Halal tapi Asing
Coba saja dulu
Kini gantian Nivean yang terlihat bingung, "Maksudnya?"
"Gitu doang jawabannya?" sergahku sebal.
Ia memandangku beberapa detik, lalu tertawa hambar sambil mengusap wajahnya. "Bukannya tadi aku udah bilang kurang setuju?"
"Iya."
"Lalu sekarang aku kasih kamu kebebasan," lanjut Nivean, heran memandangku.
"Tapi kedengarannya kayak gak peduli," cecarku diikuti kerutan tipis di dahi.
Nivean terpaku, dan aku pun menyesal sesaat kemudian.
Beberapa detik berlalu tanpa suara, kemudian suamiku menundukkan kepala sambil menatap kedua tangannya sendiri.
"Terus maumu aku jawab apa, Rin?"
Kali ini giliran aku yang membeku. Intonasi suara Nivean biasa saja tapi rasanya aku sudah menyinggungnya.
Nivean mengangkat kepala perlahan. "Kalau aku larang, kamu kecewa."
Tatapannya bertemu denganku.
"Kalau aku izinin, kamu bilang aku gak peduli," helanya seraya melirikku.
Aku tidak bisa menjawab karena sebagian dari ucapannya memang benar.
"Jadi aku harus gimana?"
Untuk beberapa saat kami hanya saling memandang dalam diam. Di binar matanya, aku melihat kebingungan seorang lelaki yang ternyata tidak selalu tahu jawaban yang benar untuk keluarganya sendiri.
Aku menunduk lebih dulu, jemariku sibuk merapikan lipatan gamis yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi.
"Aku nggak tahu," gumamku.
Nivean menghela napas pelan lalu menyandarkan punggung ke sofa. "Aku juga nggak tahu."
Aku menoleh tepat saat Ia tertawa samar.
"Sumpah, Rin." Nivean mengusap wajahnya. "Aku bahkan nggak ngerti kenapa obrolan ini bisa bikin aku merasa lagi ujian."
Sudut bibirku bergerak tipis, ternyata dia merasakan hal yang sama.
"Aku cuma..." Aku berhenti sejenak. "... pengen didengerin aja."
Nivean masih diam, pandangannya turun ke lantai beberapa saat sebelum kembali padaku. "Bukannya dari tadi aku dengerin?" katanya heran.
"Beda."
"Apa bedanya?"
Aku menggigit bibir bawah pelan, rasanya sulit menjelaskan sesuatu yang bahkan aku sendiri baru menyadarinya beberapa menit lalu.
"Aku nggak butuh izin doang."
Kening Nivean langsung berkerut. "Lalu?"
Aku menarik napas panjang, seraya berujar ragu, "Aku pengen kamu nanya kenapa aku sampai pengen kerja." Aku melanjutkan sebelum keberanianku habis. "Semua orang hari ini bilang aku kurang ini, kurang itu."
Mataku beralih ke jendela, diikuti senyum pahit muncul di bibir. "Aku juga tahu nggak serapi dulu. Kadang lihat foto-foto lama terus mikir..." Aku menunduk. "Kok bisa ya aku seberubah ini."
Sunyi.
"Terus florist ini muncul," ucapku mengangkat bahu pelan. "setelah sekian lama..." lirihku, "Aku ngerasa tertarik sama sesuatu."
Nivean masih diam. Aku tidak tahu apakah sikapnya ini pertanda baik atau buruk.
"Terdengar egois ya?"
"Tidak."
Aku langsung menoleh, dan kudapati Nivean sedang menatapku lekat.
"Aku cuma nggak kepikiran sampai sejauh itu," ucapnya seraya mengusap tengkuknya lagi, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali sedang merasa bersalah. "Aku kira kamu cuma bosan di rumah."
"Aku memang bosan."
"Tapi?"
Aku tersenyum tipis. "Beda antara bosan sama kehilangan diri sendiri."
Nivean menundukkan kepala sambil mengembuskan napas berat. "Aku nggak sadar."
Hatiku mencelos, karena percaya ia memang tidak sadar.
Ya Allah... Ternyata kadang masalah dalam rumah tangga bukan karena ada yang jahat.
Melainkan karena dua orang yang sama-sama lelah. Hidup berdampingan tanpa benar-benar melihat satu sama lain.
Nivean mengangkat kepala lagi. "Besok wawancaranya jam berapa?"
Aku berkedip. "Jam sembilan."
Ia mengangguk pelan, mungkin hatinya masih ragu. Namun, suamiku lantas berkata dengan suara yang jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. "Kalau memang mau coba, coba aja."
Aku memandangnya tanpa berkedip. "Serius?"
"Serius."
"Tadi katanya nggak setuju," kesalku langsung mendelik padanya.
Tapi, Nivean malah terkekeh, "Itu beda sama melarang."
Aku akhirnya tertawa kecil. Baru beberapa menit lalu kami hampir berdebat, sekarang justru duduk berdampingan menertawakan hal receh.
Suasana kamar kembali tenang. Dari ranjang, napas Tisya terdengar teratur. Sementara Saff tertidur menyamping di sofa dekat jendela dengan hoodie menutupi sebagian wajahnya.
Aku memandang kedua anak itu sesaat sebelum kembali menoleh pada Nivean.
"Ibu bilang apa pas diantar pulang?"
Senyum tipis di wajah suamiku perlahan memudar. Nivean menyandarkan siku di lutut lalu mengusap kedua telapak tangannya. "Lumayan banyak."
Aku menghela napas pelan. "Tentang aku?"
Ia melirikku sekilas lalu mengangguk. "Tentang rumah tangga kita juga."
Perutku langsung terasa mengencang karena sudah bisa menebak arahnya.
"Ibu masih mikir aku terlalu memanjakan kamu," jelas Nivean.
Aku terkekeh hambar. "Tentu saja."
Nivean ikut mengembuskan napas pendek. "Menurut Ibu, aku terlalu sering diam kalau kamu salah."
Aku memandangnya beberapa detik. "Lalu Mas jawab apa?"
Suamiku terdiam sejenak. "Aku bilang nggak semua yang Ibu lihat itu adalah yang sebenarnya."
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Untuk ukuran Nivean, kalimat itu sudah termasuk pembelaan yang cukup besar. Ia menatap lantai beberapa saat sebelum melanjutkan, "Ibu tetap nggak setuju."
"Yaiyalaaaahh." Kali ini kami berdua mengucapkannya bersamaan. Aku tertawa sampai Nivean menggeleng melihat reaksiku.
"Ibu cuma khawatir."
Aku tahu, di balik semua komentar tajam itu, Ibu Wardah mencintai anaknya dengan cara yang ia pahami. Hanya saja, bahasa cintanya sering meluap dengan wujud yang sulit diterima.
Aku menunduk memandangi jemariku sendiri. "Kalau Ibu tahu aku mau kerja..."
Kalimat itu menggantung. Aku bahkan tidak perlu menyelesaikannya, sebab Nivean pasti sudah paham.
"Iya."
Aku menghela napas panjang. "Kayaknya beliau bakal mikir aku gagal total jadi istri," keluhku.
Nivean mengangkat alis. "Kok lompatnya sejauh itu?"
Aku menoleh cepat. "Lah, ibu baru lihat aku kucel dua hari langsung dikuliahin hampir satu jam."
Aku bersandar ke kursi. "Beliau udah nggak setuju aku begini." Tanganku menunjuk gamis dan hijab yang masih jauh dari kata rapi. "Apalagi kalau tahu aku keluar rumah buat kerja."
Nivean mengamati wajahku cukup lama. "Rin."
"Hm?"
"Kamu mau kerja buat Ibu atau buat diri sendiri?"
Aku terdiam, Nivean melanjutkan dengan nada tenang, "Kalau tujuan hidup kita supaya semua orang setuju, nggak akan pernah selesai."
Aku memandangnya.
"Aku udah tiga puluh sekian tahun hidup jadi anak Ibu." Sudut bibirnya bergerak tipis. "Percaya deh. Yang kita lakuin nggak mungkin bikin beliau setuju seratus persen."
Tawa kecil lolos dari bibirku.
"Lagian..." lanjut Nivean sambil menyandarkan punggung ke sofa. "Ibu juga nggak harus tahu semua hal di hari pertama."
Aku langsung menoleh. "Mas!"
"Apa?"
"Mas nyuruh aku nyembunyiin?"
"Aku nyuruh kamu wawancara dulu."
Aku menatapnya tidak percaya. Suamiku yang biasanya paling lurus soal segala sesuatu malah terdengar cukup diplomatis malam ini.
Ia mengangkat bahu santai. "Kalau belum tentu diterima, ngapain bikin pengumuman dulu?"
Benar, aku kan belum tentu jadi bekerja. Kenapa sudah sibuk membayangkan ceramah Ibu Wardah sampai lima episode ke depan.
Sejurus itu, ponselku kembali bergetar. Satu pesan baru dari Emina muncul di layar.
["Kak, serius deh. Aku kepikiran. Jangan-jangan kalian pisah ranjang ya?"]
Aku menatap layar itu selama tiga detik, lalu menyerahkan ponselku begitu saja kepada Nivean agar ia membaca pesannya.
Dia menutup mata sambil mengembuskan napas panjang. "Aku telepon dia sekarang juga."
.
.