Jatuh Cinta di Tanah Lada
Sejauh Kita Mengayuh Sauh 2
“Kalau aku butuh pelarian, aku nggak akan ngajak kamu lihat matahari terbenam,” kata Nursan. “Aku akan pergi sendirian. Nyatanya, aku mau kamu ada di sampingku, sekarang dan nanti.”
Mobil mereka mulai mendekati Pantai Krui. Suara debur ombak makin jelas terdengar, bersahut dengan suara burung laut yang sesekali melintas di langit jingga.
“Aku juga punya alasan lain kenapa mau mengantar kamu ke sini,” tambah Nursan pelan.
Arum menoleh. “Selain matahari terbenam?”
Nursan mengangguk. “Ayahku dulu pernah bilang satu hal sebelum meninggal. Di antara napas terakhirnya, dia minta aku cari seorang penulis yang akan mengangkat sastra Lampung dengan cara yang berbeda. Katanya, orang itu bisa bantu aku menemukan bagian dari rumah yang selama ini terasa hilang.”
Arum terdiam. Angin pantai menyapu rambutnya pelan.
“Ayahmu suka sastra?”
“Dia nggak pernah nulis apa-apa. Tapi dia percaya, tulisan bisa jadi penanda sejarah, bisa jadi penawar luka. Katanya, kalau aku bisa menemukan orang itu, mungkin aku juga bisa berdamai dengan semua cerita yang belum selesai. Dengan hidupku. Dengan Hujung. Dengan masa lalu.”
“Dan kamu yakin orang itu adalah aku?”
Nursan mengangguk.
“San, aku belum berani kasih jawaban. Aku masih bingung. Kamu punya begitu banyak pilihan, kenapa harus aku?”
“Aku juga nggak punya alasan. Sejak dulu, selalu kamu.”
Mereka tiba di tepi pantai. Matahari setengah tenggelam, menciptakan siluet perahu-perahu nelayan yang tampak seperti lukisan bergerak. Nursan mematikan mesin mobil. Suasana hening sejenak, hanya suara alam yang berbicara.
Arum membuka pintu, keluar dari mobil, membiarkan angin menyapu rambutnya. Nursan menyusul, berdiri di sampingnya. Tanpa kata, tangan mereka saling mencari, lalu saling menggenggam. Jemari mereka menyatu, seolah menemukan tempatnya setelah sekian lama terpisah.
Di hadapan cakrawala yang membara, dua hati mencoba meraba arah. Bukan untuk melupakan, tapi untuk mengayuh sauh ke pelabuhan yang baru. Tempat di mana luka bukan lagi hal yang harus disembunyikan, tapi dirawat bersama.
Dan Hujung, biarlah ia tetap menjadi tempat yang penuh kenangan. Tempat untuk kembali.
“Kamu yakin kamu sudah siap menulis cerita baru bersamaku?” tanya Arum. “Bukan karena sebuah pembuktian, tapi karena kamu memang ingin memulai sesuatu yang baru.”
“Aku nggak janji kalau semuanya akan sempurna seperti kisah yang kamu tulis. Tapi aku janji, kamu bisa menulis cerita kita dalam versi baru yang lebih nyata.”
Arum tersenyum, setengah getir, setengah lega. “Kalau begitu, kita mulai dari sini, ya. Bukan dari Hujung. Bukan dari masa lalu.”
Nursan mengangguk. Di hadapan mereka, matahari mulai tenggelam, mengirimkan pantulan cahaya ke wajah mereka. Hangat, jujur, dan tak berjanji untuk esok. Tapi cukup untuk hari ini.
Sejauh mereka mengayuh sauh, selama itu pula mereka belajar bahwa keberangkatan bukan soal meninggalkan, tapi keberanian untuk tiba di tempat baru dengan hati yang siap ditempati.
Langit kini memudar menjadi biru tua, perlahan menelan cahaya terakhir dari matahari yang telah tenggelam. Krui berpendar dalam tenangnya malam, hanya ditemani lampu-lampu perahu yang berkelap-kelip di kejauhan seperti bintang yang jatuh ke laut. Arum dan Nursan masih berdiri di tepi pantai, tangan mereka tetap saling menggenggam seolah takut kehilangan pijakan baru yang akhirnya mereka temukan.
“San, kamu pernah nyesel?” tanya Arum tiba-tiba. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin.
“Nyesel kenapa?”
“Segala hal yang sudah kamu lalui. Hujung. Atikah. Segala yang pernah dan hampir kamu punya.”
Nursan menghela napas panjang. “Kadang. Tapi kalau aku nggak datang ke Hujung kali ini, mungkin aku nggak pernah tahu rasanya pulang. Kalau aku nggak pernah bersama Atikah, mungkin aku nggak pernah belajar melepaskan. Dan kalau aku nggak pernah terluka, mungkin aku nggak akan tahu seberapa berharganya kamu.”
Arum menoleh, matanya menelusuri garis wajah Nursan yang tampak lebih tenang malam ini. Mungkin ini versi Nursan yang paling jujur, paling siap untuk kembali mencintai, tanpa bayang-bayang.
Malam pun turun sepenuhnya. Mereka berjalan perlahan kembali ke mobil. Angin membawa aroma garam dan pohon kelapa. Di atas langit, bulan menggantung setengah malu, seperti mereka yang belum sepenuhnya yakin tapi juga tak ingin menyerah.
Di dashboard mobil, ponsel Arum berdering. Nama Fikri tertera di layar.
“Hei, udah sampai?” suara Fikri terdengar ramai, sepertinya ia sedang menikmati malam puncak Pesagi Culture Festival.
“Udah. Lagi mau cari penginapan.”
“Titip satu hal ke Nursan,” kata Fikri, suaranya tiba-tiba lebih serius.
“Apa?”
“Bilang ke dia, jangan tunggu sampai kehilangan buat sadar rumah itu bukan tempat, tapi orang.”
Arum melirik ke arah Nursan, lalu menjawab, “Akan aku sampaikan.”
Telepon ditutup. Mobil mereka kembali melaju menyusuri jalanan pantai yang senyap. Tapi dalam diam itu, ada rasa baru yang perlahan tumbuh. Bukan dari luka, bukan dari sisa masa lalu. Tapi dari keberanian dua orang yang akhirnya berani membuka pintu pada masa depan meski belum tahu ke mana arah angin akan membawa layar mereka nanti.
Dan sejauh mereka mengayuh sauh, sejauh itu pula mereka akan mengenali bahwa pulang bukan soal kembali ke tempat lama, tapi menemukan tempat baru yang bisa disebut rumah. Bersama.
Malam itu, Krui seperti menenangkan diri setelah hiruk-pikuk siang hari. Jalanan kecil yang menghubungkan pantai ke pusat kota diselimuti keheningan, hanya sesekali dilintasi motor warga atau suara jangkrik yang menyelusup dari semak pinggir jalan. Mobil Nursan berhenti di depan sebuah penginapan sederhana bernama Tepi Ombak.
“Ini tempatnya,” kata Nursan sambil membuka pintu. “Nggak mewah, tapi nyaman.”
Arum mengangguk, tersenyum kecil. “Selama ada bantal empuk, aku nggak banyak nuntut.”
Malam itu, mereka menikmati makan malam di sebuah warung sederhana di tepi pantai Krui, dengan deburan ombak dan angin laut sebagai teman percakapan. Setelah check-in dan meletakkan barang di kamar, keduanya memutuskan berjalan ke warung makan kecil yang masih buka. Meja kayu panjang, lampu bohlam kuning redup, serta wangi ikan bakar yang menguar membuat tempat itu terasa seperti pelukan. Hangat, sederhana, mengenyangkan rindu.
“Kamu tahu?” kata Arum sambil mengaduk sambal di piring kecil. “Aku sering nulis tentang laut, tapi baru kali ini ngerasa laut beneran ngomong balik.”
Nursan tersenyum. “Laut itu bukan cuma soal ombak dan pasir. Kadang dia kayak cermin. Dia nunjukin apa yang kita simpan terlalu dalam.”
“Mungkin itu sebabnya, banyak orang takut datang ke laut. Takut lihat bayangan sendiri.”
Obrolan mereka mengalir tenang. Tak lagi canggung, tak lagi penuh pertanyaan. Hanya dua orang yang mencoba jujur pada hati masing-masing. Usai makan, mereka berjalan kembali ke mobil yang diparkir agak jauh.
Arum berhenti, menatap langit. “Aku pernah nulis satu kalimat. ‘Cinta yang paling kuat adalah yang berani diam, tapi nggak pernah benar-benar pergi.’” Ia menoleh ke arah Nursan. “Aku rasa, kamu mengerti maksudnya.”
Nursan tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebutir kerikil, melemparkannya ke laut. Bunyi ‘pluk’ kecil, lalu hening.
“Aku paham,” katanya akhirnya. “Dan aku nggak mau diam lagi, Rum. Aku mau cinta itu akhirnya bicara.”
Ia mendekat. Tak terburu-buru. Hanya menyentuh tangan Arum pelan, lalu menggenggamnya.
“Aku nggak tahu kita akan sampai di mana. Tapi kalau kamu mau, aku ingin mengayuh sauh ini sama-sama. Bukan untuk melupakan masa lalu, tapi untuk membangun sesuatu yang baru.”
Arum mengangguk. Di matanya, ada cahaya yang tak berasal dari bulan. Mungkin dari harapan. Mungkin dari cinta yang akhirnya menemukan arah angin.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita mulai besok. Bukan dengan janji, tapi dengan pagi.”
Mereka tertawa kecil, suara tawa yang ringan, penuh janji. Lalu diam lagi. Dan dalam diam itu, laut mendengar. Malam menyimak. Dan Krui, dengan segala senyapnya, menjadi saksi awal dari sebuah cerita baru.
***