Jatuh Cinta di Tanah Lada
Pagi Datang Perlahan Di Sini
Pagi datang perlahan di sini, seperti seseorang yang mengetuk pintu tanpa tergesa. Embun masih menggantung di pucuk-pucuk rumput, berkilauan serupa permata kecil yang tak terhitung jumlahnya. Matahari menari malu-malu di antara dedaunan kopi, sinarnya menembus kanopi hijau, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang bergerak perlahan. Hening bukan berarti mati di sini. Hening di Hujung adalah napas panjang, semacam persiapan, sebelum kehidupan yang bersemangat dimulai. Dan pagi itu, kehidupan sedang menyusun dirinya dengan energi yang lebih dari biasanya.
Kesadaran Arum terbangun oleh suara-suara yang tak biasa. Bukan alarm ponsel yang melengking atau deru kendaraan yang memekakkan telinga. Melainkan bunyi alam dan manusia yang hidup bersahaja dalam harmoni. Suara kicau burung yang bersahutan, gemericik air sungai yang mengalir tak jauh dari rumah, dan sesekali tawa renyah anak-anak yang bermain di kejauhan.
Di luar jendela, embun masih menggantung di ujung daun dan cahaya matahari pagi menyelinap tipis masuk lewat celah-celah dinding kayu, menyinari debu-debu halus yang menari pelan di udara seperti sedang melakukan tarian kosmik mereka sendiri. Udara pagi itu begitu segar, seolah-olah ia baru saja dilahirkan kembali di tempat yang sama sekali asing, namun tidak membuat takut. Justru sebaliknya, ada rasa damai yang meresap ke dalam dirinya, mengisi setiap rongga yang sebelumnya terasa hampa.
Arum merasakan keanehan sekaligus kenyamanan. Di kota, pagi selalu disambut dengan tergesa, dengan tuntutan untuk segera berlari mengejar waktu. Di Hujung, pagi adalah sebuah ajakan untuk bernapas, untuk merasakan, untuk menjadi bagian dari ritme alam yang tenang namun penuh kehidupan. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi bunga liar dan dedaunan kopi yang menguar, menciptakan parfum alami yang memabukkan. Perlahan, Arum membuka matanya. Ia menatap langit-langit kayu yang sederhana namun kokoh, merasakan sensasi bantal empuk yang menopang kepalanya. Sudah berapa lama ia tidak bangun dengan perasaan setenang ini?
Lebih dari seperempat abad lalu, Arum sering mendengar keindahan Gunung Pesagi berikut misteri yang menjadi daya tariknya. Meski dia tinggal di Lampung, pesona Lampung tak pernah sedikit pun terlihat oleh Arum. Hidupnya selalu terkungkung dalam batas-batas kota, antara kampus, kafe, dan rumah. Lampung, baginya, hanyalah tempat di mana ia tinggal, bukan tempat yang benar-benar ia rasakan atau pahami.
Adalah Nursan Akbar yang memaksa Arum untuk mengenal Gunung Pesagi. Teman sekelasnya saat di SMA itu punya kegigihan bercerita di atas rata-rata yang tak bisa Arum runtuhkan. Nursan, dengan semangat masa mudanya yang tak terbatas, bercerita dengan mata berbinar tentang keindahan puncak Pesagi yang sering diselimuti kabut, misteri hutannya yang katanya menyimpan banyak legenda, dan keramahan penduduk di kakinya yang hidup berdampingan dengan alam. Cerita demi cerita yang menjejali pendengarannya, mau tidak mau mengkristal di memori Arum, meninggalkan jejak penasaran yang dalam. Pesagi selalu identik dengan kenangan tentang Nursan, tentang seorang teman yang melihat keindahan di tempat-tempat yang tak pernah ia perhatikan.
"Nursan, kamu ini tukang dongeng atau apa?" Arum pernah menukas, setengah jengkel namun setengah penasaran, saat Nursan bercerita tentang danau tersembunyi di puncak Pesagi.
Nursan hanya tertawa. "Bukan dongeng, Rum. Itu nyata. Kamu harus ke sana suatu hari nanti. Rasanya seperti menyentuh awan."
Arum hanya tersenyum skeptis saat itu, impian akan Pesagi terasa begitu jauh dan tak terjangkau, seperti janji-janji masa remaja yang seringkali hanya menjadi angan.
Arum belum pernah benar-benar datang mengunjungi Gunung Pesagi maupun menginjakkan kaki di Liwa. Romantisme daerah itu hanya Arum baca beberapa waktu lalu dalam novel Negarabatin yang ditulis oleh Udo Z Karzi. Sebuah novel yang dengan apik menggambarkan keindahan dan kearifan lokal Lampung, seolah membuka jendela baru bagi Arum tentang tanah yang dia pijak.
Ajaibnya, saat ini semesta mempertemukan Arum dan Udo dalam satu wadah bernama komite sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL). Wadah itu pula yang kini membawa Arum bisa berada di kaki Pesagi. Hidup memang penuh kejutan, pikir Arum. Siapa sangka, sebuah lomba esai akan membawanya sejauh ini?
Obrolan bersama Mbak Yuli—salah seorang pengurus di Komite Sastra—melintas begitu saja memenuhi rongga ingatan Arum, memicu senyum tipis di bibirnya.
"Jadi, gimana? Bisa ya?" Suara Mbak Yuli di seberang sana menuntut sebuah jawaban, nadanya ramah namun tegas.
Arum belum lama mengenal Mbak Yuli. Pertemuan dan perkenalan mereka terjadi saat Arum mengikuti lomba menulis esai adat Lampung yang diadakan oleh DKL. Saat itu, Mbak Yuli menjadi salah satu jurinya. Tulisan Arum masuk 15 besar, sebuah kejutan manis di tengah rentetan kekecewaan yang ia alami. Obrolan dengan Mbak Yuli pun berlanjut setelahnya, dari sekadar membahas esai hingga topik-topik sastra dan budaya Lampung. Arum menemukan Mbak Yuli adalah sosok yang hangat dan inspiratif, seseorang yang dengan tulus mendedikasikan dirinya untuk memajukan sastra lokal.
Hari itu, Mbak Yuli menghubungi Arum untuk membantu menjadi notulen dalam kegiatan focus group discussion tentang sastra Lampung dan warna lokal Lampung yang diadakan oleh komite sastra DKL. Sebuah tawaran yang datang di waktu yang tepat, saat Arum sedang mencari celah untuk melarikan diri dari bayang-bayang masa lalu yang kelam.
"Kapan, Mbak? Tempatnya di mana?" tanya Arum, mencoba menyembunyikan nada antusiasnya. Sejujurnya, tawaran ini terasa seperti angin segar.
"Minggu depan. Di Liwa sama Krui. Tiga hari, jadi kamu harus menginap. Disediakan akomodasi, kok," jelas Mbak Yuli.
"Oke, Mbak. Aku bisa," Arum menyetujui tanpa ada ragu sedikit pun. Sebuah kesempatan langka untuk keluar dari rutinitas yang menjemukan dan mungkin, untuk sejenak melupakan luka.
"Terima kasih loh, sudah mau bantu. Kita juga nanti bisa gabung di acara Pesagi Festival Culture," tambah Mbak Yuli, suaranya terdengar ceria.
Mata Arum langsung membulat. "Wah, benar Mbak?" Tiba-tiba, jantungnya berdegup lebih kencang. Pesagi. Nama yang sudah lama ia dengar, namun tak pernah ia bayangkan akan ia kunjungi.
"Ngapain bohong?" Mbak Yuli malah balik bertanya, disusul tawa renyah.
"Dobel oke kalau gitu. Hahaha. Siapa saja yang ikut, Mbak?" Arum tertawa, merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat.
"Ada Udo. Kemungkinan Mbak Jauza juga ikut. Dan beberapa tokoh sastrawan Lampung lainnya. Pasti seru," jawab Mbak Yuli, menyebut nama-nama yang Arum kenal dari dunia sastra Lampung.
Obrolan tanpa tatap muka itu berlanjut membahas teknis keberangkatan dan apa saja yang harus Arum persiapkan. Lima belas menit kemudian, Mbak Yuli mengakhiri teleponnya. Arum meletakkan ponsel, pandangannya menerawang. Ia tak menyangka, panggilan telepon sesingkat itu akan menjadi pintu gerbang menuju sebuah perjalanan yang akan mengubah cara ia melihat dirinya dan dunia.
Dari sekadar notulen, ia kini memiliki kesempatan untuk menginjakkan kaki di tempat yang hanya ia tahu dari cerita Nursan dan novel Udo Z Karzi. Seolah semesta memang merencanakan ini, untuk mempertemukannya kembali dengan sebuah masa lalu yang tak pernah sempat ia kunjungi, dan mungkin, untuk membantunya melangkah maju.
***
Pagi semakin terang. Arum bangkit dari duduknya, meregangkan tubuhnya. Otot-ototnya terasa kaku, namun jiwanya terasa lebih ringan. Ia berjalan menuju jendela, mengamati desa yang mulai hidup. Para petani mulai bergerak menuju ladang kopi mereka, membawa keranjang anyaman dan cangkul. Anak-anak kecil berlarian di jalan setapak, tawa mereka memenuhi udara. Ada kehidupan yang jujur di sini, kehidupan yang terhubung langsung dengan bumi.
"Ini berbeda," bisik Arum pada dirinya sendiri, menyentuh kusen jendela yang kasar. "Sangat berbeda dari semua yang pernah aku alami."
Ia memejamkan mata, membiarkan aroma pagi mengisi paru-parunya. Dingin masih ada, namun kini dingin itu terasa seperti pelukan yang menenangkan, bukan lagi tusukan yang menyakitkan. Ingatan akan Rizal, Sandi, dan bahkan Satya, masih ada, namun kini mereka terasa seperti bayangan yang perlahan memudar di bawah terangnya mentari pagi. Hujung, tempat yang awalnya terasa seperti penjara kenangan, kini mulai terasa seperti sebuah tempat perlindungan, sebuah ruang untuk merekonstruksi diri.
***