Halal tapi Asing

Izin Tisya

Tisya terdiam cukup lama. Jemarinya memainkan pita kecil yang menempel di buket cokelat pemberian Wita.

Aku menatapnya sambil menahan napas. Persetujuan anakku terasa jauh lebih penting daripada tawaran pekerjaan itu sendiri.

Akhirnya Tisya mengangkat kepala. "Aku mau Bunda hepi," ucapnya melirikku. "Tapi..." lanjutnya pelan.

Wita langsung menunjuk. "Nah tuh. Ada tapinya. Berat daaaaaahh," keluhnya padahal Tisya belum meminta syarat apapun.

Tisya mendelik kesa, "Aku serius, Tante."

"Iya, iya. Lanjut."

Tisya memeluk buket di pangkuannya sebelum menoleh kepadaku. "Aku juga mau Bunda kayak dulu."

Aku mengernyit pelan.

"Dulu kita selalu makan malam bareng." Suaranya mengecil. "Setelah itu, kita ngobrol sambil liat TV atau main di ruang tengah," tuturnya kian lirih.

Deg.

Tisya menunduk. "Aku takut kalau Bunda kerja nanti malah makin capek."

Aku memandang wajah anakku lama sekali.

Ya Allah... Anak-anak memang hanya ingin orang yang mereka cintai tetap ada di rumah ketika mereka pulang.

Wita yang sejak tadi bersandar santai akhirnya ikut menghela napas. Perempuan itu menggaruk pipinya lalu mengangguk pelan. "Oke. Itu keinginan manis."

Tisya terlihat sedikit lega karena pendapatnya dianggap serius, senyum manisnya terulas tipis membuat wajahnya bersemu senang.

Aku menoleh pada Wita. "Part-time aja gak sih?"

"Hm?"

"Sampai jam tiga misalnya," kataku mencoba negoisasi, berharap Wita menyampaikan keinginanku. 

Wita langsung mengangkat kedua bahu. "Lah, mana gue tahu. Itu kan bukan florist gue." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Gue cuma makhluk perantara, kek makelar kontrakan," kilahnya.

Tisya terkekeh.

Wita semakin semangat. "Jaman sekarang emang karyawan suka ngadi-ngadi," sindirnya melirikku.

"Julid," gumamku.

"Ya memang." Ia tertawa tanpa dosa. "Tapi coba nanti gue tanyain."

Perempuan itu lalu berpikir beberapa saat sambil mengetuk-ngetukkan jari ke meja kecil di samping ranjang. 

"Tapi sebenarnya..." katanya pelan.

Aku dan Tisya sama-sama menoleh.

"Menurut gue masalahnya bukan soal kerja atau enggak kerja."

Aku mengernyit.

"Masalahnya, elooooo udah lama hidup kek zombie ... Bergerak otomatis buat semua orang." Wita menunjuk ke arahku menggunakan dagunya lalu mengembuskan napas panjang. "Kerja di florist mungkin bukan solusi semua masalah."

"Lalu?" tanyaku.

"Tapi setidaknya itu alasan buat keluar sebentar dan ingat kalau lo masih punya panggilan selain Bunda."

Di sampingku, Tisya perlahan menyandarkan kepalanya ke bahuku. "Kalau Bunda seneng... Gapapa," gumamnya.

Aku mengusap rambutnya pelan, tenggorokanku terasa tercekat kala mendengar ucapan tulusnya.

Di luar jendela, cahaya sore mulai berubah keemasan. Antara aroma donat, bunga, dan obat-obatan rumah sakit yang samar, aku memandang Tisya yang kini lebih ceria.

Belum ada masalah yang selesai. Anak-anak masih butuh ditenangkan, hubunganku dengan Nivean pun seperti benang kusut yang belum tahu harus dimulai dari ujung mana.

Harapan memang tidak serta merta muncul menyelesaikan segalanya. Kadang itu berwujud seorang sahabat yang menguatkan, dan sebuah kemungkinan kecil yang membuat seseorang berani percaya bahwa hidupnya belum selesai.

Kulihat Wita meraih ponselnya dan mengirim pesan entah pada siapa. Tak lama kemudian layar ponselnya menyala. Ia membaca balasan itu beberapa detik sebelum menyeringai.

"Nah. Besok kalau lo mau, bisa ketemu owner-nya dulu."

Aku membeku sesaat. "Be-sok?" gagapku.

"Iya. Interview doang, bukan akad nikah," sahutnya santai.

"Inter-vview?" ejaku, mengerjapkan mata beberapa kali.

"Apa!" Mata Wita mendelik, "Interview itu buat kenalan, bukan buat ngadopsi lo."

Aku menggeleng geli menahan tawa, padahal hanya wawancara kerja, tapi membuat jantungku berdebar. Rupanya aku terlalu berkutat dalam rutinitas yang sama sampai merasa asing pada aktivitas sederhana lainnya.

Wita yang melihat ekspresiku langsung mendecak, "Jangan mulai."

Aku berkedip.

"Lo lagi mikir baju apa yang dipakai, ngomong apa, duduknya gimana, napasnya berapa kali per menit, kan?"

Aku dan Tisya langsung terkekeh.

"Tuh kan!" serunya sambil menunjuk wajahku. "Gue kenal muka overthinking lo."

"Aku belum mikir sejauh itu kali."

"Bohong," sergah Wita.

"Rin." Ia berdiri sambil menyampirkan tas ke bahu. "Itu wawancara biasa, ngobrol doang. Bukan sidang akhirat," tegasnya.

Aku memonyongkan bibir, paham jika dia bakalan kultum setelah ini.

"Bukan lagi dibacain catatan amal sama malaikat. Santai aja lagian."

"Tetep aja kan..."

Wita memutar bola matanya jengah, "Owner-nya perempuan."

Aku diam, belum paham maksud ucapan Wita.

"Normal."

Aku mengangkat alis.

"Setahu gue kagak demen sesama."

Aku langsung tertawa sampai bahuku berguncang.

"Jadi lo gak perlu repot-repot deg-degan kek mau dilamar."

"Oke, oke."

"Nah gitu. Masih ada delapan belas jam lebih."

"Sebelas..." koreksiku.

"Ckck, dia malah udah ngitung," semburnya geleng-geleng.

Aku tertawa semakin keras.

"Pokoknya jangan dipikirin terus. Nanti rambut lo berubah putih semua kek Pak Ganjar."

"Hahahaha..." Aku sampai menutup mulut karena tertawa terlalu keras.

"Langsung ganti kelamin dong ya, jadi lakik?"

Kami tertawa... Wita lantas menepuk meja kecil di samping ranjang.

"Nah, tawa dah, jangan tegang mulu."

Tawa kami berangsur reda. Tak lama kemudian Wita benar-benar pamit. Ia mencium kening Tisya, memelukku sebentar, lalu berjalan keluar sambil tetap mewanti-wanti agar aku tidak menghubunginya tengah malam hanya untuk bertanya warna jilbab yang cocok dipakai besok.

"Aku blokir lo kalau begitu."

"Jahat," rutukku.

"Aku sayang kesehatan mentalku."

Pintu pun tertutup. Ruangan kembali tenang. Tisya sudah kembali berbaring. Buket cokelat itu masih dipeluknya di dada sementara matanya mulai mengantuk. Aku duduk di kursi dekat ranjang sambil membereskan beberapa bungkus makanan dan gelas bekas di meja kecil.

Ponselku bergetar, pesan masuk dari Nivean.["Aku jemput Saff dulu. Sekalian pulang bentar buat mandi dan ambil beberapa barang. Nanti balik lagi ke RS."]

Aku membaca pesan itu dua kali sebelum meletakkan ponsel di atas nakas.

Benar juga. Sejak tadi aku terlalu sibuk memikirkan tawaran Wita sampai melupakan satu hal yang cukup penting. Kalau benar-benar diterima di toko florist itu, aku harus membicarakannya dengan Nivean.

Jemariku perlahan menggenggam ponsel. Entah kenapa rasa gugup yang tadi sempat hilang kembali muncul.

Bukan karena wawancaranya, melainkan karena aku tidak tahu bagaimana suamiku akan menanggapinya.

Di luar jendela, langit sore mulai berubah menjadi jingga keunguan. Aku memandang warna-warna itu beberapa saat sambil menghela napas panjang.

Ya Allah... kalau memang ini langkah yang baik, mudahkanlah. Dan jika ini cara-Mu mengajarkanku kembali mengenali diriku sendiri, semoga aku tidak berhenti di tengah jalan karena takut melangkah.

Aku masih memandangi langit yang perlahan menggelap ketika ponsel di tanganku kembali menyala. 

Sebuah pesan masuk, kubaca perlahan. ["Mbak Azarin sehat? maaf ya kalau aku lancang. Cuma kok rumahnya sepi banget beberapa hari ini. Tisya sama Saff gak kelihatan, Mbak juga enggak. Kemarin cuma lihat Mas Nivean buru-buru keluar rumah. Semua baik-baik aja kan? Jangan sungkan kalau butuh bantuan ya."]

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!