Jatuh Cinta di Tanah Lada

Tak Ada Awal di Hujung 1

Nursan menelusuri kebun kopi dan sedikit lada peninggalan bak. Pandangannya menangkap sorot tajam dari manik mata Atikah yang juga menatap lekat ke arahnya. Ini dia, perempuan yang memutar haluan takdirnya. Entah bagaimana semesta mengatur ini, Nursan tahu ini saatnya berdamai. Keputusan menolak ajakan Arum untuk diskusi, yang seharusnya membuat Nursan berada di tempat lain, justru membawanya ke sini, ke Pekon Hujung. Sebuah tempat yang berpuluh tahun lalu menjadi lanskap masa depan mereka berdua.

Kebun itu tidak terlalu luas, namun cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Dari kebun inilah lima anak bak dan emak berhasil menyelesaikan sekolahnya hingga menjadi sarjana. Nursan tahu, dalam diamnya, bak memiliki kebanggaan yang tak bisa diucapkan. Bagaimana tidak, sebelum pulang dengan tenang, bak sudah menyaksikan keberhasilan semua anaknya.

Si sulung Rahmawati menjadi guru di salah satu SMA Negeri di Liwa, Nursan si anak kedua mengukuhkan dirinya sebagai dosen dan kini bergelar profesor. Riska, anak nomor tiga menjadi bidan yang dikenal ramah serta mumpuni. Rina yang nomor empat menjadi salah satu pegawai negeri yang bekerja di kantor kecamatan. Sedangkan si bungsu Riza mewujudkan impiannya sebagai pengusaha dengan menjual komoditi kopi dan lada. Bahkan Riza membangun sekolah kopi lengkap dengan para pengajar yang profesional. Keluarga bak kerap menjadi barometer keberhasilan bagi penduduk Pekon Hujung dan sekitarnya.

Menyadari tak ada alasan untuk menghindar, Nursan akhirnya menghampiri Atikah.

“Hai,” sapa Nursan sambil menganggukkan kepala. Selain Atikah, ada Titin yang berdiri di sebelahnya. Nursan tahu Titin, meski tidak mengenalnya secara dekat.

“Atin Nursan, kapan datang?” tanya Titin sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Semalam, Tin. Sudah mau Subuh juga sih. Tumben ke sini?” Nursan menyambut uluran tangan Titin.

Rumah Titin dan suaminya ada di Kenali. Tak jauh dari Hujung.

“Saya panitia acara ini. Jadi yah begini. Seperti yang Atin lihat. Harus di sini sampai acara selesai,” jawab Titin.

“Hebat kamu. Bisa mengadakan acara seperti ini. Saya malah nggak tahu kalau Titin itu panitia. Lalu, kenapa ada di sini? Ini kebun loh.”

“Tadinya mau jalan-jalan ke arah Pesagi sana,” Titin menunjuk hamparan sawah yang membentang tepat di kaki Gunung Pesagi. “Tapi nggak jadi deh. Uni, kayaknya aku ke tempat acara dulu ya. Takutnya panitia lain mencariku. Atin, maaf saya harus pergi. Namanya juga seksi sibuk, pasti banyak yang nyari. Atin, Uni, saya pergi dulu ya. Kalian bisa mengobrol sepuasnya.” Titin berlalu sambil melambaikan tangan tanpa menunggu respons dari Atikah dan Nursan.

Dua orang itu menanggapi Titin dengan ekspresi berbeda. Atikah tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya karena ditinggal berdua. Sedang Nursan tampak bingung karena Titin tidak memperkenalkan Atikah kepadanya.

“Dia sudah tahu. Aku yang cerita,” ujar Atikah seolah memahami kegundahan Nursan.

“Cerita apa?”

“Ya cerita tentang kita. Bagaimana dulu kita pernah dekat. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak mengatakan tentang pernikahan kita.”

“Hhhhhhh...” Nursan menghembuskan napas. Pelan namun terasa berat sekali. Kaki Nursan melangkah lambat mencari tempat yang cukup nyaman untuk duduk di sela tanaman kopi. Biji-biji kopi mulai tampak memerah. Sepertinya sebentar lagi bisa dipanen. Dalam diam, Nursan terus saja berjalan. Melewati jalan menurun menuju pematang sawah.

Atikah mengekor di belakang Nursan. Meski lelaki itu tidak mengatakan apa-apa, Atikah yakin kalau mereka memang harus bicara. Entah apa yang akan mereka bicarakan nanti.

Nursan masih terus berjalan melewati pematang sawah. Ritmenya sedikit dikurangi karena dia tahu Atikah sedang mengikutinya. Jalan setapak itu terasa licin. Hujan dini hari hingga menjelang Subuh tadi berhasil membuat tanah di situ menyerap basah hingga lumayan dalam.

Setelah beberapa lama, tampak dua buah gubuk di tengah sawah. Gubuk itulah tempat yang dituju oleh Nursan. Dari posisi mereka berada saat ini, bisa terlihat di belakang gubuk ada air semacam pancuran yang mengalir deras ke area pesawahan.

Atikah sesaat termangu. Pemandangan ini, membawa ingatannya menuju Lipek Pageh. Boleh dibilang, ada kesamaan antara bentang alam Lipek Pageh dan Pekon Hujung. Sepertinya, kedua tempat ini terhubung dengan sangat baik.

“Ini rumah atau hanya sebuah gubuk kosong?” Atikah memandang bangunan di depannya yang lebih tepat disebut sebagai rumah tempat tinggal dibandingkan gubuk. Bentuknya tetap rumah panggung, hanya saja ukurannya jauh lebih kecil. Atikah mengikuti Nursan yang tengah menaiki tangga.

“Bisa keduanya. Rumah ini adalah tempat para pekerja di sawah beristirahat. Kadang mereka juga menginap di sini. Kita bisa ngobrol santai di teras ini,” Nursan membersihkan debu dengan tangannya, lalu duduk dan menyandarkan punggungnya di dinding kayu dekat pintu masuk.

“Jadi, apa yang membuatmu bisa datang ke sini?” tanya Nursan sambil menatap tajam ke arah Atikah.

“Undangan Titin. Dia memintaku datang untuk melihat Pesagi Festival Culture.”

“Tidak mungkin hanya satu alasan itu. Jarak Solok – Hujung itu tidak dekat. Pasti kamu punya alasan lain sampai jauh-jauh ke sini meninggalkan suami dan anakmu.”

“Suamiku sudah meninggal empat tahun lalu.”

Hening datang tiba-tiba. Bahkan suara napas Nursan pun nyaris tak terdengar. Otak Nursan tak mampu merespons dengan cepat informasi dari Atikah yang baru saja didengarnya. Suami Atikah meninggal? Pertanda apa ini?

“Kalau kamu tanya tentang perasaanku, aku sangat kehilangan. Firman adalah suami yang luar biasa. Dia bisa membuatku jatuh cinta kepadanya meski perlahan. Sayang, tubuhnya yang memang sudah punya riwayat asma sejak lahir, tak mampu melawan serangan Covid-19. Dia pergi meninggalkan dua anak lelaki sebagai penjagaku.”

Nursan masih bungkam. Mencerna apa yang dirasakannya mendengar kabar tersebut. Berulang kali Nursan meraba dinding-dinding hatinya, mencari satu per satu perasaan yang mulai muncul.

“Aku turut berduka.”

Kalimat singkat itu meluncur begitu saja dari bibir Nursan. Selain ucapan belasungkawa, Nursan tak menemukan narasi lain yang bisa dikatakannya kepada Atikah. Memangnya apa yang bisa diucapkan? Harapankah? Harapan tentang apa? Pertanyaan-pertanyaan itu meliuk membentuk tarian di kepala Nursan.

“Aku tidak pernah membayangkan bisa bertemu kamu di sini. Apa kabar? Ternyata kamu lumayan banyak berubah. Oh ya, selamat ya karena sudah meraih gelar profesor. Aku tahu, kamu pasti bisa mencapai titik ini.”

“Terima kasih.”

“San, boleh aku tanya sesuatu?”

“Hmmmm.”

“Kenapa kamu belum menikah? Kamu masih belum bisa melupakanku?”

“Tuhan belum mempertemukanku dengan jodohku.”

Atikah tersenyum samar. Jawaban Nursan yang ambigu seolah menjadi penanda kalau lelaki itu memang belum bisa melupakan dirinya.

“Kriteria jodoh seperti apa yang kamu cari?”

“Bukan urusanmu.”

“Meski sebagai teman, apa aku juga tidak boleh bertanya?”

Nursan bungkam.

“Apakah perempuan bernama Arum itu tidak memenuhi kriteria kamu?”

“Kenapa itu jadi urusanmu?”

Bodoh. Dasar Atikah bodoh. Kenapa pula menanyakan hal konyol di saat seperti ini. Atikah tak henti merutuki apa yang sudah keluar melalui ucapannya.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!