Halal tapi Asing

Kian Asing

Aku menjemput Saff dalam perjalanan pulang. Namun pikiran memang kadang menyebalkan.

Selama ini Pixylia cukup menjaga jarak profesional. Tapi beberapa bulan terakhir memang berbeda.

Mungkin karena kesalahanku sendiri. Aku pernah beberapa kali bercerita tentang rumah, saat pekerjaan sedang melelahkan. Pixylia rupanya mulai merasa obrolan itu membuat kita dekat.

Malam itu rumah sudah sunyi. Lampu utama kamar dimatikan, menyisakan cahaya lampu tidur yang temaram di sudut ruangan.

Azarin baru selesai mandi dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Dia terlihat kelelahan.

"Capek?" tanyaku sambil menutup laptop.

Ia mendengus pelan lalu memeluk bantal. "Banget."

Aku terkekeh kecil, "Baru sebulanan lebih aja."

"Makanya," gerutunya dari balik bantal. "Aku baru sadar berdiri berjam-jam itu ternyata pegalnya sekujur badan."

Aku menggeleng sambil mematikan layar ponsel. "Meeting-ku juga kacau hari ini. Sepertinya bakal padat dan mulai lembur lagi," jelasku meliriknya.

Azarin menoleh. "Lantas? Kalau aku juga full gimana ya? Apa anak-anak pulang pakai ojek?" tanyanya menunggu responku.

Ia kembali membaringkan kepala. Beberapa detik kami sama-sama diam. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.

Lalu Azarin bergumam tanpa membuka mata. "Kayaknya aku mulai keteteran."

Aku masih memperhatikannya. Kini, ia menatap langit-langit kamar, suaranya pelan saat berkata, "Gimana ya?"

Aku menghela napas pelan lalu merebahkan diri di sampingnya. "Rin."

"Hm?"

Aku menatap langit-langit yang sama. "Aku dan anak-anak kangen kamu di rumah waktu kami pulang," lirihku.

Deg.

Azarin langsung menoleh. Aku bisa merasakan tatapannya meski tak melihat wajahnya. 

Ruangan kembali sunyi.

Azarin mengangkat jemarinya sendiri. Mungkin baru sadar ada harga yang harus dibayar dari setiap perubahan, meskipun itu baik.

Aku merindukan Azarin yang biasanya sudah ada saat pintu rumah dibuka, menyahut dari dapur. Dia yang sabar menghadapi dan mendengar cerita anak-anak padahal mereka belum mengganti seragam.

Perempuan itu menggigit bibir bawahnya pelan. "Maaf," lirihnya.

Aku langsung menggeleng, menoleh dan menatapnya lurus. "Kamu nggak melakukan kesalahan," kataku dengan suara tetap tenang.

"Hanya saja mungkin kita perlu menyamakan ritme."

Beberapa pekan setelah percakapan malam itu, kami memang berhasil menemukan ritme baru.

Anak-anak tetap terurus, sekolah aman dan rumah berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada kekacauan besar yang perlu dikhawatirkan.

Namun ada sesuatu yang perlahan berkurang, waktu untuk kami.

Aku berangkat pagi. Azarin juga. Aku pulang malam, kadang Azarin sudah tertidur atau malah aku yang lebih dulu tertidur ketika ia masih menyelesaikan pekerjaan atau membereskan sesuatu.

Obrolan kami menyusut menjadi hal-hal singkat dan sistematis soal rutinitas sehari-hari. Ironisnya, hidup kami justru terlihat semakin produktif.

Suatu malam aku keluar paling akhir dari kantor.

Lampu beberapa ruangan sudah dimatikan. Saat berjalan menuju parkiran, kulihat Pixylia berdiri di samping mobilnya dengan kedua tangan berkacak pinggang.

"Kenapa lagi?" tanyaku.

Perempuan itu menunjuk ban depan. "Kempes."

Aku melirik sekilas. "Bocor."

"Terima kasih atas diagnosis yang luar biasa akurat, Pak." Pixylia menghela napas panjang. "Bengkel sudah tutup. Kalau nunggu bantuan entah jam berapa."

Aku melihat jam tangan, emang sudah terlalu malam. "Rumahmu searah kan?"

Mata Pixylia langsung berbinar. "Berarti bisa nebeng?"

Perjalanan awalnya hening. Aku fokus menyetir sementara Pixylia sibuk membalas pesan di ponselnya.

Namun seperti biasa, keheningan tidak pernah bertahan lama saat perempuan itu ada.

"Pak."

"Hm?"

"Kalau saya hilang besok, kira-kira kantor nyariin berapa hari?"

"Dua jam."

Pixylia menoleh tak percaya. "Dua jam?"

"Mereka sadar dan nyari karena pekerjaanmu masih numpuk," kekehku.

"Jahat."

Aku tertawa dan rasanya melegakan. Mungkin karena terlalu lama berada di kantor dan butuh teman bicara saat malam sudah terlalu melelahkan.

Obrolan kami mengalir begitu saja. Tentang klien aneh, rapat kacau atau soal rekan kerja yang hobi membuat presentasi bertele-tele.

Beberapa kali aku tertawa saat Pixylia mengeluh.

Mobil berhenti di depan gerbang perumahan tempat Pixylia tinggal. Perempuan itu membuka sabuk pengamannya lalu menoleh.

"Terima kasih, Pak."

Aku mengangguk.

Harusnya percakapan selesai di situ, namun Pixylia tidak langsung turun.

"Ngobrol sama Bapak ternyata menyenangkan," jujurnya sambil tersenyum manis sebelum melihat ke luar jendela dan membuka pintu.

Sebelum keluar, perempuan itu menoleh sekali lagi. "Selamat malam, Pak."

Pintu tertutup.

Aku memperhatikannya berjalan masuk ke dalam kompleks hingga akhirnya menghilang.

Kemudian aku kembali menatap jalanan yang mulai sepi.

Mesin mobil masih menyala, tanganku tetap berada di atas setir. Aku terdiam sebab dadaku terasa tidak nyaman.

Beberapa bulan lalu, kalau hari seburuk ini terjadi, aku pasti sudah tidak sabar ingin pulang dan bercerita kepada Azarin.

Sekarang... Aku bahkan tidak tahu kapan terakhir kali kami punya waktu untuk saling bercerita.

***

Beberapa pekan berjalan mengisi kehidupan kami begitu lancar. 

Entah sejak kapan aku berhenti memperhatikan.

Dulu aku masih sempat merasa aneh ketika pulang dan Azarin belum ada di rumah. Atau ketika salah satu dari kami tertidur lebih dulu sebelum sempat bertukar cerita.

Sekarang semuanya terasa biasa.

Aku tahu kegiatan di workshopnya. Dia tahu jadwal rapatku. Kami saling mengabari jika terlambat pulang dan sesekali bertukar pesan soal anak-anak.

Semua berjalan sebagaimana mestinya. Hari-hari lewat tanpa drama. Sampai aku mulai terbiasa mencari seseorang untuk berbagi keluhan sebelum pulang.

Suatu sore aku keluar dari ruang rapat sambil melonggarkan dasi. Kepalaku berdenyut sejak siang. Presentasi tiga jam yang berubah menjadi lima jam jelas bukan sikon yang sehat untuk siapa pun.

Saat melewati area kerja, aku melihat Pixylia masih duduk di mejanya. Perempuan itu sedang menopang dagu sambil menatap layar komputer. 

Aku berhenti. "Belum pulang?"

Pixylia menoleh. Rambut yang biasanya rapi sudah sedikit berantakan. Ada bekas lelah yang jarang terlihat di wajahnya.

"Masih revisi."

Aku mengangguk lalu tanpa sadar menarik kursi kosong di dekat mejanya dan duduk beberapa menit.

Awalnya memang membahas pekerjaan dan berubah menjadi ngobrol hal-hal tidak penting yang sebenarnya tidak layak diceritakan tapi justru membuat lelah terasa lebih ringan.

Beberapa kali kami tertawa dan saling pandang dengan ekspresi puas seperti seseorang yang baru berhasil lolos dari sembelit.

Di sisi lain kota, Azarin juga menemukan dunianya sendiri.

Ada sesuatu yang selalu membuat matanya berbinar saat pulang dan bercerita.

Tentang pelanggan yang memesan buket untuk melamar, seorang kakek yang setiap tahun mengirim bunga untuk istrinya pada tanggal yang sama, atau lelaki yang datang membawa secarik kertas lusuh berisi puisi dan meminta dibuatkan rangkaian bunga yang bisa mewakili isi hatinya.

Azarin selalu menyukai cerita. Dan di tempat itu, setiap rangkaian bunga ternyata membawa cerita masing-masing. Setiap pujian atas hasil kerjanya membuat perempuan itu tersenyum dengan cara yang sudah lama tidak kulihat.

Tanpa kami sadari, kebiasaan ini mulai mengisi celah-celah yang dulu ditempati satu sama lain.

Aku mulai terbiasa mencari Pixylia ketika rapat berjalan buruk. Azarin mulai terbiasa pulang dengan cerita-cerita baru yang bahkan sering tidak sempat aku tanggapi karena salah satu dari kami keburu mengantuk.

Suatu sore, saat keluar dari hotel tempat meeting dengan klien berlangsung, langkahku melambat ketika melihat sosok yang terasa familiar di area parkir.

Azarin.

Perempuan itu baru keluar dari pintu samping hotel bersama beberapa orang yang tampaknya bagian dari tim dekorasi. Kedua tangannya penuh membawa kotak-kotak perlengkapan kecil.

Aku hampir mengangkat tangan untuk memanggilnya. Namun sebelum sempat melangkah, sebuah kotak terlepas dari dekapannya dan beberapa barang kecil berjatuhan ke aspal. Azarin langsung berjongkok refleks.

Seseorang bergerak lebih cepat dariku. Pria itu membantu mengumpulkan barang-barang satu per satu lalu menyerahkannya kembali.

Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka dari jarak sejauh ini, tapi aku melihat Azarin tersenyum.

Mereka berbicara beberapa saat. Aku memperhatikannya karena ada sesuatu yang berbeda di ekspresi Azarin.

Aku pernah melihat senyum itu ribuan kali. Hanya saja, aku tidak ingat kapan terakhir kali senyum itu muncul saat berbicara denganku.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!