Jatuh Cinta di Tanah Lada
Peta Ini Akan Menuntunmu Kepadaku 3
“Jadi, kalian beneran pernah menikah?” Arum berbisik, rasa tidak percaya masih menggantung di udara.
“Iya.”
“Dan enggak ada satu pun teman kita yang tahu?”
Nursan mengangguk.
“Termasuk Fikri?”
“Kamu orang pertama yang aku beri tahu selain keluargaku.”
“Tetangga di sini enggak ada yang tahu?”
“Hanya orang tua, kakak, dan adik-adikku yang tahu. Saat menikah, mereka tidak bisa datang karena pernikahan itu memang mendadak sekali. Rencananya, resepsi akan digelar di sini. Sayang, aku dan Atikah keburu berpisah.”
Arum merasakan gelombang simpati. "Kamu tidak berusaha mempertahankan pernikahan itu?"
Nursan menghela napas, tatapannya kosong. “Dengan cara apa? Aku sudah datang baik-baik, namun diusir. Bahkan Atikah tidak diperbolehkan menemuiku. Proses cerai diurus keluarga Atikah dalam tempo sesingkat-singkatnya. Aku tidak punya pilihan selain menerima keputusan itu.” Arum hanya bisa menatapnya, membayangkan betapa hancurnya Nursan saat itu.
“Setelah itu, kalian masih berkomunikasi?” tanya Arum penasaran.
“Enggak. Satu-satunya kabar yang aku terima adalah tentang pernikahannya.”
“Dia menikah secepat itu?”
“Hanya delapan bulan setelah gugatan cerai itu aku terima.”
“Kamu kenal dengan suaminya?”
“Enggak. Dan kupikir tidak ada pentingnya juga aku kenal suami Atikah.”
“Kamu enggak penasaran kenapa dia bisa menikah secepat itu?”
“Enggak ada gunanya aku penasaran.”
“Dia ada di sini. Di depan mata kamu. Tidakkah kamu merasa ada yang harus kalian selesaikan?”
“Semuanya sudah selesai di Lipek Pageh.”
“Apa kamu masih menyimpan perasaan kepada Atikah?”
“Enggak.”
“Kamu yakin tidak menyimpan harapan lagi ke Atikah?”
“Setelah pertemuan tadi, aku yakin perasaan cintaku kepada Atikah sudah tak bersisa.”
“Tapi kenapa kamu belum menikah lagi?”
“Kamu sendiri?”
Keheningan melingkupi mereka, tak ada jawaban yang terucap. Kapan menikah? Pertanyaan itu seolah menjadi gema di antara mereka berdua, sebuah misteri yang tak terpecahkan.
Batin Nursan riuh. Jika kini aku jatuh cinta lagi, maka aku memilih jatuh cinta di tanah lada, tapi tidak dengannya yang sudah menjadi masa lalu. Apa yang salah?
***
"Ayo, aku harus segera ke tempat acara diskusi. Tim dari DKL sudah menungguku."
Arum berdiri merapikan pakaiannya. Ia mengajak Nursan untuk segera pergi menuju tempat acara diskusi tentang sastra Lampung. Obrolan tentang Atikah cukup menyita waktu mereka.
"Sori, aku sampai lupa kalau kamu punya acara lain di sini. Sebentar, aku ambil tas dulu. Oh iya, jangan lupa pakai sarung. Kamu bawa kan?"
"Bawa. Udo sudah wanti-wanti supaya aku bawa sarung."
Sesuai tradisi, tiap kali ada acara adat, semua yang hadir dalam acara itu diwajibkan memakai sarung. Untuk laki-laki, sarung dipakai hanya sebatas lutut. Sementara perempuan memakai sarung menutupi seluruh kaki.
Selesai memakai sarung dan memeriksa barang apa saja yang akan dibawa, Arum dan Nursan berjalan melewati beberapa rumah warga menuju tempat yang sudah diberitahu Udo. Jarak dari rumah Nursan ke tempat acara tidak lebih dari 200 meter. Di sepanjang jalan, kemeriahan acara Pesagi Festival Culture sudah sangat jelas terlihat.
Umbul-umbul aneka warna berjejer rapi di kanan kiri jalan. Tepat di arah pintu masuk, tampak beberapa bambu ditancapkan sedemikian rupa. Ujung-ujung bambu bagian atas dibuat melengkung dan dipertemukan hingga membentuk terowongan. Orang-orang yang menuju panggung utama, pasti akan melewati terowongan tersebut.
Arum dan Nursan tiba di sebuah rumah yang ukurannya lebih besar dibandingkan rumah lainnya. Sudah ada beberapa tokoh masyarakat hadir di sana.
"Ada empat raja di sini. Satu duduk di samping Udo, satu lagi duduk di ujung kanan nomor dua, yang dua ada di tengah-tengah. Itu yang pakai baju batik merah sama jas bedahan warna hitam."
Nursan menjelaskan setengah berbisik tentang empat orang penting yang sudah duduk di sana. Kemudian Nursan berlalu meninggalkan Arum untuk bergabung dengan mereka.
Arum menghampiri Mbak Yuli. Ia memastikan susunan acara dan informasi apa saja yang harus dicatatnya nanti.
Pukul sembilan pagi, acara pun dimulai. Diskusi dipandu oleh Udo Karzi. Pada sesi ini, komite sastra di bawah Dewan Kesenian Lampung mencoba mendalami dan menggali tentang kondisi sastra Lampung.
Pendapat pertama dikemukakan Ahmad Suryadi, seorang guru SD di Pekon Hujung. Suryadi berpendapat bahwa apresiasi terhadap sastra Lampung khususnya di Lampung Barat memang masih sangat kurang.
"Kita bisa lihat contohnya sekarang, dalam kegiatan Pesagi Festival Culture yang saat ini sedang berlangsung saja, banyak sekali masyarakat yang belum tahu. Padahal pemberitahuan kegiatan ini sudah dilakukan dengan berbagai cara, termasuk media sosial. Orang hanya tahu lomba nyambai dan orkes gambus. Belum paham apa yang dilakukan dalam kegiatan festival ini. Murid-murid di sekolah pun sangat awam terhadap sastra Lampung. Jika ada seleksi untuk lomba yang berkaitan dengan sastra Lampung, pertanyaan yang muncul dari mereka adalah: itu apa?" ujar Ahmad Suryadi.
Arum mengangguk pelan, menyadari betapa relevannya pandangan ini dengan pengalamannya sendiri di kota.
"Betul itu. Perkenalkan, nama saya Maksudi. Saya ini pelaku betetah. Menurut saya, selama ini yang tampil di Lampung Barat bukan betetah karena dalam betetah yang sekarang selalu berujung pada acara sawer. Sistem sawer sudah mendegradasi nilai budaya. Kalau ingin memberi, alangkah baiknya dilakukan di bawah panggung. Bukan sawer di atas panggung seperti pengamen. Selain itu, pelaku budaya sering dianggap remeh karena segelintir orang yang minta proyek ke pemerintah atas nama budaya. Sebagai budayawan, hal itu sudah sangat merusak. Tambahan lagi, selama ini festival selalu terbentur pada dana sehingga sastra dan budaya di Lampung Barat sangat tersembunyi. Masuk ke dalam selimut dan sulit bagi setiap orang untuk menemukannya." Maksudi menjeda sejenak ucapannya.
Lalu melanjutkan, "Sebaiknya, bahasa yang dipakai disesuaikan dengan kultur daerahnya. Misal bahasa Sukau ya dipakai untuk orang Sukau. Kebanyakan dari Bahasa Lampung yang disampaikan, tidak sesuai dengan bahasa di sini. Banyak memakai bahasa orang pepadun, bukan pesisir. Kabupaten Lampung Barat harus membuat modul pembelajaran sendiri agar bisa disesuaikan dengan kondisi budaya asli Lampung Barat."
Arum menyimak dengan saksama. Lebih dari seperempat abad tinggal di Lampung, Arum tidak pernah tahu kalau budaya Lampung sedemikian hebat. Arum hanya mendengar beberapa bagian kecil saja dari Nursan saat mereka masih memakai putih abu-abu. Tak ada media yang membahas secara gamblang tentang budaya Lampung, terutama sastra. Pemaparan Maksudi memberinya perspektif baru, sebuah gambaran besar yang selama ini tersembunyi.
"Pekon Hujung terjajah secara bahasa," kalimat itu meluncur dari bibir Herni Suwandi, seorang budayawan yang mengaku sebagai petani kopi. "Masalah utama di Pekon Hujung selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir adalah dari segi bahasa yang sudah mulai rusak karena ada begitu banyak pendatang. Masyarakat malah banyak yang mengikuti bahasa para pendatang sedangkan para pendatang justru sungkan untuk mempelajari Bahasa Lampung. Harus dipikirkan bagaimana solusi agar bahasa asli masyarakat Pekon Hujung bisa tetap lestari."
***