Halal tapi Asing

Duo Kepo

Aku menatap layar ponsel selama beberapa detik tanpa berkedip, sebab di tengah segala hal yang benar-benar sedang kami hadapi, pertanyaan Emina justru terasa lucu.

["Jangan-jangan kalian pisah ranjang, ya?"]

Di luar kamar rawat, suara langkah kaki terdengar sedikit ramai. Mungkin jam besuk sudah mulai dibuka, bersamaan dengan kunjungan dokter dan suster ke kamar perawatan saat pergantian shift. 

Lampu-lampu koridor mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya senja yang sejak tadi perlahan tenggelam di balik jendela.

Aku mengembuskan napas panjang lalu menyerahkan ponsel itu begitu saja ke Nivean. "Mas baca deh."

Nivean menerima ponselku dengan ekspresi heran. Namun baru beberapa detik membaca isi pesan itu, kepalanya langsung terangkat menatap langit-langit kamar.

Matanya terpejam seiring terdengar helaan napas panjang yang membuatku harus menggigit bibir menahan tawa.

"Aku telepon dia sekarang juga."

Aku tersenyum menunduk, merasa senang bahwa Nivean menjadi pelindung rumah tangga kami lagi. Barangkali juga karena hari ini terlalu melelahkan, sampai reaksi sederhana seperti itu pun terasa lucu.

"Kasihan amat Emina."

"Kasihan apanya?" balas Nivean sambil mengembalikan ponselku. "Dia udah masuk fase investigasi urusan orang lain, nggak sopan," sungut Nivean.

Aku terkekeh pelan, rasanya cukup menyenangkan melihat ekspresi kesal suamiku pada adik iparnya. 

Nivean lantas bergumam sambil mengetik di ponselnya. Dia berkirim pesan pada Naturaz, adik kandungnya agar menegur Emina untuk tidak ikut campur terlalu dalam.

Ia juga menambahkan satu pesan, masih mengetik dengan ekspresi serius. Aku mengintip dari samping bahunya.

["Kami baik-baik aja. Tisya masih dirawat. Doain cepat sembuh saja, Raz."]

Aku langsung memandangnya tidak percaya, "Segitu doang?"

"Iya."

Wajahku masih melongo kaku, tapi ponselku kembali bergetar, satu pesan baru muncul lagi dari Emina.

["Aku serius, Kak. Kalau kalian lagi berantem bilang aja. Aku janji gak bakal cerita ke siapa-siapa."]

Aku membaca kalimat itu dan menoleh pada Nivean. Ternyata dia melihat pesan tersebut. Beberapa detik kami saling pandang.

"Lho?" katanya, "nggak kapok juga kutegur," decak suamiku geleng kepala.

Aku langsung tertawa sampai bahuku berguncang sementara Nivean mengusap wajahnya pasrah, lalu bersamaan menghela napas.

"Tuh kan," gumamku.

"Hebat juga."

"Apa?" Tanyaku heran.

"Jaringan informasinya."

Aku memukul pelan lengannya, tapi Nivean malah tersenyum tipis, "Baru beberapa jam lewat, udah dianalisis satu komplek."

Aku memandangi kedua anakku beberapa saat sebelum bersandar ke kursi.

"Mas?"

"Hm?"

Aku menoleh kepadanya. "Kalau besok aku diterima..."

Nivean ikut menengok ke arahku. "...kita bahas lagi." Sorot matanya melembut saat memandangku, membuat dada ini berdebar pelan. 

Ya Allah... Aku belajar jadi istri yang baik, tapi tolong ingatkan suamiku bahwa aku juga sesekali ingin jadi pacarnya lagi.

Kadang hidup memang aneh. Siang tadi aku terduduk kaku di depan ibu mertua saat anakku membentak neneknya. Dan sore ini aku hampir berdebat dengan Nivean. Malamnya justru tertawa karena adik iparku sedang berusaha menjadi detektif keluarga.

Bukankah hati manusia memang seperti itu?

Tidak pernah Allah biarkan terus berada dalam satu musim. Ada saatnya hujan turun deras sampai terasa menyesakkan, lalu tanpa diduga, Dia sisipkan jeda berupa tawa kecil agar seseorang tidak benar-benar tenggelam dalam sedihnya.

***

Setelah semalam hanya tidur beberapa jam di kursi rumah sakit, tubuhku masih terasa berat ketika membantu Tisya mengenakan jaketnya. Anak itu sudah jauh lebih baik. Dokter mengizinkan pulang dengan catatan tetap beristirahat selama beberapa hari.

Saff berjalan di samping kami sambil membawa tas sekolahnya. Sesekali bocah itu menguap lebar.

Nivean mengantar kami sampai area parkir sebelum akhirnya harus kembali ke kantor.

"Aku langsung ke meeting setelah ini," katanya sambil merapikan kerudungku yang sedikit terselip di bahu.

Gerakan sederhana itu membuatku berkedip heran. Sudah lama sekali rasanya tidak diperlakukan selembut itu.

"Mas..."

"Hm?"

"Hati-hati."

Nivean mengangguk lalu menepuk kepala Saff dan Tisya bergantian sebelum masuk ke mobil.

Aku memperhatikannya pergi sampai kendaraan itu menghilang dari pelataran rumah sakit.

Ya Allah... Semoga ini bukan sekadar jeda tenang sebelum badai berikutnya.

Satu jam kemudian aku sudah duduk di ruang konseling sekolah Tisya.

Ruangan itu tidak besar. Hanya ada beberapa pot tanaman kecil di dekat jendela dan rak buku yang memenuhi satu sisi dinding.

Di hadapanku, beliau dan wali kelas Tisya tampak membuka beberapa catatan.

"Tisya sebenarnya anak yang baik, Bu Azarin."

Aku mengangguk pelan.

"Tapi akhir-akhir ini emosinya berubah." Guru itu menatapku hati-hati. "Dia jadi lebih mudah marah," ungkapnya pelan sambil menepuk lembut buku di hadapannya.

Aku menunduk sesaat, tapi masih mendengarkan. Rasanya seakan aku yang sedang dibacakan catatan amalan, bukan Tisya.

"Beberapa kali menangis di sekolah."

Jemariku saling menggenggam.

"Lalu minggu lalu..." beliau berhenti sejenak. "Tisya sempat adu mulut dengan temannya."

Aku mengangkat kepala cepat. "Apa?"

Guru itu mengangguk. "Temannya bercanda ke teman lain, mengejek soal orang tua yang bercerai."

Deg.

"Dan Tisya malah langsung bereaksi," jelasnya dengan tatapan kuatir.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba semuanya terasa masuk akal. Sikap dinginnya, tatapan mata yang menghindari kami juga keberaniannya memberontak.

Anakku ternyata sedang trauma. Kupejamkan mata perlahan, keduanya sama-sama terluka, hanya beda cara bereaksi saja.

Ketika keluar dari ruang BK, langkahku terasa lebih berat. Angin pagi berembus pelan di koridor sekolah, membawa suara anak-anak yang mulai memenuhi kelas masing-masing.

Aku menuruni anak tangga menuju area parkir sebelah yang lebih luas. Sekolah Tisya dan Saff berada dalam satu kompleks pendidikan yang sama. Gedungnya berbeda, hanya dipisahkan oleh tembok serta gerbang penghubung di tengah area sekolah. 

Setelah menemui guru BK Tisya, aku masih harus bertemu wali kelas Saff. Namun, baru beberapa langkah melewati gerbang penghubung, seseorang memanggilku dari belakang.

"Mbak Azarin."

Aku menoleh, sesaat langkahku terhenti. Kahfiel berdiri beberapa meter dariku sambil membawa map dan beberapa lembar berkas.

Kemeja putihnya tergulung sampai siku, sementara senyum tipis yang familiar itu masih sama seperti terakhir kali kulihat.

"Selamat pagi."

Entah kenapa aku suka sekali melihat senyuman itu. Seolah memberikan energi positif untukku yang sedang berjibaku dengan kepenatan. 

Bibirku setengah terbuka ketika ingin bertanya padanya, apa gerangan yang membawanya ke sekolah hari ini? Tapi aku mendadak teringat bahwa satu jam lagi harus menghadiri wawancara kerja pertamaku setelah bertahun-tahun menjadi ibu rumah tangga.

Jantungku langsung berdegup dua kali lebih cepat, tepat saat dia berdiri tak jauh dariku sehingga aku bisa mencium wangi parfumnya.

Sementara itu, mataku tanpa sengaja jatuh pada map yang sejak tadi dibawanya. Rasa penasaranku muncul begitu saja.

"Itu laporan apa?" tanyaku spontan.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!