Halal tapi Asing
Feeling
PoV Azarin.
Pintu kamar kututup sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
Dadaku masih terasa sesak karena caranya memandangku tadi, seolah aku yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku berjalan melewati lorong rumah yang remang lalu menjatuhkan diri ke sofa ruang keluarga. Televisi kunyalakan tanpa benar-benar melihat apa tayangannya. Cahaya biru dari layar berkedip-kedip di dinding, memantul samar di lengangnya ruangan.
Kedua tanganku terlipat di dada. Rahangku mengeras.
Dari semua hal yang bisa dipermasalahkan malam ini, Nivean memilih pria yang bahkan tidak pernah kupikirkan.
Padahal beberapa bulan terakhir aku juga berkali-kali menahan pertanyaan yang sama, tentang kecurigaanku.
Langkah kaki terdengar dari belakang, tidak perlu menoleh untuk tahu siapa. Mataku tetap menatap televisi.
"Rin."
Aku tidak menjawab.
"Rin."
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya aku berkata pelan, "Tiba-tiba banget marah dan curiga ... Tapi sekarang aku malah kepikiran..." bisikku menelan ludah.
Memori lama muncul begitu saja. Malam-malam ketika Nivean pulang semakin larut. Ponselnya lebih sering menyala daripada biasanya. Senyum-senyum kecil yang muncul saat membaca sesuatu lalu hilang begitu aku mendekat.
Dan yang paling kuingat... Parfum itu.
Aku memejamkan mata sesaat lalu menoleh. "Jangan-jangan buat nutupin fakta yang sebenarnya?"
Nivean mengernyit. "Apa maksudmu?"
Aku tertawa kecil. "Parfum itu."
Ekspresi Nivean berubah dan aku melihatnya, cukup membuat dadaku semakin sakit.
"Parfum apa?"
Aku menatapnya lurus. "Wangi floral di jas Mas waktu itu," sebutku lalu menggeleng pelan. "Mana ada laki-laki pakai parfum model begitu."
Napas Nivean tertahan, sorot matanya masih tajam melihatku meski di temaram cahaya.
"Siapa dia?" lirihku. Setelah berbulan-bulan menelan semuanya sendiri, aku akhirnya bertanya, "Siapa perempuan itu, Mas?"
"Perempuan mana?" tanyanya.
Aku mendengus pelan, "Halah. Jangan pura-pura." Kini aku berdiri dari sofa lalu berbalik menghadapnya. Dadaku naik turun lebih cepat dari sebelumnya. "Apa aku kenal dia?" tanyaku tajam.
Nivean menatapku tak percaya. "Rin..."
"Kalau hidup Mas sekarang terasa lebih berwarna..." suaraku mulai bergetar karena emosi yang selama ini kutelan sendiri. "...terasa lebih hidup, menyenangkan, indah seperti pelangi atau apa pun itu..." getirku.
Aku menunjuk dadanya. "Selesaikan dulu urusan kita." Sorot mataku tidak bergeser sedikit pun. "Jangan bikin aku kelihatan bodoh."
Nivean terlihat kehilangan kata-kata, tapi di detik berikutnya rahangnya mengeras. "Kok jadi aku yang dituduh?" katanya sinis.
Aku tertawa karena pertanyaan itu justru terdengar ironis.
"Maumu apa sih sebenarnya?" ucapnya dengan suara meninggi. "Apa jangan-jangan kamu yang memang mau lepas dariku?" tuduhnya.
Dadaku seperti ditinju.
Nivean melangkah mendekat satu langkah. "Demi pria itu?"
Aku menatapnya beberapa detik, kecewa. "Kamu serius nanya itu?" Aku menggeleng pelan. "Serius?"
Nivean tidak menjawab. Maka aku melangkah maju hingga kini hanya tersisa sedikit jarak di antara kami.
"Kamu tahu siapa dia. Bukannya berterima kasih malah menuduhku yang tidak-tidak."
Dia diam.
Tanganku terangkat tanpa sadar karena aku benar-benar kesal sekarang.
"Kahfiel bantu aku waktu Saff susah terbuka setelah masalah berantem dengan Ero di sekolah."
Mata Nivean berkedip.
"Tahu nggak berapa kali aku diminta ngasih laporan perkembangan Saff?"
Nivean tetap diam.
"Tahu nggak berapa kali aku harus ngebujuk Saff karena dia nggak mau cerita ke orang tuanya sendiri?" tuturku berat. "Yang Mas tahu sekarang anak-anak mulai baik saja kan?" sambungku mulai tersengal.
Tapi aku tidak peduli. "Kemana Mas waktu itu?"
Nivean membeku. Aku tahu pertanyaan itu mengenai sasaran maka aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang.
"Aku nggak pernah ketemu dia di luar urusan anak-anak." Tanganku meraih ponsel di atas meja. Layar langsung menyala.
"Nih." Aku menyodorkannya. "Cek."
Nivean tidak bergerak.
"Cek." Aku memaksa mendorong ponsel itu ke tangannya. "Semua chat ada," kataku mulai pecah.
Dadaku masih panas. "Mas masih nggak percaya?"
Nivean tetap diam, tatapannya jatuh ke layar ponselku lalu kembali ke wajahku.
"Kalau sekarang aku minta ponsel Mas..." ucapku menatapnya lurus. "...Mas berani kasih ke aku?"
Keheningan yang muncul setelah itu terasa mencekam. Nivean tidak membantah meski rahangnya bergerak. Perlahan matanya berpaling lalu tanpa satu kata pun, Nivean berbalik dan melangkah pergi meninggalkanku di ruang keluarga.
Aku berdiri mematung beberapa detik sambil menggenggam ponsel erat-erat.
Televisi masih menyala di depanku. Suara pembawa acara terdengar samar, bercampur dengung di dalam kepala yang semakin sulit kuabaikan.
Aku menjatuhkan tubuh kembali ke sofa lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Tenggorokanku terasa panas.
Kalau dia membantah mungkin aku masih bisa menganggap semua ini hanya pertengkaran biasa. Tapi diamnya Nivean terasa seperti tembok. Mungkinkah memang benar jika dia menyembunyikan sesuatu?
Aku tertawa pahit sebab selama ini aku selalu berpikir kami adalah pasangan yang cukup dewasa untuk membicarakan apa pun, tapi ternyata tidak.
Ada jarak yang tumbuh diam-diam dan sekarang berdiri tepat di tengah rumah kami. Mataku terasa panas, namun aku terlalu lelah menangis.
Beberapa menit kemudian langkah kaki kembali terdengar dari arah lorong.
Aku tidak menoleh. Kupikir Nivean akan kembali menjelaskan atau sekadar mengatakan aku sudah kelewatan.
Namun yang terdengar justru suara pintu depan yang terbuka dan menutup nyaris dalam waktu bersamaan.
Perlahan aku mengangkat kepala. Sunyi. Dadaku langsung mencelos.
"Mas?"
Tidak ada jawaban.
Aku berdiri. Langkahku otomatis menuju jendela depan. Suara mobil Nivean terdengar meninggalkan halaman rumah.
Untuk beberapa detik aku hanya berdiri di sana sambil memandangi jalanan yang lengang. Rasa marah yang tadi membakar dadaku perlahan berubah menjadi kekecewaan yang dalam.
Selama bertahun-tahun menikah... Seberapa pun besar pertengkaran kami... Nivean tidak pernah pergi malam-malam seperti ini.
***
Sementara itu, di balik kemudi mobil yang melaju tanpa tujuan, aku menggenggam setir terlalu erat.
Lampu-lampu kota melintas seperti garis-garis kabur di balik kaca depan. Kepalaku dipenuhi terlalu banyak suara. Suara Azarin, Pixylia dan diriku sendiri. Dan yang paling mengganggu adalah satu pertanyaan sederhana yang terus berputar tanpa henti.
Kalau memang tidak ada apa-apa... Kenapa saat Azarin meminta ponselnya tadi, aku tidak langsung menyerahkannya?
Aku mengembuskan napas kasar. Benar, ada chat Pixylia di ponselku di luar jam kantor. Perhatiannya, pedulinya membuatku sempat merasa nyaman.
Aku tidak menyukainya ketika Azarin menebak tepat sasaran. Feeling istri ternyata memang tajam, meski aku tak bermaksud meladeni Pixilya.
Mobil berhenti di lampu merah, layar ponselnya menyala.
Satu notifikasi muncul dari seseorang.
"Dimana?"
Aku menatap layar itu lama. Bahkan wanita ini pun punya firasat tepat tentangku. Ya Tuhan...
Lalu sebelum sempat membalas, pesan kedua masuk. "Nggak lagi aneh-aneh karena suntuk, kan?"
Jantungku mendadak berdegup lebih keras. Kenapa perasaan wanita sangat sensitif sih? Nggak Azarin nggak Pixilya...
.
.