HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA

10. TAWARAN PENYELAMAT

“Tolong mintakan aku sejumlah uang dari Tuhan agar aku tidak perlu mengemis hutang ke Tante Lisa. Cepat mintakan, Cak,” seru Numayra seraya menggoncang badan tegap Ripin.

 Wajah cantik gadis itu begitu dekat dengan wajah Ripin. Lelaki itu tak hanya bungkam karena bingung dari mana hendak menjelaskan jawaban atas pertanyaan Numayra, tetapi dia bungkam juga karena degub di dadanya semakin tidak karuan saat melihat wajah Numayra dari jarak sedekat itu.

 Ripin beristighfar dalam hati dan mencoba menenangkan diri. Perlahan dia pegang jemari Numayra yang masih melekat di kaosnya dan melepaskan tangan gadis itu dari sana.

 “Maafkan aku, Num,” ucap Ripin lirih.

“Bukan seperti itu maksudku. Aku juga nggak mungkin bisa memberimu uang dalam jumlah banyak seketika ini juga. Bukan seperti ini maksudnya,” kata Ripin.

 Numayra menghela napas dalam. Dia pun paham dengan apa yang dimaksud oleh Ripin. Hanya saja dia memang kesal dengan lelaki yang selalu memberinya nasehat itu.

 “Yah, aku tahu. Maaf ya, Cak. Aku kelepasan,” kata Numayra akhirnya. Dia diam sambil menatap lepas ke arah danau di depan sana.

“Darimana aku mendapatkan uang dengan cepat?” tanya Numayra dalam hati. Karena situasinya sudah tidak menyenangkan lagi, Ripin pun mengajak Numayra untuk pulang.

 Sepanjang perjalanan Numayra hanya berdiam diri. Berusaha mencari celah agar dapat mengajukan pinjaman kepada Tante Lisa lagi. Ripin yang merasa tidak enak dengan situasi itupun mencoba mencairkan suasana dengan berhenti di sebuah minimarket yang mereka temui di tengah jalan.

 “Beli minum dulu, Num,” ujarnya sambil membelokkan motornya.

 Numayra memilih menunggu dengan duduk di kursi yang disediakan di luar minimarket itu, sementara Ripin masuk untuk membeli dua botol minuman ringan. Ripin keluar dari minimarket saat melihat Numayra sedang menerima sebuah panggilan telepon. Dia pun duduk di samping Numayra sambil mendengarkan pembicaraan gadis itu.

 “Ya, Tante. Ada apa?” tanya Numayra.

[“Kamu kemana saja sih, Num. Dari tadi ditelponin nggak nyahut-nyahut, heh,”] jawab Tante Lisa kesal.

“Maaf, Tan. Lagi di jalan. Ada apa?” jawab Numayra penasaran. Terdengar helaan napas Tante Lisa di sana.

[“Num, tamu VIP itu masih menunggumu,”] ujar Tante Lisa kemudian. Numayra tercekat diam dengan pandangan heran.

[“Num,”] panggil Tante Lisa saat tak terdengar suara Numayra di sana.

“E-eh, i-iya, Tante,” jawab Numayra. Dia juga tergagap kaget saat menyadari ada Ripin yang sudah duduk di sampingnya. Lelaki itu mengulurkan sebotol minuman ringan favoritnya.

“Bukannya Sindi telah menggantikan aku, Tante?” tanya Numayra bingung. Dia bahkan masih ingat dengan jelas bagImana Sindi menatapnya sinis kemarin.  Terdengar tawa Tante Lisa di sana.

[“Siapa yang bilang? Sindi tidak menggantikan kamu, Num. Kemarin itu tamu langganannya dia datang. Tamu tajir kebanggaannya itu,”] jawab Tante Lisa sambil terkekeh. Numayra hanya bisa membulatkan bibirnya saja.

[“Kebetulan saat kamu tolak kemarin tamu VIP itu juga mengirim kabar kalau dia mendadak harus ke ibukota untuk sebuah urusan. Tapi barusan dia hubungi aku kalau sudah kembali dan menanyakan dirimu. Kamu mau ‘kan, Num?”] rayu Tante Lisa.

 Mendengar hal ini, Numayra pun langsung teringat pembicaraan dengan Iman, adiknya. Pas perlu uang, pas datang penawaran ini. Tiba-tiba kepalanya menjadi agak enteng. Dia melirik ke arah Ripin dan tersenyum tipis.

“Bisa Tante transfer dulu uangnya ke aku sekarang?” tanya Numayra. Ripin yang mendengar hal itu seketika menoleh ke arah Numayra dengan ekspresi terkejut.  Sementara Tante Lisa tertawa mendengarnya.

[“Kamu lagi butuh duit banget, Num?”] tanyanya kemudian. Numayra menganggukkan kepalanya.

“Hm, ya,” jawab Numayra.

[“Jadi, kamu ambil ‘kan?”] tanya Tante Lisa lagi. Dia memang selalu hati-hati dengan karakter pegawai seperti Numayra ini. Mau mau tapi malu. Itulah sebutan yang diberikan Tante Lisa kepada pegawai seperti Numayra ini.

“Jam berapa?” tanya Numayra lagi.  Tante Lisa bersorak senang.

[“Aku transfer sekarang, jadi secepatnya kamu bisa ke sini,”] jawab Tante Lisa dengan bibir yang melebar.

“Nggak bisa, Tante. Aku lagi di daerah puncak sekarang. Perlu waktu untuk sampai kos-kosan dan bersiap,” tolak Numayra.  Hening sejenak. Numayra mendengar Tante Lisa sedang berbincang dengan seseorang di sana.

[“Baiklah, karena hari ini jatah kamu libur juga. Sebentar aku negoin,”] kata Tante Lisa kemudian. Numayra setuju dan pembicaraan itupun berakhir.

Numayra membuka tutup botol minuman yang dibelikan Ripin dan meneguk isinya. Seulas senyum tipis terlihat di wajahnya. Numayra menoleh ke Ripin yang duduk diam di sebelahnya. Ripin pun menoleh ke arahnya. Mereka saling menatap.

“Kamu terima tawaran itu?” tanya Ripin yang seakan mengetahui apa yang diperbincangkan Numayra di ponsel barusan. Numayra menarik kedua alisnya ke atas kemudian menganggukkan kepalanya.

“Aku sudah memintanya kepadamu, tapi toh kamu nggak bisa ngasih duitnya, Cak,” jawab Numayra.

“Ternyata yang nggak halal inilah yang tetap setia memenuhi apa yang sedang aku perlukan,” ujarnya lagi. Numayra pun berdiri dan melangkah menuju motor Ripin yang terparkir di depan. Ripin hanya bisa menghela nafas dalam dan menatap punggung gadis itu dengan rasa marah yang dia tahan.

 Tiba di kos-kosan terlihat beberapa penghuni kos yang sedang berkumpul santai. Mereka menyapa dan menggoda Numayra dan Ripin.

 “Wah, lama-lama kalian ini makin cocok saja, Num,” komentar si ibu yang kamarnya paling depan.

“Iya lho. Kalau diperhatikan kalian ini udah pantas disebut orang pacaran,” timpal yang lain.

“Ah, ibu-ibu ini bisa saja. Kami hanya berteman dan berbisnis bareng. Dia ojek dan aku penumpang. Pas ‘kan,” tangkis Numayra sambil tertawa.

“Lha mbok ya jadian saja to, Num. Biar gratis ojeknya,” sahut lainnya memanasi.

“Hush, wis. Jangan diterusin nggodain Numayra, Bu. Kami ini bersahabat. Dan akan terus begitu, insyaalloh,” tukas Ripin.

 Orang-orang itupun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Entah kenapa mereka sungkan dengan Ripin. Selain orangnya tidak banyak bicara, mereka pun tahu kalau Ripin adalah seorang pemuda yang tak pernah meninggalkan sholatnya.

 “Nah, betul itu. Kami ini sahabatan,” sahut Numayra membenarkan sebelum masuk ke kamarnya.

“Eh tapi ya eman-eman Cak Ripin kalau sampe dapat si Numayra.” Terdengar ucapan seorang ibu-ibu yang masih belum mengubah topik pembicaraan. Seketika yang lain pun ikut terpancing mendengarnya.

“Eman-eman bagaimana to, Bu?”

“Numayra itu ‘kan kerjaannya nggak bener. Di klub malam. Duhh, kerjaannya ya haha hihi sama laki-laki. Kalau mau dibooking ya pasti dia udah sering tidur sama laki lain. Hii.”

“Oh iya ya. Dia kerja di klub malam yang gede itu lho. Di daerah jalan by pass. Bener itu. Kata orang yang kos di depan sana, klub malam seperti itu biasanya cewek-ceweknya bisa dibooking.”

“Wah ya kalau gitu eman-eman Cak Ripin. Dia itu ‘kan lelaki alim. Jangan deh dapet Numayra kalau dia seperti itu.”

Numayra mendengar semua obrolan itu dari dalam kamarnya. Semula dia ingin melabrak ibu-ibu itu. Tetapi dia mencoba menahannya setelah menerima pesan dari Ripin.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!