Ilmu Warisan

bab 20

Suami Mbak Asih semakin tersulut melihat si jabang bayi yang ia harapkan harus berakhir sia-sia. Apa lagi, saat semuanya terkejut janin itu bisa seketika hilang di tanganku. 

 
Dengan bola mata yang melotot, Suami Mbak Asih menunjukku. "Kau dalang dari semua ini kan? Ngaku!? Apa salah kami? Sampai bayiku saja kau jadikan tumbal!" dirinya terus berteriak membuat semua warga berkumpul, ia memakiku dengan perkataan yang sama terus menerus.
 
Sedang aku hanya diam saja tak bisa mengelak, apa lagi untuk mencari pembelaan.
 
"Nak, kamu salah. Ainur ini malah ingin menolong istrimu dari gangguan goib," ujar Mbah Sugi mengelus bahunya.
 
Tangan Mbah Sugi ditepis oleh pria yang sekarang sedang merasakan puncak emosi. "Siapa kau? Aku tidak mengenalmu! Jangan-jangan kalian sama datang dari desa, bersekutu dengan jin! Melakukan pesugihan dan pulang ke kota untuk mencari tumbal!" teriaknya lagi, warga hanya menyimak percakapan kami.
 
"Ndak, itu ndak bener! Itu fitnah!" reflek aku mengucap.
 
"Yang dikatakan suami Mbak Asih benar, sebenarnya kemarin pagi aku melihat si Bisma memakan ulat-ulat kecil mirip bel^tung dan jeroan ayam busuk di dalam tong sampah," timpal Mbak Nilam di balik keramaian.
 
Konstan ekspresi semua orang menatapku jijik, rasa lelahku semakin tiada tahu rasanya lagi setelah menghadapi warga. 
 
"Astaghfirullah ... benar begitu, Nur?" tanya Mbah Estu yang belum sempat kuceritakan padanya. Kejadian begitu banyak, sedang waktu kami terlalu singkat untuk mendengar dan memberi penjelasan. 
 
Aku mengangguk pasrah, ditonton semua warga. 
 
"Huuu!!! Dasar kafir! Ingin kaya dari modal pesugihan!" celetuk warga yang lain.
 
"Pantes pak Bisma jadi bos, ternyata pakai pesugihan!" lanjut yang lain.
 
"Usir saja dia dari sini."
 
"Usir ...." 
 
"Usir ...."
 
Suasana pun menjadi panas. Tak terkendali.
 
"Lailahaillahu. Astaghfirullahaladzim. Izin saya memperkenalkan diri dan menjelaskan. Saya datang dari pesantren Darul Fattah dan kedatangan saya kesini ingin mengobati suami Mbak Ainur dari gangguan ilmu sihir yang sama dialami dengan tetangganya yaitu Mbak Asih." 
 
Mbah Sugi menjelaskan secara singkat dan jelas. Namun, tetap saja warga sudah termakan omongan panas yang lain. 
 
Aku ditarik paksa keluar dari rumah Mbak Asih. Diseret tanpa ampun, termasuk Mbah Sugi dan Mbah Estu. Kami seperti tak ada harga dirinya di hadapan mereka.
 
"Omong kosong! Hidup kita sebelumnya damai dan tentram sebelum kepulangan mereka dari desa!" cetus yang lain.
 
"Maaf ... maaf jika kepulangan keponakan saya ini membuat kalian resah, semua diluar kendalinya dia pun hanya korban disini. Beri kami waktu untuk menyelesaikan semuanya," ujar Mbah Estu tegas.
 
Akhirnya Pak Lurah yang sedari tadi diam, kini angkat bicara. "Saya bukan membela keluarga Ainur, tapi saya tahu pasti keluarga pak Bisma tidak mungkin melakukan hal sekeji itu dan saya yakin apa yang dikatakan mereka benar adanya. Jadi saya harap kita bisa memberi mereka kesempatan." 
 
Semua warga mengangguk setuju.
 
Kini giliran suami Mbak Asih yang beranjak berdiri setelah tubuhnya ambruk, wajahnya amat terpukul menghadapi kenyataan. "Apa kalian janji, bisa mengembalikan janin istriku?" tanya suami Mbak Asih dengan nada parau.
 
Mbah Estu menarik napasnya secara perlahan. "Kami hanya menyadarkan Mbak Asih seperti sedia kala, tapi untuk kehamilan istrimu ...," ucapan Mbah Estu terhenti. "Itu takdir Allah, kami tidak bisa melawan takdirnya." 
 
Suami Mbak Asih seketika mematung setelah mendengar jawaban Mbah Estu, bahkan setetes air mata terjatuh semakin lama semakin deras.
 
Aku memahami perasaannya, buah hati yang diharapkan selama 20 tahun akhirnya pupus sudah! Belum lagi bagaimana perasaan istrinya nanti jika janin yang ia harapkan selama ini harus hilang sia-sia.
 
Pak Lurah menepuk bahu suami Mbak Asih, "Biarkan mereka menyadarkan istrimu dulu." 
 
Kemudian dibalasnya dengan anggukkan singkat.
 
 
****
 
Mas Bisma yang sedari tadi tergeletak menunggu di kamar, di bawa warga ke ruang tengah. Dibaringkan dengan posisi berdampingan bersama Mbak Asih.
 
Mbah Sugi menghubungi kerabatnya di pesantren, yang ditugaskan menunggu Mbah Uti untuk saling melakukan ritual dari jarak jauh. Diperintahkan jangan pernah berhenti sebelum Mbah Uti sadar. 
 
Aku, Mbah Estu dan Mbah Sugi saling berpegangan tangan erat. Warga-warga yang tidak ada kepentingan diusir keluar, sedang suami Mbak Asih memangku kepala istrinya sambil terus tiada hentinya ia berdoa.
 
"Kuwe siap, Nur?" tanya Mbah Sugi.
 
"Insya Allah, SIAP!" jawabku tegas. 
 
Genggaman kami semakin erat dan semakin membuatku tak sadar.
 
"Nur ... Ainur ...," suaranya begitu lembut seseorang membangunkanku. 
 
Aku membuka mata secara perlahan, menoleh kesekitar menyipitkan mata memperhatikan. Aku sedang berada di perkarangan rumah pak Tatang. 
 
"Mbak ... siapa?" tanyaku heran pada wanita yang memakai gamis berwarna pink keunguan itu. Rambutnya panjang, dagunya lancip, bulu matanya lentik dan bibirnya kecil merona. 
 
Dia begitu sempurna di mataku.
 
Wanita itu terkekeh kecil. "Ora kenal to, Nur? Aku loh ... Mbak Seruni." 
 
Bibirku membulat takjub. "Mbak ... Kuwe cuantik tenan!" jawabku menggebu.
 
Wajar saja aku tak mengenalinya, lah wong dia selalu datang padaku dengan wujud mengerikan.
 
 
BUWAHAAAHAHA "Tamuku wis teko rupane ...."
 
Suara tawa menggelegar berasal dari dalam rumah megah itu membuatku terperanjat. Aku berhenti sejenak, jantungku berdegup kencang membayangkan terakhir kali aku kabur dari tempat ini.
 
"Ora usah kuwatir, bojoku ora iso mlebu alam gaib iki. Dheweke mung iso nangkal nganggo rituale." 
 
Aku diam memperhatikan sekitar, bingung harus kemana.
 
"Nur, rene!" panggil Mbak Seruni.
 
Ia melangkah terlihat pelan, tapi sebenarnya hitungan langkahnya begitu cepat. Hingga aku tertinggal jauh dan harus berlari mengejarnya, sedang Mbak Seruni tetap berjalan dengan santai. 
 
Sesampai di pintu ruang bawah tanah, aku terdiam sebentar. Mencari dimana mbah buyutku? Apa dia tidak menolongku? 
 
"Mbah buyutmu tugase luwih abot, Nur! Deweke nglawan bojoku ing alam nyata. Ngganggu rituale supaya ora iso ngalang-alangi perjalanan kuwe," ujar Mbak Seruni seolah bisa membaca pikiranku.
 
"Ndedoa wae supaya tugas kita lancar," lanjutnya lagi sembari terus melangkah ke depan.
 
Suasana begitu gelap, dinding yang terbuat dari tanah merah itu begitu lembab, pengap! Benar-benar tidak ada udara disini.
 
Setelah beberapa meter aku berjalan, Mbak Seruni berhenti. Dia menangis di hadapanku. Meminta maaf atas semua kesalahan suaminya, dia bersujud bersimpuh memohon ampun.
 
Mbak Seruni menjelaskan kejadian yang sebenarnya, dulu mereka hidup miskin dibuang oleh orang tua masing-masing sebab pernikahan mereka tanpa restu dari keluarga. 
 
Jangankan untuk makan, uang seribu pun mereka tidak ada. Mereka dibuang begitu saja hanya baju yang dipakai menjadi harta satu-satunya.
 
Bermodal menjadi marbot masjid di desa ini, mereka mempunyai uang untuk membuka lapak buah kecil-kecilan.
 
Setiap hari mereka hidup serba kekurangan, namun rasa syukur dan cinta setiap hari yang menguatkan.
 
Hingga suatu hari ... Pak Tatang dihina habis-habisan oleh keluarga Mbak Seruni, dihardik, ditendang, dipukul tiada ampun. Mbak Seruni ingin memisahkan tapi malah wajah Mbak Seruni diludahi tiada harga diri.
 
Setelah kejadian itu, Pak Tatang tidak pulang selama 3 hari. Hati Mbak Seruni gelisah takut terjadi apa-apa pada suaminya. 
 
Alhamdulillah ternyata Pak Tatang pulang juga, memeluk Mbak Seruni erat sambil berlinang air mata membawa uang sekoper yang katanya pinjaman dari sahabat karibnya. 
 
Mereka membeli rumah yang layak huni, berjualan buah yang laris manis dimana-mana. Lalu omset tiba-tiba meledak hingga ratusan juta perbulan. 
 
Dalam hitungan bulan, mereka menjadi kaya raya, hidup bahagia begitu sempurna. Mereka menjadi tersohor oleh seluruh penduduk desa sang dermawan paling baik hati. (Itulah julukan mereka.)
 
Namun, ada satu hal yang membuat Mbak Seruni sedih. Ketika beberapa kali ia hamil selalu keguguran tanpa sebab yang pasti.
 
Hingga akhirnya Mbak Seruni mengetahui, pekerjaan gelap suaminya yaitu menumbalkan keturunannya sendiri sebagai penjamin kekayaan, kehormatan dan kekuasaan dirinya.
 
Pak Tatang gelap mata, sampai suatu malam jin yang ia puja, menginginkan Mbak Seruni untuk menjadikannya istri agar kekayaanya tetap kekal abadi! Dengan syarat Mbak Seruni dikuliti hidup-hidup tidak boleh dalam keadaan mati. 
 
Awalnya Pak Tatang menuruti untuk menguliti kulit Mbak Seruni hidup-hidup. Namun, baru saja ia memulai menguliti dari wajah. Mbak Seruni berteriak kesakitan hebat.
 
Dengan perasaan bersalah dan tak tega, akhirnya Mbak Seruni dibunuh! Tubuhnya dicincang habis lalu dikubur. Di ruang bawah tanah ini.
 
****
 
"Aku mencintai dirinya lebih dari apa pun, dadi tolong, Nur! Ojo sakiti dirinya. Iki salahku!" ujar Mbak Seruni sambil menangis yang terus menyalahkan dirinya atas semua keadaan yang menimpa Pak Tatang sekarang.
 
Kemudian Mbak Seruni menunjuk ke arah selatan. "Ing kono ana lawang maneh, kuwe masuk ... Nur! Gawanen wong-wong sing isih iso kuwe slametke nyawane." 
 
Aku mengangguk menuruti.
 
"Semangat, Nur! Aku ora tau kuwat mlebu nang njero, ndelok kabeh roh wong-wong sing ora salah kejebak ing kono," katanya sambil tersenyum ke arahku.
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!