Halal tapi Asing
Jurnal Anak
"Itu laporan apa?" tanyaku spontan.
Kahfiel mengikuti arah pandangku lalu mengangkat map cokelat di tangannya sedikit.
"Laporan perkembangan Ero." Senyum tipisnya masih ada. "Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani saya," jelasnya.
Dadaku yang sejak tadi menegang, semakin tidak nyaman. "Siswa bermasalah?" tanyaku cepat.
Kahfiel terlihat sedikit terkejut, lalu tertawa pelan, "Mbak Azarin, kalau saya bawa map bukan berarti isinya dosa-dosa anak."
Aku ikut tersenyum kikuk, meski rasa khawatir belum benar-benar hilang. Sejak keluar dari ruang BK tadi, pikiranku jadi sensitif terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak.
Tanganku tanpa sadar menggenggam tali tas lebih erat. "Maaf," gumamku pelan. "Lagi sedikit overthinking."
"Kelihatan."
Aku mendelik.
Kahfiel mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Bukan kritik loh ya."
"Terus?"
"Observasi," sanggahnya mengulas senyum samar.
Aku mendengus pelan, membuat lelaki itu kembali terkekeh.
Angin pagi berembus di antara deretan gedung sekolah. Dari lapangan terdengar suara peluit olahraga dan teriakan anak-anak yang sedang berbaris. Suasana ramai itu justru membuat pikiranku semakin semrawut.
Aku melirik jam tangan, satu jam lagi wawancara dan masih harus menemui wali kelas Saff.
Setelahnya mau pulang sebentar sekedar memastikan Tisya baik-baik saja. Tapi di depanku ada Kahfiel dengan map yang sejak tadi sukses membuat jantungku bekerja ekstra pagi ini.
Saff tidak mengatakan aku harus menandatangani apapun perihal dia berantem dengan Ero. Tapi Kahfiel kok mengatakan soal perkembangan siswa? Apa maksudnya?
"Mbak mau ke ruang guru?" tanyanya membuyarkan lamunanku. Dia rupanya memperhatikan arah pandangku tadi ke area sekolah dasar.
Aku mengangguk pelan. "Mau ketemu wali kelas Saff."
Kahfiel terlihat berpikir sesaat sebelum menggeser map ke bawah lengannya. "Kalau begitu kita searah. Saya juga mau ke sana."
Langkahku terhenti sepersekian detik, bukan karena harus berjalan bersama Kahfiel. Melainkan tiba-tiba muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Sepanjang perjalanan, aku nyaris tidak benar-benar mendengar apa yang dibicarakan Kahfiel. Kepalaku terlalu penuh oleh Tisya, Saff, wawancara kerja, dan catatan dari guru BK yang masih terngiang jelas di telinga.
Sesampainya di ruang guru, kami berpisah menuju meja masing-masing. Kahfiel menghampiri seorang guru pria di ujung ruangan, sementara aku dipersilakan duduk di depan wali kelas Saff.
Awalnya aku mengira pertemuan itu hanya akan berlangsung sebentar. Eh, ternyata tidak.
Setelah berbincang beberapa menit mengenai perkembangan akademik Saff yang masih tergolong baik, wali kelasnya membuka laci meja lalu mengeluarkan sebuah map cokelat yang hampir sama dengan milik Kahfiel.
"Ini lembar observasi semester berjalan, Bu."
Aku menerimanya dengan bingung. Beberapa lembar pertama berisi nilai dan catatan akademik seperti biasa. Namun semakin ke belakang, isinya membuat mataku membola.
Ada kolom observasi perilaku, perubahan emosi, interaksi sosial, pola makan, kondisi fisik dst. Aku membaca catatan wali kelas dan konselor sekolah. Prestasi Saff tetap stabil, namun ekspresi emosional cenderung tertutup.
Aku memejamkan mata sesaat.
Ya Allah... Bahkan sekolah memperhatikan perubahan anakku. Sementara aku yang tinggal serumah justru baru benar-benar menyadarinya sekarang.
"Jangan terlalu khawatir, Bu Azarin," ujar wali kelasnya lembut, seolah memahami apa yang sedang kurasakan. "Saff masih termasuk anak yang sangat baik. Dia juga tidak menunjukkan perilaku negatif."
Aku mengangguk pelan.
"Tidak ada pelanggaran, masalah pergaulan atau indikasi pelarian ke hal-hal berisiko," bebernya tersenyum tipis.
Ketika pertemuan selesai, aku berdiri sambil memeluk erat map di dada.
Di seberang ruangan, Kahfiel tampak masih berbicara dengan guru yang tadi ditemuinya. Sesaat pandangan kami bertemu.
Aku langsung melirik arloji dan refleks membulatkan mata sebab waktuku hampir habis.
Sedikit panik aku segera memasukkan berkas ke dalam tas lalu berpamitan sebelum benar-benar berlari menuju area parkir.
Di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin, aku segera melakukan panggilan video. Beberapa detik kemudian wajah Tisya muncul di layar. Rambutnya masih sedikit berantakan. Anak itu duduk di sofa rumah sambil memeluk bantal.
"Ya, Bun?"
"Udah makan?"
"Udah."
"Minum obat?"
"Udah juga."
Aku mengamati wajahnya beberapa saat, memastikan warna pipinya sudah jauh lebih baik dibanding kemarin.
Tisya memiringkan kepala. "Kenapa?"
Aku menghela napas sambil menyandarkan kepala ke kursi. "Ini wawancara pertama Bunda setelah bertahun-tahun."
Tisya mengangguk santai sambil berkata, "Kalau gagal ya tinggal pulang."
Anak itu melanjutkan sambil mengangkat bahu. "Kalau berhasil ya pulang juga."
Aku langsung tertawa. Benar juga, sesederhana itu.
"Bun, hati-hati," ucapnya diikuti sorot mata Tisya yang melembut.
Panggilan video itu berakhir beberapa menit kemudian, tetapi wajah Tisya masih tertinggal di kepalaku saat mobil mulai bergerak meninggalkan area sekolah.
Jalanan pagi sudah mulai ramai. Deretan motor memenuhi lampu merah, sementara beberapa pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Aku menggenggam setir sedikit lebih erat sambil sesekali melirik jam di dashboard.
Aku mengembuskan napas panjang. Selama ini aku terlalu sibuk mengkhawatirkan apakah aku ibu yang cukup baik, sampai lupa bahwa anak-anak ternyata tidak menuntut kesempurnaan.
Bangunan toko itu berdiri di sudut jalan yang cukup ramai. Dari luar, deretan bunga berwarna-warni memenuhi etalase kaca hingga tampak seperti potongan taman yang sengaja dipindahkan ke dalam toko.
Aku bahkan belum sempat memarkir kendaraan dengan sempurna ketika seseorang melambai-lambaikan tangan dari depan pintu.
Wita berjalan cepat menghampiriku sambil membawa gelas kopi di tangannya. "Nah, akhirnya datang juga calon pengangguran yang mau naik level."
Aku memutar bola mata. "Paaaaagi Tanteeee."
"Pagi, Ndorooo." Ia melirik wajahku beberapa detik lalu langsung menyipitkan mata. "Lo tidur nggak semalem?"
"He em."
"Aura kebohongan dominan. Alismu agak miring kalau tegang, Rin," kekehnya.
Aku mengembuskan napas pelan sambil membenarkan ujung kerudung yang entah kenapa sejak tadi terasa tidak pas. Jujur saja, aku memang tegang.
Wita tertawa. "Lo tuh lucu. Baru wawancara udah mikirin kemungkinan gagal sampai generasi ketiga."
Meski kesal, aku tetap ikut tersenyum karena di balik cara bicaranya yang seenaknya, Wita sedang berusaha membuatku bernapas normal lagi.
Beberapa menit kemudian aku berdiri di depan pintu ruang kantor kecil di lantai dua.
Di balik panel itu, ada seseorang yang akan menentukan apakah langkah kecil yang sedang kucoba ambil bisa berlanjut atau tidak.
Jemariku terasa dingin, tanpa sadar mengusap telapak tangan ke sisi gamis.
Ya Allah... Aku pernah melahirkan dua anak, begadang berhari-hari menjaga mereka sakit dan kebal menghadapi ibu mertua yang kadang tantrum.
Tapi kenapa justru wawancara kerja sederhana seperti ini membuat lututku terasa lemas?
.
.