Tanah masih basah itu menutupi jiwa yang sangat tulus mencintai Hanum dan raga yang dulu tidak kenal lelah untuk memeluk Hanum setiap waktu. Hanum terkehening sekarang, menatap cinta pertamanya kini akan menjauhinya lebih jauh dibanding jaraknya pada matahari.
Kini ... Hanum tidak bisa lagi berandai untuk memberinya cucu dan melihatnya tertawa dan bercanda saat menimang cucu kesayangannya.
Hanum hanya bisa menatap kosong mengarah pada gundukan merah itu, sekarang yang tersisa hanya semua cerita yang terukir rapi dan indah di kepala.
Sudah pergi jauh cinta pertamanya ... tidak ada lagi laki-laki yang seluruh hidupnya ia serahkan untuk keluarganya dan sang pencipta. Sudah tidak ada lagi kehangatan, kekuatan dan nasihat yang keluar dari mulut manisnya ....
Dan tidak ada lagi yang menanyakan, "Sudah sholat hari ini, Nak?"
Ia sekarang hanya bisa diam dan membumi.
***
Hanum menggerutu di dalam batin, 'Kenapa Tuhan sekejam ini padaku?' seolah marah pada takdir yang sangat kejam padanya. Tetapi ... lagi-lagi ia tersadar, Kyai tidak akan senang jika mengetahui Hanum berani menggerutu dan memarahi Allah. Kyai selalu berpesan pada putri semata wayangnya itu, 'Apa pun ... takdir apa saja yang Allah tetapkan untukmu, itu pasti yang terbaik!' kata-kata itu yang selalu Kyai ucapkan pada Hanum.
Walau sekarang dadanya begitu sesak, menjalani kenyataan hidup tanpa seorang Abi ....
Tubuh Kyai hampir hilang dari pandangan, Hanum semakin tidak kuasa melihatnya. Kesabaran Hanum tidak sebesar Kyai meski hampir setiap hari Kyai selalu mengajarinya tentang kesabaran, tetapi ... kali ini Hanum benar-benar tidak mampu. Ia seakan tidak lagi mengenal malu di depan para ratusan Kyai, Ustadz dan puluhan Gus yang menghadiri pemakaman sang Abi.
Hanum berhambur memeluk gundukan tanah yang sudah bertabur bunga, ia histeris dan terus meronta. Hingga jahitan yang belum mengering di perutnya lagi-lagi mengeluarkan darah segar.
Namun, sepertinya Hanum tidak mengenal rasa sakit. Hanum terus meracau. "Abi ... Abi ...," suaranya sengau terisak.
Semuanya terenyuh menatap Hanum, tidak ada yang bisa menenangkan Hanum termasuk Umi. Kemudian dari arah kerumunan, terdengar suara Ustadz Riza yang baru saja datang meminta ruang untuk menemui Hanum.
Ustadz Riza duduk di samping Hanum. "Sayang ... Abi masih ada di sekitar kita, rohnya masih melihatmu disini. Ingatlah ... Abi tidak pernah mengajarkan kita meratapi kehilangan, buatlah Abi bangga padamu sayang ...."
Hanum menatap suaminya tajam, matanya basah, kepalanya kini terasa pusing. Lalu bola mata Hanum mengedar pada seluruh kerabat dari Kyai, benar kata suaminya ... Hanum harus menjaga Marwah sang Abi di depan rekan-rekannya.
Kemudian Hanum mengusap wajahnya secara perlahan, lalu berdoa di pimpin oleh sahabat Abi yang datang dari seberang laut, tepatnya kepulauan Sumatera Provinsi Lampung, beliau jauh-jauh datang kemari hanya ingin menghadiri acara pemakaman sahabatnya.
Setelah berdoa semua kerabat pergi menjauh dari kuburan.
Sedangkan Hanum, langkahnya masih belum siap untuk meninggalkan Kyai sendirian di bawah tanah. Ia masih menaburi bunga sedikit demi sedikit sebagai pengobat rindu yang belum sepenuhnya terobati.
Seandainya Kyai tahu betapa menyesalnya Hanum telah merahasiakan pernikahan suaminya pada sang Kyai.
Seandainya Kyai tahu ... ternyata mengejar surga itu sangatlah berat, mengikhlaskan cinta yang terbagi dan hidup satu atap dengan madu membuatnya terluka setiap hari sekaligus menderita.
Bisakah Hanum menyebut Kyai sekarang tidak lagi sepenuh hati menyayangi Hanum, seperti suaminya? Buktinya ... di saat Hanum kehilangan tempat untuk bertumpu seperti biasanya, di saat Hanum tidak tahu harus kemana dan tujuan satu-satunya hanyalah pulang kepelukan Umi dan Abi.
Kini malah Kyai meninggalkan Hanum sangat jauh ... tanpa memberi pesan lebih dulu padanya, tentang bagaimana seharusnya Hanum mengejar mimpi dan tentang semua perjalanan dunia yang penuh air mata ini.
Sekarang ... sunyi ... orang-orang mulai tidak nampak lagi, Hanum dituntun suaminya untuk pulang.
"Selamat jalan, Abi ... selamat jalan cintaku, selamat jalan pahlawanku, tunggu aku disana. Nanti akan kuceritakan, cerita yang belum sempat aku ceritakan bagaimana hidup tanpa sosok dirimu. Nanti ... di keabadian."
Air mata Hanum terus menetes mengiringi langkahnya, sekarang ... Hanum hanya bisa berharap, semua bisa terlewati dengan mudah dan penuh kebahagiaan.
Di saat bola mata Hanum basah penuh linangan air mata, bola matanya terfokus pada wanita yang berdiri di depan rumahnya memakai pakaian serba hitam dengan riasan wajah yang masih on fresh. Nadin berdiri di hadapan semuanya tersenyum ke arah Ustadz Riza tanpa beban.
Hanum menarik napas panjang, melepaskan tautan Ustadz Riza dari lengannya. Ia tidak habis pikir suaminya bisa membawa Nadin sekarang, padahal Hanum saja belum menjelaskan apa pun pada Umi.
Ia menggeleng kecewa melangkah melewati Nadin, sebegitu hilangkah rasa semua di hati mereka untuk kedua orang tua Hanum? Hanum yang melihat mereka berpegangan tangan di depan keramaian saja amat sakit hati, apa lagi Abi ... Umi ... yang menantang keras pernikahan kedua itu terjadi!
Hanum menunduk di samping Umi, lalu wanita paruh baya itu mengenggam jemari Hanum. "Umi sudah tahu semuanya ... bisakah kamu menyuruh suamimu pulang? Umi malu dilihat kerabat Abimu, menantu yang ia banggakan di luar sana malah menggandeng wanita lain di acara pemakaman mertuanya!" bisik umi dengan penuh penekanan.
"Baik, Umi ...."
Hanum melangkah menunduk pasrah menghampiri Ustad Riza, "Mas, maaf ... Umi memintamu untuk pulang, dia malu melihatmu membawa wanita lain selain aku di depan kerabat abi," ujar Hanum sangat pelan ia takut menyinggung perasaan suaminya.
Ustadz Riza menatap Nadin lalu menoleh kembali pada Hanum. "Maaf, Hanum ... Mas terburu-buru mendengar kabar abi, membuat mas nggak bisa berfikir sejauh itu. Mas masih sangat syok atas kehilangan abi ... maafkan mas ... sekali lagi, maafkan mas ... mas nggak bermaksut apa-apa." Ustadz Riza memohon, terlihat bola matanya sangat tulus meminta maaf pada Hanum.
Kemudian langkah Ustadz Riza melangkah ingin menemui Umi, tetapi langkah itu ditahan oleh Hanum. "Kumohon, Mas. Jangan dulu ... tunggu semuanya baik-baik saja." Hanum masih berusaha melebarkan senyumnya di depan Ustadz Riza.
Ustadz Riza mengangguk, ia mencium kening Hanum dan berpamitan untuk pulang. "Mas pulang dulu, Sayang ... jaga umi dan dirimu ...," ujarnya sambil memberi kode pada Nadin untuk naik ke mobil.
Hanum mengangguk dan melambaikan tangan sampai mobil suaminya tidak terlihat lagi.
Di saat Hanum ingin berbalik badan melangkah ke dalam, seorang Gus memakai kaca mata hitam menyapa Hanum. "Assalamualaikum, Ning ... kudengar suamimu melakukan poligami?" tanya seorang Gus yang dulu sempat melamar Hanum, tetapi Hanum menolaknya.
Hanum memejamkan matanya sambil menunduk tidak menatap pria itu sama sekali, ia tahu berita itu pasti akan cepat tersebar ke penjuru semua ulama. "Walaikumsalam, iya," jawab Hanum singkat lalu bergegas meninggalkan pria itu.
"Ning ...," panggil pria itu kali ini ia menahan lengan Hanum tidak sengaja. Jadi dengan reflek ia melepaskannya. "Maaf ... maaf, Ning. Astaghfirullah ...," gumamnya sendiri. Sedangkan Hanum semakin melangkah cepat menjauhi dirinya.
Pria itu menatap Hanum dari kejauhan. 'Aku hanya senang bisa melihatmu lagi, Ning. Dan yang harus kamu tahu, aku masih mengharapkanmu. Sejak kamu menolak lamaranku, aku semakin memperdalam ilmu agamaku untuk melupakanmu! Tapi nyatanya ... sampai sekarang hatiku masih jatuh padamu, Ning.' batin pria itu bergumam.