Ilmu Warisan

Bab 8

Beberapa detik setelah Mas Bisma memekik, suara burung hantu saling bersautan. Angin dari luar begitu kencang menerpa pintu dengan kekuatan ganas.

 
"BRAK!!" suaranya seperti didobrak keras oleh tiga lelaki dewasa, padahal hanya angin.
 
Mbah Uti sibuk berkomat-kamit entah apa yang ia baca, Mas Bisma sibuk melantunkan ayat suci Al-Quran. Sedangkan aku hanya diam terpaku memperhatikan pintu yang terus diterpa angin seolah ingin lepas dari engselnya.
 
Pintu itu bergetar keras, terdengar retakan-retakan di kayu yang membuatku terperangah. 
 
Tiba-tiba, angin berhenti. Ruangan terasa sepi, hanya terdengar suara napas kami yang terengah-engah.
 
Tanpa aba-aba, pintu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, "Krieeeeeet ...." 
 
Aku menarik napas dalam-dalam, mata kami sontak membulat melihat pintu itu kini sudah terbuka lebar.
 
Terdengar suara langkah masuk ke dalam dengan hentakan yang keras, diiringi suara wanita tertawa melengking memenuhi seisi ruangan.
 
Suara hentakannya semakin mendekat, tetapi ... tidak ada siapa pun disana.
 
"wis! Iki ora bener! Nur, saiki telpon Mbah Estu," ucap Mbah Uti seraya memeluk bahu Mas Bisma.
 
"T-tapi, Mbah. Nur ndak ada nomor ponsel Mbah Estu." 
 
"Aku ada," timpal Mas Bisma.
 
"Tapi," ucapnya terhenti.
 
 "Ponselku di dalam kamar," lanjutnya lagi.
 
"Nurrrrr ...," Mbah uti meliriku. 
 
Aku mengangguk, aku tau maksutnya. Tidak ada pilihan lain disini, selain aku yang masuk ke dalam kamar mengambil ponsel Mas bisma.
 
Dengan langkah yang berat aku masuk ke dalam kamar, gelap gulita semakin membuat jantung berdegup kencang. 
 
"Ditaruh di mana ponselnya Mas Bisma? Bodohnya aku! Kenapa ndak nanya sih tadi!" keluhku sambil menyoroti senter ke segala sudut. 
 
Tanganku meraba celana Mas Bisma yang tergantung di samping jendela. Namun, deg! seketika bulu kudukku berdiri saat senter tak sengaja menyorot seseorang yang berdiri di samping celana Mas Bisma.
 
Bibirku terkunci kaku setelah kami saling memandang, "Disana ...," katanya sambil menunjukkan jemarinya pada ponsel yang terletak di bawah lantai samping ranjang tidur.
 
Buru-buru aku mengambil ponsel, jantung berdegup tak karuan kaki terasa dingin tungkai dan lutut seakan melemah.
 
"Nur, ojo salah paham. Sing dudu aku. Nanging ana energi liyane sing pengin mlebu omah iki, aku janji bakal mbantu kulawarga." Deg! Suaranya lembut begitu dekat seperti sedang berdiri tepat di samping kananku. 
 
Aku menoleh ke belakang sosok wanita tua bungkuk, ternyata masih berdiri di samping celana yang tergantung. 
 
Napasku terengah, kuabaikan keberadaannya dengan langkah seribu aku berhasil keluar dari kamar.
 
Setelah dari kamar, dibuat bingung dengan suasana yang tiba-tiba berubah seolah tak terjadi apa-apa. "Mas ini ponselnya." Aku menjulurkan ponsel padanya yang sedang terduduk di samping Mbah Uti, ia menepis tanganku dengan raut wajah suram pandangannya kosong mengarah ke depan.
 
Wajahku menunduk melihat respon Mas Bisma, "Salahku dimana?" Demi apa pun 5 tahun pernikahan kami baru hari ini ia membentak dan mengabaikanku. 
 
Mbah Uti tersenyum menoleh padaku. "Wis, Nur wae sing nelpon." 
 
Aku mengangguk sembari mencari nama Mbah Estu di kontak ponsel Mas Bisma. 
 
Tut ....
 
Tut .... 
 
Tut ....
 
Berdering, tetapi tak diangkat. Kutelpon sekali lagi, masih juga tak diangkat. Suara angin kembali mulai ricuh di halaman rumah. 
 
Kutelpon Mbah Estu berkali-kali tetap tak terhubung juga. 
 
Brak!!! 
 
Suara pintu dibanting keras, seketika aku menahan napas, bola mata berkedip cepat. 
 
[Assalamualaikum, Bis. Eneng opo?] suara Mbah Estu mengejutkanku di dalam panggilan.
 
[H-ha-aalo, Mbah. Iki Nur, ada yang ndak beres di rumah, Mbah! Tolong kesini seka ...,] belum tuntas aku menyelesaikan, ponsel yang sejak tadi aku genggam erat, kini terhempas jatuh ke lantai.
 
Kemudian suara tertawa yang melengking memenuhi seisi ruangan, angin semakin masuk ke dalam membuat seluruh jendela terbuka lebar dengan sendirinya.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!