Kembalinya Magic Assassin
Pertarungan dan Kemustahilan
Donald menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya di taruh di belakang. Dia menerjang dengan cepat kearah Bagas, pukulan itu akan menghentikan ucapan Bagas.
Wooosh!
Satu langkah!
[Eye Assassin diaktifkan]
Brush! Bug!
Semua mata satuan khusus kaget melihat hal itu. Mereka tak percaya, serangan Donald saat langkah kedua. Pemuda yang diborgol itu melakukan zig-zag cepat, menghindari dan memutar posisinya. Bagas berputar dan kakinya menendang punggung Donald dengan cepat.
Donald tersungur, bergulingan di lantai.
AAAAHHHH!
Bagas berdiri kembali, dalam keadaan tangan diborgol di belakang. Dia menunggu Donald untuk bangun, sementara Donald meringis kesakitan karena punggungnya masih terasa panas dengan tendangan dari Bagas.
”Kurang ajar!” Donald bangun dan bersiap kembali.
”Ayo Donald! Hajar dia sebelum satu menit selesai!”
”Jangan buat aku kalah, Donald! Aku sudah bertaruh besar untukmu!”
Teriakan rekan Donald membuat Donald marah, dia tidak mau dipermalukan. Dia melawan anak kecil, bahkan dengan tangan masih diborgol. Kali ini, dia tidak boleh lengah. Dia mempersiapkan dirinya. Dia masih menggunakan tangan kanannya saja.
Mata Donald kini menjadi tajam, dia tak boleh lengah. Bocah itu memiliki kemampuan, dia tahu karena bocah itu juga menghajar para siswa dan juga Wakil Kepala Sekolah. Sekarang, dia tidak akan terkecoh.
Donald menerjang, pukulan dipersiapkan. Namun, sekali lagi, Donald tak percaya. Bocah itu menerjang dari depan. Dia memutar tubuhnya di udara dengan cepat, dan kakinya berputar akan menendang wajahnya.
Tidak bisa!
Donald tidak mau kalah, dia terpaksa menggunakan tangan kirinya sekaligus. Dia akhirnya harus menggunakan dua tangannya dan menghadang tendangan Bagas. Dua tangannya maju untuk memblokir tendangan Bagas.
Brush! Bug!
AAAAAAAHHHHH!
Meskipun sudah menggunakan dua tangannya untuk memblokir tendangan Bagas, tapi serangan Bagas berubah haluan. Dia segera menghentakkan arah tendangan kaki kirinya, dia menghentak ke tanah dan tendangan kaki kanannya lurus dengan sangat kuat. Bukan wajah, tapi tendangan kuat di perut Donald.
Donald terpental, duduk dan terseret ke belakang hingga membentur tiang dinding. Punggungnya terasa patah, dia tak bisa bergerak bangun. Dan, kepalanya lunglai. Donald pingsan karena tendangan kuat itu.
Bagas berdiri, tangannya masih terborgol di belakang. Semua polisi di sana, untuk beberapa detik tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang bocah yang sedang diborgol, mampu bergerak dengan cepat dan mampu menjatuhkan seorang satuan khusus, dengan cepat. Hanya butuh waktu 10 detik.
”Ha.. ha.. ha..!” seorang polisi tertawa, ”Aku menang taruhan! Terima kasih bocah Hebat!”
Tiga puluh persen polisi yang memasang Bagas bisa bertahan lebih dari satu menit, mereka menang. Namun, mereka tak percaya pada kemampuan Bagas. Itu sangat luar biasa! Apakah bocah itu menerima latihan seorang militer? Dia menjatuhkan lawannya dengan kemampuan seperti seorang ahli kungfu, atau seorang assassin super cepat.
Seorang polisi masuk ke dalam bangunan itu, dia mengatakan bahwa kepala polisi kota akan segera datang. Pak Daren baru saja melakukan inspeksi di beberapa tempat dan juga melakukan pertemuan dengan pers. Dia akan segera menemui target pemuda yang sedang mereka tahan. Kepala polisi kota akan segera datang.
Mereka yang mendengar itu pun bersiap, mereka segera menahan Bagas kembali dan membiarkan Daren yang masih pingsan. Namun, ada yang segera membawanya untuk dibawa ke ruang kesehatan. Bagas segera ditahan kembali, tubuhnya kembali diikat dengan tiang. Dia tak melawan, dia hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan para polisi itu padanya.
Jika mereka memang ingin melawan, maka Bagas akan menghancurkan mereka semua.
Rombongan kepala polisi kota akhirnya tiba di kediaman, tapi Daren tidak segera masuk ke rumahnya. Dia sudah tahu, anak sekolah yang sudah membuat kakak kandungnya lumpuh. Dia sudah ditahan di dalam ruang penyiksaan.
Daren pun segera mengalihkan lokasi ke tempat kediaman penyiksaan, itu hanya seberang dari kediamannya. Dia tidak bisa makan dengan tenang, sebelum membalaskan apa yang sudah dilakukan pemuda itu pada kakaknya.
Rombongan itu segera masuk ke tempat di mana Bagas ditahan. Mobil Jenderal Daren masuk begitu saja, pintu rolling terbuka dan tiga mobil masuk ke dalam.
Daren turun dengan gagahnya, semua orang menunduk memberi hormat. Para polisi satuan yang sudah menahan Bagas pun menundukkan kepalanya. Tersisa, satu orang yang terdiam sambil diikat di tiang. Itu adalah Bagas. Sementara, banyak tahanan yang disiksa di dalam ruangan besar itu kini melihat ke arah Bagas. Para tahanan itu berpikir, ada korban baru. Seorang pemuda yang akan dihukum dengan hukuman berat seperti mereka.
Bisa jadi, pemuda itu mungkin akan gila setelah mendapatkan penyiksaan.
Daren berjalan, dengan tongkat yang dipegangnya. Dia sungguh terlihat sangat berwibawa dan badannya tegap. Dia berjalan, melihat pemuda yang sedang di ikat di tiang. Dia melihat, wajah bocah itu sudah memar. Artinya, prajuritnya sudah ada yang memukulnya. Itu baru awalan penyiksaan, dia berani melumpuhkan kakak kandungnya. Dia akan mendapatkan siksaan yang tak tertahankan!
Daren menatap penuh kesumat. Namun, dia berusaha tetap tenang. Dia adalah seorang kepala polisi kota, artinya dialah yang mengatur kota ini. Dia pemimpin kota ini, apalagi dia adalah orang kepercayaan dari Jenderal Bison.
Tuk! Tuk!
”Pemuda yang berani! Aku suka keberanianmu!” Daren memukulkan tongkatnya di telapak tangan kirinya. Semua satuan polisi diam tak berani bersuara. Daren melihat pemuda itu dari kaki hingga kepalanya.
”Bapak Jenderal,” suara dari belakang Daren.
”Kenapa Ajudan?” tanya Daren pada ajudan di belakangnya.
”Pemuda ini adalah cucu dari salah satu pengusaha paling terkenal di negara ini. Dia adalah cucu dari Tuan Mahmud.”
Ajudan itu melaporkan terlebih dahulu, dia tidak mau Kepala Polisi Kota melakukan kesalahan. Dia harus memperhitungkan apa yang akan dilakukannya pada bocah itu.
”Pantas saja, kamu berani bertindak arogan Bocah! Ternyata, kamu adalah cucu tuan Mahmud. Ha.. ha.. ha...!”
Tawa Daren terdengar memenuhi semua tempat di ruangan besar itu.
”Sayangnya..., kamu telah salah melampiaskan kenakalanmu. Kamu tahu, siapa yang sudah kamu hancurkan! Dia adalah ..., kakakku! Dan, aku tidak peduli, kamu anak siapa. Kamu akan sulit melihat matahari besok untuk terbit. Aku adalah penguasa kota ini, jadi aku bisa berbuat apapun yang aku mau!”
Semua orang terdiam, tawa Daren membahana. Dia ingin menghancurkan mental pemuda itu terlebih dahulu.
”Kamu tahu, semua tahanan di sekitarmu?” tanya Daren pada pemuda itu, ”Mereka semua sudah kuhancurkan! Mereka berani bermain-main denganku. Mereka disiksa, tanpa pengadilan. Di sini, tidak ada yang berkuasa kecuali aku. Bahkan, Tuhan pun tidak bisa berbuat apa-apa di sini! Jadi, kamu akan kuhancurkan, tanpa peduli siapa keluargamu! Kamu akan mati di sini! Ha.. ha.. ha..!”
Benar-benar manusia yang sombong! Namun, Bagas hanya tersenyum mendengarkan hal itu. Dan, hal itu membuat mata Daren terbelalak lebar. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, pemuda itu bahkan tidak takut padanya.
”Kamu mau mati sekarang, Bocah!”
Plak!
Tongkat bergerak dan menghantam pipi Bagas, bekas luka terlihat dan Bagas merasakan sakit. dia menahannya.
Ding!
[Rasa sakit terakumulasi, anda adalah manusia yang diberikan berkah kesempatan hidup. Namun, anda tetap akan merasakan sakit yang melukai tubuh anda]
[Mental yang kuat, jiwa yang tegas. Anda membangkitkan kekuatan raja sistem, defense dari damage yang diterima akan diakumulasikan menjadi tambahan kekuatan]
[Magic Assassin meningkat, kekuatan sihir dan kemampuan kecepatan naik]
Saat Daren semakin marah, Bagas tersenyum melihat tulisan layar di depannya. Jadi, kekuatannya bisa meningkat dengan rasa sakit yang diperoleh. Ini menarik! Berkah dari Tuhan, balas dendamnya akan menjadi akhir dari keinginannya. Menghancurkan semua orang yang terlihat dalam pembunuhan dirinya.
”Ha.. ha.. ha...!”
Daren dan satuan pasukan khusus di belakangnya kaget, pukulan yang mengenai Bagas membuatnya tertawa? Dia tertawa sekarang! Apakah dia telah gila karena satu pukulan?
”Kamu telah membuatku marah Bocah!” teriak Daren, dia merasa dipermainkan. Dia mengeluarkan pistol di balik pinggangnya. Mengarahkan pada Bagas, pistol diarahkan tepat di kepala Bagas. Jarak mereka dua meter.
Namun, Bagas hanya tersenyum.
”Tembak aku kalau berani, Penjahat!”
Mata Daren terbelalak.
[Mengaktifkan Misi tambahan, hadiah akan diperhitungkan]
[Bunuh Polisi Kota, Daren. Target diaktifasi, hadiah penyelesaian: Ultimate Magic Assassin]
Menarik!
DOOR! DOOR! DOOR!
***
Tuan Mahmud beserta rombongan mengemudikan mobil dengan cepat, mereka harus mencapai rumah dari kepala polisi kota. Mereka harus cepat menyelamatkan Bagas, Mahmud paham betul bagaimana sifat dari Daren sang pemimpin keamanan di seluruh kota.
Dia sudah mempersiapkan uang, dia harus menyelamatkan cucunya.
Wooosshh!
Ciiiiit!
Informasi sudah didapatkan, Bagas dibawa ke ruang di seberang kantor kepala polisi kota. Itu adalah rumah rahasia, yang hanya diketahui segelintir orang. Ruangan untuk penyiksaan, bagi mereka yang tidak akan di sidang praperadilan. Mereka akan dihukum, sesuai dengan kemauan penguasa keamanan kota.
Mobil itu menuju rumah penyisaan itu. Mereka turun segera, Mahmud mendekati ruang besar itu. Ada sepuluh penjaga dengan senjata lengkap.
”Aku tuan Mahmud, aku ingin menemui Bapak Daren, Kepala Polisi Kota.”
”Kalian tidak bisa masuk, itu adalah pesan dari pak Daren.”
”Kami harus masuk, kami mohon!” suara Mahmud meminta.
”Tidak bisa! Anda dilarang masuk, tunggu sampai Beliau keluar!”
Mahmud dan rombongan bingung, mereka bolak-balik. Mereka takut jika Bagas dalam bahaya!
DOOR! DOOR
Suara tembakan dari dalam.
”Kami mohon, kami harus bertemu dengan pak Daren!” Mahmud meminta lagi sedikit memaksa, dia terlalu khawatir. Khalid juga khawatir, bahkan dia hampir saja bertindak dan menjatuhkan para polisi.
Sebuah mobil datang lagi, mobil polisi datang!
Ciiiitttt!
Seorang lelaki turun, itu adalah inspektur Jodi. Dia bergegas, dia menyapa tuan Mahmud.
DOOR! DOOR! DOOOR!
Suara tembakan berulang terdengar. Mahmud semakin khawatir. Inspektur Jodi bahkan memaksa para polisi yang menjaga untuk dibukakan pintu.
”Kami tidak berani, Inspektur! Kami akan dihukum!”
DOOR! DOOR! DOOR!
Suara tembakan lagi.
”Persetan dengan itu semua, ini dalam keadaan darurat!”
Jodi mengeluarkan senjatanya, para penjaga akhirnya menyerah. Tombol ditekan dengan paksa oleh Inspektur Jodi. Semua orang akhirnya masuk, termasuk para polisi penjaga. Dan, saat mereka merangsek seluruhnya masuk ke dalam ruangan besar itu. Mata mereka semua tak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tubuh bergelimpangan. Mereka semua masih melihat tak percaya.
Tidak mungkin!