Ilmu Warisan
Bab 6
Kemudian wanita itu mengangkat wajah, sekarang mereka saling menatap, wajahnya hancur mengerikan, mulutnya robek sampai ketelinga. Lalu wanita itu menangis.
Syukur saja Mbah uti tidak bisa melihat dan mendengarnya, ia hanya bisa merasakan saja. Aku tidak tahu betapa kagetnya mbah Uti jika melihat wajah teman dekatnya hancur di depan matanya langsung.
"Mbah sekarang dia menangis sambil ngeliatin mbah," ucapku yang mulai terbiasa dengan suasana mencekam seperti ini.
Air mata Mbah uti terjatuh, "Apa benar dirimu seruni?" suara mbah gemetar.
Wanita itu mengangguk, "Nur ... tanyakan pada mbah uti, apa boleh aku memeluknya?" tanyanya sambil menoleh ke arahku yang membuat isi lambungku rasanya ingin keluar tak kuat melihat wajahnya tampak depan yang sudah dikerubungi oleh ulat-ulat.
Namun, tak ingin membuat hatinya terluka. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan rasa jijik.
"Mbah, ini mbak seruni minta izin apa boleh meluk mbah uti?"
"Napa sampeyan butuh ijin? Aku juga kangen kowe, Run."
Wanita bernama Seruni itu langsung memeluk Mbah uti, dia menangis dalam dekapannya. Kemudian memegang wajah mbah uti dengan kedua tangannya.
Suasana haru, aura dingin, panas menjadi satu belum lagi suara burung hantu di samping rumah sedari tadi berisik mengiringi malam kami.
"Mbah, Runi minta maaf kalau Runi ada salah. Runi cuma mau ngasih tau, Runi ndak hilang, Mbah." Suaranya tercekat pilu.
Sontak bola mataku membulat, sekarang rasa iba dan kasihan lebih dominan dibanding rasa takut.
Aku duduk diantara mereka, aku terpejam dan menutup hidung secara sponstan. Tak kuat dengan bau busuk yang begitu menyeruak.
Ternyata semakin mendekat hawa dingin dan bulu kuduk berdiri semakin dahsyat. Tapi kuabaikan, ada Mbah uti yang menemaniku, aku harus berani!
"Nur ... jangan mendekat kalau kamu takut, aku tau pasti wajahku hancur dan sangat menyeramkan jika terlihat."
Suaranya pelan, lagi-lagi aku terhanyut dengan suaranya yang begitu pilu.
"Maaf, Mbak. Nur belum biasa"
"Aku mau nanya, apa maksut perkataan kalau sebenernya mbak ndak hilang?" ucapku serius seraya menunduk tak sanggup menatap wajahnya.
Dia menangis lagii ... suaranya bergemuruh di dalam ruangan bersautan dengan suara burung hantu.
Tangisannya begitu pedih, sampai rasanya bisa meluluh lantakan hati ini.
Saat aku menunggu jawabannya, tiba-tiba terdengar langkah kaki ingin masuk ke dalam kamar.
"Assalamualaikum, Nur ... Mbah? Ada apa ini?" suara Mas Bisma mengucap salam.
Kepalaku mengadah melihat ke sekeliling, wanita itu hilang meninggalkan rasa penasaran yang belum terjawab.