Jatuh Cinta di Tanah Lada

Ketika Sastra Menjadi Takdir

Pemaparan para budayawan tentang sastra dan budaya Lampung tak hanya mengisi catatan Arum, tetapi juga memantik refleksi mendalam dalam dirinya. Sebagai seorang penulis, ia merasa terpanggil.

Sudah lama ia mengagumi mereka yang berdedikasi penuh pada sastra, dan kini ia menyaksikan sendiri bagaimana sastra menjadi denyut nadi kehidupan di tempat ini. Pikirannya melayang, kembali pada perjalanannya sendiri, bagaimana ia jatuh cinta pada dunia kata-kata.

Membaca adalah satu-satunya cara Arum menjelajahi dunia. Ia merekam komik-komik Jepang seperti Candy-candy, Harlem Beat, Boy Action, The Rose of Versailles, Dunia Mimpi, sampai serial Demos. Komik-komik itu dia pinjam di tempat penyewaan buku yang lumayan dekat dari rumahnya.

Seminggu sekali, tiap hari Kamis, Arum kedatangan Majalah Bobo. Oki dan Nirmala mengajaknya bermain di Negeri Dongeng. Keluarga Bobo, Emak, Bapak, Upik, Bibi Titi Teliti, Bibi Tutup Pintu dan yang lainnya mengisi kehidupan Arum untuk waktu yang sangat lama. Selain itu, ada juga Donal Bebek dan Paman Gober yang menjadi teman setia Arum menghabiskan waktu saat dia tak ingin bermain di luar rumah.

Beranjak remaja, Arum mulai keranjingan membaca beberapa majalah seperti Anita Cemerlang, Aneka Yess, Lupus, dan Annida. Majalah-majalah tersebut mulai menggeser posisi komik di rak buku Arum. Komik-komik itu tidak lagi berada di rak tengah yang mudah digapai, tapi berpindah ke rak bagian atas sehingga nyaris tidak pernah lagi Arum baca. Setelahnya, Arum terpesona dengan diksi-diksi indah yang disajikan majalah sastra Horison.

Ketika Arum memakai seragam putih biru, Anton dan beberapa teman lelaki Arum ikut andil mengenalkannya pada Wiro Sableng karya Bastian Tito.

Jangkauan bacaan Arum kian meluas saat duduk di bangku SMA. Arum beruntung memiliki ibu yang juga suka membaca. Novel-novel karya Marga T, Agatha Christie, Nh Dini, dan beberapa penulis populer lainnya makin memperkaya perbendaharaan cerita di kepala Arum. Melalui ibu juga, Arum mengenal majalah Femina. Berkeyakinan suatu hari nanti karyanya akan diterbitkan di majalah itu.

Di novel-novel Marga T, Arum memahami bagaimana kehidupan seorang dokter atau berselancar menyusuri Mesir dalam Amulet dari Nubia. Ketika membaca novel Agatha Christie, Arum berkenalan dengan Hercule Poirot yang mengajak Arum berpikir untuk memecahkan masalah. Imajinasi Arum terlatih ketika membersamai kekonyolan Wiro Sableng dan gurunya yang bernama Sinto Gendeng.

Bagi Arum, membaca adalah candu. Satu-satunya aktivitas yang bisa membuatnya duduk tenang. Selain membaca, Arum tidak menemukan hal lain yang memaksanya untuk fokus. Guru-guru di SD sudah mafhum melihat Arum berkeliaran di luar kelas saat jam pelajaran berlangsung.

Jika merasa sudah bisa atau paham dengan pelajaran yang diberikan guru, Arum akan merasa bosan dan mulai mengganggu teman-temannya. Maka, para guru membiarkan Arum bermain di luar kelas dengan syarat Arum bisa menjawab soal yang diberikan.

Di SMP, intensitas bermain di luar kelas mulai berkurang. Namun, Arum membawa novel-novel yang dia sewa di tempat penyewaan buku ke dalam kelas. Arum nyaris tidak pernah menyimak saat guru menjelaskan. Alhasil, nilai-nilai pelajarannya mulai menurun drastis dan Arum tidak peduli.

Masuk bangku SMA, kesukaan Arum terhadap novel dan komik sudah tidak bisa dibendung lagi. Arum memproklamasikan cita-citanya sebagai penulis atau sastrawan. Sayang, Bapak dan Ibu tidak pernah memberikan restu.

"Bapak menyekolahkan kamu, bukan untuk jadi penulis yang penghasilannya nggak karuan. Kamu harus kerja kantoran."

Bapak memberikan ultimatum yang sudah jelas tidak bisa dibantah oleh Arum. Saat itu Arum kelas 2 SMA, dia mengatakan keinginannya untuk memilih jurusan bahasa karena Arum bercita-cita menjadi penulis atau sastrawan.

Ketika penyair Sutardji Calzoum Bachri datang ke sekolah Arum dalam rangka memperingati bulan bahasa, Arum sudah mantap bahwa dia akan menjadi sastrawan. Apalagi, setahun berikutnya, Arum bisa melihat langsung Taufik Ismail di acara yang sama yaitu peringatan bulan bahasa yang digelar oleh sekolahnya.

"Kalau kamu tidak masuk IPA, jangan harap Bapak sama Ibu mau membiayai sekolah kamu." Ibu mengatakan kalimat singkat itu dengan nada datar tanpa amarah. Tapi mampu membuat Arum bungkam. Selama ini, Ibu nyaris tidak pernah menentang kemauan Arum. Berbeda dengan Bapak yang hampir setiap hari menjadi lawan debat Arum. Kalau Ibu sudah berkata demikian, bisa dipastikan Arum tidak punya pilihan selain mengatakan iya.

Masuk IPA mungkin adalah hal yang menyenangkan untuk Hadinata, adik semata wayang Arum. Tapi bagi Arum? Jelas Arum menganggap bahwa gerbang neraka baru saja terbuka lebar.

Arum diam bukan berarti menikmati pilihan orang tuanya. Sekolah Arum berdekatan dengan Taman Budaya. Hampir seminggu tiga kali Arum melihat para seniman dan sastrawan berlatih di sana. Entah teater, pembacaan puisi, atau sekadar diskusi tentang perkembangan sastra di Lampung. Nama-nama seperti Isbedy Setiawan ZS dan Iswadi Pratama makin memantapkan keinginan Arum untuk menggeluti sastra.

Bapak dan Ibu juga tidak pernah tahu kalau Arum pernah pulang dini hari hingga memanjat tembok rumah tantenya Hestika.

Hari itu menjadi hari yang tak akan pernah bisa Arum lupakan. Penyair kawakan WS. Rendra datang ke Lampung. Arum dan Hestika yang sama-sama penggemar Rendra, menyusun rencana agar bisa hadir dalam acara Rendra yang digelar malam hari.

Dengan penuh keyakinan, Arum minta izin ke Bapak dan Ibu untuk menginap di rumah tantenya Hestika. Selama ini, Hestika yang berasal dari Pringsewu memang tinggal di rumah tantenya di Way Halim. Tanpa curiga, kedua orang tua Arum pun memberikan izin.

Acara selesai hampir pukul satu dini hari. Beruntung masih ada angkutan kota dari Pahoman ke Tanjung Karang lalu ke Way Halim. Tantenya Hestika yang sedang lelap dalam mimpinya, tidak mendengar kedatangan mereka. Akhirnya, Arum dan Hestika terpaksa melompati pagar untuk bisa masuk. Nasib mujur masih berpihak pada Arum dan Hestika. Suasana rumah tantenya Hestika sudah sepi. Andai ada yang melihat kelakuan mereka, niscaya keduanya diteriaki sebagai maling.

Akhirnya, Arum memenuhi keinginan Bapak dan Ibu untuk kerja kantoran. Dia menjalani takdirnya menjadi marketing riset di salah satu perusahaan riset di Jakarta.

Hari-harinya selama hampir lima belas tahun di Jakarta terasa seperti rangkaian data dan laporan, jauh dari gemuruh kata-kata yang ia dambakan. Namun, mimpi menjadi seorang penulis tak meredup sedikit pun. Di sela kesibukannya, Arum tetap meluangkan waktu untuk menulis apa saja.

Hingga roda waktu menggelinding menggiring mimpi itu mewujud nyata ketika Covid-19 menghantam dunia. Arum memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan kembali ke Lampung.

Waktu luang yang begitu melimpah disertai keterbatasan bertemu orang-orang membuat Arum menemukan kembali kunci pintu menuju dunia yang dulu hanya ada dalam angan dan menjadi bayang-bayang. Uang tabungan yang selama ini hanya mengendap di rekeningnya, dia berdayakan untuk membayar biaya hidup kala Covid-19 melanda.

Hari-hari panjang Arum lewati dengan membongkar bank naskah miliknya. Menyusun keping demi keping cerita dan merangkainya menjadi sebuah novel. Dalam kurun waktu tiga tahun, Arum berhasil melahirkan tetralogi Rempah dan Rindu.

Tepat di usianya yang menginjak empat puluh tahun, Arum dengan yakin mengisi kolom pekerjaan dalam biodatanya sebagai penulis. Bapak dan Ibu sudah menurunkan restu.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!