Kembalinya Magic Assassin
Perasaan yang Terpendam Jauh
Tuan Mahmud keluar dari kamarnya, dia hendak makan malam bersama dengan keluarga. Kecuali, kedua anaknya yang sudah meninggal. Romi meninggal saat dia ingin membuat makar dengan berencana membunuh Mahmud demi harta warisan. Sedangkan, anak pertamanya meninggal karena dibunuh oleh rencana jahat Romi. Semua sudah terbongkar karena cerita Dayang dan Rianti.
Dayang dan Rianti memohon ampunan pada Mahmud dan menceritakan semuanya. Mereka menyadari kesalahan Romi, tapi mereka tak bisa menasehati Romi agar berubah. Romi memarahi isteri dan anaknya, dan dia tetap akan berencana membunuh tuan Mahmud.
Akhirnya, tuan Mahmud memaafkan menantu dan cucunya tersebut. Keduanya diberikan tempat tinggal dan harta untuk hidup mereka. Sementara, masalah Romi sudah berlalu dan Mahmud tidak mempersoalkan hal itu lagi.
”Apakah kamu setuju dengan keputusan Kakek, Bagas?” tanya Mahmud yang sedang duduk dan berbincang bersama Bagas.
Bagas tersenyum, ”Kakek adalah orang yang bijak. Kakek tentu memiliki pertimbangan yang tepat dalam memutuskan tentang Bibi Dayang dan juga Rianti.”
Mahmud bangga pada Bagas. Bagas yang sudah kehilangan ayah dan ibunya, bahkan karena perebutan harta dan dijadikan tumbal oleh Romi. Namun, dia tetap memaafkan keluarga pamannya yang sudah membunuh kedua orangtuanya.
”Biarkan semua yang berlalu menjadi kenangan. Kita hanyalah manusia yang akan terus hidup dan berjalan dengan masa depan. Alangkah baiknya, jika di dunia ini semua orang bisa saling memaafkan dan hidup berdampingan. Hidup damai tanpa ada dendam, dunia ini tentu akan aman, Cucuku!”
Senyum Mahmud dan Bagas bertemu. Mereka berdua menyadari bahwa keluarga dan kedamaian adalah segalanya. Mereka ingin melupakan semua dendam yang ada di keluarga mereka.
”Aku akan pergi sekolah, Kakek.”
”Tentu saja, Bagas. Pergilah, raihlah masa depanmu dengan penuh semangat!” Mahmud menyemangati cucunya.
”Tentu saja, Kakek.”
Bagas bersiap berangkat ke sekolah. Tujuan pertama dari pembalasan dendamnya sudah terpenuhi, yang tersisa dari dendamnya adalah dendam dari kematian James. Bagas tidak akan bisa tenang hidup di dunia ini sebelum menuntaskan balas dendam kedua. Balas dendam puncak untuk memusnahkan Dark Head.
[Assassin Bagas, hidup anda tersisa 24 hari lagi di dunia ini]
[Misi anda, Membunuh para pembunuh dan menciptakan perdamaian. Title anda; Mesin Pembunuh para Assassin]
Tentu saja! Aku akan melakukan hal itu. Bagas berangkat sekolah, dia memakai motornya sendiri dan tidak mau diantar.
Di sekolah, suasana sangat tenang mulai sekarang. Tidak ada lagi yang berani bertindak arogan atau bahkan mengganggu teman lainnya. Bagas menjadi jaminan, sekolah menjadi aman. Semua pelajar yang sebelumnya suka meminta uang, memaksa dan bahkan menyiksa adik tingkat, atau bahkan mereka yang suka membully. Kini, semua ketakutan mendengar nama Bagas. Para Guru kini mengajar dengan baik dan tidak takut lagi pada murid yang memiliki orangtua pejabat dan orang kaya sekalipun.
Angin berhembus damai di sekolah, Bagas tersenyum ketika memasuki gerbang sekolah. Dia melihat di gedung-gedung sekolah yang bertingkat. Dia melihat semuanya menjadi sangat tenang dan kondusif. Tak ada lagi kenakalan, sedangkan Bagas yang dulu saat sebelum bersatu jiwanya dengan James. Semua serba kacau dan kasus kekerasan di sekolah tiap hari terjadi.
”Apa yang kamu lihat, Bagas?” suara lembut terdengar dari belakang Bagas, wanita itu baru saja memasuki gerbang sekolah.
Dia adalah Nadia. Senyum Nadia terlihat indah, wajahnya terlihat sangat cantik. Rambut Nadia tergerai karena angin membelai rambutnya.
Deg!
Jantung Bagas berdetak lebih cepat. James di dalam tubuh Bagas, dia merasakan pengaruh besar pada tubuh yang ditempatinya tersebut. Selama hidupnya, Bagas memang menyimpan perasaan cinta yang sangat dalam pada Nadia. Dan, Bagas tidak pernah mengutarakannya atau bahkan berbincang terlalu lama pada Nadia.
Bagas sangat tertutup, dia menyembunyikan cintanya rapat-rapat. Hal itu tak lepas dari perlakukan buruk yang selalu didapatkan Bagas selama hidupnya.
”Kamu mengagetkanku, Nadia. Aku sedang melihat sekolah kita, sekarang semuanya penuh dengan kedamaian,” Bagas melihat begitu banyak siswa antusias belajar, mereka semua terlihat bahagia dan tidak ada tekanan.
”Kamu benar, Bagas. Semua ini karena dirimu.”
”Aku tidak melakukan apapun, Nadia.”
”Semua orang tahu dengan baik, Bagas. Kamu telah menghajar para pengganggu di sekolah ini, bahkan wakil kepala sekolah sudah kamu hajar. Kamu adalah pahlawan bagi semua pelajar di sini, Bagas.”
Bagas tersenyum dan melihat wajah cantik Nadia, Nadia jadi salah tingkah dan memegangi telinga dan rambutnya.
”Apa yang kamu lihat, Bagas?” Nadia tersipu malu.
”Tidak apa-apa, Nadia. Kamu sangat cantik.”
Kata-kata spontan dari Bagas benar-benar membuat wajah Nadia semakin memerah. Nadia menjadi salah tingkah.
”Apakah malam ini, kamu ada acara Nadia?”
”Ada ..., eh maaf tidak ada. Apakah ada sesuatu Bagas?” Nadia menjawab sangat grogi.
”Maukah makan malam denganku?”
”Apa?” tanya Nadia kaget.
”Ah, sudahlah! Lupakan saja, aku sedang suntuk saja.”
”Tidak Bagas, ayo kita makan malam bersama.”
”Kamu serius?” tanya Bagas.
”Tentu ..., tentu saja.”
”Baiklah, aku akan menjemputmu nanti malam.”
Bagas meninggalkan Nadia yang masih berdiri, dan wajah Nadia terlihat sangat bahagia ketika Bagas sudah jauh dari pandangannya. Nadia sangat bahagia, setelah sekian lama, akhirnya Bagas berani mengajaknya makan malam bersama.
”Aku akan memakai baju apa untuk nanti malam?” Nadia pun kebingungan.
***
Malam itu, Nadia terus mematut dirinya di cermin. Dia memakai gaun yang indah, dia benar-benar berdandan dengan baik malam ini. Entah kenapa, dia sangat bahagia dan senyumnya terus terukir. Dia membenahi rambut dan juga pakaiannya.
”Sudah bagus belum ya?” Nadia masih ragu dengan penampilannya. Bahkan, ibunya yang masuk ke kamarnya terus ditanya tentang penampilannya.
”Kamu sangat cantik, Puteriku.”
”Ibu hanya memujiku karena kasihan bukan?” Nadia terlihat cemberut.
”Tentu saja tidak, Nadia. Kamu adalah bidadari, kamu benar-benar cantik dengan pakaian seperti apapun. Kamu harus percaya diri, Nadia.”
”Baiklah Ibu, terimakasih.”
Dan, tamu yang ditunggu datang. Nadia menemui Bagas di depan, Bagas menggunakan jas dan tersenyum di depan pintu.
”Apakah kamu mau masuk dulu ke rumah, Bagas?”
Bagas tersenyum, ”Kamu sangat cantik, Nadia.”
”Kamu menggodaku, Bagas.”
”Tidak, aku sungguh-sungguh.”
Pandangan mereka bertemu, dan senyuman mereka pun saling berbalas.
”Ayo berangkat, jangan sampai kita nanti pulang terlalu larut.”
Nadia setuju dengan kata-kata Bagas. Mereka berangkat, Bagas tidak menggunakan mobil, dia sudah mempersiapkan motornya. Bagas ingin mengajak Nadia menikmati udara malam dan makan malam bersama. Tidak ada maksud apapun dari Bagas, dia ingin memberikan sesuatu yang baik sebagai kenangan untuk Nadia.
Bagas tahu, tubuh yang kini sedang ditinggalinya, memiliki rasa cinta yang sangat besar para Nadia.
Mereka berhenti di sebuah kafe yang cukup sepi. Mereka berhenti dan memilih tempat duduk. Pelayan datang, mereka pun memesan makanan.
”Apakah kamu pernah ke tempat ini, Bagas?” tanya Nadia.
”Aku pernah datang ke sini, aku sudah di sini karena angin dari lautan masuk di areal ini. Kita bisa menikmati udara sejuk meskipun pantai masih jauh dari sini.”
Sebenarnya, Bagas sejak dulu suka kafe tempat tersebut. Hal itu ketika James sering menggunakan waktu luangnya selama tidak ada tugas di kafe itu. Dia menghabiskan waktu lama dan melihat pemandangan lautan yang nampak jauh di ujung arah seberang dengan kafe tersebut.
”Tempat ini sangat bagus, udaranya juga sangat segar.”
”Kamu benar, Nadia.”
Mereka menikmati makanan yang sudah dihidangkan, mereka meminum jus buah dan menikmati malam itu dengan saling berbincang. Mereka memang sering bertemu di rumah tuan Mahmud, tapi jarang sekali berbincang. Hal itu karena, mereka berdua sering menjadi bahan bully bagi keluarga tuan Mahmud atau rekan-rekan di sekolah.
”Bagas, terimakasih atas semuanya.”
Bagas hanya tersenyum sambil meminum jusnya.
”Di masa depan, kamu tidak boleh lemah lagi, Nadia. Kamu harus kuat dan jangan pernah menerima ketika kamu diganggu siapapun.”
”Bukankah ada kamu, Bagas. Kamu akan selalu melindungiku bukan?”
”Aku tidak akan selamanya bisa melindungimu, Nadia.”
Woossh! Angin berhembus, mengipasi kedua wajah mereka.
”Bagas...,” suara Nadia terdengar pelan.
”Ada apa, Nadia?”
”Maukah kamu berjanji padaku.”
”Janji?” kening Bagas berkerut.
”Jangan pernah tinggalkan aku,” kata Nadia.
”Kenapa kamu berpikir aku akan meninggalkanmu, Nadia?” tanya Bagas.
”Karena ..., aku melihatmu bukan seperti Bagas yang aku kenal. Kamu telah berubah, Bagas. Bahkan, aku tidak yakin bahwa kamu adalah Bagas.”
Bagas tersenyum, ”Kamu memang suka bercanda, Nadia.”
Srak! Srak!
Beberapa lelaki datang, mereka masuk ke kafe dan terlihat sempoyongan. Mereka sedang mabuk. Mereka mengambil duduk di sisi Bagas dan Nadia. Pelayan datang dan membawa buku pesanan. Mereka berempat memesan makanan dan bahkan menggoda pelayan yang datang ke mereka.
Benar-benar menyebalkan! Nadia tidak suka pada mereka.
”Hei cantik,” seseorang menyapa Nadia di antara empat orang itu, matanya terlihat nakal.
Bagas diam saja, dia masih membiarkan mereka.
”Hei, kenapa kamu mau dengan seorang lelaki lemah sepertinya?” suara pemuda satu lagi.
Bagas masih membiarkannya.
Dan, seseorang dari mereka berdiri sambil mengecek Bagas. Tangannya bahkan hendak memegang bahu Nadia.
Klap!
Tangan lelaki itu dipegang oleh Bagas.
”Jangan berani menyentuh wanita yang sedang makan bersamaku!” mata Bagas menyala dan melihat ke arah pemuda yang berdiri tersebut.
”Kurang ajar!”
Wooossh!
Pukulan tangan kiri lelaki itu mencoba memukul kepala Bagas.
”Awas, Bagas!”
Bug!