Hujan Tengah Malam
Firman Lembur Kerja
Angin berembus dengan mesra, menjamah semua hal yang dilewatinya. Malam ini udara memang lebih dingin dari biasanya, membuat Firman beberapa kali mengelus lengannya karena kedinginan. Motor metik melaju di jalanan Ibu kota yang tampak sudah sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat, itu pun tampak tergesa-gesa.
Rupanya angin malam ini memberi pertanda, bahwa hujan akan segera turun. Hujan datang tanpa permisi, bergerombol memukuli Firman yang masih menjelajah jalanan untuk pulang ke rumah. Hujannya semakin deras, membuat Firman beberapa kali harus mengusap wajahnya. Dia tidak bisa lagi meneruskan perjalanan kalau begini kondisinya, jarak pandang benar-benar terbatas.
Malam ini dia memang pulang terlambat, ada peralatan pabrik yang harus direparasi, yang mana kini dia malah harus berperang dengan derasnya hujan di tengah malam. Ini pukul 11 malam, harusnya tadi dia mengurungkan niatnya untuk pulang, tetapi rasa rindu pada ibunya membuat Firman tak bisa membatalkan niatannya itu. Terlebih lagi, tadi langit malam masih tampak cerah dengan bulan yang bersinar sempurna di atas sana.
Firman seorang laki-laki berusia 27 tahun, dia belum menikah dan belum pula memiliki kekasih. Jadi dia hanya bisa pulang ke rumah ibunya.
"Haduh, kenapa hujannya malah makin deras." Terdengar Firman mengoceh karena ternyata hujan belum juga selesai dengan tugasnya.
Suara mesin kendaraan tak lagi terdengar, yang ada suara derasnya hujan yang menyentuh aspal. Kini bahkan terlihat kilat dari guntur dan suara ledakan dari beberapa titik.
Langit seperti tengah marah pada bumi, terus saja membuat petir menyambar ke sembarang arah yang membuat Firman merasa ngeri. Dia benar-benar harus berhenti, jalanan sudah semakin licin dan jarak pandang sudah benar-benar terbatas.
Dengan terpaksa dia pun celingukan untuk mencari tempat berteduh yang aman. Dari kejauhan terlihat sebuah gubuk kecil di pinggiran jalan, dengan pohon besar di sampingnya. Sepertinya di sana cukup aman dan Firman pun memilih menghentikan kendaraannya di sana.
Tubuhnya dibuat basah kuyup, dengan angin yang masih berembus membuat tubuhnya semakin menggigil. Firman memeluk tubuhnya sendiri, sekali menggosok kedua telapak tangannya untuk sedikit menghangatkan. Walau nyatanya itu tidak berhasil. Di seberang jalanan sana tampak banyak pohon tinggi yang bergoyang karena angin, kilatan dari petir membuat keadaan semakin terasa mencekam. Beberapa kali Firman kaget karena ledakan dari petir, yang entah menyambar apa, bahkan sampai membuatnya harus menutup mata karena takut.
Angin bertiup di belakang Firman, seperti seseorang sengaja meniup lehernya, yang mana itu membuat bulu kuduknya berdiri. Sontak Firman melirik ke belakang, yang mana tidak ada siapapun juga. Dia benar-benar hanya sendiri di sana, tetapi Firman merasa ada orang lain yang juga berteduh di sana. Pohon besar di samping gubuk membuatnya semakin merasa bergidik.
Sayup-sayup terdengar seseorang memanggil, suaranya samar karena derasnya hujan. Namun, Firman merasa yakin kalau itu suara manusia. Alhasil Firman pun celingukan untuk memastikan kalau keyakinannya itu benar. Dia baru sadar kalau di belakang gubuk ini ada rumah besar, yang di sana terlihat seseorang berdiri sembari melambaikan tangannya.
"Hei Nak, kemari! Berteduhnya di sini, bahaya kalau di sana." Suara samar itu kini terdengar lebih jelas, siluet tubuhnya nyata, Firman yakin kalau itu manusia.
"Iya kamu Nak, sini masuk ke rumah!" teriaknya lagi yang membuat Firman mengangguk.
Firman mengenakan helmnya kembali dan berlari ke rumah besar itu. Di sana ternyata bukan hanya ada seorang laki-laki, melainkan ada wanita paruh baya juga yang mungkin mereka sepasang suami istri. Firman naik ke teras rumah, yang mana wanita itu menyodorkan handuk padanya.
"Keringkan rambutnya Nak, kamu sudah lama di depan sana?"
"Dari tadi saya panggil loh, kamu diam saja. Memangnya gak takut di depan sana, padahal gelap, penerangan di sini kurang bagus," cerita si Bapak yang membuat Firman tersenyum kecil.
Firman mengeringkan rambutnya, kemudian istri dari bapak-bapak itu memintanya masuk ke rumah. Firman membuka jaketnya dan kemudian ikut masuk, di luar udara memang sangat dingin, jadinya dia menerima tawaran tersebut. "Kalian tinggal di sini hanya berdua saja, Pak?"
"Iya, saya berdua dengan istri saya."
"Kamu mau ke mana, Nak?"
"Mau pulang Bu, ke rumah Ibu saya. Sudah lama tidak berjumpa, biasa anak yang rindu sama rumah," cerita Firman sembari tersenyum malu.
Namun, rupanya kalimat itu membuka pembicaraan baru di antara mereka bertiga. Firman yang menjadi betah berada di dalam rumah besar tersebut. Dia menceritakan banyak hal, termasuk ibunya, pekerjaannya, dan perempuan yang juga belum dimilikinya di usianya yang nyaris kepala tiga.
"Jadi kamu belum punya istri atau kekasih?" Pertanyaan itu membuat Firman tersenyum kecil sembari menggeleng pelan.
Firman mengamati bangunan yang ditempatinya, yang mana tampak gelap dan juga lembab. Dingin dari dinding dan aroma tembok membuat suasana di sana sedikit berbeda. Seperti memasuki rumah yang sudah lama tak berpenghuni. Mungkin karena penghuninya hanya dua orang tua yang sudah lanjut usia, yang mana mereka mungkin jarang membersihkan rumah.
Firman melihat ke arah keduanya yang kini terlihat tersenyum.
"Saya juga punya anak perempuan, sudah lama kami tidak bertemu."
"Loh, memangnya anak bapak sama ibu tinggal di mana? Pergi merantau buat bekerja?" tanya Firman yang hanya mendapatkan senyum kecil dari bapak itu.
Laki-laki tua itu menepuk tangan Firman, yang entah kenapa terasa sangat dingin. Udara memang sedang dingin, ditambah dengan hujan di luar sana, dan angin yang masih terasa berembus padahal mereka ada di dalam rumah. Firman melirik laki-laki tua itu, menunggu kalimat selanjutnya yang mungkin akan menjelaskan keadaan mereka saat ini.
Jika dilihat, kasian juga mereka berdua sudah tua dan hanya tinggal berdua. Anak semata wayang mereka malah pergi merantau, yang katanya memang jauh dari kota.
"Anak kami juga belum menikah, sepertinya kalian akan cocok kalau bersama." Firman yang mendengar itu seketika tersenyum kikuk, bingung menghadapi kedua orang tua itu.
"Iya Pak, kamu benar. Nak Firman ini sepertinya anak baik-baik, dia pasti cocok kalau sama anak kita," ucap wanita tua yang juga ikut menggoda Firman.
Urusan jodoh Firman serahkan pada Allah saja, dia tidak kuasa menolak siapa pun yang memang ditakdirkan untuknya. Kilat petir tiba-tiba menerobos masuk rumah, membuat keadaan kembali mencekam lagi. Tengah malam diguyur hujan dengan petir yang tak hentinya menyambar, benar-benar malam yang menakutkan. Untungnya Firman bisa ikut berteduh di rumah itu, jadinya dia bisa berlindung sejenak.
"Gimana Nak Firman, tawaran bapak sama ibu apa kamu bersedia?"
"Soal apa ini Bu, kalau soal jodoh saya serahkan sama Gusti Allah saja. Kalau membantu mencarikan putri kalian, saya tidak bisa berjanji. Saya bekerja di sebuah pabrik Pak, Bu, yang mana jam liburnya nyaris tidak ada," cerita Firman.
Firman menatap keduanya yang tampak kecewa dengan jawabannya itu. Firman merasa tidak enak, tetapi dia juga tidak bisa setuju begitu saja. Apalagi dia tidak tahu ke mana harus mencari putri mereka. "Pak, Bu, saya ...."
"Tunggu Nak, saya ke belakang dulu ngambil sesuatu."