Istri Pengganti Ustadz
Tamat
Baik… aku lanjutkan langsung sebagai kelanjutan bab ini, dengan napas emosi yang sama, dan ditamatkan. Aku jaga ruh religius, konflik batin, dan penutup yang mengendap—bukan manis kosong.
Hanum melepaskan pelukan itu perlahan.
Bukan karena ia marah.
Bukan pula karena ia tersinggung.
Melainkan karena pertanyaan umi barusan terlalu nyata, terlalu dekat dengan ketakutan yang selama ini ia kubur rapat-rapat di relung hati.
Ruangan itu kembali sunyi.
Hanya terdengar detak jam dinding tua yang tergantung di sudut ruangan, berdetak pelan seolah menghitung sisa-sisa kekuatan jiwa Hanum.
Umi menatap wajah putrinya yang kini memucat.
Tatapan Hanum kosong, seperti seseorang yang sedang berdiri di tepi jurang—tidak jatuh, tapi juga tak mampu mundur.
“Ndok…” suara umi melembut, nyaris bergetar, “maafkan umi. Umi tidak bermaksud…”
Hanum menggeleng pelan.
“Ndak apa, Mi.”
Jawabannya singkat. Terlalu singkat untuk seorang anak yang baru saja kehilangan abi dan kini dihadapkan pada masa depan rumah tangganya sendiri.
Hanum bangkit dari sofa.
Langkahnya pelan, tertatih, seolah lantai rumah pesantren itu bukan lagi lantai—melainkan pasir hisap yang menariknya semakin dalam.
Ia berdiri di depan foto besar Kyai.
Wajah itu.
Wajah yang sejak kecil selalu ia lihat sebagai benteng, sebagai rumah paling aman di dunia.
“Abi…” lirihnya, “kalau memang semua ini ujian… kenapa rasanya seperti dihantam bertubi-tubi tanpa jeda?”
Umi memilih diam.
Ia tahu, ada fase kehilangan yang tidak bisa ditemani dengan nasihat—hanya bisa disaksikan.
Hanum menghela napas panjang.
Lalu berbalik, menatap umi dengan mata sembab namun kini berkilat oleh sesuatu yang berbeda: keputusan.
“Umi,” katanya tenang, “tentang pertanyaan umi barusan… Hanum juga sering memikirkannya.”
Umi tertegun.
“Hanum bukan perempuan bodoh yang tidak tahu hukum,” lanjutnya, suaranya lirih namun tegas. “Poligami itu halal. Tapi halal tidak selalu berarti wajib. Dan tidak semua yang halal harus dipilih.”
Umi menunduk.
“Hanum tahu,” Hanum tersenyum pahit, “tidak ada satu pun perempuan yang menikah dengan niat berbagi. Kami belajar menerima, bukan menginginkan.”
Air mata umi akhirnya jatuh.
“Hanum…” suaranya bergetar, “umi hanya takut kamu tersakiti.”
“Hanum sudah tersakiti, Mi.”
Jawaban itu seperti pisau yang menusuk pelan.
“Sejak menikah, Hanum belajar satu hal—bahwa perempuan sering kali diminta kuat, diminta ikhlas, diminta memahami… tanpa pernah benar-benar ditanya apakah ia sanggup.”
Umi mendekat, hendak menggenggam tangan putrinya, tapi Hanum lebih dulu duduk bersimpuh di lantai, tepat di bawah foto Kyai.
“Abi menentang poligami bukan karena benci syariat,” ucap Hanum pelan. “Tapi karena abi tahu… menjadi adil itu bukan soal pembagian malam. Melainkan pembagian rasa.”
Umi terisak.
Hanum menatap buku merah kecil di tangannya.
Buku yang penuh dengan satu kata yang dicoret berulang-ulang.
“Abi menulis ini bukan karena marah,” lanjut Hanum, “tapi karena takut. Takut jika suatu hari nanti aku dijadikan korban atas nama agama yang disalahpahami.”
Ruangan itu kembali senyap.
Tak lama kemudian, suara adzan ashar terdengar dari kejauhan, memecah sunyi dengan lantunan yang menggetarkan dada.
Hanum bangkit.
“Ayo, Mi. Kita shalat.”
Malam datang perlahan, membawa hawa dingin dan kesunyian yang terasa lebih berat dari biasanya.
Setelah para takziah pulang, rumah pesantren itu kembali sepi.
Lampu-lampu temaram menyala redup, seperti enggan mengusir gelap sepenuhnya.
Hanum duduk di sajadahnya.
Doanya panjang. Tangisnya sunyi.
Ia tidak meminta bahagia.
Tidak meminta keajaiban.
Ia hanya meminta satu: dikuatkan dalam keputusan yang kelak harus ia ambil.
Usai shalat, Hanum membuka ponselnya.
Nama suaminya muncul di layar.
Ia menatap lama.
Sangat lama.
Akhirnya, ia menekan panggilan itu.
“Assalamualaikum,” suara laki-laki itu terdengar.
“Waalaikumsalam,” jawab Hanum tenang.
Ada jeda.
“Kau sudah dengar?” tanya suaminya.
“Iya.”
“Bagaimana keadaan umi?”
“Masih kuat… seperti biasa.”
Hening lagi.
“Hanum,” suara itu ragu, “aku akan pulang besok.”
“Baik.”
Laki-laki itu seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi urung.
Namun Hanum lebih dulu membuka suara.
“Mas,” katanya pelan namun jelas, “nanti… setelah semuanya tenang, Hanum ingin bicara.”
“Bicara apa?”
“Bicara tentang rumah tangga kita.”
Jeda panjang.
“Hanum… apakah ini tentang—”
“Bukan,” potong Hanum. “Ini tentang aku.”
Telepon ditutup.
Beberapa hari setelah pemakaman, hujan turun deras.
Hanum berdiri di serambi pesantren, memandang langit kelabu.
Umi mendekat membawa selimut, menyampirkannya ke bahu Hanum.
“Kamu dingin, Nak.”
“Ndak, Mi.”
Umi tersenyum lelah.
“Kamu mirip abi. Kalau sedang memutuskan sesuatu, wajahmu selalu seperti ini.”
Hanum tersenyum tipis.
“Mi… Hanum sudah memutuskan.”
Umi menahan napas.
“Hanum akan meminta cerai.”
Kata itu jatuh pelan.
Tapi dampaknya mengguncang.
Umi menatap putrinya lama.
Tidak terkejut.
Hanya… sedih.
“Kenapa?” tanyanya lirih.
“Karena Hanum tidak ingin hidup dalam ketakutan menunggu giliran disakiti,” jawab Hanum jujur. “Dan karena Hanum tahu… cinta yang dipertahankan dengan ancaman syariat bukanlah ibadah.”
Umi memeluk Hanum erat.
“Abi pasti bangga padamu.”
Hanum menangis.
Bukan karena lemah.
Melainkan karena akhirnya jujur pada dirinya sendiri.
Beberapa bulan kemudian.
Hanum kembali ke pesantren kali ini bukan sebagai anak Kyai, bukan sebagai istri siapa pun.
Ia berdiri di depan para santri perempuan, mengajarkan tafsir, fiqih, dan… keberanian berpikir.
Di dinding ruangannya, masih tergantung foto Kyai.
Dan di mejanya, tersimpan buku kecil berwarna merah itu.
Tidak lagi sebagai luka.
Melainkan sebagai pengingat.
Bahwa agama tidak pernah mengajarkan perempuan untuk hancur demi terlihat taat.
Dan bahwa keikhlasan sejati bukan tentang menahan sakit melainkan tentang memilih jalan yang membuat jiwa tetap hidup.
Hanum tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak kepergian abi…
ia merasa utuh.
Tamat.