Ilmu Warisan

Bab 16

Setelah semalaman begadang memperhatikan tingkah laku Pak Tatang dari atas, aku akhirnya terbangun dengan tubuh menggigil. Ternyata, aku tak sadar tertidur di lantai yang dingin. 

 
Bola mataku melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 4 subuh. Dengan perlahan, kubuka sedikit gorden, mencoba mengintip keadaan di luar kembali.
 
Syukurlah, aku menghela napas lega saat menyadari bahwa Pak Tatang sudah tidak ada di sana.
 
Namun, aku masih tak habis pikir. Mengapa lelaki iblis itu terus mengikuti? Apa yang ia harapkan dariku? 
 
Kepalaku sakit memikirkan terlalu banyak beban di dalamnya.
 
Ting!!
 
Satu notif pesan mengejutkan, tertera nama Mbah Estu di layar ponsel yang layarnya sudah retak, akibat inseden beberapa hari yang lalu.
 
[Nur, Kuwe wis tangi?] Isi pesan itu.
 
[Wis, Mbah ....] Baru saja aku menekan tombol kirim, Mbah Estu menelpon.
 
[Assalamualaikum, Nur! Alhamdulillah kuwe ngangkatne cepet. Kuwe kudu ngerti, opo seng Mbah delok sewingi,] ujar Mbah Estu menggebu dan terburu-buru.
 
[Walaikumsalam, opo Mbah?] 
 
 
[Si Tatang ngelakuin ritual membelah diri Mbah yakin si Tatang ngintilin kuwe.]
 
Aku membenarkan.
 
 Mbah Estu cerita semalam dirinya mengintip Pak Tatang di belakang rumahnya dan kebetulan sedang melakukan ritual. Mbah Estu ingin menggagalkan, tapi Mbah Estu tidak ingin kegabah. 
 
[Sek saiki luwih becik kuwe muleh, sadurunge masalahmu tambah gede. Mbah ora pengin ana nyawa melayang maneh mergo ulahe si Tatang. Kuwe paham?]
 
Belum sempat terjawab olehku, Mas Bisma yang kutahu tadi tertidur pulas kini merebut ponsel digenggamanku lalu berjalan cepat menuju bath tub melempar ponselku ke dalamnya.
 
Mulutku terbuka lebar, menatap tajam kearahnya. 
 
 
"Sudahku bilang lupakan semuanya, Ainur!" bentaknya. "Apa lagi untuk berkomunikasi pada dukun itu!" ujarnya sembari melangkah kembali untuk tidur. 
 
Wajah Mas Bisma pucat bibirnya membiru, tatapannya juga kosong saat menatapku.
 
Aku membuang napas panjang, meski rasanya ingin marah. Aku urungkan saat melihat kondisi tubuh Mas Bisma.
 
"Mas sakit?" tanyaku mengelus keningnya. Tubuhnya begitu dingin, tapi dia sama sekali tidak menggigil.
 
Mas Bisma masih berpaling wajah, mungkin dia kesal padaku.
 
Kutinggalkan dirinya, lebih baik menunggu hatinya luluh sendiri. Aku melangkah membuka jendela berharap cahaya pagi bisa masuk. 
 
Namun, baru saja aku membuka gorden Mas Bisma mengejutkanku. 
 
"Ojo mbukak hordeng kuwi!" ujar Mas Bisma dengan nada suara tinggi.
 
Sontak aku mengerjapkan mata, lalu menoleh padanya. Sejak kapan dirinya bisa berbahasa jawa selengkap itu?
 
Tatapannya kini kosong menatapku dingin, lalu tertidur kembali.
 
Bingung melihat keadaan Mas Bisma sekarang, aku merasa ada yang tidak beres padanya.
 
Lama aku terdiam menatap punggungnya, hingga akhirnya ia tertidur pulas dengan suara ngorok yang nyaring.
 
Lemah, aku melangkah membuka pintu kamar dan terhuyung menuju dapur yang sudah beberapa hari tidak dijamah.
 
Saat memasuki dapur, suara tawa melengking terdengar.
 
"HIHIHIKKK." Suara itu berasal dari sosok yang duduk di atas kitchen dengan kaki terayun-ayun.
 
Memakai kain putih lembab, rambutnya terurai panjang berantakan terjuntai tepat di atas kitchen sink. Sempat merinding membayangkan selama ini aku mencuci piring mengenai rambut-rambutnya.
 
"Sudah pulang ya, Mbak?" tanyanya dengan suara wanita yang mempunyai ciri khas melengking.
 
Kuabaikan, berpura-pura tidak melihatnya. Terus menyeruput air putih. Terserah dirinya untuk tinggal dimana saja asal jangan mengganggu.
 
 Jika dia memang suka di rumahku tidak apa-apa, konon katanya rumah yang ditunggu oleh makhluk tak kasat mata mereka berkewajiban untuk menjaga rumah itu.
 
"HiHIHIHI." Suara tawanya kini melengking lagi, membuat kepalaku semakin pusing.
 
Muak berlama-lama di dapur, aku menuju ke halaman meski bau amis semalam membuatku malas untuk ke luar.
 
Aneh, saat aku membuka pintu depan dan melangkah ke luar. Sama sekali bau anyir amis itu tidak ada. 
 
Mencoba untuk duduk santai di teras, menyapa para tetangga seperti biasanya. Menghirup udara segar, meski tak sesegar waktu di desa.
 
Jam segini sudah banyak hiruk pikuk bunyi klakson mobil yang lewat di depan rumah.
 
"Ce, Ainur!" panggil Mbak Asih perempuan kelahiran sunda yang tinggal tepat di depan rumahku.
 
"Iraha mulang atuh, Ce?" tanyanya dengan logat sunda.
 
"Tadi malem, Ce ...," jawabku sembari membuka pintu gerbang.
 
"Alhamdulillah, hartina tengah peuting tadi beneran si Bisma."
 
"Hah? Apa?" ujarku menyipitkan mata, "Ngomong pake bahasa indonesia aja Ce, aku ndak ngerti," ucapku yang sebenarnya sedikit-sedikit aku paham, tapi kali ini aku mau memastikan jika artianku tak salah.
 
"Iya, Ce. Itu artinya, Alhamdulillah tengah malem tadi bener si Bisma."
 
"Sekitar jam 2 malem Ce, berdiri aja ngeliatin rumah Ce Ainur, kirain siapa jadi ditemuin sama suami. Nggak taunya si Bisma." 
 
"Tapi si Bisma ditegur malah melotot, ngomong bahasa logat jawa medok akhirnya sama suami ditinggalin masuk ke rumah." 
 
"Si Bisma habis pulang dari desamu kok ketus, logat jawanya juga sekarang tambah pinter," ketus Mbak Asih.
 
"Bilang sama si Bisma jangan ketus-ketus! Yang ngejagain rumah kalian waktu kalian gak ada itu kami!" lanjut Mbak Asih.
 
Deg! Meski sedikit terkejut, tentu kujawab apa adanya, karena memang Mas Bisma dari semalam di kamar bersamaku.
 
"Terima kasih sebelumnya, Ce. Tapi Maaf beribu-ribu Maaf semalam suamiku tidur nyenyak di kamar," jelasku yang membuat Mbak Asih sepertinya tersinggung.
 
Mbak Asih menyeret lenganku ke rumahnya, menunjukkan CCTV di depan terasnya yang menghadap ke rumah kami.
 
Disana terlihat memang jelas Mas Bisma berdiri menghadap rumahku, seperti sedang memperhatikan ke lantai atas.
 
Eh tapi tunggu, lantai atas? Kuzoom pakaiannya, mengapa sama persis yang dipakai Pak Tatang semalam? Tapi wajahnya? Benar ini Mas Bisma.
 
Mbak Asih menoleh tersenyum, "Bener kan, Ce?" tanyanya memastikan aku percaya padanya.
 
Aku mengangguk mengiyakan, percuma juga menjelaskan hal ini padanya. 
 
"Maaf ya, Ce ... si Bisma lagi banyak pikiran." Aku beralasan lalu berpamitan untuk pulang ke rumah.
 
Buru-buru aku melangkah, tak lupa mengunci gerbang masuk dengan cepat khawatir akan keadaan sang suami.
 
Namun, baru saja pintu terbuka. Bau busuk menyengat seperti bangkai menusuk ke hidung.
 
 Suara sendok yang bertabrakan pada piring dan suara orang mengunyah yang mengecap berasal dari dapur membuat bulu kuduk berdiri, siapa disana?
 
Dengan langkah pelan, terlihat dari kejauhan punggung Mas Bisma sedang terduduk menikmati sesuatu di meja makan.
 
"Makan apa, Mas? Nikmat bener?" tanyaku melangkah menghampiri, semakin dekat aku melangkah semakin pula bau busuk itu membuat isi perutku berputar ingin keluar.
 
"Bakso. Tadi lewat." 
 
Aku mengerutkan kening, Bakso? Sepagi ini? Mamang-mamang bakso mana yang rajin jam segini sudah muter berjualan? 
 
Lagi pula bukannya aku dari depan? Tidak ada bunyi orang berjualan bakso.
 
"Nur, Mau bakso?" ujar Mas Bisma menoleh padaku membawa semangkuk berisi bel^tung-bel^tung kecil di tangannya, terlihat pula seperti isi jeroan yang membusuk diseruput Mas Bisma langsung di depanku.
 
Tak tahan, isi lambungku keluar seketika. Napasku memburu, jantung berdetak tak karuan. Reflek kuberlari ke teras membuang mangkuk itu tong ke 
sampah.
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!