Hanum menutup wajahnya dengan kedua tangan, sungguh ia tidak tahu harus apa setelah ini? Meributkan hal yang itu-itu saja ... atau mengintropeksi diri menjadi lebih baik lagi. Tetapi ... sepertinya menjadi baik sekali pun dia tetap tidak berguna di mata suaminya sendiri.
"Aku harus apa sekarang, Umi?" tanya Hanum sangat pelan.
Umi memilih diam, dia hanya tersenyum tipis menatap putri malangnya. Ada perasaan kecewa dengan sikap yang diberikan oleh Ustadz Riza, tidak ada sama sekali pernyataan untuk merubah keputusannya berpoligami di hadapan Hanum, padahal Hanum sudah begitu hancur.
Sementara itu ... Kyai masuk ke dalam ruangan, di tengah hati yang tak karuan dia menatap putrinya. Hatinya semakin sakit beribu kali lipat setiap kali memandang wajah Hanum seakan runtuh berserakan tak berarah. Kyai memeluk Hanum erat, mencium pipi yang selalu merona dan tak pernah berubah.
"Ndok ... Abi selama ini mengajarkanmu untuk selalu mengejar surga kan?" ucap Kyai pelan, tidak ingin menyinggung perasaan Hanum. Kyai mengelus kepala Hanum lembut lalu menggenggam jemarinya.
"Ceraikanlah Riza, tidak perlu lagi kamu mengemis cinta darinya, ada banyak surga yang lain Hanum." Bola mata Kyai lurus menatap mata putrinya yang selalu basah.
"Ini sudah bukan tentang surga, Abi! Tapi hati Hanum sudah tertutup untuk siapa pun dan hanya Mas Riza di dalamnya!" balas Hanum tak sengaja meninggikan nada bicaranya.
Kemudian ruangan mendadak hening, hanya terdengar suara Hanum yang mulai terisak.
Dan Hanum pun kembali bersuara dengan nada berat penuh kecewa. "Abi yang menjodohkan aku? Abi yang selalu mengajarkan aku tentang surga? Tapi Abi pula yang menyuruhku bercerai padahal Abi pernah bilang jika perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah." Hanum menangis lagi dia fikir tidak ada yang bisa mengerti keadaannya saat ini, sekalipun itu Kyai.
Kyai menghela napas panjang, dia berusaha mengatur ritme emosinya. Tapi ntah kenapa emosi Kyai seakan meletup saat mengingat menantunya memandang foto wanita selain putrinya.
Hanum pun mulai frustasi, dia mengangkat tangan lalu mengusir Abi dan Umi. Dia ingin tenang, dia ingin sendiri jauh dari semua orang yang menyayanginya sekaligus menjadi orang yang paling menyakitinya.
"Lebih baik Umi dan Abi pulang, aku ingin sendiri," ucap Hanum.
"Hanum, pasti ada alasan kenapa abi menyuruhmu bercerai dengan suamimu." Umi mencoba mendekati Hanum, tapi Hanum tahan dengan tangannya.
"Sudah, Umi ... tinggalkan Hanum sendiri."
Lagi ... Kyai menghela napasnya melihat keadaan Hanum sekarang. Entah sampai kapan putrinya seperti ini, anak perempuan yang dulu sangat penurut dan tidak pernah meninggikan nada suaranya, seolah hilang seperti berganti kepribadian. "Oke ... abi akan jelaskan alasannya," ucapnya, tetapi Kyai malah diam. Dia ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Kenapa, Bi?" tanya Hanum.
"A-abi melihat suamimu, memandang foto wanita lain di ponselnya. Dia menatap layar ponselnya dengan serius sesekali bibirnya mengembang saat melihat foto itu."
Hanum meneteskan air matanya, tapi kali ini bibirnya tertutup rapat. Tidak ada perkataan atau pertanyaan yang keluar dari dalam mulutnya lagi.
Sedangkan Kyai dan umi hanya bisa memperhatikan tanpa menenangkan, karena takut Hanum akan histeris kembali. Bahkan Kyai pun sama sekali tidak bergeser dari tempat duduknya.
Tak berapa lama gagang pintu terlihat berputar dan keluar Ustadz Riza dari balik pintu. Melihat semuanya hening, ia melangkah dengan cepat menghampiri Hanum yang masih terdiam dalam tangis.
Ustadz Riza duduk di tepi ranjang, mengenggam tangan Hanum. Ia mencoba menangkap perasaan istrinya, dia ingin menyudahi segala kesedihan dan melanjutkan hidup yang damai.
"Hanum ... sudah ya, kita selesaikan semua ini. Aku akan terus bersamamu sampai kapan pun."
Mendapat ucapan seperti itu dari suaminya, bibir Hanum hanya menyungging. "Bagaimana caramu bisa setenang ini, sementara istrimu hampir mati dihantam oleh keadaan? Lalu menurutmu ... bagaimana membuat ruang kosong kembali, setelah semua ruang tidak ada tempat kebahagiaannya lagi? Dirimu pasti akan mencari ruang baru milik orang lain, bukan?"
Bola mata Hanum menatap suaminya tajam, lalu melanjutkan ucapannya kembali. "Oh iya ... aku lupa, dirimu sudah lama mengincar ruang itu bukan? Bahkan kau tidak peduli dengan ruangan kotor yang seharusnya segera dibersihkan oleh pemiliknya." Perkataan Hanum terhenti, menarik napas panjangnya.
"Selama ini kau berpura-berpura seolah merayakan kebahagiaan di ruanganmu, bukan? Nyatanya ruangan itu sendiri pun lupa bagaimana merasakan bentuk kebahagiaan oleh pemiliknya sendiri!"
"Num ...." Ustadz Riza mencium punggung tangan istrinya. "Sudah ya ...."
Hanum menghempas tangannya, kemudian sejenak menoleh pada Kyai. Hanum menutup kelopak matanya sembari menghembuskan napas panjang, lalu membuka pelupuk matanya secara perlahan. "Jika suatu hari nanti, aku melihat dirimu tenggelam di lautan dan kebetulan hanya aku yang memegang ban renang. Demi Allah aku akan meledakkan ban itu di depan matamu!" ucap Hanum dengan tatapan kosong.
Ustadz Riza diam, kali ini menatap istrinya dengan nanar. Ia terhambur kepelukan Hanum, menangis tersedu-sedu dan memeluknya kencang. Ia sadar ... dia sangat ingin kehadiran wanita lain di pernikahannya, tetapi Ustadz Riza pun juga sadar ... dia tidak bisa kehilangan cinta wanita seindah Hanum.
Ustadz Riza terus memeluk Hanum, meraung meminta maaf! Sebelum perkataan Hanum lebih sadis dari yang sekarang.
Namun, Hanum menahan dirinya untuk membalas pelukan Ustadz Riza meski dia ingin. Hati Hanum luluh setelah pundaknya basah oleh air mata lelaki surganya.
Hatinya tersentuh begitu saja saat melihat suaminya meminta maaf dengan tulus.
Sementara Kyai dan Umi menyimpan segala rasa kebimbangan, Kyai menyuruh Hanum bercerai ... tapi sekarang ia melihat mereka berpelukan. Ia mulai berpikir apakah menantunya sudah mulai sadar dan membatalkan rencana poligaminya?
Umi memberanikan diri mendekati Hanum, kemudian memeluk tubuh putrinya yang baru saja dilepas oleh Ustadz Riza. Tanpa banyak berkata Hanum membalas pelukan Umi dan merasakan kehangatan yang sejak tadi memanas.
"Ndok ... sudah yaa, benar kata suamimu ... lebih baik kita melanjutkan hidup di hari esok dari pada meratapi kesedihan yang tiada hentinya."
Kyai membentuk angka satu dengan jari lalu ditempelkan di bibirnya. Ia memberi isyarat pada umi untuk tidak melanjutkan perkataannya, takut jika nanti Hanum akan tersinggung kembali.
Kemudian Kyai melihat punggung menantunya dengan perasaan ragu ia mendekat pada Ustadz Riza. Lalu merangkul Ustadz Riza sebagai tanda terima kasih telah menenangkan Hanum.
"Ustadz ... abi berterima kasih atas turunnya egomu," bisik Kyai.
Ustadz Risa menghusap wajahnya. "Itu sudah kewajibanku, Bi."
Abi tersenyum lega ... sambil menepuk pundak Ustadz Riza. "Besok kalian pulang ... mulailah hidup yang harmonis ya, Nak ..." ucap Kyai menepis perasaannya tentang poligami.