HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA

3. TANTE LISA YANG AROGAN

“Makanya jadi perempuan itu mikir! Pikir pakai otak, jangan pakai emosi saja,” hardik Tante Lisa dengan marah.  Numayra diam saja dengan pikiran yang masih terus berusaha mengingat apa yang telah dia perbuat kemarin.

“Masih tidak ingat?!” tanya Tante Lisa lagi. Kali ini bibirnya terlihat mengerucut kesal. Numayra menggeleng lemah.

“Lalu apa yang kamu ingat, Bodoh?!” cercanya semakin marah.

“Semalam saya nggak ada masalah dengan semua tamu di sini, Tante,” ujar Numayra lirih.

“Oh my God!” teriak Tante Lisa geregetan.

“Tamu itu tetap tamu. Di sini ataupun di luar sana. Kalau kamu bertemu dengannya di luar sana, kamu wajib berlaku sopan. Dengar, Num?” bentaknya. 

“I-iya, Tante,” jawab Numayra dengan kepala ditekuk.

Tante Lisa kembali ke kursinya. Dia menghubungi asistennya.

“Har, bawa ke sini,” katanya singkat. Tak lama kemudian Hari datang dengan setumpuk pakaian di tangannya. Tante Lisa memberi isyarat agar pakaian itu diberikan kepada Numayra.

“Pakai itu dan layani tamu yang telah kau buat marah semalam,” perintah Tante Lisa. Numayra menerimanya dengan tatapan nanar ke arah pakaian yang bisa ditebak seperti apa itu.

“Se-sekarang, Tante?” tanya Numayra.

“Tahun depan, Num! Ya sekarang, bodoh!” jawab Tante Lisa dengan marah.

“Cepat keluar sana. Aku kasih waktu lima belas menit untuk bersiap,” ujarnya sambil menatap lekat ke arah Numayra. Gadis itupun segera berlalu dari hadapannya.

Dia berjalan menuju ruangan khusus yang biasa dipakai untuk bersiap-siap para lady escort klub malam itu. Sambil berjalan, Numayra mencoba mengorek informasi dari Hari.

“Mas Har, memangnya siapa sih tamu yang marah sama aku?” tanya Numayra lirih. Har menoleh dan tersenyum tipis. Dia mengangkat kedua bahunya.

“Ndak tau aku, Num. Orangnya sudah di ruang VIP,” jawabnya. Numayra menghela napas resah. Dia pun segera masuk ke ruang ganti.  Dia memperhatikan pakaian yang hendak dikenakannya.  Kepalanya menggeleng.

“Ini tidak benar. Aku bukan wanita yang bisa dikencani oleh tamu,” ujarnya lirih.

“Pasti ada kesalahan,” batinnya sambil melipat kembali pakaian itu dan bergegas keluar ruangan.  Dia kembali ke ruangan Tante Lisa.

“Ada apa? Kenapa belum ganti bajunya?” tanya Tante Lisa dengan heran. Numayra meletakkan pakaian itu di atas meja.

“Maksudnya apa, Tante? Bukankah kita ada perjanjian kalau aku tidak melayani tidur para tamu?” tanya Numayra dengan berani. Tante Lisa diam saja.

“Kalau memang mau dilayani, aku akan mengenakan pakaian yang biasa aku kenakan. Bukan pakaian seperti ini,” tegasnya. Numayra segera membalikkan badan dan berjalan menuju pintu.Tetapi belum sampai di pintu, terdengar suara Tante Lisa.

“Di perjanjian jelas dikatakan kalau kamu melanggar maka kamu harus mau menerima resikonya.”

“Melanggar? Memangnya aku melanggar apa? Salahku apa saja nggak tahu, Tante,” sergah Numayra tak mau kalah.

“Salah kamu? Banyak,” sahut Tante Lisa. Dia berdiri dan berjalan mendekati Numayra.

“Satu, kamu gigit tangannya hingga terluka. Dia mendapat jahitan atas luka itu. Dua, kamu curi uangnya sejumlah hampir sepuluh juta. Tiga, kamu memfitnahnya atas tuduhan penculikan dan rencana pemerkosaan,” lanjut Tante Lisa tanpa jeda.

Numayra yang mendengar itu semua pun mendadak lemas. Dia seketika teringat dengan pembicaraan Ripin tadi pagi.

“Me-memangnya siapa laki-laki itu, Tante?” tanya Numayra terbata. Tante Lisa tersenyum sinis.

“Dia salah satu pemilik saham di sini,” jawabnya.

“Mati aku,” desah Numayra. Kakinya tiba-tiba terasa lemas. Dia pun jatuh terduduk di atas sofa.

“Ja-jadi laki-laki kurang aja semalam itu?” desahnya dalam hati.

“Kamu ingat sekarang, Num?” tanya Tante Lisa dengan seulas senyum sinis di wajahnya.

“Enak banget kamu ya, udah dapat duitnya tapi nggak ngelakuin apapun. Sekarang dia di sini. Dia menuntut haknya. Layani dia. Cepat!” teriak Tante Lisa.

Numayra hanya bisa mengangguk pasrah. Dia pun berlalu dari hadapan Tante Lisa. Numayra mengenakan pakaian yang sangat terbuka hingga lekuk tubuhnya terlihat begitu menggoda.  Tepat setelah selesai berpakaian, pintu ruangan diketuk dan masuklah Hari bersama seorang perias yang biasa dipanggil oleh Tante Lisa.

“Dandani dia, Mak. Buat agar tamu terpikat,” kata Hari sambil tersenyum saat melihat penampilan Numayra.

“Body kamu oke juga, Num,” godanya.

“Ngomong apa kamu, Mas?!” tegur Numayra marah. Hari pun segera berlalu meninggalkan mereka berdua.

“Mak, nggak usah didandani full. Aku bedakan dan lipstikan biasa saja,” kata Numayra.

“Wah ndak bisa gitu, Num. Aku nanti dibilang nggak propesional sama Tante Lisa. Aku kerjakan yang seperti biasanya saja ya. Wong bentar saja, kok,” tolak perias itu. Dengan cekatan tangannya pun segera bekerja. Tak sampai sepuluh menit dia sudah selesai merias Numayra. Gadis cantik itu terlihat semakin cantik dan seksi.

“Sudah. Cepet ‘kan,” ujarnya sambil membereskan peralatan.  Hari masuk dan meminta Numayra untuk mengikutinya menuju ruangan VIP.

“Kamu harus mau melakukan apapun yang dia minta. Ingat, kalau kamu menolaknya, kamu harus membayar sepuluh kali lipat jumlah uang yang kamu ambil plus biaya tambahan hari ini,” jelas Hari dengan gamblang.

“Memangnya dia masih bayar lagi untuk kerjaanku sekarang?” tanya Numayra.

“Ya iyalah. Memangnya Tante Lisa mau kasih gretongan?” jawab Hari dengan gemulai.

“Berapa?”

“Mau tahu aja, ih,” sahut Hari lagi.  Numayra mendesaknya. Sebuah pikiran terlintas di benaknya.

“Ye ambil berapa, tuh dikali tiga. Puas?” jawab Hari akhirnya.

“Busyet. Banyak amat,” gumam Numayra terheran-heran.

“Kamu tahu kenapa, Num?” tanya Hari sesaat sebelum mereka tiba di ruangan VIP. Numayra menggelengkan kepalanya.

“Karena kamu itu mahal harganya. Tamu ini yang ngebet sama kamu, jadi Tante Lisa mempermainkan harga kamu,” bisiknya membuat Numayra terbelalak kesal. Numayra tidak senang dengan akal licik Tante Lisa.

“Awas saja, aku akan menggagalkan rencanamu, Tante,” kata Numayra dalam hati. Mereka pun tiba di depan ruangan VIP. Hari mengetuk pintu perlahan. Tak lama kemudian seorang lelaki membuka pintu itu. Dia menatap Numayra dari atas kepala hingga ujung kaki kemudian mengangguk. Lelaki itu keluar dan mempersilakan Numayra untuk masuk.

Numayra melangkah masuk. Dia melihat seorang lelaki duduk membelakanginya. Perlahan dia melangkah ke arah sana.

“Selamat sore,” sapa Numayra. Lelaki itu membalas sapaannya dan memutar kursinya.

 Meskipun telah diberitahu kalau lelaki semalamlah yang hendak dilayani, tetapi tak urung Numayra kaget juga saat bertatap muka dengannya.

Lelaki itu menatap Numayra dengan takjub. Dia mengangkat tangannya. Ada perban yang menempel di sana.  Numayra diam saja. Dia tetap tidak merasa bersalah.

“Kamu akan diam saja di sana?” tanyanya dengan nada marah.

“Aku akan kembalikan uang kamu semalam,” kata Numayra tanpa mempedulikan pertanyaan lelaki itu.

“Aku hanya menggertak kamu semalam, tetapi uang itu belum aku sentuh sama sekali,” lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.

“Oke. Kamu bisa mengembalikan uangku yang kamu curi semalam,” kata lelaki itu akhirnya. Numayra menghela napas lega. Ternyata tidak sesulit dugaannya.

“Mana uang itu? Kembalikan sekarang juga,” katanya lagi dengan suara yang penuh penekanan.  Numayra terperangah kaget. Sekarang?

“Aku harus mengambilnya dulu. Uang itu ada di rumah,” kata Numayra. Dia pun segera mengangguk hormat dan bergegas membalikkan badan. 

Baru juga lima langkah, tetapi sebuah tarikan menghentikannya. Lelaki itu menarik lengannya dan menatapnya penuh amarah sambil mengatakan apa yang dia maksud dengan kata-katanya tadi.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!