Halal tapi Asing

Wawancara

Aku memejamkan mata sesaat, menyadari kekuatiran terbesarku bukan wawancaranya, melainkan ketakutanku sendiri.

Ketakutan untuk mencoba sesuatu, takut gagal setelah terlalu lama berhenti dan merasa jauh tertinggal dari orang lain.

Aku mengembuskan napas panjang lalu merapikan kerudung sekali lagi.

Pintu di depanku terbuka.

Seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan keluar sambil membawa beberapa berkas. Senyumnya ramah ketika berpapasan denganku.

"Bu Azarin?"

Aku langsung berdiri lebih tegak. "Iya."

"Silakan masuk."

Deg. Jantungku kembali berulah.

Aku sempat melirik ke belakang, di ujung koridor, Wita sedang berdiri sambil menyandarkan tubuh ke dinding. Perempuan itu mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi.

Aku spontan mendelik tapi Wita malah membentuk gerakan bibir tanpa suara, "Jangan pingsan."

Aku hampir tertawa, bahkan dalam momen sepenting ini, sahabatku masih sempat-sempatnya membuatku ingin melempar sandal.

Pintu perlahan kututup di belakang tubuhku.

Ruangan itu tidak besar, tetapi terasa hangat. Aroma bunga segar samar memenuhi udara. Beberapa rangkaian bunga kering tertata rapi di rak kayu dekat jendela sementara cahaya matahari masuk melalui tirai tipis berwarna krem.

Di balik meja kerja duduk seorang perempuan yang langsung berdiri ketika melihatku masuk. "Selamat pagi."

"Selamat pagi," balasku cepat.

Kami berjabat tangan.

"Silakan duduk, Bu Azarin," sodornya menunjuk kursi di depan meja.

Aku duduk perlahan sambil memangku tas di pangkuan. Perempuan itu membuka map di hadapannya lalu melihat beberapa lembar berkas milikku.

Beberapa detik berlalu.

Aku bisa mendengar suara detak jam dinding juga dengung pendingin ruangan. Lalu perempuan itu mengangkat wajahnya.

"Jujur saja," katanya sambil tersenyum tipis, "saya cukup penasaran dengan Ibu."

Aku berkedip. "Penasaran?"

"Iya."

Beliau menyandarkan tubuh ke kursi. "Karena setelah membaca formulir ini, saya menemukan sesuatu yang menarik."

Jantungku kembali berdegup. Tiba-tiba aku teringat Nivean, anak-anak juga semua keraguan yang sempat membuatku nyaris mundur sejak kemarin.

Sementara perempuan di hadapanku masih memandangi berkas itu sebelum kembali menatapku. "Dua belas tahun menjadi ibu rumah tangga," sebutnya lembut.

Aku menelan ludah pelan kala melihat beliau malah tersenyum.

"Jadi pertanyaan pertama saya..." Tangannya menutup map itu perlahan. "...kenapa sekarang?" Pandangannya lurus padaku, auranya tenang, membuatku gugup.

Jemariku saling menggenggam di atas tas yang kupangku. Kutundukkan pandangan beberapa detik, berusaha merapikan kalimat-kalimat di kepala yang terasa berantakan.

Di luar jendela, daun-daun kecil bergerak pelan tertiup angin. Entah kenapa pemandangan sederhana itu sedikit menenangkanku.

"Ada banyak alasan sebenarnya," jawabku pelan.

Perempuan itu mengangguk, memberiku waktu tanpa menyela.

Aku menarik napas dalam-dalam. "Awalnya karena bosan, tapi belakangan aku sadar mungkin bukan cuma bosan."

Sudut bibirnya terangkat tipis tepat saat pandanganku turun sesaat ke jemariku sendiri.

"Beberapa tahun terakhir hidupku cuma berputar di rumah. Aku nggak menyesal menjalaninya." Aku cepat-cepat menambahkan sambil mengangkat kepala.

Perempuan itu tetap diam mendengarkan.

"Tapi..." Aku berhenti sebentar. "Suatu hari aku sadar kalau setiap orang nanya aku suka apa, aku malah bingung jawabnya."

Hening.

Aku tertawa kecil, malu pada diriku sendiri. "Kedengarannya aneh ya?"

"Enggak," ujarnya cepat.

Aku menyandarkan punggung ke kursi.

"Anak-anak mulai besar. Dunia yang selama ini menjadi pusat seluruh hidupku," ucapku melembut. "sedikit bergeser."

Aku tersenyum tipis sebelum berkata, "Mereka masih butuh aku, tapi aku juga ingin tahu apakah masih ada bagian dari diriku yang belum hilang."

Jeda.

Perempuan di hadapanku hanya memperhatikan beberapa saat sambil kedua tangannya terlipat santai di atas meja.

Aku tidak merasa sedang diinterogasi. Rasanya seperti berbicara dengan seseorang yang benar-benar ingin memahami jawabanku.

"Suka bunga," lanjutnya. 

"Suka," jawabku singkat.

Pasti Wita sudah mengoceh soal aku, entah apa saja yang dikatakannya. Perempuan itu membuka kembali map di depannya.

"Saya lihat sebelumnya Ibu pernah aktif mengelola acara sekolah?"

Aku mengangguk. "Walaupun sudah lama," kekehku.

"Pengalaman tetap pengalaman."

Benar, meski sejujurnya aku tidak pernah menganggap hal itu sebagai kemampuan. Bagiku itu hanya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Membantu bazar sekolah, jadi seksi konsumsi acara, menyelesaikan masalah ketika orang lain panik. Aku sadar bahwa selama ini aku mungkin terlalu sering mengecilkan diriku sendiri.

Perempuan itu menuliskan sesuatu di kertasnya. "Bu Azarin."

Aku refleks menegakkan badan lagi, memasang telinga lekat-lekat, siap mendengarkan.

"Kalau nanti bekerja di sini, ada kemungkinan hari-hari tertentu cukup sibuk. Pesanan mendadak, acara besar, atau musim pernikahan."

Aku mengangguk pelan, tapi beliau menatapku hati-hati.

"Apakah keluarga Ibu mendukung?"

Pertanyaan itu membuatku membeku sepersekian detik. Bayangan percakapan semalam bersama Nivean langsung muncul.

"Mereka masih belajar mendukung," jawabku jujur, mengulas senyum tipis.

Perempuan itu tampak terkejut sesaat, lalu tertawa pelan dan anehnya aku ikut tertawa juga.

Dia lantas menuliskan sesuatu di lembar penilaiannya dan menutup pulpen lalu menatapku lagi. "Terima kasih, Bu Azarin."

Aku mengangguk pelan.

Apakah ini sudah selesai? Belum sempat aku bertanya, terdengar ketukan pelan dari luar ruangan.

"Permisi, Bu."

Pintu terbuka sedikit. Seorang perempuan muda masuk sambil mendorong troli kerja.

Roda kecilnya bergesekan pelan dengan lantai.

Mataku refleks mengikuti troli itu. Di atasnya tertata gulungan kertas wrapping berbagai warna, pita satin, gunting, floral tape, beberapa tangkai eucalyptus, baby's breath, mawar segar yang masih berembun, dan berbagai perlengkapan merangkai bunga lainnya.

Entah kenapa dadaku langsung berdesir. Sudah lama sekali tidak melihat barang-barang ini.

Perempuan muda itu menghentikan troli di samping meja. "Maaf mengganggu, Bu. Ini perlengkapan yang ibu minta."

Pemilik florist mengangguk mengerti. "Oke. Taruh dulu di sini."

Aku tidak tahu kenapa jantungku mulai berdetak lebih cepat. Apakah karena aroma bunga segar yang tiba-tiba memenuhi ruangan? Atau karena pemandangan itu terasa familiar.

Mungkinkah ada bagian dari diriku yang diam-diam merindukan semua ini?

Pemilik florist menoleh ke arah troli, lalu padaku. Tatapannya berhenti beberapa detik, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Aku ikut menoleh ke troli itu lagi. Tanganku yang sejak tadi terlipat di pangkuan tiba-tiba terasa gatal.

Sudah berapa tahun sejak terakhir kali aku merangkai buket? Aku bahkan tidak yakin masih ingat cara memegang floral tape dengan benar.

Pemilik florist menyandarkan tubuh ke kursinya, lalu senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. Senyum yang entah kenapa membuat perutku langsung mengencang.

"Bu Azarin."

Aku menoleh.

"Kalau saya minta Ibu membuat satu buket sekarang..."

Deg.

"...masih bisa?"

Tangan kiriku otomatis menggenggam ujung gamis. Sementara di hadapanku, troli penuh bunga itu kini tampak seram seperti ujian nasional.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!