HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA

1. PERCOBAAN PENCULIKAN

Jalanan di sepanjang Jalan By Pass Mentari, kota Bahari itu terlihat lengang meskipun kendaraan masih saja ada yang berlalu lalang. Numayra mengapit tas sambil kembali mencoba memesan sebuah taksi online. Tetapi rupanya nasib apes sedang menimpa gadis cantik bertubuh ramping itu. Tak ada satu pun taksi online yang menerima orderannya.

“Sialan, kenapa Cak Ripin mesti kerja lembur sih. Susah jadinya aku,” gerutunya kesal. Tetapi dia tetap mencoba menghubungi Ripin, lelaki alim yang selama ini suka rela menjadi tukang ojeknya. Tersambung tetapi tidak diangkat.

“Sudah bosen duit kamu ya, Cak,” gumamnya marah. Kepalanya menoleh ke segala penjuru arah. Bahkan taksi bercat biru yang sering melintas pun tak ada yang lewat.

“Tumben juga sih, nggak ada taksi sama sekali,” ujarnya kesal.

Numayra berdiri di pinggiran trotoar. Sekali lagi dia mencoba mengirim order untuk memesan sebuah taksi online. Gadis itu terlalu fokus melihat layar ponselnya. Dia tidak menyadari saat sebuah mobil  tiba-tiba berhenti di depannya.

“Tin!”

Numayra terlonjak kaget mendengar bunyi klakson itu. Dia pun terkejut saat melihat sebuah mobil berwarna hitam dengan kaca film gelap berhenti di depannya.

“Taksi online-ku belum dapat kenapa sudah ada yang datang?” tanyanya heran. Kaca mobil tiba-tiba terbuka. Numayra dengan spontan menurunkan badannya. Dia melihat seorang lelaki cukup tampan tersenyum kepadanya di sana.

“Nggak dapat taksi ya? Ayo aku antar,” tawar lelaki itu dengan ramah. Numayra terdiam sesaat . Dia pun mencoba berpikir realistis.

“Ini kota internasional, sudah biasa orang memberikan tumpangan,” batinnya. Tanpa pikir panjang lagi Numayra pun mengangguk. Lelaki itu menekan tombol pengunci pintu otomatis mobilnya dan membiarkan Numayra masuk.

Seringai menjijikkan pun terlihat di wajahnya. Numayra tidak peduli. Dia sudah terlalu biasa menghadapi lelaki berekspresi seperti itu.

“Tinggal di mana?” tanya lelaki itu sambil sesekali melirik ke arah Numayra.

“Selatan Kota,” jawab Numayra singkat. Dia menatap ke depan dengan ekspresi datar. Awalnya mobil itu melaju dengan tenang ke arah yang menuju arah tempat tinggal Numayra di kota Bahari bagian selatan itu. Tetapi tiba-tiba saja lelaki itu mengubah arah.

“Kenapa tidak belok ke kiri?” tanya Numayra sambil menatap lelaki di belakang kemudi itu dengan curiga.

“Temani aku sebentar,” jawabnya.

“Tidak. Aku tidak mau. Kalau kamu keberatan mengantarku, turunkan aku di depan sana,” pinta Numayra. Bukannya menjawab, lelaki itu malah tertawa terbahak.

“Siapa kamu berani menyuruh-nyuruh aku, hah?!” bentaknya. Numayra pun terperanjat kaget. Lelaki itu tiba-tiba berubah menjadi kasar. Dia menyetel musik yang keras menghentak. Gas mobil pun ikut dimainkannya. Numayra menjadi panik.

“Kalau kamu mau mati, matilah sendiri. Aku masih mau hidup!” teriaknya ketakutan.

Lelaki itu tidak mengindahkannya. Dia semakin bertambah ekstrim mengendarai mobilnya. Mobil sport hitam itu melesat kencang.

Numayra mencengkeram erat jok mobil sambil berdoa sebisa dan seingat yang dia mampu ucapkan. Lampu lalu lintas terlihat di kejauhan. Numayra berdoa semoga lampu itu merah saat mobil ini hendak melintas.

Rupanya sang pemberi hidup masih mendengar doanya. Tepat sekitar seratus meter dari lampu lalu lintas, warna hijau di sana pun berubah merah. Lelaki itu menurunkan kecepatannya. Sambil tertawa mengejek dia menatap Numayra yang wajahnya masih memucat itu.

“Kamu harus mau menemaniku. Semalam saja,” ujarnya sambil mengeluarkan dompet yang ada di saku celananya. Dengan pongah dia memamerkan apa yang ada di dalamnya. Segepok uang berwarna merah terlihat di sana.

“Gimana? Mau ‘kan?” tanyanya sambil menatap Numayra dengan penuh hasrat.  Tubuhnya mendekat ke tubuh Numayra yang masih bergetar ketakutan.

“Orang sinting,” batin Numayra. Dia memalingkan wajahnya. Lelaki itu hanya tertawa melihat kelakuan Numayra.

Tiba-tiba kedua mata Numayra membelalak saat melihat sosok yang dia kenal sedang berhenti di lampu merah seberang sana. Tangannya pun dengan cepat memencet tombol untuk menurunkan kaca jendela.

“Cak! Cak Ripin! Tolong Cak!” teriaknya sekencang mungkin. Jalanan yang lengang membuat suaranya terdengar jelas di telinga Ripin yang memang berada di sisi lain lampu lalu lintas.

“Bodoh! Apa yang kamu lakukan, wanita sialan!” teriak lelaki itu marah. Dia pun mencoba menutup kaca jendela dari centre lock yang ada di dekatnya. Tangannya sontak menarik rambut Numayra.

“Aduh!” teriak Numayra kesakitan.

“Diam atau mobil ini akan menabrak sesuatu nanti!” ancamnya. Numayra yang merasa mobil mulai melaju pun terpaksa diam.

Sementara Ripin yang mendengar suara teriakan Numayra langsung sadar kalau gadis itu sedang dalam keadaan bahaya. Tanpa menunggu lampu berganti hijau, dia pun menerobosnya.

Laju motornya memang tak sebanding dengan laju mobil yang membawa Numayra, tetapi dia masih bisa melihat mobil itu. Ripin pun mengegas motornya lebih kencang.

“Alhamdulillah, ada lampu merah di depan,” gumamnya senang. Mobil itu terlihat melambat dan berhenti. Ripin pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera memepet mobil itu.

“DUK! DUK! DUK!”

Ripin memukul kaca jendela Numayra dan mencoba membuka pintunya. Di dalam terlihat Numayra berusaha melepaskan tangan lelaki itu dari rambutnya.

“Lepaskan atau aku akan melukaimu,” ancam Numayra sambil memegang tangan lelaki itu. Bukannya melepaskan, tetapi lelaki itu justru tertawa mengejeknya. Tanpa pikir panjang lagi, Numayra pun menggigit tangannya.

“Aaa!” Lelaki itu berteriak kesakitan. Namun Numayra tak juga melepaskan gigitannya hingga terlihat darah segar di antara giginya baru dia melepaskan gigitannya.

“Sialan! Wanita keparat kamu!” cerca lelaki itu sambil berusaha menarik tangannya dari pegangan Numayra.

“Minggir! Berhenti atau aku akan menggigit jemarimu hingga putus,” ancam Numayra. Kedatangan Ripin membuatnya memiliki keberanian.

Lelaki itupun terpaksa meminggirkan mobilnya. Ripin ikut menepi dan langsung membuka pintu mobil itu.

Numayra segera melepaskan tangannya dan turun dari sana. Lelaki itu menatapnya dengan penuh kebencian.

“Ayo kita pergi, Num,” ajak Ripin sambil menarik tangan gadis dengan rambut yang acak-acakan itu.

“Sik, bentar. Tasku masih di sana,” ujar Numayra sambil membungkuk mengambil tasnya. Tiba-tiba matanya menatap dompet yang ada di samping tas. Dengan secepat kilat dia mengambilnya.

“Hei! Apa yang kamu lakukan?!” teriak lelaki itu marah. Numayra tersenyum menyeringai. Dia membuka dompetnya dan mengambil separo isi dompet itu.

“Ini untuk ganti rugi non material karena kamu membuat jantungku hampir copot dan percobaan penculikan serta rencana pemerkosaan,” gertak Numayra sambil melemparkan dompet hitam itu ke arah lelaki yang hanya bisa memandangnya dengan marah. Numayra segera menutup pintu mobilnya dan berlari ke arah Ripin yang  menunggunya dengan mesin motor yang telah dihidupkan.

“Tarik Cak!” serunya sambil mengenakan helm dan berpegangan erat di pinggang Ripin. Motor pun melaju meninggalkan lelaki dengan mobilnya yang masih kesakitan tangannya itu.

“Ngapain kamu ambil uangnya, Num?” tanya Ripin dengan heran.

“Ganti rugilah, Cak. Dia tadi buat jantungku mau copot. Coba kalau meleng dikit. Bablas wis, Cak,” jawab Numayra sambil mendesah kesal.

“Tapi itu sama saja dengan merampok, Num,” ujar Ripin mengingatkan.

“Halah, ngrampok apanya to Cak, Cak. Wong duitnya banyak. Aku cuma ambil dikit aja,” elak Numayra.

“Dia lho maksa aku untuk melayaninya, Cak. Katanya aku harus nemeni dia dan melayaninya baru diantar pulang,” lanjutnya.

“Percaya ta? Hah! Yang ada besok aku pulang tinggal nama, Cak. Habis dipake dibuang deh,” oceh Numayra dengan nada satir.

Ripin diam saja mendengar omelan gadis yang sedang uring-uringan itu.  Dirinya terlalu sering mendengar hal yang sama setiap hari dari bibir gadis cantik yang membonceng di belakangnya. Hingga akhirnya mereka pun tiba di kos-kosan. Ripin telah mematikan mesin motor dari jarak dua rumah sebelum kos-kosan mereka, sehingga suara motornya tidak mengganggu penghuni kos lainnya.

“Kesuwun yo, Cak. Untung ada kamu tadi, Cak,” ucap Numayra dengan tatapan terima kasih yang tak bisa dilukiskan. Ripin hanya tersenyum dan mengangguk. Sebaris kalimat pun dia katakan kepada Numayra yang membuat gadis itu tiba-tiba merasa insecure.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!