Ilmu Warisan

Bab 13

" Innalillahi Wainnailaihi rojiun. Nur, iku mesti bocah seng kuwe omongke kemarin," bisik Mbah Uti.

 
"Wis to, Mbah. Ojo ngono ...," jawabku.
 
"Yo iku anak buk Lakiyem, nang omahe di deket warung Buk tarjo. Persis karo omongan kuwe kemarin." 
 
Mbah Estu mengangguk, "Melayat, Nur. Ben kuwe paham bener opo ora." 
 
Seperti biasa aku hanya menggangguk, mengiyakan. "Nur siap-siap dulu." 
 
Merapihkan tubuh dari sisa-sisa noda bekas semalam yang rasanya masih melekat di ingatan.
 
****
 
Setibanya kami di rumah duka, suara isak tangis yang memilukan terdengar sampai ke depan halaman. Buk Lakiyem meronta histeris melihat anak semata wayangnya terbaring kaku di atas kasur berwarna putih ditutup kain jarit.
 
Beberapa orang menenangkan, mengelus pundak Buk Lakiyem. Namun, apalah daya seorang ibu yang kehilangan anaknya seakan seluruh masa depannya turut menghilang.
 
Dirinya masih tak menyangka anaknya meninggal begitu cepat, setelah beberapa hari bertindak aneh dan mengurung diri di dalam kamar setelah pulang sekolah kemarin. 
 
Sekarang giliranku, membuka kain penutup wajah jenazah. Wajah anak cantik itu benar dia adalah bocah yang kutemui kemarin. Kututup kembali kain itu, lalu mulai menyumbang surah Yasin untuk Almarhumah.
 
Belum selesai aku membaca Yasin. Pak Tatang tiba-tiba datang disambut dengan hormat oleh beberapa warga, kedatangannya begitu disegani.
 
Kedatangannya membawa aroma bangkai, aromanya menyeruak membuat kepalaku pusing. Anehnya semua nampak biasa aja. Apa cuma aku yang menciumnya?
 
Astaghfirullah. Sumpah aku tak percaya dengan apa yang sekarang kulihat. 
 
Saat Pak Tatang masuk ke dalam rumah duka, di punggung Pak Tatang, ada anak remaja perempuan yang bola matanya merah melotot ke atas, mulutnya menganga terus menerus mengeluarkan bel^tung-bel^tung kecil dan wajah anak perempuan itu sama persis dengan jenazah di hadapanku.
 
Pak Tatang sadar akan kehadiranku, dia menatapku tajam lalu menyeringai. Mbah Estu yang sejak tadi duduk di sampingku, kini pindah posisi maju ke depan dan balik menatap Pak Tatang dengan sorot mata penuh kebencian.
 
Merasa terdesak oleh tatapan Mbah Estu, ia segera berpamitan pulang dengan tergesa.
 
Kemudian, kami juga berpamitan pulang dengan buru-buru, berniat untuk mencegat manusia iblis itu di luar. Namun, seberapa pun kami berusaha mengejarnya, tetap saja sia-sia.
 
Pak Tatang berhasil kabur dari kami, baru kali ini aku melihat manusia berlari secepat kedipan mata.
 
"Brengsek!" teriak Mbah Estu dengan rahang menegang.
 
"Ngopo dia lari, Mbah? Wedi karo Mbah?" tanyaku penasaran.
 
"Ndak, kekuatannya cuma enek di omah. Di luar dia lemah. Dadi saat di luar, dia manungso biasa, mudah sekali untuk dikalahkan," jawab Mbah Estu tegas.
 
"Sekuat apa Mbah?" tanyaku lagi.
 
"Sekuat-kuatte, setiap enek tumbal seng bertambah, bertambah pula kekuwatane. Termasuk anak perempuan tadi wis dadi korbanne."
 
Alisku terangkat, perasaan bersalah kembali muncul. Seandainya saja aku lebih peka, mungkin aku masih sempat mengobati anak itu. Aku merenung, lagi-lagi menyalahkan diri yang merasa tak becus memegang amanah Mbah Kakung. Selalu terbesit rasa tak pantas untuk menggantikannya.
 
Mbah Estu menepuk bahuku dua kali, "Kuwe ngerti, Nur. Mbah Kakungmu dulu juga pernah berada di posisi kuwe. Lebih parah malah ...," ujarnya, diakhiri dengan tertawa kecil, kebiasaan Mbah Estu yang selalu mencairkan suasana.
 
Tak terasa sudah 10 menit perjalanan setelah berputar balik saat mengejar Pak Tatang tadi. Mbah Estu yang rumahnya lebih dekat, berniat mengantarkanku pulang lebih dulu. Namun, kutolak, tak enak sudah banyak merepotkan beliau.
 
Usai Mbah Estu pulang ke rumahnya, aku berjalan sendiri dengan matahari yang nyaris tenggelam. Angin sepoi-sepoi melintas, membuat bulu kudukku berdiri.
 
Argh! Kebiasaan kenapa setiap aku sedang sendiri.
 
"Sssut ... sssutt ... Nur," terdengar suara memanggil yang entah dari mana.
 
Mataku melebar, lalu memutar mencari sumber suara.
 
"Sssutt ... Nur, Nur. Sini!" 
 
Astaghfirullah. Betapa terkejutnya aku saat melihat yang memanggilku adalah tuyul yang bersembunyi di balik semak. Bola matanya merah menyala sambil terus tertawa, memperlihatkan giginya yang runcing.
 
"Sini main!" panggilnya lagi.
 
Kuabaikan, melanjutkan perjalanan dengan menahan diri dari rasa takut. Aku tak boleh takut! Ingat, kedudukan manusia lebih tinggi dibanding setan!
 
Tak lama kemudian, terdengar keributan orang-orang yang berlarian. Refleks aku menoleh ke belakang, melihat para tuyul berhamburan dari semak-semak dalam jumlah yang tak terhitung.
 
Mereka mencoba menggoda, bergelayut di kaki, menarik-narik kain bajuku dan ada yang sampai mencolek b0k0ngku.
 
Aku berhenti melangkah, menghela napas panjang dengan kesal. Kuambil ranting kayu dan kutodongkan pada mereka.
 
"Muleh! Atau kusabet!" bentakku dengan nada tinggi sambil melotot.
 
"Ihik, ihikk ... ihik ...." Itulah suara tertawa mereka. Mereka kabur berlari sambil melompat ceria, seperti tak ada beban kehidupan mereka sebagai tuyul.
 
Tak berselang lama setelah aku berhasil mengusir tuyul-tuyul yang usil, terdengar suara tertawa yang melengking.
 
"HIHIHIHI."
 
Aku mendongak ke atas, melihat sepasang kaki mengayun di atas pohon. Kaki itu pucat dengan kuku-kuku panjang yang tajam, berayun-ayun pelan seolah menikmati sore yang indah baginya. Perlahan, sosok itu menoleh ke bawah membuat wajah kami saling bertatap temu, menampakkan wajahnya yang menyeramkan dengan senyum menyeringai.
 
Aku merapatkan jaketku, merasakan dingin yang tiba-tiba merayap.  
 
Setiap aku melajukan langkah lebih cepat sosok itu tertawa semakin keras dan nyaring. Seolah dia menertawakanku yang belum sepenuhnya mampu menyingkirkan rasa takut.
 
Tepat saat adzan maghrib berkumandang, aku sampai di depan rumah.
 
"Assalamualaikum ...."
 
"Mbah ...?"
 
"Assalamualaikum," panggilku lagi, namun tak ada jawaban dari Mbah Uti.
 
Kriettt ....
 
Ternyata pintu tak terkunci. Mungkin Mbah Uti sengaja menunggu kepulanganku. Aku masuk, suasana begitu hening, hanya suara jangkrik dan katak yang mulai berpadu mengisi malam.
 
Dengan langkah yang masih cepat, aku menengok ke dalam kamarku, mencari keberadaan Mas Bisma. 
 
Ternyata Mas Bisma sedang menunaikan sholat. Aku terdiam sebentar, memandanginya dengan hati yang penuh rasa haru. Tak terasa, setetes air mata jatuh. Selain Mbah Uti, aku juga takut kehilangannya, kehilangan sosok laki-laki yang mencintaiku dengan tulus dan menerima kekuranganku apa adanya.
 
Hatiku lega melihat Mas Bisma, akhirnya suamiku sudah kembali seperti sedia kala.
 
"Tolong jaga dia, Tuhan. Aku mencintainya," batinku sembari tersenyum menatap punggung Mas Bisma.
 
Setelah hatiku sedikit tenang, aku melangkah menuju kamar Mbah Uti untuk menengok keadaannya.
 
Ternyata, Mbah Uti pun sedang menunaikan sholat dengan khusyuk. Aku berdiri menatapnya dari ujung pintu, membayangkan bagaimana jika salah satu dari mereka meninggalkanku karena kecerobohan yang kuperbuat.
 
Sontak aku menggeleng, rasanya tak sanggup meski hanya membayangkan.
 
Mbah Uti .... 
 
Mas Bisma ....
 
Mereka hidupku, mereka hartaku satu-satunya. Sebisa mungkin, aku akan melindungi mereka meski nyawaku taruhannya!
 
"Nur, kuwe wis muleh? Ora bagus langsung masuk kamar! Cuci awakmu dulu, resik-resik! Ambil wudhu trus sholat."
 
Deg! Mbah Uti muncul dari arah dapur dengan wajah basah, seperti baru selesai wudhu.
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!