Jatuh Cinta di Tanah Lada
Dingin dan Luka
Arum menggigil, selimut tebal dua lapis terasa tak cukup menepis dingin yang menusuk. Bukan dingin yang mengancam, melainkan dingin yang memeluk dengan kejujuran, menuntut kehadiran Arum untuk merasakan. Seolah udara itu sendiri adalah cermin, memantulkan segala rasa yang selama ini coba ia kubur dalam-dalam. Setiap tarikan napas terasa seperti desiran ombak yang menarik kembali pasir-pasir kenangan, mengungkap apa yang telah lama terendap. Di Hujung, tempat yang seharusnya menjadi kanvas kosong untuk melukis babak baru, justru terasa seperti museum pribadi berisi pameran kegagalan dan kekecewaan.
Namun, gigil itu bukan hanya dari udara. Setiap embusan napas membawa serta aroma kayu tua dan bau tanah basah, yang entah mengapa, memicu ingatan. Aroma itu melekat di udara, menyelinap ke dalam paru-paru Arum, memicu rentetan kilas balik yang tak terhindarkan. Seolah setiap partikel udara membawa serpihan masa lalu.
Tatapan-tatapan kasihan keluarga saat ia datang sendirian ke setiap acara. Senyum canggung, bisikan simpati yang menusuk lebih dalam dari pisau, dan pertanyaan-pertanyaan terselubung tentang “kapan” dan “mengapa”.
Ia masih ingat tatapan Bude Siti, yang selalu penuh welas asih namun menyimpan nada menyalahkan. "Kamu terlalu tinggi bermimpi, Rum. Perempuan itu kodratnya menikah, berbakti pada suami," kata Budhe Siti suatu kali, suaranya lembut namun kata-katanya menggores. Arum hanya tersenyum tipis, menelan perih.
Dingin yang sama menusuknya, Arum rasakan saat ia mengingat suara Rizal, yang membatalkan pernikahan mereka karena pilihan Arum untuk melanjutkan S2. "Arum, kamu terlalu ambisius. Aku butuh istri yang bisa menemaniku, bukan yang sibuk dengan buku-buku dan penelitian. Kita berbeda," suara Rizal terdengar datar, tanpa emosi, seperti mesin yang membacakan naskah perpisahan. Arum masih ingat bagaimana ponselnya terasa sangat berat di tangannya saat itu, bagaimana air mata mengalir tanpa suara, membasahi bantal yang menjadi saksi bisu kehancuran hatinya.
"Kamu yakin ini pilihan terbaikmu, Zal?" Arum bertanya kala itu, suaranya bergetar menahan air mata yang mendesak. "Kita sudah sejauh ini."
"Pilihan ini mungkin yang terbaik untukmu, tapi bukan untuk kita. Aku tidak bisa membayangkan hidup dengan seseorang yang selalu punya prioritas lain selain keluarga," jawab Rizal dingin. Kata-katanya menancap sempurna laksana belati yang diselimuti es, membekukan harapan yang telah ia bangun bersama.
Dingin ini tak ada bedanya dengan dingin yang tak terperi saat melintas bayangan Karina yang sedang meliukkan tubuh telanjangnya di atas tubuh Sandi, padahal pertunangan Arum dengan Sandi baru saja berlalu seminggu sebelumnya. Pemandangan itu masih terpatri jelas di benaknya, sebuah film horor yang terus berputar tanpa henti. Ruangan remang, musik berdetak rendah, dan tawa kecil Karina yang melengking. Arum sempat berdiri mematung di ambang pintu, tak mampu bergerak, seolah semua ototnya lumpuh. Ia ingat Sandi yang terlonjak kaget, wajahnya pias, berusaha menutupi Karina dengan selembar selimut yang melorot.
"Sandi, apa ini?" Arum berbisik, suaranya serak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dunia seolah runtuh di sekelilingnya.
Sandi mencoba menjelaskan, gagap, mencari alasan. "Arum, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Karina hanya..."
"Cukup!" potong Arum, matanya memanas. "Aku melihatnya, Sandi. Dengan mata kepalaku sendiri. Apa yang kurang dariku? Apa salahku?"
Karina, yang tadinya bersembunyi, kini menampakkan diri dengan senyum sinis. "Salahmu terlalu percaya diri, Arum. Beberapa laki-laki mencari yang berbeda." Kalimat itu mengakhiri segalanya. Dingin yang menerpa Arum kala itu jauh lebih dalam dari dinginnya pagi di Hujung. Dingin pengkhianatan, dingin kehancuran, dingin dari kepercayaan yang dikhianati begitu keji.
Bahkan, lebih dingin dari prosesi pemakaman Satya, lelaki yang Arum yakini akan menjadi teman hidupnya. Dingin tanah yang baru digali, dingin batu nisan yang baru terpancang, dan dingin di dalam dadanya sendiri yang terasa hampa. Arum berdiri mematung di samping makam, menatap gundukan tanah yang menimbun semua impian mereka. Kenangan akan tawa Satya, janji-janji yang diucapkannya, dan rencana masa depan yang mereka rajut bersama, kini hanya menjadi gema di ruang hampa.
"Arum, kita harus kuat," suara ibu Satya terdengar parau, memeluk Arum erat. Namun, kekuatan itu terasa tak ada.
"Bagaimana aku bisa kuat, Bu?" bisik Arum, air matanya tak terbendung. "Dia... dia adalah duniaku."
Ingatan itu masih menghantuti, membekukan ruang antara kenangan dan impian, seperti yang kini dirasakan Arum di Hujung. Tempat yang semestinya menjadi titik awal baru, namun justru menyeretnya kembali ke masa lalu yang belum usai. Hujung adalah sebuah desa indah di kaki Pesagi, dengan rumah-rumah kayu sederhana dan udara yang selalu terasa bersih.
Arum menarik napas panjang, membiarkan dingin menusuk hingga ke tulang. Ia bangkit dari ranjang, menuju jendela kayu yang berembun. Hamparan hijau terbentang di depannya, diselimuti kabut tipis yang perlahan menyingkir.
"Sampai kapan kau akan lari, Arum?" bisiknya pada pantulan dirinya di jendela, yang samar-samar terlihat di balik embun. Suaranya serak, seolah ia baru saja berteriak dalam tidur. "Sampai kapan kau akan membiarkan bayangan-bayangan itu menguasaimu?"
Ia mengusap embun di kaca, pandangannya lurus ke depan. "Ini bukan tentang mereka. Ini tentang aku. Tentang bagaimana aku bangkit."
"Apakah aku benar-benar mencintai mereka, atau hanya mencintai ide memiliki seseorang di sisiku?" Arum merenung, pertanyaan itu melayang di udara, tanpa jawaban. "Rizal... dia hanya ingin aku menjadi versi diriku yang dia inginkan. Dan Sandi... dia tidak pernah benar-benar melihatku, hanya melihat apa yang bisa aku berikan."
Kemudian, bayangan Satya melintas lagi. Senyumnya, tatapan matanya yang penuh cinta. "Tapi Satya..." Arum terdiam, tenggorokannya tercekat. "Satya berbeda. Atau aku hanya ingin percaya begitu?" Air mata kembali mengalir, tanpa suara.
Ia mengusap air matanya kasar. "Tidak, Satya memang berbeda. Dia percaya padaku, dia mendukung mimpiku. Dia tidak pernah memintaku untuk berubah." Sebuah desakan emosi meluap. "Tapi dia pergi. Dia meninggalkanku sendiri."
Arum menunduk, merangkul lututnya. Dingin di Hujung terasa meresap hingga ke jiwanya. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada kejujuran yang menuntut untuk diakui. Bukan lagi dingin yang melumpuhkan, melainkan dingin yang memaksa Arum untuk merasakan, untuk memproses, untuk akhirnya melepaskan. Ia tahu, di Hujung ini, ia tak bisa lari lagi. Ia harus menghadapi semua hantu masa lalunya, satu per satu, hingga ia bisa menemukan kembali dirinya sendiri. Hujung mungkin titik akhir dari segala kegagalan, tetapi juga bisa menjadi titik awal dari sebuah kebangkitan.
"Ini belum berakhir, Arum," bisiknya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas, penuh tekad. "Ini baru permulaan." Secercah harapan mulai menyelinap di balik kabut, menuntut Arum untuk bangun, untuk merasakan, dan untuk memulai lagi.
***