Hampir semua orang berlarian dari dalam mobilnya, menghampiri mobil yang baru saja terhenti dari berguling tak tentu arah serta kebulan asap yang keluar mengabut menjadi hitam.
"Mobilnya akan terbakar!" teriak salah satu pria berperawakan besar berlari mendekati mobil yang dikendarai oleh Ustadz Riza dan Hanum "Cepat ... cepat, bantu orang di dalamnya keluar!!!" ujarnya lagi.
Namun, alih-alih menolong atau mendengar ucapan pria itu. Semua orang yang berada di sekitar TKP malah tiba-tiba menghindar jauh dari tempat kejadian, kemungkinan besar mereka tidak mau mengambil resiko yang lebih berbahaya seperti mobil yang bisa kapan saja meledak.
"ARGH! FUCK."
Pria itu tetap berlari cepat kearah mobil Ustadz Riza yang sudah mengebul parah, ia meninju kaca mobil berkali-kali dan akhirnya pecah juga lalu tangannya masik ke dalam kaca mobil untuk membuka pintu dan menggotong Hanum keluar.
"TOLONG! TOLONG BANTU SAYA!" teriaknya keras mengarah pada kerumunan orang-orang yang sudah menjauh dari titik lokasi. "WOY! PAK! TOLONG ANGKAT PEREMPUAN INI! JANGAN BISANYA CUMA NGEREKAM DOANG!" makinya kuat pada seorang pria yang lebih tua darinya. Sontak pria tua itu langsung memasukkan ponsel ke dalam saku, lalu berlari menggotong Hanum meletakkannya ke tempat yang aman.
Pria berperawakan besar itu sekarang kembali lagi ke dalam mobil untuk menolong Ustadz Riza dengan terburu-buru, namun ... baru saja pria itu membawa keluar Ustadz Riza tiba-tiba mobil itu meledak sangat kuat! Seperti suara bom yang ada di serial action televisi.
DHUAR!!!!
Semua orang menutup wajah mereka, bahkan tangan mereka gemetar ketakutan. Hingga salah satu dari mereka mengucap keras. "Allahhu Akbar!" setelah melihat tubuh besar pria itu masih selamat sambil membopong Ustadz Riza yang gamisnya pun sudah dipenuhi oleh darah.
Suara ambulance beradu padu, suasana jalan tol semakin ricuh dan kedua sepasang suami istri itu kini sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulance dalam keadaan tidak sadarkan diri.
***
Di bawah ritme denting jantung, Hanum tersadar dari komanya. Namun ia merasakan pedih yang sangat dahsyat di perutnya! Dengan kesadaran yang masih menipis, Hanum perlahan membuka bola matanya ....
Ustadz Riza yang sedari tadi duduk mendampingi Hanum, meski tubuhnya pun memiliki luka yang serius di bagian pundak bagian kanan.
Kedua bola mata Ustadz Riza berkaca-kaca sembari menghusap rambut Hanum dengan sangat lembut.
Cup!
Sebuah kecupan manis yang mendarat di tangan Hanum.
"Sayang ... maaf," ucapnya setelah mengecup tangan Hanum.
Hanum yang masih menahan semua kepedihan yang ada, hanya bisa menutup kelopak matanya kembali. "Hubungi Abi dan Umiku!" lirihnya tersendat menahan semua amarah yang sejak tadi ingin ia lontarkan pada seorang laki-laki berstatus suami, tetapi dengan teganya melukai batin ... maupun fisiknya secara bertubi-tubi.
"Hanum ... seandainya saja kamu bisa mengerti," ucap Ustadz Riza pelan dengan selang infus yang masih tertanggal di sisi lengan tangannya.
Mendengar ucapan itu Hanum membulatkan bola matanya tajam mengarah pada Ustadz Riza. "Kamu tau suamiku? Allah ciptakan manusia dengan hawa nafsu dan godaan yang dahsyat. Ia uji keimanannya selagi ia masih bernapas dengan hadiah surga yang Allah janjikan! Tapi ... manusia sekarang hebat dan menarik! Surga mereka duakan dan nikmat dunia mereka utamakan!" ucap Hanum yang membuat Ustadz Riza terdiam sekaligus tercekat melihat sang istri yang tiba-tiba lancang menceramahinya.
Hanum menarik napasnya kembali, lalu melanjutkan perkataannya. "Sepertimu yang hidup tergantung kondisi, jika dirimu tidak diuntungkan. Dirimu akan berkhianat!" ucapnya lagi dan kali ini tatapannya sinis penuh arti.
Ustadz Riza hanya membalas dengan senyuman manis menatap Hanum. Sebagai seorang suami dengan wibawa yang sangat tinggi, merasa ilmu agamanya di atas sang istri ... ia merasa malu dengan perkataan Hanum barusan seperti menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang Ustadz sekaligus pemilik Ponpes ternama di kota tempat mereka tinggal.
ARGH!
Hanum tiba-tiba mengerang kesakitan, perutnya kencang hingga Hanum tidak dapat meringkuk untuk sekedar ingin meredakan rasa sakit.
"Mas ... sakit, Mas!" rintih Hanum kemudian ia pun meneteskan air matanya sembari menggenggam tangan pria yang baru saja ia ceramahi dengan kuat.
Ustadz Riza melepaskan genggaman Hanum, mencoba untuk bangkit secara perlahan. Namun ia gagal! Ia lupa jika dirinya pun tadi diantar suster secara tatih hingga sampai duduk di samping Hanum.
Pria yang masih memakai gamis dengan noda darah di mana-mana itu terduduk kembali, menutup mata menahan sakit juga yang teramat di pundaknya.
"Dokter ...."
"Dokter ...."
Teriak Ustadz Riza dengan tenaga yang ia kumpulkan penuh usaha, sambil menahan sakit di pundaknya setiap ia berteriak memecahkan hening suasana ruang UGD.
Hanum terus menggenggam tangan suaminya, hingga genggaman itu mulai terasa dingin dan lemah. Ustadz Riza semakin panik memeluk istrinya erat, ia menangisi dan membayangi sebuah kehilangan. Dia sadar dia belum siap untuk kehilangan Hanum ... istri tercintanya! Istri idamannnya dan istri yang paling sholehah di seluruh dunia bagi dirinya!
Pelukan Ustadz Riza semakin erat saat suhu tubuh Hanum menurun dan dinginnya menjalar sampai ke pipi ranumnya.
Tetesan air mata Ustadz Riza semakin deras, "Hanum ... Mas minta maaf jika akhir-akhir ini membuatmu frustasi dan mungkin juga membuat hatimu sakit sampai membenciku! Tapi kamu harus tau sayang ... aku tidak pernah mencintai seseorang selain dirimu dan sekarang tolong ... jangan hukum Mas untuk kehilangan dirimu!" bisik Ustadz Riza terisak karena bagaimana pun dia benar-benar belum siap untuk kehilangan Hanum di dalam dirinya.
Setelah mendengar ucapan itu, seketika tubuh Hanum meremang dia lunglai tidak lagi kaku. Ustadz Riza yang terkejut sontak melepaskan pelukannya sambil memeriksa denyut nadi Hanum.
Denyut nadi Hanum terasa sangat melemah dirasakannya, itu semakin membuat Ustadz Riza semakin menjerit sejadi-jadinya ... dia sekarang sudah benar-benar lupa akan wibawanya sebagai Ustadz yang tersohor disegani oleh seluruh para santri dan rekan-rekannya.
"Dokter ...."
"Dokter ...." Dia meraung tidak kenal malu, dia ingin mengumpat pada dokter yang penanganannya sama sekali tidak ligat dalam menangani pasien. Dia ingin memohon dan bersimpuh pada dokter yang baru saja datang memeriksa istrinya.
Tetapi ... dengan cepat Ustadz Riza tersadar atas perkataan istrinya tadi, dia benar-benar telah menomor satukan nikmatnya dunia! Dia lupa akan adanya Allah SWT yang selalu membantu umatnya di dalam kesulitan yang amat sulit bagi hambanya.
"Astaghfirullahalladzim, ya Allah maafkan aku jika hambamu ini ingin melawan takdir. Tapi tolong ya Allah ... selamatkanlah istri hamba ya Allah, hamba belum siap! Sungguh!" gumam Ustadz Riza di dalam hati, sembari menatap kosong ke arah Hanum yang sekarang terbaring lemah tak berdaya dengan para dokter sibuk berwara wiri membawa alat dan kabel-kabel yang dipakaikan di tubuh Hanum.
Ustadz Riza tidak ada hentinya merapalkan doa, hingga air matanya menetes lagi saat salah satu dokter mematikan alat pendeteksi jantung dengan gelengan kepala.