Part ini 4 kali lipat lebih banyak dari biasanya. Semoga tidak bosan membacanya yaa
Hah?!
Bukan ....
Bukan aku, telinga ini masih menangkap dengan jelas apa yang mereka katakan.
"Bismillahirrahmanirahim." Terdengar suara Mbah Estu.
Kemudian semburan air dingin memaksa bola mataku terbuka. Kesadaran kembali perlahan. Ya! Aku bangun sekarang, tapi tubuhku kaku setiap tarikan napasku bagai ditusuk ribuan jarum.
Aku disandarkan pada lengan Mas Bisma, diminumkan segelas air putih yang luar biasa panas setelah aku meminumnya.
Tiba-tiba, HUEK!!! Segumpalan darah beku keluar dari mulutku. Banyaknya luar biasa, tubuhku gemetar hebat.
Namun, alih-alih khawatir semua mengucap Alhamdulillah. Seketika tubuhku terhambur memeluk Mas Bisma. Aku menangis sejadi-jadinya.
Mas Bisma memegang wajahku, memandang haru, "Mas, pikir ... kita ndak akan pernah ketemu lagi."
Aku menggeleng memeluknya, sampai deheman Mbah Sugi membuat kami harus rela melepas pelukan sejenak.
"Kita durung rampung sak kabehe," ujar Mbah Sugi menatapku teduh.
"Omahe Tatang, kudu diresiki soko sisa-sisa ilmu ireng, wedi ... yen desa iku sing bakal dadi korbanne," timpal Mbah Estu.
Aku dan Mas Bisma hanya mengangguk pasrah, lalu teringat saat aku tak sadarkan diri tadi. Mereka menyebut Innalillahi, siapa yang meninggal? Apa Mbah Uti? Perasaanku mendadak khawatir.
"M-mbah ... mau kalau ora salah, pas Nur ora sadar, Nur sempat krungu kabeh podo ngucap Innalillahi. Sapa sing mati, Mbah?" tanyaku dengan jantung tak karuan. Berharap ketakutanku tidak benar.
Mbah Estu dan Mbah Sugi terdiam, lalu dengan perlahan kepala Mbah Estu menoleh ke arahku. "Si Tatang," jawab Mbah Estu pelan, wajahnya nampak begitu sedih.
Mbah Sugi menepuk pundak Mbah Estu sebanyak tiga kali. Mencoba untuk menenangkannya.
Ada perasaan lega, setelah mendengar jawaban Mbah Estu. Namun, saat melihat raut wajah Mbah Estu rasanya perasaan sedih pun mulai menghampiri.
"Piye wae, mbah ora pengin iki kedadean."
"Apa pak Tatang kalah dari kita, Mbah?" tanyaku penasaran.
Mbah Estu menggeleng, "Si Tatang rumangsa salah marang bojone, uripe saiki koyo ora enek artine maneh."
"Pak Tatang tadi sempet minta maaf, Nur. Bener-bener suaranya kayak di ruangan ini. Menggema. Trus ndak lama Mbah Estu ndak menemukan jiwa Pak Tatang lagi, jadi ritual diberhentikan," timpal Mas Bisma.
Di balik kesedihan, Mbah Sugi dan Mbah Estu bergegas mengajak diriku dan Mas Bisma balik lagi ke desa untuk melihat keadaan Mbah Uti.
Aku juga tak sabar rasanya ingin cepat bertemu dengan beliau, sekaligus meminta maaf sebab karena aku meninggalkannya Mbah Uti jadi terseret menjadi korban pak Tatang.
Sementara Mbak Asih dan suaminya, membungkuk berterima kasih atas bala bantuannya. Meski tetap perasaan bersalahku menggunung pada mereka.
****
Setibanya kami di pondok dengan cepat aku memeluk Mbah Uti, mengambil tangan keriput yang kurus itu lalu mencium punggung tangannya bolak-balik. "Maapin, Nur. Maapin, Nur ...," ujarku merengkuh memeluk tubuh Mbah Uti.
Wajah Mbah Uti merona, lalu tersenyum. "Mumpung Mbah lagi sakit, hubungi Mbak-mbakmu ya ... suruh jenguk Mbah," ucap mbah Uti menyuruhku menghubungi anak-anaknya.
Tahu betul perasaan Mbah Uti, ia pasti rindu pada anak-anaknya. Aku cepat mengiyakan, tetapi ... satu persatu kuhubungi berkali-kali nomor handpone mereka tidak ada yang tersambung sama sekali.
Aku menggeleng, memberi tahu Mbah Uti jika nomor anak-anaknya sama sekali tidak ada yang dapat dihubungi. Aku curiga mereka sengaja berganti nomor hanya karena malas dihubungi Mbah Uti berkali-kali.
Memang benar kata pepatah SATU ORANG TUA BISA MENGHIDUPI 10 ANAKNYA, TAPI 100 ANAK
BELUM TENTU MAMPU MENGHIDUPI SATU ORANG TUANYA.
Setetes air mata jatuh di pipi Mbah Uti, perlahan aku menghapusnya. "Ojo nangis, Mbah. Kan enek Nur ... Mbah ndak seneng?" tanyaku mencoba sedikit menghibur.
"Mbah cuma kangen mbak-mbakmu, Nur. Mbah takut ora enek umur maneh."
"HUST! Ngomong opo to, Mbah! Saruk iku."
Tak lama, Mbah Estu membungkuk ingin memeriksa keadaan Mbah Uti yang katanya sudah sepenuhnya membaik dan Mbah Estu pun mengajakku untuk membersihkan rumah Pak Tatang dari sisa-sisa ilmu hitam.
Sedangkan Mas Bisma ditugaskan untuk menjaga Mbah Uti, agar lebih tenang jika ada salah satu kerabat yang menjaganya.
Setelah perjalanan sekitar 1 jam dari pesantren menuju rumah Pak Tatang menggunakan mobil, akhirnya kami tiba di halaman rumah berwarna putih megah dengan Pagar yang luar biasa mewah jika dilihat dari depan.
Namun, begitu kami melangkah masuk, suasana seketika berubah menjadi mencekam. Kabut dingin dan angin berputar-putar mengitari kami, membawa debu yang menghalangi penglihatan.
Ada perasaan tak nyaman, seolah ada sesuatu yang tidak ingin aku, Mbah Estu, dan Mbah Sugi masuk ke dalam rumah itu.
Seolah ada sesuatu yang tidak ingin aku, Mbah Estu, dan Mbah Sugi masuk ke dalam rumah itu.
Mbah Sugi segera membaca dzikir dengan suara bergetar, lalu melempar tasbih ke arah pintu.
Seketika terdengar suara keras, "Brak!!!" Pintu terbuka lebar, menampakkan pemandangan yang membuat darahku berdesir. Dari kejauhan, kami melihat Pak Tatang, tubuhnya tergantung, mengakhiri hidupnya dalam keheningan yang mengerikan.
Kami berlari masuk ke dalam rumah, ruangan mendadak terasa panas luar biasa. Seperti dipanggang dalam tungku.
Mbah Estu dengan cepat menghubungi Pak RT, untuk mengajak seluruh warga berkumpul di rumah Pak Tatang dan memberi tahu jika Pak Tatang tewas gantung diri di dalam rumahnya.
Belum sempat warga berkumpul, pintu yang tadi terbuka lebar kini tertutup dibanting kencang. Seluruh ruangan mendadak dipenuhi kabut hitam, angin terus berputar, hingga nampak sercarik kertas di bawah batu.
[BAKAR RUMAH INI BERSAMA TUBUHKU! JANGAN BIARKAN RUMAH INI TETAP UTUH! AKU RELA MENJADI ABU. ASAL TIDAK ADA LAGI KORBAN SELANJUTNYA!]
[SAMPAIKAN PADA WARGA MAAFKAN SELURUH KESALAHANKU.]
Isi pesan itu, baru saja aku melipat kertas yang baru saja dibaca. Terdengar suara tangisan wanita yang melengking.
Degh! Siapa lagi?
Bukannya Mbak Seruni sudah tenang?
Tak berselang lama, aku terperanjat mengucap "Astaghfirullah!" ketika melihat tubuh Asri sudah menjadi roh dia terbang kesana kemari, seperti dibawa oleh sesuatu.
Aku mencoba mengejarnya, tapi langkahku dihentikan oleh tangan kokoh Mbah Estu. "Biarkan saja ... temanmu sudah menjadi pelayan iblis hingga akhir hayatnya. Itulah resikonya jika hidup terlalu serakah."
"Mbah ...."
"Mbah ...."
Suara warga bergema serempak di halaman, mereka datang bersama polisi.
Pintu rumah didobrak dengan keras dan polisi segera bergegas untuk menurunkan jenazah Pak Tatang yang tergantung.
Namun, Mbah Estu tiba-tiba menghentikan mereka, tangannya terulur menahan langkah polisi. "Jangan turunkan jenazahnya!" suaranya tegas, tetapi penuh ketakutan yang tak bisa disembunyikan. "Biarkan dia dibakar bersama rumah ini. Hanya dengan begitu, kita bisa menghentikan kutukan itu!"
Semua warga terbelalak mendengar perkataan Mbah Estu. Bisikan-bisikan jijik dan kebingungan mulai terdengar.
Ada yang mencemooh, "Mbah Estu sudah kehilangan akal! Bahkan terhadap jenazah pun masih menyimpan dendam!" Yang lain berbisik dengan marah, "Tindakan ini menyesatkan! Mbah Estu tak punya hati!"
Dengan tarikan napas yang berat dan perlahan,
Mbah Estu mengangkat secarik kertas yang
digenggamnya. "Ini pesan terakhir dari Pak Tatang,"
katanya, suaranya penuh kesedihan dan ketegasan.
"Beliau memohon agar rumah ini dibakar bersama
jasadnya untuk menghentikan kutukan yang
menghantui kita."
Semua warga diam, mata mereka terpaku pada
kertas itu. Mbah Estu kemudian mulai
menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama
ini, tentang kutukan yang merasuk di rumah Pak
Tatang, tentang kejahatan yang telah
mengorbankan banyak jiwa dan janin-janin yang hilang secara tiba-tiba di desa.
Akhirnya, setelah mendengar penjelasan Mbah
Estu, warga pun setuju.
Desakan dari mereka membuat pihak kepolisian tak punya pilihan selain menyetujui keputusan yang tampak aneh.
Di tengah kekacauan itu, aku merasa giliranku untuk mengungkap kebenaran yang lebih mengerikan.
"Jasad Mbak Seruni dikuburkan di ruang bawah
tanah," kataku dengan suara gemetar.
Pernyataan itu sontak membuat warga terkejut dan tak percaya.
"Mbak Seruni dibunuh oleh suaminya sendiri."
Suasana mendadak sunyi, hanya terdengar bisikan
ketakutan dan ketidakpercayaan. Namun, dorongan
rasa ingin tahu dan keadilan membuat seluruh
warga berbondong-bondong menuju ruang bawah
tanah.
Mereka ingin menyaksikan sendiri kebenaran itu, melihat kuburan Mbak Seruni yang tersembunyi selama ini.
Dengan langkah berat dan hati yang berdebar, kami
mulai membongkar lantai ruang bawah tanah.
Setiap kali sekop menghantam tanah, udara
semakin terasa berat dan menyesakkan. Akhirnya,
di kedalaman yang dingin dan gelap, kami
menemukan jasad Mbak Seruni yang telah lama
terkubur.
Beberapa menit kemudian terlihat tubuh Mbak Seruni yang sudah mulai dipenuhi ulat, potongan tubuhnya tak karuan, wajah yang diceritakan Mbak Seruni jika ia dikuliti hidup-hidup ternyata benar adanya, Wajah Mbak Seruni nampak tiada lagi kulit yang menempel.
Warga terperangah, beberapa menitikkan air mata,
yang lain memalingkan muka karena ngeri. "Seruni
pantas mendapatkan penguburan yang layak," bisik beberapa warga.
Semua warga berteriak histeris memanggil nama Mbak Seruni, ada pula yang menangis meratapi jasad Mbak Seruni. Tak salah memang yang diceritakan Mbak Seruni kemarin, wajar saja jika para warga begitu menyayangi dirinya.
Kemudian dengan rasa emosi yang memuncak, semua warga bergerak menyiramkan bensin ke seluruh sudut rumah Pak Tatang.
Dan ... BLAM!!! Dalam sekejap, kobaran api menyebar dengan ganas, menjilati setiap sudut rumah. Dalam hitungan detik, rumah mewah itu bersama dengan tubuh Pak Tatang ditelan oleh lautan api.
Semua teriakan warga menggema diudara menunggu kobaran bara api mereda.
Sirene suara Ambulance yang tiba menambah kegaduhan, siap membawa jenazah Mbak Seruni untuk dibersihkan dan dikuburkan yang layak sesuai syariat islam.
Ponsel yang sedari tadi bergetar, ternyata sudah mencatat 25 panggilan tak terjawab dari Mas Bisma. Keningku berkerut dalam, 25 panggilan? Pasti ini bukan hal main-main. Ini pasti sesuatu yang sangat genting!
Saat baru saja aku ingin menghubungi balik, Mas Bisma lagi-lagi menelepon. Dengan cepat aku mengangkat panggilannya.
"Halo, Ainur! Ainur, pulang sekarang!" suaranya terdengar panik di seberang.
"Mas, iya ... Mas, iya ... ada apa?" tanyaku, bingung dan khawatir.
"Pokoknya, kamu, Mbah Sugi, Mbah Estu pulang sekarang!" jawab Mas Bisma dengan suara bergetar.
"Mas, yaa ndak bisa kayak gitu. Aku lagi ngurusin di sini, biar cepat kelar."
"AINUR!!!" teriaknya, suaranya pecah. "MBAH UTI UDAH ENGGAK ADA! MBAH UTI BARU AJA MENINGGAL, NUR! KAMU BALIK SEKARANG!"
Jlegar!!! Tubuhku langsung lemas, seolah semua tenaga hilang seketika.
Ingin rasanya aku tak percaya, namun kata-kata Mas Bisma menggema dalam kepalaku.
Ini nyata. Mbah Uti, yang selalu kuat dan penuh kasih, kini telah tiada. Aku terhuyung, berusaha menemukan kekuatan untuk tetap berdiri di tengah kekacauan ini.
Air mata mulai mengalir deras saat aku berlari menemui Mbah Estu. Dengan suara terisak, aku menceritakan kabar duka itu apa adanya.
Mbah Estu tertegun, wajahnya yang biasanya tegar kini berubah pucat. Mbah Sugi yang mendengar berita itu pun tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Kita harus segera pulang," kataku, suaraku bergetar dengan kesedihan yang mendalam.
Mbah Estu mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca. Tanpa banyak bicara lagi, kami berpamitan kepada warga yang masih berkumpul. "Kami harus pergi," kata Mbah Estu dengan suara berat. "Mbah Uti telah meninggal di pondok pesantren milik Mbah Sugi."
Warga terdiam sejenak, lalu dengan serentak mengucapkan belasungkawa. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," bisik mereka penuh rasa duka.
Dengan hati yang berat, kami meninggalkan tempat itu. Suara kobaran api dan gemuruh warga semakin jauh di belakang kami, digantikan oleh deru mesin mobil yang membawa kami kembali ke pondok pesantren.
Di sepanjang perjalanan, aku merenungi kenangan bersama Mbah Uti, wanita bijak yang selalu memberikan kasih sayangnya tanpa batas.
****
Sesampainya di pondok, aku berlari menuju wanita terhebat dalam hidupku. Tubuh yang dulu kupeluk dengan hangat kini terasa dingin dan kaku.
Air mata tak terbendung saat aku mendekap tubuh Mbah Uti, merasakan kehilangan yang begitu mendalam.
Mas Bisma, dengan suara bergetar, menceritakan kejadian terakhir. "Mbah Uti terus-menerus mengatakan betapa rindunya dia pada anak-anaknya, betapa ingin bertemu meski rasanya sulit sekali. Setelah itu, beliau tertidur. Di tengah tidurnya, Mbah Uti tiba-tiba terbangun dan membaca dua kalimat syahadat, lalu kembali tidur. Aku yang bingung segera memeriksa keadaannya, namun ... ternyata Mbah Uti sudah pergi untuk selamanya."
Aku terdiam, tak mampu berkata-kata lagi. Duka yang menyelimuti hatiku begitu berat hingga membuatku tak sanggup bersuara.
Mbah Estu mendekat, meletakkan tangannya yang hangat di bahuku. "Nur, ikhlaslah. Insya Allah, Mbahmu husnul khatimah," katanya dengan lembut.
Aku mengangguk perlahan, air mata terus mengalir tanpa henti. "Insya Allah, ikhlas, Mbah," jawabku dengan suara serak, mataku tak lepas memandang tubuh Mbah Uti yang telah kaku.
Beberapa jam kemudian, semua sanak saudara berkumpul. Terkecuali anak-anaknya, mereka masih sulit untuk dihubungi.
Sampai akhirnya, dalam keputusan yang pahit, kerabat Mbah Uti memutuskan untuk segera menguburkan jenazah Mbah Uti tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Mereka tak ingin menunda apa lagi hanya menunggu yang tak pasti.
Air mataku tak henti jatuh, dadaku sesak oleh rasa sakit dan penyesalan. Aku terpukul karena tidak bisa memenuhi permintaan terakhir Mbah Uti untuk kali terakhir.
****
Beberapa bulan telah berlalu sejak kepergian Mbah Uti. Tetapi bayang-bayang kejadian mengerikan itu masih menghantui pikiran Mas Bisma.
Ia memilih untuk menjauhi desa Mbah Kakung, takut akan rasa trauma yang masih mengganggunya.
Aku, sebagai istrinya, tidak punya pilihan selain mengikutinya, meski hati ini masih terikat dengan desa itu dan kenangan indah bersama Mbah Uti.
Mbak Asih dan suaminya, di sisi lain, mulai melupakan kejadian yang sudah berlalu. Meskipun harus menunggu dengan sabar untuk mukjizat kehamilan Mbak Asih, mereka tetap tegar dan penuh harapan.
Lalu ada kabar baik yang menghiasi kehidupan kami. Setelah bertahun-tahun menanti, Allah akhirnya memberikan kami hadiah yang luar biasa dengan kehadiran janin kecil di perutku.
Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah kami berdua, setiap kali kami merenungkan keajaiban ini.
Namun, kebahagiaan kami juga diiringi dengan tantangan baru. Terkadang, aku merasa terganggu dengan kehamilan ini.
Ya ... meski terkadang aku merasa terganggu dengan kehamilan ini jin, iblis yang sifatnya mengganggu wanita-wanita hamil menjadi lebih banyak menggangguku.
Dan kabar buruknya adalah ... hingga berbulan-bulan berlalu, anak-anak Mbah Uti tetap tidak mengetahui bahwa ibu mereka telah meninggal.
Kami, sebagai keluarga Mbah Uti, telah berjanji untuk merahasiakan kematian Mbah Uti dari mereka.
Kami percaya bahwa biarlah anak-anak itu mengetahui sendiri kebenarannya saat mereka pulang ke desa nanti, jika mereka memang merasa rindu pada ibu mereka.
Namun, ada kekhawatiran dalam hati kami. Apa jadinya jika mereka tidak pernah kembali? Apakah mereka akan hidup dalam ketidak tahuan selamanya?
Tapi lagi-lagi kami yakin bahwa suatu saat mereka pasti akan pulang, entah itu 10 tahun atau bahkan 20 tahun kemudian.
Dan pada saat itulah, mereka akan tersadar akan kehilangan yang begitu besar.
Tamat.
Alhamdulillah, kisah ini akhirnya selesai. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini.
Terima kasih dan semoga kesehatan selalu menyertai kita semua di mana pun kita berada.
Dan satu lagi jangan lupa ... seberat apa pun hidupmu di perantauan, luangkanlah waktu untuk pulang.
Jangan sampai tujuanmu pulang hanya untuk mencium batu nisannya
See you gaes semoga kita bertemu di ceritaku selanjutnya yaa ....