Aku ternganga sebentar, lalu menoleh ke belakang.
Memilih diam meski bulu kuduk mulai berdiri dan irama jantung tak beraturan.
Wanita tua itu masih duduk di sampingku, dia benar-benar terlihat jelas walau wajahnya selalu ia tutupi.
Kerongkongan mulai terasa kering dan kedua kaki ini bergetar hebat saat nenek itu sekarang menoleh padaku dan memperlihatkan senyum pucatnya.
Suara Mbah uti terdengar di telingaku, anehnya ... mengapa aku seolah hanya terpaku pada senyuman pucat itu. "Nur ... eling, Nur! Eling!" ujar Mbah uti menggoyangkan tubuhku.
Aku berusaha menoleh pada Mbah uti ... tetapi senyum wanita tua itu seperti menghipnotis hingga tubuhku melemah, lalu ambruk dari kursi dan terlihat samar wanita tua itu kini melangkah bungkuk wajahnya yang masih tersenyum mendekat tepat di atas wajahku hampir tidak ada celah.
***
Kelopak mata dengan perlahan kubuka, terlihat sanak saudara yang sudah terjejer rapih menunggu kesadaran saudara mereka dan Mas Bisma duduk sambil memangku kepalaku.
"Aku kenapa, Mas?" tanyaku perlahan sembari menatap wajahnya dari bawah.
Mas Bisma hanya menggeleng sambil terus memijat keningku.
Tak lama kemudian Mbah uti tergopoh-gopoh menemuiku ditemani dengan seorang pria sepuh yang tidak kuingat sebelumnya.
"Wis enakan Nur badannya?" tanya Mbah uti.
"Uwees, Mbah ...," jawabku pelan.
Mbah uti mulai membenarkan duduknya dia menyilakan kaki dan menyuruhku untuk duduk, ada yang ingin ia bicarakan katanya dan ini sangat penting!
Aku mengangguk, menuruti perintah mbah uti. Aku duduk menghadap mbah uti dan pria sepuh yang datang bersama mbah uti tadi.
"Nur ... ojo kaget ya, kamu juga ndak boleh takut! Ada yang mau mbah sampein ke kamu ... tapi ...." Mbah uti terlihat ragu untuk meneruskan ucapannya, ia menoleh gugup pada pria tua di sampingnya.
"Tapi apa, Mbah?" tanyaku sedikit menekan.
"Nur, masih inget mbah? Mbah adalah teman dekat Almarhum mbah kakungmu, terakhir kita bertemu Nur masih kecil ... tapi mungkin Nur lupa," sambung pria sepuh itu yang masih dengan keras kumengingat siapa dirinya?
Pria tua itu tersenyum kecil melihatku yang kebingungan. "Mbah Estu ... Nur ingat? Mbah lohhh kalo kesini selalu ngasih oleh-oleh rengginang kesukaanmu," ucapnya lagi dan kali ini dia mengelus rambutku pelan, "Sekarang ... Nur sudah besar yaaaa, bercahaya seperti namamu Nur. Emang ndak salah Mbahmu ngasih nama Nur, Aura Nur bener-bener bagus!" pujinya.
Aku tersenyum malu, meski kumencoba mengingat tidak juga ingat. Suasana menjadi cair hanya karena guyonan dan pujian dari Mbah Estu, aku seakan lupa apa yang akan disampaikan oleh Mbah uti tadi.
Namun, suasana yang baru saja mencair tidak berlangsung lama.
Pintu dari ruang utama terdobrak kencang. "BRAGH!!!!" Semuanya terkejut menatap pintu yang sudah terbuka lebar, anehnya... tidak ada angin dan tidak ada siapa-siapa disana.
Mbah uti menggenggam tanganku kuat seraya mulutnya komat-kamit ntah apa yang dia bacakan aku pun tak tahu karena itu terdengar sangat aneh di telinga.
Sedangkan aku hanya bisa terdiam, karena sangat bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
"AAINUR ...."
Aku menoleh celingak celinguk mengikuti sumber suara berat yang baru saja memanggilku.
Namun, Mbah uti semakin menggenggam tanganku kuat. Sanak saudara yang tadinya duduk kini mereka saling memeluk dan saling menyembunyikan wajah karena takut.
Sedangkan Mbah Estu terus berjalan dengan membacakan mantra, Hingga angin sangat lembut memutari kami lalu keluar dan pintu pun tertutup sendiri.
Semua menoleh lega ... termasuk aku yang langsung memeluk mbah uti. "Mbah ... eneng opo? Opo mbah kakung muleh?" tanyaku dengan nada bicara gugup.
"Husstt!!! Ngomong opo kuwe ndok! Bukan iku ... nanti mbah Estu yang akan menjelaskan."
Aku terdiam ... ada apa sebenarnya? Mulai dari wanita tua yang selalu mengikutiku dan sekarang ntah kemana wanita tua itu.
Dari arah pintu mbah Estu melangkah cepat ke arah kami mematikan semua lampu dan menghidupkan satu buah lilin.
"Semua masuk ke kamar mbah kakung yang ada pintunya!" perintah Mbah Estu.
Dan kami hanya bisa menuruti mbah Estu, tergopoh-gopoh jalan bergandengan ke kamar mbah kakung.
Kemudian mbah Estu menghitung jumlah orang, sepertinya ia hanya memastikan jika tidak ada yang tertinggal di luar. Lalu menutup pintu kamar mbah kakung.
Sedari tadi pikiranku kemana-mana, keringat Mas Bisma pun sempat terjatuh di pundakku. Aku menoleh padanya dan bertanya, karena aku yakin dia pasti mengetahui hal ini dibanding aku. "Mas ... apa kamu tau tentang ini?" tanyaku berbisik.
Namun, lagi-lagi Mas Bisma bukannya menjelaskan malah tersenyum.
"Semuanya berpegangan, membentuk lingkaran!" lagi-lagi mbah Estu memerintahkan kami.
Setelah semuanya berpegangan erat, Mbah Estu mulai membuka bicara dengan serius. Wajahnya maram menatapku tajam. "Nur ... ntah kelebihan apa yang ada padamu sampai membuatnya memilihmu, tapi yang jelas ... siap nggak siap, kamu harus siap! Ini adalah ilmu turun temurun di keluarga kalian!" ujar Mbah Estu, membuatku terbelalak menatapnya tak percaya.
"Dan jika ada salah satu dari kalian yang menanyakan, kenapa harus mbah Estu yang disini? Karena tidak ada yang bisa membuat ritual ini selain mbah kakung kalian atau orang satu perguruan dengan mbah kakung! Paham?!" ujar mbah Estu kembali.
Tiba-tiba saja aku merasa tengkuk leherku terasa dingin seperti ada yang meniup lembut sekali.
"Kenapa mbah Estu tau, ilmu itu diwariskan padaku?" tanyaku gemetaran karena menahan aura dingin yang baru saja kurasakan.
Mbah Estu tersenyum, "Semuanya sudah di atur oleh mbah buyutmu, Nur. Aku datang di saat kamu pinsan dan terlihat disampingmu ada roh turun temurun di keluarga kalian."
Bingung, ntah apa yang harus kulakukan dalam kondisi seperti ini? Ingin menolak karena tentu saja aku takut. Tapi baru saja mbah Estu mengatakan jika aku tidak boleh menolak. Jadi apa yang harus kulakukan selain pasrah menerima?
Aku terpejam beberapa detik menenangkan perasaan.
"Tenang, Nur ... dia tidak menyeramkan, dia menampakkan dirinya padamu hanya untuk berkenalan dan menyatu pada jiwamu. Itu saja ... tidak lebih! Semakin kita menunda ritual penyatuan ini, semakin roh itu mengincarmu, mengikuti kemana pun dirimu hingga Nur benar-benar menerimanya."
Kelopak mataku masih terpejam, aku memupuk keberanian dan berharap semuanya akan baik-baik saja setelah ini.
Aku mengangguk dengan mantap.
"Alhamdulillah, Nur ... setelah penyatuan ini kamu akan melihat semua rahasia semua orang. Kematian seseorang, terkadang juga kamu akan melihat roh penghuni tubuh orang lain sepertimu. Pokoknya kamu akan mempunyai mata batin yang luar biasa setelah ini, jadi tolong kuatkan mentalmu!" jelas mbah Estu.
Aku menggigit bibir, "B-bagaimana jika aku nggak kuat, Mbah?" tanyaku gugup sedikit gemetar.
Mbah Estu memicingkan bibirnya. "Kamu pasti akan terbiasa, Nur! Tidak ada pilihan disini. Selain membiasakan diri."