tanpa menoleh, tatapannya masih terpusat padaku. "Kamu pernah lihat diri sendiri di kaca, Rin?"

Deg. Aku membeku.

"Azarin, kamu cantik, tapi kamu terlalu lembek dan baperan."

Mataku langsung terasa panas. Tanpa sadar aku melirik pantulan diriku di kaca jendela. Hijab kusut, mata sembab, baju yang tidak matching, dan wajah pucat karena kurang tidur.

Wardah melanjutkan dengan suara tenang, "Perempuan-perempuan di sekitar Nivean setiap hari rapi. Wangi, pintar, menarik ... Lalu suamimu pulang dan menemukan istrinya selalu kucel."

Aku menunduk semakin dalam. Rasanya sakit sekali karena sebagian perkataan ibu tepat mengenai sisi yang selama ini berusaha tidak kulihat.

Kapan terakhir kali aku berdandan untuk Nivean?

Kapan terakhir kali aku menyambutnya tanpa wajah lelah?

Kapan terakhir kali aku menjadi istri, bukan sekadar ibu?

Astaghfirullah. Aku menggigit bibir bagian dalam. Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, suara lain tiba-tiba memotong ruangan.

"Bukan berarti Nivean benar kalau menjauhimu. Tapi jangan semua kesalahan dilempar ke dia."

"Nenek jangan salahin Bunda terus."

Semua kepala langsung menoleh.

Anakku duduk tegak sekarang, matanya mulai berkaca-kaca, "Nenek gak tahu apa-apa," ucapnya serak.

"Tisya," tegas Nivean.

Tapi Tisya sudah terlanjur menangis. "Bunda udah ngurus semuanya sendirian. Kenapa Nenek dan Papa selalu nyalahin Bunda."

"Tisya!"

Kali ini suara Wardah yang meninggi. Namun Tisya justru semakin berani. "Kalau Nenek ke sini cuma buat bikin Bunda sedih, mending pulang aja!" serunya bergetar lalu menutup wajahnya dengan selimut.

Ruangan mendadak hening. Aku langsung meraih tangan anakku. "Sayang..."

Tisya tersedu, dadaku ikut runtuh. Dibalik kemarahan anakku, aku tahu dia takut kehilangan keluarganya. Ketakutan melihat ayah dan ibunya semakin jauh.

Aku memeluk bahunya pelan seraya berdoa dalam hati, "Ya Allah... jika ini ujian untuk keluarga kami, jangan biarkan kami saling menghancurkan ketika sedang terluka. Lembutkan hati kami sebagaimana Engkau lembutkan hati orang-orang yang kembali kepada-Mu."

Saat aku mengangkat kepala, aku melihat Nivean sedang menatapku. Sorot matanya seolah menyiratkan bahwa dia baru menyaksikan betapa banyak luka yang diam-diam sudah menumpuk di rumahnya.

Tatapan Nivean masih tertahan padaku beberapa detik. Aku tidak menemukan kemarahan di sana, justru binar matanya terasa asing. Namun sebelum sempat kupahami, ibu sudah berdiri dari kursinya. Beliau merapikan tas di pangkuan lalu memandang ke arah Tisya.

"Kamu lihat?" tunjuknya pelan. "Ini yang Ibu maksud. Anak sekarang terlalu berani sama orang tua."

Aku menunduk. Sejak tadi berusaha menerima semua perkataan beliau dengan diam, meyakinkan diri bahwa mungkin memang ada bagian dari diriku yang perlu diperbaiki.

Bukankah seorang muslim diajarkan untuk lapang menerima nasihat, meski kadang datang dengan cara yang menyakitkan?

Tapi, mendengar Tisya menangis karena membelaku membuat dada ini terasa jauh lebih perih daripada semua kalimat yang ditujukan ibu padaku.

"Bu..." sebut Nivean, suaranya terdengar lebih berat.

"Nggak, Nivean." Ibu Wardah menggeleng. "Ibu cuma bilang apa yang Ibu lihat. Dari dulu Azarin terlalu pakai perasaan. Makanya anak-anak ikut jadi lembek."

Aku memejamkan mata sebentar. Selama ini aku memang hidup dengan perasaan. Menangis ketika takut, khawatir saat anak-anak terluka, memikirkan mereka bahkan ketika sedang makan atau mencoba tidur.

Aku menggenggam ujung tas lebih erat. Berusaha menjaga wajahku tetap tenang meski tenggorokan mulai terasa panas.

Ya Allah...

Kadang aku bertanya-tanya, apakah menjadi lembut terlihat seperti sebuah kelemahan di mata sebagian orang?

Bukankah Rasulullah juga mengajarkan kasih sayang? Bukankah hati yang lembut pun bisa menjadi bentuk kekuatan? Atau selama ini aku hanya sedang berusaha menjaga amanah yang Allah titipkan dengan kemampuan yang kumiliki?

"Cukup, Bu."

Ruangan mendadak sunyi.

Aku sampai mengangkat kepala. Begitu pula Ibu Wardah yang terkejut mendengar putranya memotong ucapan beliau.

Nivean berdiri dari kursi di samping ranjang lalu mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Matanya sembab karena kurang tidur.

"Aku ngerti Ibu khawatir," tuturnya pelan. "Tapi ini bukan waktunya."

"Kalau bukan sekarang kapan?" balas Ibu Wardah.

Nivean terdiam beberapa saat. Rahangnya bergerak samar, seolah sedang menelan sesuatu yang berat sebelum akhirnya berkata, "Karena masalah ini bukan cuma soal Azarin."

Jantungku berdetak lebih cepat.

"Maksud kamu?"

Nivean menunduk sesaat sebelum melanjutkan, "Tisya masuk rumah sakit, Saff hampir kabur ... bukan karenanya. Aku juga salah, Bu."

Aku membeku.

Selama bertahun-tahun menikah dengannya, aku sudah terbiasa mendengar pembelaan, alasan, atau kesibukan yang selalu menjadi tembok di antara kami. Namun hari ini, Nivean akhirnya mengakui bahwa dirinya juga turut melukai.

"Aku terlalu sibuk," lanjutnya pelan. "Kupikir selama uang ada, semuanya bakal baik-baik aja. Kupikir tugas sebagai kepala keluarga selesai ketika kebutuhan rumah terpenuhi."

Tatapannya beralih ke arah Tisya yang perlahan menurunkan selimut dari wajahnya. Mata anak kami masih merah karena menangis.

"Ternyata aku keliru."

Tenggorokanku mendadak tercekat. Aku menunduk cepat sebelum air mata kembali jatuh. Dalam hati, aku memanjatkan doa yang bahkan tidak sempat kurangkai dengan sempurna.

Ya Allah... jika Engkau sedang membuka hati kami satu per satu, jangan biarkan kami menutupnya lagi karena ego dan luka yang belum sembuh. Ajari kami untuk saling melihat sebagaimana Engkau melihat hamba-Mu dengan kasih sayang yang tidak pernah berkurang.

Ibu Wardah akhirnya duduk kembali, tidak menyela. Pandangannya tertuju pada Nivean, ia baru menyadari bahwa putra kebanggaannya ternyata sedang menambal retaknya rumah tangga.

"Jadi sekarang Ibu yang salah?" tanyanya pelan.

Nivean menggeleng. "Enggak ada yang lagi nyari kesalahan, Bu," ujarnya lemah, untuk sesaat, tatapannya beralih kepadaku, "Kita semua lagi berusaha benerin yang rusak."

Ruangan kembali hening.

Setelah dua hari yang penuh tangis, ketakutan, dan saling menyalahkan, aku merasakan sesuatu yang nyaris hilang dari keluarga kami.

Harapan.

Bukankah banyak hal besar bermula dari sesuatu yang kecil? Bahkan hidayah pun sering datang bukan dalam bentuk keajaiban yang menggelegar, melainkan hati yang akhirnya bersedia merendah dan berkata, aku salah, dan aku ingin memperbaikinya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!