Ceklek!
Saat pintu kamar Nadin terbuka, Nadin langsung menyembunyikan wajahnya masuk ke dalam selimut. Perasaannya masih campur aduk setelah kejadian tadi. Namun, ingin sekuat apa pun Nadin mencengkram selimut. Kekuatan Ustadz Riza sangat lebih kuat dibanding dirinya, Ustadz Riza dengan amat enteng menyingkap selimut dari tubuh Nadin.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ustadz Riza saat melihat istri mudanya begitu kusut dipenuhi noda air mata.
"Tanya saja pada ibumu!" jawab Nadin ketus sama sekali wajahnya tidak melihat Ustadz Riza.
Ustadz Riza tersenyum kecil melihat Nadin yang begitu menggemaskan, sangat wajar seusianya masih begitu lucu. Sehingga Ustadz Riza pun tidak tahan ingin mendekati Nadin lebih dekat lagi.
Ustadz Riza duduk di samping Nadin. Kemudian mengangkat dagu Nadin lalu mendekati wajahnya sangat dekat, bahkan tubuh Nadin seketika gemetar salah tingkah.
"Kamu terlihat begitu lebih menggemaskan di saat sedang marah, Sayang ...," ujar Ustadz Riza.
Nadin mencebik bibirnya, "Abi! Aku betul-betul ndak habis pikir dengan sikap Mommy pada Umi! Mommy jahat!" keluh Nadin.
"Biarkan saja ... Mommy adalah Mommy, nanti saat dirimu sudah tua juga akan sepertinya." Ustadz Riza terkekeh geli lalu melanjutkan ucapannya. "Yang terpenting adalah kita ... harus selalu akur. Lagi pula Mommy sudah pulang, dia tidak akan setiap hari di sini."
Hugh!!!
Nadin menarik napas panjang lalu menghembuskannya dalam. "Amit-ami! Tapi syukurlah ... semoga saja, Mommy nggak sering-sering berkunjung!" ketus Nadin dengan raut wajah yang masih suram.
Ustadz Riza mengulum senyumnya. "Abi meminta maaf atas kelakuan Mommy, lagi pula besok kita sudah mulai tinggal di pesantren. Besok kan sudah menginjak bulan suci Ramadhan. Kamu juga harus melanjutkan pendidikanmu di sana sebagai santri biasa, meski kamu sudah sah menjadi istri Abi ... kamu juga tetap harus belajar."
Ustadz Riza menjelaskan seraya wajahnya semakin sangat dekat, hingga hampir menyatukan kedua bibir mereka.
Nadin pun gelagapan, jantungnya berdebar tak karuan dan salah tingkah.
"Bisakah Abi menyemai kembali, Nadin?" tanya Ustadz Riza.
Sontak Nadin memundurkan wajahnya. Ia bukannya ingin menolak, tetapi ia terkejut dan ingin membuat satu permintaan sebelum melakukan hubungan suami istri agar permintaannya bisa segera Ustadz Riza penuhi.
"Abi mau apa?" tanya Nadin berpura-pura tidak tahu dengan otak kotor suaminya.
Ustadz Riza mengerutkan alis, ia merasa seperti tertolak oleh Nadin. "Apa lagi jika bukan meminta hakku?" tanya Ustadz Riza memejamkan mata seraya ingin mencium Nadin.
Refleks Nadin mendorong Ustadz Riza hampir tersungkur, "Abi ... maaf, Abi! Tapi Nadin punya satu permintaan sebelum Abi menyentuhku!" ujarnya dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah.
Seketika wajah Ustadz Riza yang tadi maram penuh nafsu, kini berubah menjadi bingung. "Baiklah ... apa itu?" jawab Ustadz Riza mengalah.
Nadin yang merasa senang pun, bola matanya ikut berbinar. "Abi meminta maaf pada Umi, sampai Umi senang dan ceria seperti kemarin. Oke?!" jawab Nadin yang memanfaatkan kelemahan Ustadz Riza.
"Baiklah ... jika itu maumu," sahut Ustadz Riza sambil mengusap rambut Nadin.
Nadin tersenyum lebar bola matanya berkaca-kaca penuh haru. "Serius?" tanyanya.
Ustadz Riza mengangguk, ia pun mendaratkan bibirnya di kening Nadin.
Cup!
Kemudian ia bangkit melangkah untuk menemui Hanum di kamarnya.
"Semangat, Abi!" ujar Nadin memberi semangat pada suaminya sambil bergaya layaknya suporter sepak bola.
Ustadz Riza tersenyum dari kejauhan, senyumannya masih menempel hingga pintu kamar pun sudah tertutup. Fikiran Ustadz Riza melayang memikirkan istri kecil sholehahnya semakin menggemaskan. 'Begini rasanya menikah sama anak kecil!' batin Ustadz Riza, ia terkekeh sambil menggeleng.
Setiap langkah Ustadz Riza menuju kamar Hanum, ia tiada hentinya tersenyum mengembang memikirkan Nadin. Semangatnya begitu menggebu ingin segera meminta maaf pada Hanum agar bisa menyentuh Nadin yang sudah menari-nari di kepalanya.
Ceklek!
Pintu kamar Hanum terbuka lebar, suasana begitu mencekam, kamarnya sunyi gelap gulita tidak ada kehidupan. Bola mata Ustadz Riza mengedar pada setiap sudut tidak juga ia melihat Hanum.
"Sayang?" panggil Ustadz Riza seketika panik mendapati Hanum tidak ada di kamarnya.
Namun, kepala Ustadz Riza seketika menoleh pada sumber suara gemericik air dari arah dalam kamar mandi. Ia melangkah dengan cepat membuka pedal pintu, tetapi pintunya terkunci.
"Hanum ... aku tahu kamu di dalam, tolong buka pintunya."
Tidak ada respon sama sekali kecuali suara gemericik air.
"Hanum!" pekik Ustadz Riza, ia panik kala melihat air sudah keluar dari celah pintu. "Hanum! Mas akan dobrak pintu ini."
Ustadz Riza memasang kuda-kuda lalu berlari sekuat tenaga mendobrak pintu kamar mandi.
Brugh!!!
"Hanum!!!" teriak Ustadz Riza, terkejut mendapati istrinya tergeletak di bawah kucuran air shower.
Hanum menoleh pelan, pelupuk matanya sayu, tubuhnya sangat melemah.
Seketika tubuh Hanum diangkat oleh Ustadz Riza, "Kita ke rumah sakit sekarang!" ujar pria berwajah tampan itu dengan tergesa-gesa.
Hanum menggeleng, "Aku hanya ingin mendinginkan tubuhku, tidurkan saja aku di ranjang sepertinya aku sudah mulai kedinginan," jawab Hanum sangat pelan hampir tanpa suara.
Mendengar ucapan itu Ustadz Riza terenyuh, hatinya sakit mendapati Hanum seperti ini. "Maaf, Hanum ... maafkan, Mas! Kamu boleh menghukum, Mas! Apa pun itu ... hukumlah suamimu ini," ujar Ustadz Riza matanya berlinang yang kini benar-benar tulus meminta maaf pada Hanum, bukan karena permintaan dari Nadin.
Hanum pun tersenyum. "Hukuman itu ... hanya untuk orang-orang yang salah dan mana mungkin suamiku melakukan kesalahan."
Direspon seperti itu oleh istrinya, Ustadz Riza semakin merasa bersalah, air matanya menetes tidak tertahan. "Maafkan aku sayang ... maaf." Ustadz Riza memeluk Hanum kemudian melepaskan pakaian basah Hanum sekaligus membantu Hanum memakai pakaian yang lebih tebal.
Hanum yang memperhatikan suaminya sedang sibuk mengurus dirinya itu langsung menggenggam tangan Ustadz Riza. "Terima kasih, Mas."
Ustadz Riza menoleh matanya masih berkaca-kaca. 'Bagaimana Hanum masih berterima kasih padanya, sedangkan ia tahu betul ... Hanum hancur disebabkan oleh dirinya,' batin Ustadz Riza bergerumuh.
Ustadz Riza mengambil jemari Hanum yang menggenggamnya erat, "Maafkan aku, Hanum," ujar Ustadz Riza lagi-lagi hanya kata maaflah yang keluar dari dalam mulutnya.
Hanum menggeleng bibirnya tersenyum lebar, memandang bola mata Ustadz Riza dalam. Pandangannya penuh arti, ia terdiam beberapa saat menyentuh wajah Ustadz Riza dengan lembut. "Terima kasih, Mas. Selalu memberiku jalan menuju surga," ujar Hanum lemah. Ia terus menerus menjelajahi wajah Ustadz Riza dengan jemari cantiknya.
Sesekali Hanum mengucap dan memuji Ustadz Riza, "Dirimu tampan sekali, Mas. Bidadari pun jika mampir ke bumi pasti jatuh cinta padamu."
Hanum tersenyum manis. Dirinya terlihat sangat begitu tenang di hadapan sang suami, tetapi ... apakah Ustadz Riza tahu? Isi di dalam raganya begitu mengerikan?