Jatuh Cinta di Tanah Lada
Makan Malam
Lomba nyambai berakhir jelang matahari pulang. Meski sejak pagi langit berkali-kali meneteskan air mata, rupanya matahari bersikukuh menyingkirkan awan pekat agar bisa ikut menyaksikan puluhan orang melakukan tari nyambai.
Arum berjalan pelan menuju rumah keluarga Nursan yang dia tempati sejak semalam. Senyum ramah penduduk Hujung yang berpapasan dengannya membuat Arum percaya bahwa dunia ini sebenarnya diisi oleh orang-orang baik.
“Woyyyyy, ketemu juga gua sama elo. Kampret lo, dari pagi gua cariin nggak ada terus.”
Sebuah suara yang lumayan keras terdengar di belakang Arum dan Nursan disertai tepukan cukup kencang di pundak Nursan. Arum dan Nursan serentak memutar kepalanya ke belakang. Penasaran siapa yang berani teriak di tengah keramaian begini. Fikri Irawan.
“Ya ampun Fikri. Ini Fikri kan?” Arum mengguncang lengan atas Fikri sedangkan Nursan hanya menatap sekilas tanpa ekspresi.
“Loh, kok ada Arum di sini?” Fikri balik melontarkan pertanyaan.
“Iya, aku ada acara di sini. Kebetulan ada yang ngajakin ke sini.”
Arum sumringah menyambut Fikri. Tak menyadari tatapan mematikan yang Fikri lemparkan ke Nursan dan sumpah serapah yang Nursan ucapkan dalam hatinya. Nursan berpikir, harus menyiapkan jawaban terbaik agar Fikri tidak bawel. Fikri berpikir, ada hubungan apa antara Nursan dan Arum sampai-sampai sahabatnya itu lupa kalau siang ini akan menemaninya mengurus surat-surat.
“Lanjut di rumah. Jangan di jalan begini, malu. Udah mau Magrib juga.” Nursan meneruskan langkahnya tanpa menunggu jawaban Arum dan Fikri.
“Yuk, Fik. Biarin aja manusia batu itu sendirian. Ya ampun, senang banget ketemu kamu di sini. Udah berapa tahun ya kita nggak ketemu? Sepuluh? Eh lebih deh. Sejak lulus sekolah kita udah nggak pernah ketemu lagi ya? Kamu kuliah di Jakarta kan? Iya deh, benar kita tuh nggak pernah ketemu lagi setelah lulus sekolah. Tapi, kamu nggak banyak berubah.”
“Kamu juga. Masih cerewet macam petasan banting.”
Sisa perjalanan yang hanya berjarak beberapa puluh meter itu berubah riuh dihiasi gelak tawa Arum dan Fikri.
***
“Padahal, aku masih mau ngobrol banyak sama kamu, Fik.” Arum mengeluh karena mereka harus kembali ke rumah milik salah seorang raja di Pekon Hujung. Isya baru saja berlalu. Ada acara makan malam bersama sebagai bagian dari rangkaian acara Pesagi Festival Culture.
“Nanti kita lanjut. Nggak enaklah kalau nggak ikut makan malam di sana. Nursan mana?”
“Nggak tahu. Dari tadi juga batang hidungnya nggak kelihatan. Lagi sibuk sama mantan istrinya kali.”
“Eh? Mantan istri? Yang mana? Nursan udah nikah?”
Fikri sampai menghentikan langkahnya, memandang wajah Arum guna mencari kebohongan di sana. Mereka memang belum sempat bicara banyak. Beberapa tamu yang turut menginap di rumah keluarga Nursan membuat Fikri larut dalam obrolan bersama mereka. Sedangkan Arum sibuk di kamarnya. Fikri baru sadar kalau sejak masuk rumah tadi, dia juga tidak melihat bayangan Nursan.
“Dia nggak cerita?”
“Kapan ceritanya? Dia mana mau cerita urusan perempuan.”
“Aku nggak mau cerita. Kamu tanya langsung ke orangnya deh. Mending kita langsung ke tempat acara. Bisa nggak kebagian makan nanti.”
“Tenang. Kamu kayak nggak tahu orang Lampung kalau bikin acara. Makanan melimpah, bisa cukup untuk tiga hari tiga malam. Aku penasaran sama mantan istri Nursan.”
“Itu bisa nunggu. Ntar aja kamu tanya ke dia. Biar lebih afdol.”
Obrolan keduanya pun berakhir. Arum bergabung dengan Mbak Yuli dan Mbak Jauza yang sudah ada di sana sejak tadi. Empat raja yang ada di Pekon Hujung pun sudah tiba. Para lelaki duduk bersila di lantai, berhadap-hadapan mengelilingi makanan yang sudah tersaji di depan mereka.
Rumah panggung atau Lamban Pesagi tempat makan malam—yang dalam Bahasa Lampung disebut nanjakh—berlangsung itu cukup luas. Ruangan utamanya memanjang tanpa sekat. Berukuran 13 x 6 meter. Seluruh lantai ditutup karpet merah. Beberapa ornamen tapis menghiasi dinding rumah. Lebih dari seratus piring berjejer di lantai. Piring-piring itu sudah diisi beberapa masakan. Ada kecambah kacang merah, urap kecomrang, dan ikan kuah yang mereka sebut peris masin.
“Mbak, aku baru kali ini lihat kecambah kacang merah,” bisik Arum pada Mbak Yuli yang duduk di sampingnya.
“Unik ya. Ini ditanam di tanah loh. Tidak seperti kecambah kacang hijau atau yang lainnya.”
“Iya, Mbak.”
Selain makanan yang sudah dihidangkan, mata Arum terpaku menatap sebuah kantong yang sepertinya terbuat dari anyaman sejenis daun yang Arum enggak tahu apa namanya.
“Itu tempat nasi, namanya lakkai.” Seorang ibu yang duduk di seberang Arum seolah bisa memahami kebingungan Arum yang sibuk membolak-balik lakkai yang berbentuk bulat melingkar dengan panjang 25 cm. Diameternya mungkin sekitar 15 cm. Arum tersenyum sambil menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih karena si ibu paham atas ketidaktahuan Arum.
Masih menurut ibu berbaju kuning di depan Arum, bahan untuk pembuatan lakkai biasa disebut daun Limbang. Berasal dari tanaman Limbang, sejenis tanaman air yang banyak ditemukan di sekitar sawah. Tanaman ini juga biasa dipakai untuk membuat tikar. Tinggi tanaman Limbang antara 1 – 1,5 meter.
“Limbang diproses ibu-ibu untuk mengisi waktu luang. Sebelum dibuat lakkai, biasanya dijemur dulu. Bisa sampai tiga hari tergantung panasnya ada atau nggak. Kalau pakai lakkai, nasi bisa awet empat hari,” pungkas si ibu.
Arum kembali memadangi lakkai penuh rasa kagum. Warisan leluhur sejak ratusan tahun lalu itu sungguh luar biasa.
Perhatian Arum teralihkan saat pembawa acara mulai membuka acara. Malam itu, sebelum makan malam berlangsung, empat raja yang ada di Hujung saling berbalas pantun. Arum tak bisa memahami setiap kata yang diucapkan, namun dia tahu kalau para raja itu sedang meminta kesediaan tuan rumah untuk melanjutkan acara tersebut. Sebuah tradisi yang sudah mulai terkikis.
Arum mengedarkan pandangan. Hanya ada beberapa perempuan yang bergabung, itu pun bukan para ibu atau gadis-gadis asli penduduk sana. Terhitung, perempuan yang hadir hanya tujuh orang. Arum, Mbak Yuli, Mbak Jauza, Atikah, Titin, dan dua orang panitia yang menjaga makanan serta minuman.
“Di sini memang begitu. Perempuannya lebih banyak di belakang.” Mbak Jauza menjawab rasa penasaran Arum.
***
Berjarak empat orang dari Arum, Atikah duduk khidmat sambil sesekali ekor matanya melirik ke arah Arum. Ada sedikit perasaan tak nyaman yang menelisik hati Atikah. Pikirannya berkelana, membayangkan kalau Arumlah perempuan yang dipilih oleh Nursan.
Atikah sadar, bukan salah Arum jika perempuan itu menarik hati Nursan. Sebaliknya, bukan salah Nursan juga kalau lelaki itu jatuh cinta pada Arum. Nursan berhak memilih pelabuhan mana yang akan menjadi dermaga cintanya. Tak ada sesal yang datang di awal. Semua penyesalan lahir sebagai akibat dari sebuah keputusan.
Atikah mengedarkan pandangan. Saat menatap ke sudut kanan ruangan, matanya tak sengaja bersitatap dengan mata cokelat milik Nursan. Dua detik mereka beradu pandang sebelum Atikah memutus koneksi terlebih dulu. Debar itu tiba-tiba saja hadir, sama seperti saat pertama kali dia jatuh cinta pada Nursan. Nursan telah memangkas harapan yang baru saja bertunas, dan Atikah tahu, kesempatan ketiga tidak akan pernah ada.
***