Jatuh Cinta di Tanah Lada

Dia Ada Di Sini

Atikah yakin, Nursan belum menikah lagi. Tidak ada cincin yang melingkar di jari manisnya. Beberapa tahun terakhir, di sela-sela kesibukannya, Atikah kerapkali mengintip media sosial milik Nursan, namun tidak pernah menemukan satu pun unggahan Nursan bersama seorang perempuan yang diperkenalkan sebagai istri. Lalu siapa perempuan yang tadi berkenalan dengannya? Mengapa mereka tampak begitu akrab dan tanpa jarak? Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran memenuhi kepala Atikah, menciptakan kebingungan yang tidak nyaman.

Bahkan tadi, beberapa menit setelah berpisah di dapur, Atikah tanpa sadar meraih ponselnya dan kembali membuka media sosial Nursan, mencari petunjuk tentang hubungannya dengan Arum. Hasilnya tetap nihil. Tidak ada satu pun postingan tentang Arum, apalagi foto kebersamaan mereka. Nursan hanya membagikan kegiatannya sebagai pengajar, partisipasinya dalam seminar, dan diskusi-diskusi seputar pendidikan.

Ada banyak pertanyaan yang ingin Atikah ungkapkan kepada Nursan, jauh melampaui sekadar ‘apa kabar’. Bahkan angan-angan tentang pertemuan mereka sudah Atikah bayangkan sejak sebelum dia tiba di tanah lada ini. Pikiran Atikah berkelana mereka-reka segala kemungkinan bila ada jumpa di antara mereka.

Namun, semua bayangan itu buyar begitu saja dalam sekian menit pertemuan yang tak pernah direncanakan. Satu per satu rasa penasaran Atikah meletus di kepalanya, ibarat balon yang terkena jarum, meninggalkan rasa kosong dan tidak nyaman yang mendalam.

Atikah tahu, bukan salah Nursan jika lelaki itu bersikap tidak peduli. Nursan sudah berusaha memperjuangkan hubungan mereka dengan luar biasa di masa lalu. Kesimpulannya sederhana: mereka memang tidak berjodoh. Itu saja. Sayangnya, bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai istri Firman, Atikah masih belum sepenuhnya bisa menghapus nama Nursan dari sudut hatinya.

Pikiran tentang Nursan perlahan menghilang ketika ada tubuh yang tiba-tiba saja duduk di sebelahnya, membuat Atikah sedikit terlonjak.

“Duh, maaf banget ya Uni. Aku dari subuh tadi udah harus ngurusin persiapan buat beberapa peserta dan tamu yang mau datang. Uni udah sarapan belum?” tanya Titin di sela napasnya yang masih terengah-engah, seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan berat.

Titin setengah berlari mendatangi Atikah. Kesibukannya sebagai salah satu panitia Pesagi Festival Culture kali ini memang membuatnya kewalahan, hingga sejenak lupa kalau ada Atikah yang sedang menunggunya. Perhelatan kali ini memang sengaja dipusatkan di Pekon Hujung sebagai upaya agar masyarakat lokal bisa menyaksikan dan terlibat secara langsung.

“Santai aja, Tin. Aku juga baru selesai sarapan kok. Kamu udah senggang? Kalau masih sibuk, sana selesaikan dulu urusan kamu. Aku bisa jalan-jalan sebentar di sekitar sini,” ujar Atikah berusaha menenangkan Titin.

“Nggak bisa gitu. Uni kan tamu. Datang ke sini karena aku undang.”

“Mana ada gara-gara kamu undang. Aku bayar loh,” Atikah tertawa kecil.

“Hahaha. Iya sih yang bayar. Udah, yang penting sekarang aku mau ajak Uni jalan-jalan sebentar. Sayang banget Uni udah jauh-jauh ke sini kalau cuma di kamar aja.”

“Ya udah, ayo. Mau ke mana kita?”

“Ke belakang aja. Supaya Uni bisa melihat Gunung Pesagi pagi-pagi.”

“Aku ke kamar dulu ya. Ambil tas.”

Titin menggamit lengan Atikah. Mereka keluar dari dapur dan menaiki tangga menuju ruang atas tempat Atikah menginap.

Jemari tangan Atikah sudah memegang gagang pintu kamar ketika secara tak sengaja ekor matanya melihat Arum dan Nursan yang sedang berjalan menaiki tangga, tidak jauh di belakang mereka. Buru-buru Atikah membuka pintu, masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu rapat-rapat, menyembunyikan dirinya dari pandangan mereka. Beruntung, sepertinya Titin tidak menyadari perubahan sikap Atikah yang tiba-tiba.

Hampir lima belas menit Atikah menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Pikirannya berkecamuk, menimbang-nimbang apakah dia perlu keluar dan menghadapi Nursan atau mencoba menghindarinya.

“Uni, lama banget sih. Lagi ngapain?” Titin tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa permisi, merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu berguling menyamping memandang Atikah yang masih tampak gelisah.

“Uni nyari apa?” mata Titin sibuk mengikuti gerakan tangan Atikah yang tampak tidak fokus.

“Nggak nyari apa-apa. Cuma merapikan sedikit barang.”

“Udah rapi. Mau dibikin rapi kayak apalagi?” Titin bangkit dan duduk di samping Atikah di pinggir kasur.

Atikah menghela napas panjang dan menatap Titin. Kali ini, dia memutuskan untuk menceritakan tentang Nursan secara lebih mendalam. Dada Atikah mulai terasa sesak, seperti ada bom waktu yang siap meledak kapan saja jika dia terus memendamnya sendiri.

“Tin, masih ingat ceritaku tentang seseorang yang dulu pernah dekat denganku dan berasal dari Lampung Barat?”

“Mantan pacar Uni?”

“Begitulah.” Atikah masih enggan mengatakan bahwa dia dan Nursan pernah menikah.

“Kenapa? Kalian berhubungan lagi? Atau dia ada hubungi Uni?”

“Dia ada di sini.”

“Hah?” Titin terlonjak kaget dan seketika mengubah posisinya menjadi duduk tegak, menghadap Atikah dengan mata membulat.

“Maksudnya, lelaki itu ada di sini? Di Hujung?” Titin memastikan pendengarannya, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Iya. Tadi pas sarapan, sebelum kamu datang, kami sempat bertemu.”

“Wow, terus terus terus? Kalau tahu begitu, tadi aku ke sini bawa kartu tarotku. Sekalian aku baca Uni sama dia,” celetuk Titin dengan nada bicara yang cepat dan antusias.

“Dasar kamu si paling tarot. Sempat-sempatnya mikirin tarot,” Atikah tersenyum samar, mengingat bagaimana Titin selalu sibuk melayani para klien daringnya yang ingin dibacakan kartu tarot.

“Udah, ayo lanjut cerita yang tadi. Siapa namanya?”

“Namanya Nursan.”

“Tunggu, Nursan? Nursan Akbar?”

“Kamu kenal?” Atikah mengerutkan kening, terkejut mendengar Titin menyebut nama lengkap Nursan.

“Kenal baik sih nggak. Tapi aku sering dengar namanya dari suamiku. Dia termasuk salah satu orang yang dianggap berhasil dari kampung ini. Aku manggil dia dengan sebutan Atin. Kalau nggak salah, dia baru saja jadi profesor. Sempat ada acara syukuran juga di sini. Asal Uni tahu, rumah ini tuh sebenarnya rumah orang tua Atin Nursan.”

“Hah? Serius? Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau kamu kenal Nursan?” Atikah merasa semakin terkejut dengan pengungkapan Titin.

“Aku tahu nama mantan Uni aja baru sekarang. Gimana aku mau cerita?” Titin membela diri.

“Jadi, dia asli orang sini?”

“Iya. Kalau di sini, dia bergelar batin. Cukup punya pengaruh, tapi dia jarang pulang. Aku juga cuma dengar ceritanya dari suamiku aja. Dia belum menikah. Katanya sih, dulu sempat mau menikah, tapi terganjal restu orang tua perempuan. Jangan-jangan, Uni yang bikin dia patah hati ya?” Titin terkikik kecil.

“Aku nggak tahu dia belum menikah itu karena patah hati gagal menikah denganku atau karena hal lain.” Atikah menghela napas, perasaannya semakin bercampur aduk.

“Tuh, orangnya ada di depan. Uni nggak ada niat nyamperin dia?” Titin menunjuk ke arah jendela.

“Kamu juga lihat dia?” Atikah mengikuti arah pandang Titin dengan ragu.

“Lihat dong. Kan aku punya mata. Jadi, gimana? Mau nyamperin ke depan?”

“Nggak ah. Ngapain. Takut ganggu mereka.” Atikah kembali mengalihkan pandangannya.

“Uni, maaf ya, aku nanya masalah pribadi. Sebetulnya hubungan Uni sama Atin Nursan itu gimana? Kan Uni udah nikah. Kalian masih ada komunikasi?”

“Kalau masalah hubungan sih, sudah lama hubungan kami selesai. Tidak ada komunikasi apa pun di antara kami.” Atikah berusaha terdengar tegas meskipun hatinya berdenyut nyeri.

“Terus, masalahnya di mana? Kenapa Uni nggak mau ngobrol sama dia?”

“Aku juga nggak tahu. Sikap Nursan tadi… sudah berubah. Aku merasa, kami seperti dua orang asing yang nggak pernah saling kenal.”

“Alasan kalian berpisah itu apa? Benarkah karena restu?” Titin bertanya dengan nada serius.

“Bukan sepenuhnya soal restu. Orang tuaku tidak keberatan aku menikah dengan Nursan. Hanya saja, mereka minta Nursan tinggal di tempatku. Jujur saja, ada kewajiban tak tertulis bagiku sebagai anak perempuan tertua untuk tetap tinggal di kampungku, Lipek Pageh, dan menjaga rumah serta tanah pusaka milik keluargaku. Posisi Nursan juga sama. Dia harus pulang dan mengurus keluarganya di sini. Di sinilah kami tidak menemukan kata sepakat.” Atikah menjelaskan dengan suara pelan.

“Rumit kalau begitu. Bagi kami, anak laki-laki tua memang diharapkan untuk pulang dan mengurus keluarganya. Aku nggak tahu kalau di tempat Uni, malah anak perempuan yang jaga rumah dan tanah pusaka.”

“Ini berkaitan dengan adat kami yang menganut paham matrilineal,” Atikah mulai menjelaskan, “di mana garis keturunan mengikuti marga perempuan atau ibu. Aku lahir dan besar di sebuah kampung bernama Lipek Pageh. Daerah ini semacam kawasan tarukoan, orang sana bilang manaruko, dan punya sejarah sendiri. Dulu, nenek moyang kami datang dari negeri bernama Salimpek, yang sekarang sudah jadi nagari, untuk membuka lahan di Lipek Pageh. Makanya, banyak keluarga di sana membentuk kelompok keluarga baru.”

“Sebagai anak perempuan pertama, lahir dari rahim seorang perempuan yang juga anak pertama, amak—ibuku—memiliki tugas menjaga rumah dan tanah pusaka keluarga. Ada pusaka tinggi dan pusaka rendah yang harus dijaga amak untuk kemudian dilanjutkan oleh anak perempuannya. Beruntung, abak—ayahku—tidak keberatan tinggal mengikuti amak. Abak bekerja sebagai petani dan mengurus kebun peninggalan orang tua amak.”

Atikah harus meneruskan tugas amak untuk menjaga rumah dan tanah pusaka. Tidak pernah terpikir oleh Atikah kalau tugasnya ini berimbas pada kandasnya pernikahan dia dengan Nursan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!