Jatuh Cinta di Tanah Lada

Hai, Apa Kabar?

Atikah Zahra merapikan tempat tidurnya. Melipat selimut super tebal yang semalaman membantu tubuhnya tetap hangat. Setelah meletakkan dua buah bantal dan satu guling di ujung tempat tidur, Atikah membongkar tas gendongnya lalu mengeluarkan beberapa helai baju. Tekadnya sudah bulat. Dia harus mandi. Sesuai pesan Titin tadi malam.

“Uni, kamu harus memaksakan diri mandi pagi. Airnya memang dingin nggak ketulungan. Tapi kalau kamu nggak mandi, malah bakalan lebih dingin lagi.”

Ucapan Titin nyata. Satu jam lalu, saat ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, Atikah sudah membuktikannya. Air dari keran tak ubahnya dengan air yang keluar dari lemari es. Kali ini, Atikah tak hendak membantah Titin. Kalau dia diperintahkan untuk segera mandi agar bisa menghalau dingin, maka dia akan melakukannya tanpa kenapa. Pasti Titin akan bilang, sudah lakukan saja.

Ucapan Titin memang serupa mantra. Mampu menyeret Atikah untuk mengatakan iya. Termasuk datang ke Pekon Hujung dalam rangka menghadiri Pesagi Festival Culture. Padahal, kesibukan Atikah sebagai guru tidak bisa dikatakan sedikit. Jelang akhir tahun, menjadi waktu paling krusial bagi murid-muridnya. Atikah harus mendampingi mereka untuk menghadapi ujian.

“Uni harus ke sini. Anggap aja liburan. Cuti dua atau tiga hari pasti nggak masalah kan? Siapa tahu uni bisa menemukan cinta lamanya uni di sini. Aku jamin, uni nggak bakalan nyesel apalagi kecewa.”

Atikah mengiyakan ajakan Titin semata-mata karena dia pusing setiap hari dihubungi, namun jauh di lubuk hatinya, ada percikan harapan kecil yang tidak bisa ia pungkiri, harapan untuk menemukan kembali sebagian dari masa lalunya.

Perkenalan dengan Titin dua tahun lalu bisa dikatakan terjadi di luar prediksi. Mereka bertemu di sebuah acara festival kopi di Jakarta. Titin ada di rombongan para petani kopi dari Lampung Barat, sedang Atikah hadir di sana karena dia memang sangat menyukai kopi. Jauh-jauh Atikah terbang dari Padang hanya untuk mencicipi aneka rasa kopi dari seluruh negeri. Kebetulan pula, Atikah mengenal salah seorang panitia.

Pertemuan itu menjadi penyambung cerita seru berikutnya. Bahwa Atikah pernah punya kisah indah bersama Nursan, seorang lelaki asal Lampung Barat. Asmara mereka terjalin sejak duduk di bangku kuliah. Sejauh ini, Atikah tidak pernah menyebutkan nama Nursan di depan Titin.

Selama tujuh tahun Atikah dan Nursan merajut kasih. Cinta yang digadang-gadang berawal di pelaminan dan berakhir di pemakaman, malah kandas ketika mereka baru saja memulai sebuah perjalanan. Ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh keduanya: pulang ke kampung halaman memenuhi panggilan kedua orang tua dan adat.

Selama tiga tahun terakhir masa pacaran mereka, Nursan dan Atikah mengupayakan berbagai cara agar bisa menemukan solusi. Hasil akhirnya tetap sama. Mereka berpisah. Sebagai anak lelaki tertua, Nursan harus pulang ke kampungnya. Gelar batin yang mengalir dalam darahnya membuat Nursan tidak punya pilihan lain. Siapa pun yang menjadi istrinya kelak, harus bisa ikut dengannya.

Di sisi lain, Atikah yang bersuku Minang dan merupakan anak perempuan satu-satunya, dituntut untuk pulang, menjaga dan mengurus kedua orang tuanya. Atikah tidak bisa pergi begitu saja demi mengikuti calon suami.

Kondisi pelik ini jelas sulit untuk ditentang. Namun, keduanya bertekad kuat untuk tetap berjuang. Berbekal restu dari abak yang bersedia menjadi wali nikah, Atikah dan Nursan melangsungkan pernikahan di Bandung.

Belum genap enam bulan, engku dan para kerabat yang mengetahui kabar pernikahan Atikah pun meradang. Abak tak bisa berkutik membela Atikah di tengah gempuran keluarga besar. Keputusan Atikah menikah dengan Nursan menjadikannya seperti anak terbuang.

Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh oleh Nursan dan Atikah adalah berpisah dengan baik-baik. Menerima semua keputusan dengan dewasa.

Lalu, Atikah menikah dengan Firman. Lelaki pilihan keluarga Atikah yang sudah dia kenal sejak belia. Firman masih tercatat sebagai kerabat jauh. Sejak itu pula, Atikah tidak pernah mendengar kabar tentang Nursan. Meski begitu, Atikah berharap Nursan bisa menemukan bahagianya sendiri.

Ketika undangan untuk hadir di Pesagi Festival Culture datang dari Titin, ingatan tentang Nursan mau tidak mau langsung memenuhi kepala Atikah. Setelah mengantongi izin dari kedua anaknya, Atikah pun mantap datang ke Lampung Barat.

***

Atikah keluar kamar membawa perlengkapan mandi dan baju ganti. Seperti rumah panggung pada umumnya di Pekon Hujung, letak kamar mandi di rumah yang Atikah tempati pun berada di bawah. Atikah beruntung, karena sebagian rumah warga lainnya memiliki kamar mandi yang terpisah dari rumah utama. Tak bisa dibayangkan bagaimana dinginnya kalau tengah malam ingin ke kamar mandi.

Di luar kamar Atikah, tepatnya di ruang tengah, sudah ada tiga orang laki-laki yang duduk melingkar sambil berbincang. Tiga cangkir kopi hitam terlihat masih mengepulkan asap tipis. Mungkin baru saja diseduh lalu disajikan. Tak ketinggalan, tiga piring seng berjejer rapi. Isinya aneka gorengan yang juga masih berasap samar.

Setelah memberikan seulas senyum tipis pada mereka, Atikah berlalu menuju tangga dan turun ke bawah. Wangi bawang goreng dan bumbu tumisan lain menyapa hidung Atikah. Rupanya Minan, yang punya rumah, sedang sibuk memasak untuk sarapan. Titin bilang, biaya yang kemarin Atikah bayarkan itu memang sudah termasuk makan sehari tiga kali.

Tak sampai lima belas menit, Atikah selesai dengan urusannya di kamar mandi. Gegas ganti baju dan bersiap untuk sarapan.

Minan sedang sibuk menghidangkan sambal telur dan tumis kecombrang. Tak lupa sambal terasi berikut aneka lalapan. Berjejer juga kerupuk, kopi, teh, dan air mineral kemasan kecil. Di ujung meja ada pisang goreng, bakwan, ubi goreng, ubi rebus, singkong goreng, dan singkong rebus.

“Banyak sekali, Minan?” Atikah menatap takjub sajian di depannya. Meja panjang yang berfungsi sebagai meja prasmanan itu tampak penuh.

“Kan yang makan juga banyak, mbak. Ini belum seberapa. Biasanya saya menyiapkan untuk puluhan orang,” jawab Minan sambil menata piring di dekat nasi.

Benar saja, lima orang menuruni tangga dan bergabung bersama Atikah. Selain tiga orang laki-laki yang tadi Atikah temui, ada dua orang perempuan yang sepertinya baru selesai bersolek.

“Ayo dimakan geh sarapannya. Ini masih banyak.” Minan menyodorkan piring berisi aneka makanan.

“Cukup, Minan. Nggak kuat lagi perut ini terima makanan.”

“Kalau begini caranya, pulang dari sini berat badan gua bisa naik banyak dah.”

“Minan, kopinya mantap ini. Kopi pahit di sini memang juara.”

“Mbak dari mana?” tanya lelaki berkacamata yang Atikah taksir usianya pertengahan tiga puluhan.

“Saya dari Padang,” jawab Atikah.

“Jauh ya. Sengaja datang ke sini mau ikutan festival, Mbak?”

“Iya. Saya mau melihat acara festival.”

“Mbak, ayo minum kopinya. Enak panas-panas. Tapi jangan pakai gula. Kopi buatan Minan ini nggak ada duanya, mbak. Hasil kebun sendiri. Tuh kebun kopinya ada di belakang rumah.”

Kali ini lelaki muda kurus tinggi yang berkomentar. Atikah yakin, usianya belum ada tiga puluh. Di sampingnya tergeletak tas dengan merek kamera tertentu. Atikah menebak dia adalah jurnalis.

“Iya, Mas.” Atikah mengambil cangkir kaleng kecil yang disediakan di atas meja. Bersebelahan dengan teko yang mengeluarkan uap panas. Aroma kopi menyeruak memenuhi penciuman Atikah.

Atikah menyeruput pelan kopinya. Sebagai penikmat kopi, Atikah mengakui kalau kopi yang tengah diminumnya ini benar-benar luar biasa.

“Halo, Mbak. Saya Arum. Boleh tahu nama mbaknya?”

Suara perempuan yang baru saja duduk di sebelah Atikah membuyarkan imajinasi Atikah tentang kopi.

“Oh, iya. Saya Atikah.” Atikah menerima uluran tangan Arum yang mengajaknya bersalaman.

“Tadi saya dengar, Mbak Atikah dari Padang? Ke sini sendirian, mbak?”

“Iya, Mbak. Jauh ya? Saya ke sini diundang teman saya. Katanya dia sebentar lagi datang ke sini. Mungkin masih sibuk menyiapkan untuk acara nanti sore. Kebetulan dia salah satu panitia. Mbak Arum datang sendiri juga? Tinggal di mana, mbak?”

“Saya bersama beberapa teman. Rumah saya di Bandar Lampung. Kurang lebih tujuh jam perjalanan kalau dari sini.”

Mereka fokus kembali menikmati sarapan yang sudah mereka ambil.

Tiba-tiba, dari arah pintu depan, terdengar langkah kaki mendekat. Sebuah suara yang tak asing bagi Arum dan terasa begitu lekat dalam ingatan, menyapa Minan.

“Hai, apa kabar, Minan?”

Suara itu seketika membuat Arum dan Atikah membeku di tempatnya. Suara itu seolah datang melewati lorong waktu. Sebuah masa lalu yang masih menjadi harapan di masa depan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!