Jatuh Cinta di Tanah Lada

Aku Senang Kamu di Sini 2

"Selama enam tahun itu kamu sama sekali nggak pulang?"

"Iya. Aku baru pulang saat pandemi. Bapak dan ibu sempat kena Covid. Dari situ aku mulai berpikir, sesuatu bisa terjadi kapan saja menimpa bapak dan ibu. Aku nggak mau menyesal hanya gara-gara kemarahanku."

"Akhirnya kamu beneran pulang?"

"Hmmm. Aku bukan cuma pulang, tapi memperbaiki hubungan dengan bapak dan ibu yang sempat renggang. Tidak mudah. Kadang, mereka masih membahas tentang pernikahan yang belum bisa aku wujudkan."

"Mungkin kamu yang terlalu tinggi pasang kriteria lelaki idamanmu."

"Aku malah bingung kalau ditanya masalah kriteria."

"Tapi kamu mau menikah kan?"

"Ya ampun, San. Aku sama seperti perempuan pada umumnya. Ingin menikah, punya anak, membangun keluarga kecil yang aku impikan."

"Rum, kalau aku bilang aku mau mengajak kamu menikah, bagaimana?"

"San ..." Arum tak melanjutkan ucapannya. Dia menatap Nursan dalam.

"Nggak usah bercanda. Nggak lucu."

"Aku nggak bercanda."

"Lupakan. Anggap aja kamu nggak pernah bilang begitu. Aku tidak sefrustasi itu sampai bisa percaya sama omongan kamu," Arum berdiri. "Acara marok sebentar lagi mulai. Ayo."

Kali ini langkahnya terasa berat. Jalur sempit di antara kebun lada terasa tak begitu asing lagi. Gunung Pesagi, dalam diamnya, seolah menyimpan sesuatu yang hanya akan dibuka oleh mereka yang mau mendekat perlahan.

Nursan diam. Dia mengekor di belakang Arum. Sadar bahwa apa yang dikatakannya barusan pasti sangat mengejutkan bagi Arum.

Langkah mereka menuruni kebun kopi dengan hati-hati. Tanah mulai mengering, tapi akar-akar kecil dan batuan tersembunyi tetap membuat Arum harus memperhatikan setiap pijakan. Ia diam, namun pikirannya sibuk mencerna ucapan Nursan barusan. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, meski samar. Mungkin bukan tentang percaya diri—belum sampai ke sana—tapi tentang rasa memiliki.

Ketika mereka kembali memasuki area lapangan festival, suara riuh mulai terdengar. Musik tradisional dari rabab dan serdam bercampur dengan tepukan tangan, tawa anak-anak, dan suara para ibu yang memanggil anaknya untuk duduk manis di atas tikar.

Acara marok sudah hampir dimulai.

Marok bukan sembarang pertunjukan. Ini bagian dari ritual tua yang hanya digelar sekali dalam setahun, menjelang musim tanam. Arum tahu itu, tapi selama ini ia hanya melihat dari kejauhan seperti orang luar yang kebetulan lewat. Kali ini, Nursan menariknya lebih dekat.

"Tempat duduk tamu ada di depan panggung. Ayo," ajak Nursan, mengangguk ke arah deretan tikar beralas kain tapis.

Dan di sela-sela upacara itu, mata Arum tanpa sadar menatap Gunung Pesagi yang berdiri di kejauhan. Kali ini, gunung itu tidak hanya menjulang. Ia seperti menatap balik.

Arum dan Nursan duduk di tikar pandan yang digelar berderet di sisi kiri lapangan. Di depan mereka, panggung bambu rendah berdiri sederhana, dihiasi sulur-sulur janur, kain tapis tua, dan ukiran motif khas Saibatin. Matahari pagi makin tinggi, namun udara tetap sejuk karena bayang-bayang Gunung Pesagi masih menyelimuti separuh bukit.

Satu per satu, para muli meghanai berjalan perlahan ke tengah lapangan. Di tangan mereka, masing-masing membawa dulang kecil berisi beras kuning, sirih, bunga, dan segenggam tanah. Langkah mereka mengikuti irama musik, teratur dan lambat, seperti tarian doa. Di tengah lapangan, mereka duduk bersila membentuk lingkaran.

Arum memperhatikan wajah para muli meghanai yang diam dalam doa. Mereka tidak sekadar hadir sebagai perwakilan generasi muda. Dalam prosesi ini, mereka adalah penyambung hidup, penerima ingatan, dan pelindung adat ke depan.

Marok usai dalam hening. Tapi hening yang dalam itu menyisakan gema.

"Sekarang aku ngerti kenapa takdir membawaku ke sini," kata Arum lirih.

Nursan hanya tersenyum, menatap panggung kosong yang baru saja ditinggalkan oleh generasi penjaga berikutnya.

Nursan menatap Arum dengan tatapan yang lebih serius, namun penuh pengertian. "Marok bukan sekadar acara, Rum. Ini adalah jejak yang harus kita teruskan. Setiap langkah yang mereka ambil tadi, setiap doa yang mereka panjatkan, itu adalah bagian dari kisah besar yang kadang terlupakan."

Arum menunduk sejenak, mencerna setiap kata Nursan. Suasana hening itu terasa begitu berat, namun juga menyadarkan. Ia tahu, di balik semua yang ada di sekitarnya, di balik suara riuh festival dan hiruk-pikuk masyarakat terdapat sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang terkubur dalam sejarah, dalam budaya yang harus dihidupkan kembali.

"Aku mengerti sekarang," kata Arum pelan, "Bahwa apa yang kita lakukan, apa yang kita tulis, itu adalah bagian dari menjaga semua ini tetap hidup. Kita bukan hanya sekadar menyaksikan atau mendokumentasikan, tapi kita juga ikut menjadi bagian dari proses ini."

Nursan mengangguk. "Betul. Tapi bukan hanya itu. Ini juga tentang siapa kita. Tentang bagaimana kita memandang diri kita sendiri dan akar kita. Jika kita ingin budaya ini terus ada, kita harus terus mengingatnya bukan hanya dalam kata-kata, tapi dalam tindakan."

Arum merasa sebuah beban di dadanya, tapi juga sebuah kekuatan. Ia tahu, perjalanan ini bukan hanya tentang menulis atau melestarikan budaya, melainkan tentang menemukan kembali jati diri, tentang mengenal dan menghargai apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

"Mungkin aku belum tahu bagaimana caranya. Tapi aku yakin, ini adalah langkah pertama yang harus aku ambil," kata Arum dengan keyakinan yang baru tumbuh.

Nursan tersenyum. "Dan ini juga langkah pertama kita. Aku percaya kamu akan bisa, Rum. Oh ya, aku nggak bercanda dengan ucapanku tentang pernikahan tadi."

Di tengah perbincangan yang semakin dalam tentang budaya dan warisan, Arum tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam di antara dia dan Nursan. Bukan hanya hubungan teman atau rekan yang saling mendukung dalam perjuangan, tetapi ada suatu ikatan yang lebih halus, yang terjalin sejak mereka pertama kali bertemu.

Perasaan Arum berdebar setiap kali Nursan memandangnya. Meskipun Nursan sering kali tampak serius, terutama saat berbicara tentang ayahnya dan warisan budaya, Arum tahu ada sisi lain dari dirinya yang hanya terbuka untuknya. Sisi yang lebih lembut, lebih manusiawi dan kadang itu membuat Arum merasa lebih dekat dengan Nursan daripada dengan siapa pun.

Ketika mereka duduk di batu besar tadi, memandang lembah Suoh yang terbentang luas, Arum tak bisa menghindari tatapan Nursan yang tajam namun penuh makna. Ada ketenangan dalam cara Nursan berbicara, tetapi juga semangat yang selalu terpatri di dalam setiap kata-katanya. Arum merasakan bagaimana kedekatan mereka semakin jelas, lebih dari sekadar teman yang berbagi tujuan.

Mereka berdua tahu, meskipun tak pernah diungkapkan dengan kata-kata, bahwa ada semacam rasa saling mengisi yang berkembang perlahan-lahan di antara mereka. Tidak hanya melalui perbincangan tentang budaya dan warisan, tetapi juga melalui momen-momen diam yang penuh arti. Seperti saat mereka duduk bersama di tengah keramaian festival, meskipun orang-orang sibuk dengan kegiatan mereka, Arum merasa seolah dunia sejenak berhenti berputar. Hanya ada dia dan Nursan, dua orang yang sepertinya tak perlu banyak bicara untuk saling mengerti.

Senyum Nursan mengisyaratkan sesuatu lebih. Sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Sesuatu yang mungkin belum siap mereka akui, tapi yang sudah mulai mengendap dalam setiap pertemuan mereka.

"Rum," suara Nursan terdengar lembut di telinga Arum. "Aku senang kamu ada di sini."

Arum menoleh, dan untuk sesaat, semua kata-kata yang telah mereka bicarakan terasa begitu berat, begitu penuh makna.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!