Jatuh Cinta di Tanah Lada

Sejauh Kita Mengayuh Sauh 1

Saat matahari mulai menukik, Arum gegas mengeluarkan tas dari kamarnya. Di ruang tamu, Nursan, Atikah, dan Fikri asyik mengobrol ditemani gorengan dan kopi, suguhan khas Hujung yang tak pernah gagal. Suasana akrab itu sedikit melunturkan rasa canggung yang masih tersisa dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Arum bergabung, duduk di samping Fikri.

“Rum, tadi Nursan sudah tahu kalau gua mau anter elo ke Krui. Nggak keberatan kan?” tanya Fikri sambil tersenyum menggoda.

“Nggak dong. Malah seru kalau sama kamu,” jawab Arum.

“Tuh kan, Arum aja nggak keberatan,” Fikri mengerling ke arah Nursan. Nursan hanya menggelengkan kepala, cukup untuk membungkam Fikri.

“Nggak ada yang ketinggalan?” Nursan kini bertanya pada Arum.

“Nggak ada. Kalaupun ada, aku bisa titip Fikri.”

“Arum, terima kasih ya.” Atikah berdiri, membentangkan tangan untuk memeluk Arum.

Arum membalas pelukan Atikah tak kalah hangat. “Terima kasih untuk apa?”

“Jaga Nursan baik-baik. Semoga kalian bahagia,” bisik Atikah tepat di telinga Arum sebelum melepas pelukannya.

“Senang bisa bertemu sama kamu. Semoga kita bisa menjadi teman baik,” harap Arum, memandang lekat manik mata Atikah. Sejujurnya, tanpa embel-embel ‘mantan istri Nursan’, Arum merasa Atikah adalah teman yang menyenangkan. Terbukti, Nursan mampu bertahan bertahun-tahun di sisinya.

“Fik, kita ketemu lagi ya di Karang. Jangan sok sibuk kalau aku hubungi. Aku juga pengen kenal istri kamu. Mau tanya, kok dia mau sama kamu. Awwww ...” Arum mengaduh saat Fikri menarik rambutnya.

“Gua ini laki-laki idaman, Rum. Tampan dan mapan. Beda sama orang itu,” telunjuk Fikri mengarah pada Nursan.

Atikah menghampiri Nursan, membisikkan sesuatu yang tidak terdengar Arum dan Fikri. Tak lama, keduanya bersalaman lalu berpelukan erat.

“Terima kasih,” Nursan menepuk lengan atas Atikah. ”Jaga diri baik-baik. Salam untuk keluarga di Lipek Pageh. Kapan-kapan, kamu bisa ajak anak-anak main ke sini.”

Perahu melaju agak jauh dari dermaga. Ombak kecil memecah di sisi lambung, meninggalkan buih yang cepat menghilang. Seperti kenangan yang tak sepenuhnya hilang, tapi juga tak bisa digenggam.

***

“Tadi kamu bilang kita berangkat jam empat, ini baru jam tiga. Kenapa buru-buru?” Arum protes pada Nursan yang sedang fokus menyetir.

“Aku mau lihat matahari terbenam di Pantai Krui.”

“Fikri tadi bilang sesuatu sebelum kita berangkat,” Arum menatap Pesagi yang mulai menjauh. “Dia bilang, jangan bawa hantu dari Hujung ke tempat baru. Kamu paham maksudnya?”

Nursan terdiam.

“Yang dia maksud Atikah, kan?” tanya Arum lagi.

Butuh waktu lama sampai Nursan menjawab, “Iya.”

Arum menunduk. Ia sudah tahu jawabannya, tapi tetap ingin mendengarnya. “Kalian belum benar-benar selesai?”

“Selesai.”

Arum menarik napas panjang. “Lalu kenapa Fikri bilang begitu?”

“Entahlah. Lebih baik kamu tanya dia.”

Arum menyandarkan kepala di jendela mobil. Angin sore mulai mendingin, membawa aroma laut yang samar. Jalanan berkelok membelah Bukit Barisan Selatan. Ia mengamati bayangan pepohonan yang makin rapat, seperti kenangan yang membayangi langkah mereka. Topik mereka bervariasi, dari festival yang baru saja usai hingga rencana Nursan untuk mengembangkan kebun lada Bak, dan tetralogi 'Rempah dan Rindu' yang Arum tulis.

“Rum?” suara Nursan membuyarkan lamunannya.

“Hah?” Arum menoleh, sadar ia sudah terlalu lama diam.

“Kamu ngelamun ya? Dingin banget kayaknya di dalam kepala kamu,” candanya sambil melirik cepat.

Arum tertawa kecil, menggigit bibir bawahnya sebentar. “Aku cuma ingat sesuatu,” gumamnya.

Nursan tidak bertanya lebih jauh, tapi ia mengurangi kecepatan mobil ketika jalan mulai menanjak. Jalanan kini menyempit, menembus kegelapan hutan yang tampak seperti lorong waktu.

“San…”

“Hmm?”

“Kalau dulu aku bilang ingin ikut kamu pulang ke kampung, kamu bakal ajak aku beneran?”

“Kalau kamu bilang begitu dulu, aku mungkin nggak akan pernah pulang sendirian sampai puluhan tahun.”

Arum memicingkan mata, fokus memandangi rumah panggung kokoh yang berjejer di kanan kiri jalan.

“Hampir semua rumah di sini rumah panggung ya?” tanya Arum setengah bergumam.

“Namanya Lamban Pesagi.”

“Apa?”

“Rumah panggung itu, namanya Lamban Pesagi. Ada juga rumah yang umurnya sekitar 370 tahun. Besok kalau senggang aku ajak kamu ke sana. Rumah yang dibangun dengan tembok bisa dihitung dengan jari. Rumah-rumah panggung di sini banyak yang umurnya jauh lebih tua dari umur kita.”

“Waktu ada gempa dulu, apa rumah-rumah ini nggak hancur?”

“Dulu, pas gempa Liwa, justru rumah panggung yang masih kokoh berdiri.”

“Kok bisa?”

Nursan menepikan mobil, berhenti di pinggir jalan depan halaman sebuah rumah panggung tak berpagar yang tampak menawan. Anggun sekaligus tangguh.

“Lihat,” telunjuk Nursan mengarah ke rumah panggung dan mata Arum mengikuti arah jarinya, “Konstruksi rumah panggung tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Bahasa kerennya sih energi gempa dilepaskan ke udara di bawah panggung. Bahan utamanya kayu, konon sangat luwes mengikuti getaran gempa. Lihat juga pasak itu, bahannya dari bambu. Kalau rumah di sebelah sana, pasaknya dari kayu. Bambu dan kayu sangat mudah dibongkar pasang, antisipasi kalau rumah mau dibongkar, tidak perlu merusak konstruksi. Di bawah itu namanya umpak batu, fungsinya meredam dan mengurangi gerakan tanah terhadap struktur bangunan di atasnya. Lalu, kaki-kaki yang menjadi tumpuan struktur di atasnya, memberikan efek fleksibilitas pada bangunan.”

Nursan menghidupkan kembali mesin mobil dan meneruskan perjalanan.

“Aku hanya mendengar cerita, dulu konsep rumah panggung ini bertujuan untuk menghindari beberapa binatang buas,” lanjut Nursan.

“Memangnya masih ada binatang buas?”

“Lampung Barat itu surganya binatang buas di Lampung. Apalagi daerah yang berdekatan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Posisi rumah utama yang tinggi membuat para penghuni rumah aman dari binatang buas. Interior rumah panggung juga sederhana. Di bagian atas, hanya ada ruang tamu dan beberapa kamar tidur. Kalau kamar mandi dan dapur, biasanya di bagian bawah. Ruang makan juga kebanyakan di bawah, dekat dengan dapur. Hampir semua rumah panggung yang kamu lihat di sini berumur lebih dari tiga puluh atau empat puluh tahun. Untuk saat ini, membangun rumah panggung seperti dulu rasanya mustahil.”

“Kenapa? Apakah karena biayanya mahal?”

“Kendala utama memang biaya. Tapi kalaupun biayanya ada, sekarang sudah susah mencari kayu yang bagus seperti zaman dulu.”

“San, boleh aku tanya sesuatu?”

“Sejak kapan kamu minta izin untuk bertanya?”

“Tadi malam, aku ngobrol banyak sama Fikri. Dia bilang, perasaan kamu ke aku itu lebih dari sekadar sahabat. Benar?”

“Hemmmm.”

“Nursan, aku serius,” geram Arum.

“Kamu pikir, omonganku tadi pagi itu bercanda?”

“Tapi selama ini kamu nggak pernah bilang apa-apa.”

Nursan tak langsung menjawab. Ia mempererat genggaman di setir, menatap lurus ke jalanan yang menurun pelan menuju arah pantai. Langit mulai menguning, seperti merestui kepergian atau mungkin mengantar sebuah jawaban yang butuh keberanian.

“Iya, Rum,” suara Nursan terdengar serak, nyaris seperti bisikan yang tertelan angin. “Aku punya perasaan lebih ke kamu. Bukan cuma karena kita sudah kenal lama, atau karena kamu selalu ada buat aku. Tapi karena aku lihat masa depan di mata kamu, yang nggak pernah aku lihat di siapa pun, bahkan di Atikah.”

Arum terdiam. Jawaban itu seperti hujan yang sudah lama ditunggu. Menyejukkan tapi juga menimbulkan genangan perasaan yang tak terjelaskan.

“Aku pikir, kamu masih nyangkut di masa lalu,” ucap Arum perlahan. “Dan jujur aja, aku takut. Takut jadi pengganti. Takut kamu cuma butuh pelarian.”

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!