Hujan Tengah Malam
Misteri Rumah Tua
Suara adzan subuh membangunkan Firman yang masih meringkuk di atas tempat tidurnya. Dia bangun karena di dapur pun sudah terdengar barang-barang yang bersentuhan, ibunya pasti sudah bangun, dan sedang membuatkan sarapan.
Firman mengambil handuknya dan pergi mandi, dia melihat ibunya yang tengah sibuk di dapur.
“Ibu sudah salat subuh?” tanyanya.
Ibunya Firman mengangguk, dia tak lupa meminta Firman untuk melakukan kewajibannya juga. Sembari masuk ke kamar mandi, Firman bertanya, “Bu, semalam hujannya deras juga gak ke sini?”
“Hujan? Ke sini gak ada hujan, Nak.”
Firman yang semula hendak masuk kamar mandi pun mengurungkan niatnya, dia malah membuka pintu dapur dan melihat keadaan di luar yang memang kering. Bahkan udara juga biasa saja, tidak seperti habis hujan deras.
“Kamu kenapa, Nak?” Firman menjawab dengan gelengan kepala, dia masih belum mengerti tentang kejadian semalam yang dirasanya janggal.
Firman pun masuk ke kamar mandi dan melanjutkan aktivitasnya. Usai salat subuh, dia pun sarapan bersama ibunya. Firman bersiap kembali untuk berangkat ke pabrik. Dari tempat kerja ke rumah berjarak sekitar 20 km. Firman kembali melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Di perjalanan, Firman kembali teringat dengan kejadian semalam. Dia kembali melewati jalan yang kemarin, yang mana ternyata tak ada tanda-tanda kalau semalam hujan deras. Biasanya kalau semalam hujan, pasti ada tanda-tandanya dari rerumputan atau dedaunan di pohon. Jangankan bekas hujan, embun pun tak ada. Firman semakin merasa bingung, tetapi dia tetap melakukan kendaraan sembari celingukan. Sampai akhirnya matanya menemukan gubuk yang semalam dia singgahi.
Motor metik Firman berhenti di seberang jalan, di mana gubuk itu berada. Matanya kini tertuju pada bangunan besar di belakang sana. Jantung Firman seketika berdegup kencang, kala dia melihat rumah besar yang semalam dia tinggali beberapa waktu itu ternyata hanya sebuah bangunan tua yang sudah terbengkalai.
Rumah itu memang ada, tetapi itu benar-benar rumah yang sudah tak lagi berpenghuni. Catnya sudah terkelupas, banyak tanaman rambat yang menjalar dari bawah sampai ke atas genting, menutupi dinding rumah. Suasana di rumah itu juga terasa sangat menyeramkan, padahal Firman berada jauh di seberang jalan.
Apa benar semalam dia masuk ke sana?
Firman kembali mengingat semuanya, dia yakin kalau rumah yang semalam dia jadikan tempat berteduh adalah rumah di belakang gubuk sana. Firman ingat jelas ada pohon besar di depan rumah sana. Namun, apa yang dilihatnya kini sangat jauh berbeda dari keadaan semalam.
Lantas kalau ini rumah tak berpenghuni, semalam siapa yang memanggilnya dan dengan siapa semalam dia mengobrol. Firman mengusap wajahnya karena merasa frustasi dengan keadaan. Ingatannya dan kenyataan sangat berbanding terbalik.
Firman teringat dengan liontin yang diberikan laki-laki tua semalam, dia pun langsung membuka tasnya dan melihat kalung liontin semalam yang ternyata ada. Kalungnya benar-benar ada di tasnya, lantas yang semalam itu benar-benar terjadi atau hanya halusinasinya.
Firman benar-benar dibuat bingung, dia membuang napasnya ke udara, kemudian melajukan kendaraannya menuju kantor. Kepalanya masih diisi banyak pertanyaan, di mana Firman harus segera memecahkan tanya itu dengan cara mencari jawaban sendiri. Kalung liontin ini pasti akan membawanya menemukan jawaban.
Pulang dari tempat kerja, Firman langsung menemui ibunya untuk meminta izin. Kebetulan besok adalah hari Minggu, di mana dia bisa segera pergi untuk mencari alamat yang diberikan laki-laki tua semalam.
“Bu, besok aku libur bekerja, tapi ada hal yang mau Firman lakukan di luar kota. Ini amanat dari seseorang, Firman harus menyampaikannya sesegera mungkin.”
“Pergilah, hati-hati di jalan dan jaga diri kamu.” Firman mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Firman pun sudah siap untuk pergi ke luar kota. Dia sudah mengantongi alamat yang dimaksud, dia pun pergi agar bisa cepat kembali lagi.
Beberapa jam sudah berlalu, Firman sudah melewati banyak tempat dan bertanya ke sembarang orang tentang di mana alamat yang dimaksudnya itu. “Iya Bu, ini alamatnya. Apa ibu tahu?”
“Oh, itu panti asuhan. Gak jauh dari sini Mas, tinggal lurus aja palingan 200 meter nanti ketemu. Bangunannya tidak begitu besar, tapi punya halaman yang cukup luas.”
“Baik Bu, terima kasih banyak.” Firman pun kembali melajukan kendaraannya dan sampailah dia di tempat yang dimaksud.
Firman masuk ke area panti asuhan, melihat banyak anak-anak yang berlarian di halaman. Dia pun bertanya pada salah satu penjaga panti di sana, “Assalamualaikum. Maaf Bu, apa itu mengenal seorang perempuan bernama Calya?”
“Oh, Nak Calya. Tentu saja kenal, dia memang tinggal di sini dan kebetulan membantu kami merawat anak-anak juga. Nak ini siapa ya, kenapa mencari Nak Calya?”
“Saya Firman, saya ada keperluan pribadi dengan beliau.”
Ibu itu mengantarkan Firman ke dalam panti, yang mana kebetulan Calya tengah berjalan ke arah luar. Di saat itulah Firman melihat sosok perempuan cantik dengan hijab yang menutupi dada. Dia menatap Firman saat salah satu penjaga lainnya mengatakan kalau Firman mencarinya.
Calya dan Firman pun mengobrol di taman depan panti. Di mana keduanya tampak canggung, karena mereka memang tidak saling mengenal. Firman kemudian memulai pembicaraan sembari memberikan kalung liontin. “Maaf kalau kedatangan saya mengganggu. Saya ke sini hanya untuk menyampaikan amanat dari bapak sama ibu, sekaligus memberikan ini.”
Melihat kalung liontin miliknya ada di tangan Firman, Calya seketika membeku dan menatapnya.
“Kamu dapat dari mana kalung itu, kamu mengenal bapak sama ibu saya?” tanyanya.
“Tidak, semalam saya hanya kebetulan bertemu dengan mereka berdua. Lalu meminta saya memberikan ini langsung pada kamu. Kemudian beliau juga meminta saya mengatakan ini ....” Calya terlihat tidak percaya dengan ucapan Firman, tetapi kalung liontin yang dibawanya membuat Firman tahu kalau ini memanglah nyata.
Calya gemetar, dia menahan tangis saat Firman menceritakan bagaimana kedua orang tuanya ada di rumah dan merindukannya.
“Ibu sama Bapak minta kamu untuk mencari surat yang tertinggal di bagasi mobil tua dan yang terakhir mereka meminta kamu untuk menemui sopir yang bernama Pak Lukman.”
Calya masih membeku di tempatnya, dia menatap Firman, dan kemudian berlari menuju halaman belakang panti. Di mana mobil tua itu berada, Firman juga ikut, dia penasaran dengan kebenaran kejadian semalam. Calya terlihat membuka bagasi mobil dan benar di sana ada berkas, yang ternyata surat-surat rumah dan tanah atas nama Calya.
“Ternyata benar,” gumam Firman.
“Bapak sama Ibu sudah meninggal Mas, mereka kecelakaan di mobil ini.” Mendengar kalimat itu seketika Firman membulatkan matanya.
“Mobilnya saya simpan di sini, karena ini kenang-kenangan. Saya masih merasa bingung dengan kematian kedua orang tua saya,” jelasnya lagi.
Firman menelan air liurnya, menatap Calya yang dari ekspresinya saya yakin kalau kedua orangtuanya memang sudah meninggal. Calya mengusap air matanya, lantas tersenyum pada Firman. “Mas, bantu saya sekali lagi untuk mengurus sesuatu. Ada hal yang harus saya perjuangkan. Kita harus mencari Pak Lukman sesegera mungkin,” ucap Calya dengan tatapan memohon.