Kembalinya Magic Assassin
Mulai Membuat Perhitungan, Semuanya!
Bagas pergi ke sekolahnya, dia meninggalkan senyumannya. Dia yakin, Khalid akan berada di pihaknya. Dialah satu-satunya aset yang dimiliki Bagas saat ini. Kecurigaan dari Dark Head tidak akan mendasar, karena Khalid sedang dibayar oleh kakeknya.
Di sekolah, semua murid kini menghormati Bagas. Dia bisa belajar seperti biasanya, meskipun Bagas sekolah hanya untuk menghormati tubuh tersebut. James di dalam tubuh Bagas, dia tidak tahu bagaimana akhir dari kesempatan hidupnya di dunia ini.
[Kesempatan hidup anda, 38 hari]
Apa yang terjadi, jika dia telah mencapai limit kesempatan hidupnya? Bagas tak peduli lagi, dia hanya ingin menuntut balas. Waktu yang tersedia akan digunakannya sebaik mungkin.
”Bagas! Bagas! Bahaya!” suara Dandi berlari ke arah Bagas yang sedang duduk di taman, saat itu jam istirahat sekolah.
Bagas berdiri, dia melihat Dandi yang datang, napasnya naik turun kelelahan.
”Ada apa, Dandi? Kami seperti dikejar pembunuh saja.”
”Nadia, Nadia dalam bahaya!” kata Dandi terbata-bata.
”Ada apa dengan Nadia!” mata Bagas terbuka lebar, kedua tangannya mencengkeram kedua bahu Dandi dengan kuat.
”Wakil Kepala memanggil dia, kamu tahu kan bagaimana wakil kepala selalu membuat alasan untuk memberikan sanksi pada siswi wanita?”
”Bahaya!”
Bagas bergegas pergi, Dandi mengatakan bahwa baru saja saat istirahat Nadia dipanggil ke ruang Wakil Kepala. Dan, itu baru beberapa menit. Wakil kepala seperti diketahui semua siswa, dia adalah biang segalanya. Dia selalu memanggil siswi wanita dan membuat alasan tertentu dengan kesalahan yang tak diketahui.
Bagas tahu, dia adalah penjahat. Dulu, saat sebelum dia mengalami perubahan dengan jiwa yang tertukar. Bagas selalu dianiaya oleh teman-temannya, dan juga Wakil Kepala Sekolah yang kejam. Dia bisa menghukum siapa saja. Namun, saat dia memanggil siswi wanita. Maka, dia akan dilecehkan dan tidak boleh melapor pada siapapun.
Woosssh!
Bagas berlari dengan cepat, Dandi bahkan seperti melihat chetah yang berlari. Dia berharap Bagas segera dapat menolong Nadia. Semua siswa takut pada Wakil Kepala, karena dia seorang yang arogan. Semua orang takut padanya.
Bagas berlari, dan mencapai ruang Wakil Kepala. Ada dua pegawai di sana, mereka berdua menghalangi Bagas.
”Aku mau masuk menemui Wakil Kepala.”
”Tidak boleh, kamu tidak mendapatkan janji terlebih dahulu,” kata pegawai bagian kantor. Salah satunya masih duduk.
”Saya harus bertemu dengan Wakil Kepala, sekarang juga.”
Salah satu pegawai yang sebelumnya duduk ikut berdiri, ”Murid nakal, kamu mau dihukum? Sudah kembali ke kelasmu!” kata petugas kedua.
”Tolooonngggg!”
Suara wanita, itu adalah suara Nadia.
[Selamatkan wanita yang dicintai pemilik tubuh anda, misi diberikan. Anda tidak akan mendapatkan kekuatan anda jika tidak menyelamatkan wanita itu]
”Sialan!”
”Apa kamu bilang! Dasar murid nakal!”
Pegawai itu menggerakkan kedua tangannya, memegang kedua pundak Bagas. Bagas melotot, pegawai itu kaget. Dan tiba-tiba, perut pegawai itu terasa sakit. Bagas sudah menggerakkan lututnya untuk memukul perut pegawai itu. Dia terpental dan menabrak meja di belakangnya
Brush! Brak!
Pegawai satunya kaget, dia marah dan menerjang ke Bagas dengan tinjunya. Tentu saja, pegawai itu orang dewasa dan dia yakin akan mengalahkan Bagas.
Wuuusshh!
Pukulan itu dihindari Bagas, dia menunduk, memutar tubuhnya dan pukulan kuat menghantam perut pegawai tersebut.
Brush!
Wooosshh!
Bersama dengan jatuhnya pegawai, Bagas menerjang ke arah pintu wakil kepala yang terkunci. Tendangan kuat disiapkan, Bagas menggunakan kekuatan penuh untuk menghancurkan pintu wakil kepala.
Brak! Brush!
Pintu kuat yang didesain dengan baik, tak mampu menghalangi tendangan Bagas. Pintu itu roboh dan lelaki setengah baya di dalam ruangan kaget. Dia sedang memegang kedua pundak Nadia dan berusaha untuk melakukan hal buruk.
”Hei! Murid nakal! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu mau menerima hukuman!” wakil kepala itu melepaskan tangannya pada Nadia. Nadia terlihat menangis dan berlari ke arah Bagas. Nadia berlindung di belakang Bagas.
”Tidak apa-apa, Nadia. Aku berjanji akan melindungimu dari apapun, bahkan ketika aku harus menghadapi seluruh dunia. Aku berjanji akan melindungimu!”
Bagas tidak paham, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Dia merasa ucapannya itu keluar begitu saja. Bagas merasa, tubuh yang dia tempati, menganggap bahwa Nadia adalah orang yang sangat spesial. Bagas segera paham, itulah jalinan yang tidak bisa hilang dari ingatan orang sebelumnya.
Cinta! Memang tak bisa dijelaskan dengan akal logika.
”Aku akan memberikan hukuman padamu, dasar anak pelayan!” Wakil kepala tahu siapa Bagas. Dia bisa melakukan apapun padanya, dulu dia bahkan pernah menghukum Bagas dan memukul punggungnya. Wakil kepala tahu, Bagas anak pelayan dan dia tidak mendapatkan hak apapun dari keluarga Mahmud.
Wakil kepala hanya tahu, Natan yang harus dihormati karena cucu resmi dari keluarga Mahmud.
Wakil kepala itu mengambil sebuah penggaris kayu panjang, dia marah karena kesenangannya diganggu. Dia sudah lama mengincar Nadia, dan baru kali ini punya kesempatan. Dia memukul kayu itu ke arah pinggung Bagas.
Crak!
”AAAAAAAAHHH!”
Tangan Wakil kepala seperti remuk, saat dia hendak memukul Bagas. Kecepatan tangan Bagas memukul pangkal lengan terlebih dahulu dengan kuat. Penggaris kayu itu jatuh begitu ke lantai. Wakil kepala kesakitan. Dia masih marah, dia mencoba menendang Bagas.
Woooosshh!
”Benar-benar penjahat! Penjahat memang harus dihancurkan!” Bagas berteriak dan mengarahkan tendangannya. Tendangan Bagas sangat cepat, tendangan itu lebih dulu bersarang di perut Wakil kepala dengan kuat.
Crak!
Bagas menggunakan kekuatan cukup kuat, itu pelajaran bagi Wakil Kepala yang selalu berbuat jahat kepada murid perempuan. Dia melakukan pelecehan pada murid, dan sekarang tendangan itu akan mematahkan beberapa tulang rusuknya. Bagas yakin, setelah ini Wakil Kepala akan menjadi pesakitan dan akan menjalani hidup dengan rasa sakit seumur hidupnya.
Brak! Brush!
AAAAAAAHHHHHH!
Punggung Wakil Kepala terpendal dan membentur dinding. Dia meringis kesakitan dan tak kuat lagi berdiri. Sedetik kemudian, dia pingsan tak sadarkan diri.
”Bagas, apa tidak masalah kita meninggalkan dia?” Nadia melihat Wakil Kepala yang pingsan, sedangkan tangannya ditarik keluar oleh Bagas.
”Biarkan dia, pasti akan ada pegawai yang akan mengurus dia nantinya. Mulai sekarang, dia tidak akan berani mengganggumu lagi, Nadia. Ayo pergi.”
Nadia mengikuti Bagas keluar, sedangkan di luar sudah cukup ramai. Ada guru dan juga para murid lainnya. Para guru berhamburan masuk, ada yang menolong dua petugas yang dijatuhkan Bagas di depan. Guru yang lain hanya melihat Bagas dan Nadia lewat, mereka lari masuk ke dalam ruangan Wakil Ketua.
”Terima kasih untuk semuanya, Bagas,” suara Nadia pelan.
”Tenang saja, Nadia. Tidak akan terjadi apapun, selama aku hidup. Aku akan selalu menjagamu.”
Nadia melihat punggung Bagas, dia tersenyum. Sejak kecil, Nadia mencintai Bagas. Mereka sama-sama seorang anak pelayan. Namun, Bagas adalah pewaris dari Tuan Mahmud. Nadia hanya bisa memendam rasa cintanya.
***
Bagas sedang makan, seorang pelayan mengatakan ada telepon untuknya. Bagas heran, ada yang menelpon dan langsung ke rumah kakek Mahmud.
Bagas menerima telepon itu. Dari Inspektur Jodi?
”Kamu harus hati-hati, Bagas. Seseorang militer tertinggi di kota ini sedang mengincarmu. Aku mendapatkan kabar ini dan segera menghubungimu.”
”Apa kesalahanku, pak Inspektur?” tanya Bagas heran.
”Adik dari Wakil Kepala di sekolahmu, dia adalah petinggi militer di kota ini. Aku tahu, karena aku sudah mendapatkan laporannya. Aku tak bisa melindungimu jika dia bertindak, aku berada di bawah komandonya.”
Suara hening terdengar. Inspektur Jodi merasa, kali ini dia akan sulit melindungi Bagas. Dia harus terus mendapatkan informasi dari Shadow Eagle. Misi gabungan antar organisasi pembunuh, dia belum mendapatkan detailnya.
”Anda tenang saja, Inspektur. Jika pemimpin anda berani bertindak padaku, Shadow Eagle mengatakan dia akan turun tangan sendiri.”
”Apa yang kamu maksud?”
Tut Tut Tut!
Suara terputus, Inspektur Jodi kaget mendengarnya. Jika demikian, apa yang akan terjadi pada pemimpin militer tertinggi di kota ini, jika dia melawan Shadow Eagle yang belum pernah tersentuh hukum sama sekali? Semua polisi, hanya tahu bahwa dia adalah pembunuh yang tidak bisa dideteksi dan pembunuh paling kompeten.
Apa Jodi terlalu khawatir?
Di sisi lain, Bagas tersenyum setelah mendapatkan telepon dari inspektur Jodi. Dengan demikian, dia sudah mempersiapkan diri. Siapapun lawan yang mencoba mengganggunya, mereka akan dihabisi!