Jatuh Cinta di Tanah Lada
Perjalanan dan Harapan 2
Fikri mengingat obrolan panjangnya semalam dengan Arum. Tepat saat Fikri memergoki Arum yang sedang memandang nanar ke arah Nursan dan kedua masa lalunya.
“Aku nggak pernah sengaja menunggu Nursan.” Arum menghela napas dalam. “Tapi nggak tahu kenapa, Nursan selalu menjadi orbitku. Semua seakan berpusat ke dia.”
“Elo nggak pernah punya hubungan sama yang lain?” Fikri mulai penasaran dengan kisah cinta Arum yang selama ini nyaris tak terendus.
“Pernah. Bohong kalau aku nggak pernah pacaran. Tiga kali aku pacaran serius. Mungkin mereka bukan jodohku. Satu meninggal, satu memilih kembali ke mantan pacarnya, dan satu lagi selingkuh sama temanku sendiri. Miris ya?”
“Nggak lah. Tiap orang punya jalan masing-masing, Rum. Tapi elo ada perasaan ke Nursan, nggak?”
“Mungkin ada, tapi aku nggak sadar. Dulu, waktu kita masih SMA sih ya sebatas suka begitu aja. Mau berlanjut juga nggak mungkin, Nursan nggak pernah bilang apa-apa soal hubungan kami. Aku tahu diri dong. Aku ini perempuan. Mustahil ngomong duluan. Waktu ketemu di rumah Satria dan dekat lagi, aku mulai merasa kalau aku memang jatuh cinta ke Nursan. Masalahnya, kami bertepuk tangan atau hanya aku yang bertepuk sebelah tangan?”
“Gini nih kalau ngomong sama pujangga. Rumit.”
“Pujangga roman picisan ya?”
“Pujangga yang bisanya ngomong doang. Prakteknya sih kalah sama anak ingusan.”
Sebuah tinju mendarat paripurna di bahu Fikri.
“Elo mulai dekat lagi sama Nursan setahun ini kan? Menurut lo, Nursan gimana?”
“Apanya yang gimana?”
“Sikapnya. Masa iya elo nggak bisa lihat sikap dia ke elo.”
“Biasa aja. Sama seperti kamu ke aku. Kita hanya sebatas teman. Dia baik banget. Tahun lalu, dia bantu aku waktu riset ke sekolah kopi. Dia juga beberapa kali kasih support untuk novel-novelku.”
“Itu jelas bukan biasa aja, Arum. Itu luar biasa. Asal lo tahu, jadwal ngajar Nursan padat banget. Kalau dia sampai bisa meluangkan waktu buat elo, ya berarti elo memang spesial buat dia. Percaya deh sama gua.”
“Nggak usah terlalu yakin, Fik. Tiga kali aku hampir menikah dan semuanya gagal. Aku udah nggak berharap banyak lagi.”
“Elo sama Nursan itu sama. Sama-sama bodoh. Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kalau elo nggak berusaha, Tuhan belum tentu mau membuka tangan-Nya.”
“Kamu yang sok pintar.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Arum berlalu meninggalkan Fikri yang membiarkan punggung Arum makin jauh tanpa berusaha mengejarnya.
***
Di kamar sebelah, Arum gelisah. Rintik hujan yang terdengar sayup dari dalam kamarnya menyeret kenangan Arum pada momentum setahun silam. Iman yang diaminkan dengan begitu syahdu, kini membawanya pada sebuah keyakinan bahwa semua hanya masalah waktu.
Setahun lalu, perjalanan ke Sekolah Kopi di Sumber Jaya Lampung Barat yang terjadi begitu saja, membuat Arum dan Nursan kembali membuka lembar demi lembar cerita yang sempat mereka bangun sejak putih abu-abu.
Nostalgi hanya sebuah basa-basi saat ratusan kilometer yang terbentang dari Bandar Lampung ke Sumber Jaya harus mereka lalui. Pada akhirnya, gemuruh rasa seakan berubah menjadi katalisator di setiap kata yang terucap. Menyambungkan energi cinta dalam dimensi baru.
Tentang putih bunga kopi beraroma campuran vanila dan melati, seakan melegalkan bahwa rindu yang ada masih sesemerbak dulu.
“Orang lebih mengenal Lampung identik banget dengan kopi. Padahal masih ada lada yang bisa dibilang primadonanya Lampung. Kenapa kamu tertarik riset tentang kopi daripada lada?” Nursan melirik dan memandang Arum dalam dua detik.
“Gara-gara keluarga Rasyid (ada dalam Warisan, Dia yang Terbuang-red). Mereka membuatku penasaran sehebat apa kopi Lampung sampai Rasyid Grup bisa menggurita seperti sekarang.”
Arum menerawang menembus kaca depan jendela mobil yang sedang meliuk memasuki daerah Bukit Kemuning.
“Jangan salah, Rasyid Grup juga mengupayakan lada sebagai salah satu komoditi unggulan mereka. Kebun karet mereka pun lumayan luas,” jelas Nursan.
“Bagiku, tak ada yang lebih menakjubkan dari aroma kopi.” Arum menutup mata lalu menyandarkan kepala dan seluruh tubuhnya ke sandaran kursi penumpang.
“Yakin?” tanya Nursan penuh selidik.
Arum tak yakin. Dalam diam, terhidu aroma Nursan yang sejak dulu selalu mengalahkan candu. Perpaduan manis pedas tembakau, cendana, dan merica. Kadang menyelinap sepercik aroma tanah basah yang menyurup dalam romantisnya lembab kayu.
“Kenapa diam, hem? Nggak yakin kalau ada yang lebih dahsyat dari aroma kopi?”
“Yakin kok. Aku tidak menyangkal bahwa ada yang lebih candu dari secangkir kopi.”
Kamu. Lanjut Arum dalam hati.
“Lalu, kenapa masih terobsesi dengan kopi? Oke, aku tahu sejak dulu kamu penikmat kopi. Tapi, apa nggak ada alasan lain yang bisa membuat kamu berpaling?”
“Apa ya?”
“Aku. Mungkin? Bisa aja kan?”
Sangat bisa. Bagi Arum, bukan hal yang sulit mengalihkan hatinya dari kopi ke Nursan.
Kali ini Arum memalingkan wajahnya ke arah Nursan. Berusaha menatap lekat manik mata Nursan. Namun, ternyata gagal. Nursan tidak memberikan respons yang Arum harapkan. Pandangan lelaki itu tetap fokus ke arah jalan yang sedang mereka lalui.
Perbincangan itu berakhir saat mobil yang dikendarai Nursan mulai menanjak memasuki areal sekolah kopi. Semilir wangi kopi membuat Arum sejenak terlena dalam pusaran gelora yang tak pernah dikenalinya.
Setelah Nursan memarkirkan mobilnya, mereka turun lalu berjalan bersisian menuju kedai kopi yang tampak ramai oleh pengunjung. Nursan memesan dua cangkir kopi pahit, lalu memilih sebuah meja yang terletak agak sedikit di pojok. Nursan tahu, sejak dulu selera Arum tak pernah berubah.
Perjalanan tanpa sengaja itu berujung harapan tentang perjalanan berikutnya.
“Kayaknya, kalau ke Pesisir Barat bakalan seru deh,” ucap Arum lirih. Namun masih bisa terdengar jelas di telinga Nursan.
“Atau mungkin ke Liwa.”
Nursan mungkin tidak pernah tahu, Arum mengucapkan amin sepenuh hati. Menjadikannya selayak harapan yang dia yakini akan terwujud suatu saat nanti. Saat Arum merapalkan harapan agar bisa mengunjungi Pesisir Barat, Nursan melangitkan keinginan untuk membawa Arum ke Pesagi. Datanglah ke Pesagi. Kau akan melihat keindahan dari empat sisi. Setelahnya, mungkin kita bisa mulai menautkan hati dan merangkai hari.
Hati Arum mulai berbisik riuh. Adalah robusta yang mendekatkan kita. Sebagai media yang bisa menafsirkan rangkaian kata menjadi sebuah niscaya. Menjelma dalam wujud dimensi rasa, mempertemukan lagi dua hati yang telah terpisah hampir seperempat abad lamanya. Tapi lada, membuat semuanya mendekati nyata. Perihal aku, kamu, dan langkah menuju kita. Kamu yang sehangat kayu, aku yang pedas dan tajam namun sedikit manis, serupa lada yang membuat kita saling jatuh cinta.
Nursan menghela napas dalam. Kebisuan Arum di sepanjang perjalanan pulang tadi kembali terngiang. Dia tahu, ada sesuatu yang harus segera ia tuntaskan. Perasaan yang telah lama ia pendam, kini harus berani ia ungkapkan. Bukan hanya sekadar teman lama, bukan hanya sekadar rekan riset kopi. Ada harapan besar yang tertanam di hati Nursan, harapan untuk mengakhiri pencariannya di Arum.
***