Kembalinya Magic Assassin
Aku Sudah Kehabisan Waktu untuk Kalian (1)
Serangan datang dari semua arah menuju Bagas. Pemulihannya sudah berjalan, meskipun luka Bagas dapat sembuh tapi tetap saja rasa sakitnya dirasakan oleh Bagas. Inspektur Jodi dan Khalid juga menghadapi beberapa pembunuh lainnya. mereka mampu bertarung dengan baik sehingga Bagas tidak perlu khawatir pada mereka.
”Awas, James!”
Woosh!
Khalid melihat dari jarak cukup jauh, dia membereskan dua pembunuh dengan senjatanya. Kedua pembunuh jatuh dan Khalid melihat pusat serangan adalah James yang masih terluka. Dengan kecepatan tinggi Khalid berlari dan bersiap menerjang para pembunuh yang menyerbu James.
Namun, Khalid berhenti karena Shadow Eagle menggunakan tangan kirinya untuk memberi isyarat jangan ikut campur. Khalid tak percaya, dia pun segera menghentikan langkahnya. Bagaimana mungkin James yang sudah terluka akan menang melawan para pembunuh inti dari tujuh rumah pembunuh?
[Magic Assassin Stealth]
Tidak mungkin!
Kini, Khalid melihat dengan matanya sendiri. Tubuh James yang tertutup topeng burung itu mengeluarkan asap energi hitam di sekitarnya. Apakah dia seorang manusia? Bagaimana mungkin memiliki aura membunuh yang bahkan membuat tubuh Khalid merinding.
HIAAAAA!
Serangan dari berbagai arah, bahkan ada Jenni dan Argus yang juga merupakan pasukan inti yang dimiliki Dark Head. Puluhan orang menyerang, dengan kecepatan tinggi. Bahkan ada yang menggunakan pistol.
DOR!
Tring!
Woosh!
Slash!
Mata Khalid tak percaya, bayangan James menghilang dan muncul di setiap tempat. Dia seperti memiliki bayangan hitam. Mata Khalid sulit untuk mengikuti gerakan James yang meliuk seperti asap atau kilat hitam. Menebas semua musuh yang mencoba menghadangnya.
Seorang pembunuh melompat dan menghunuskan pedang ke arah Shadow Eagle, tapi punggungnya lebih dulu tertembus dagger milik Shadow Eagle.
Crop!
AAAAA!
Teriakan kematian dari setiap serangan Shadow Eagle membuat siapapun merinding ketakutan. Dia seperti dewa kematian yang bergerak bagaikan angin yang menghempaskan debu. Ini bukan lagi pertempuran seorang manusia, Khalid tak percaya melihat kejadian itu. Inspektur Jodi hanya bisa melotot dan membuka mulutnya lebar-lebar. Selama ini, benar yang dikatakan dalam rumor.
Shadow Eagle adalah dewa kematian, dan Jodi melihat dengan matanya sendiri bagaimana Shadow Eagle menghabisi para pembunuh hebat itu dengan kecepatan tinggi. Dari penglihatan inspektur Jodi, yang terlihat adalah cipratan darah dan teriakan kematian yang memekakkan telinga.
”Ini pembantaian, dia bukan manusia!” salah satu pembunuh dari organisasi pembunuh Sky Wing gemetar. Dia bahkan tak bisa menggerakkan kakinya. Dia baru melihat hal ini, seorang pembunuh yang menjadi target pembunuhan. Sungguh mengerikan!
[Mission Credit: Bunuh semua pembunuh yang menargetkan anda]
Sebuah layar portable muncul di depan Bagas. Dia masih belum memahami apa maksud dari semua kesempatan yang diberikan Tuhan padanya. Semua dijalani begitu saja. Apa mungkin, Tuhan sedang melakukan pembersihan para penjahat melalui dirinya?
Namun, Bagas tak peduli. Selama hal itu mampu memenuhi tujuan utamanya, yaitu membalas dendam atas kematiannya. Maka, tak peduli apapun, rasa sakit seperti apapun akan ditanggungnya. Semua itu untuk menghabisi Dark Head hingga ke akar-akarnya. Misi yang muncul kemudian adalah menghabisi semua organisasi pembunuh. Dan, Bagas akan melakukannya hingga akhir!
Wossh!
Srak!
Bagas menembus empat pembunuh sekaligus, menyilangkan dua daggernya dan empat tubuh berteriak sebelum nyawa mereka menghilang.
Masih ada sekitar belasan pembunuh tersisa, Bagas berdiri kembali dan mempersiapkan dua daggernya. Daggernya sudah berlumuran darah. Dari belasan pembunuh di depan Bagas, ada dua orang yang begitu sangat dikenalnya. Mereka adalah Jenni dan Argus. Bagas pun menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Dia menemukan mangsa yang membuat darahnya bergejolak.
James yang menempati tubuh Bagas tersebut, bahkan kembali teringat bagaimana dia terakhir kali melihat wajah keduanya. Hal itu ketika James meregang nyawa karena racun dan tembakan di kepalanya.
”Jenni! Argus!”
Suara Bagas terlihat sangat marah. Jenni dan Argus gemetar di belakang para pembunuh yang tersisa. Mereka adalah pasukan inti dari tujuh organisasi pembunuh yang tersisa untuk menghentikan Shadow Eagle.
”Tidak mungkin! Kami sudah membunuhmu! Kamu bukan James!” suara Jenni gemetaran, tangannya bahkan gemetar ketika memegang pistolnya.
”Bagaimana kamu masih bisa hidup, James!” kali ini, Argus menarik pedang panjangnya. Dia tak peduli apakah yang di depannya adalah James atau bukan. Namun, mereka adalah para pembunuh yang sudah dilatih untuk siap mati. Tidak mungkin ada dewa di dunia ini, pikir Argus. Maka, pasti itu adalah seseorang yang menyamar sebagai James dan hanya ingin membalas dendam karena sesuatu hal.
”Aku tak peduli siapa kamu! Namun, kami semua siap untuk mati dalam pertempuran ini!”
Argus mempersiapkan pedangnya, belasan pembunuh lainnya pun sudah bersiap. Pertarungan akhir akan segera dimulai.
Bagas meluruskan kepalanya, Dagger dipersiapkan.
”Khalid, mulai dari sini kamu hanya akan melihat. Pelajari gerakanku, ini adalah latihan terakhir yang bisa kuberikan padamu!”
Suara Bagas mengingatkan Khalid untuk tidak ikut campur, dia harus belajar bagaimana pelatihan ini adalah pelatihan terakhir untuknya. Khalid pun diam, dan dia mengikuti perintah James untuk memperhatikan pertarungan tersebut.
Wooosh!
Dua orang maju dari pihak pembunuh, melakukan serangan dari depan. Kecepatan mereka seperti assassin yang profesional. Senjata pedang mereka hunuskan, mereka berdua melakukan kombo serangan ke arah Bagas.
Klang!
Kecepatan digunakan Bagas, dia memutar tubuhnya. Bagas menggunakan satu dagger untuk menahan pedang pembunuh di sebelah kanan, mengerahkannya dengan kekuatan penuh dan sekaligus mengenai pedang pembunuh satunya. Dua pedang berbenturan dan Bagas terus mendorong daggernya dengan kuat.
Crush! Brush!
Dagger satunya milik Bagas berputar, kedua pembunuh membesar mata mereka. Mereka tak bisa mengikuti kilatan dagger Bagas dan keduanya sudah tertusuk dengan beberapa tusukan di tubuh mereka.
Bruk!
Bagas menurunkan salah satu kakinya ke lantai, dan saat kaki itu menyentuh lantai dia menggunakan tekanan energi untuk melesat meninggalkan dua mayat yang sudah dijatuhkan. Dia maju dan delapan pembunuh gemetar melihat hal itu. Mereka berada di depan Jenni dan Argus.
HIIIIIAAAA!
Meskipun gemetaran, para pembunuh tak bisa menghindari pertarungan. Mereka pun maju dan menggunakan semua kekuatan mereka. Mereka sudah paham resiko menjadi seorang pembunuh. Meskipun mati, mereka telah mengabdikan diri merekamenjadi pembunuh.
Wooosh!
Crak!
Slash!
Klang!
Lalu..., kedua mata Jenni dan Argus mendelik, membesar. Semua pasukan kuat dari semua organisasi pembunuh dilewati dengan kecepatan tinggi oleh Shadow Eagle dan terjatuh satu-persatu. Mereka baru menyadari satu hal, bahwa mereka memang melihat James dalam tubuh lelaki yang sedang memakai topeng di depan mereka. Pada akhirnya, mata mereka saling beradu. Tak ada yang tersisa dari para pembunuh inti dari tujuh rumah organisasi pembunuh. Tiga orang yang saling melihat. Jenni, Argus dan Bagas.
Di sisi lain, Khalid masih melihat dengan matanya sendiri bagaimana kelincahan James yang selama ini menjadi panutannya. Jodi sudah kelelahan setelah memukul salah satu pembunuh, dia sungguh kelelahan. Sungguh sulit bagi seorang polisi untuk melawan seorang pembunuh yang benar-benar terlatih. Ada luka sobekan di perut inspektur Jodi, untung saja dia memakai rompi anti peluru sehingga lukanya tidak dalam.
Kini, Jodi hanya bisa melihat para pembunuh yang siap untuk saling menghancurkan.
”Jenni masih ingat misi yang pernah kita lalui bersama?” suara Bagas terdengar berat, dia berharap untuk mengingatkan Jenni pada masa-masa mereka pernah bertugas bersama.
Jenni masih terdiam, tapi tangannya gemetaran memegang senapan dan pedang pendeknya.
”Dan ..., Argus,” mata Bagas beralih ke arah Argus yang seperti biasanya, memakai dasi kupu-kupu biru yang selalu dia pakai. Bagas atau James yang menempati tubuh Bagas, dia sangat paham bagaimana Argus suka sekali memakai dasi kupu-kupu tersebut, ”Kamu masih seperti dulu, Argus. Tak bisa lepas dari dasi jelekmu itu!”
Suasana diam sejenak.
”Namun,” Bagas kembali melanjutkan, ”Aku sudah kehabisan waktu untuk kalian. Kalian berdua harus merasakan bagaimana racun yang kalian masukkan dalam minumanku! Tubuhku tercabik dan aku bersumpah untuk membuat kalian membayarnya!”
Suara Bagas diiringi kesumat. Kedua tangan Bagas gemetaran memegang dua daggernya, dan saat angin sepoi menghempaskan helaian rambut Bagas. Kedua pembunuh di depannya menerjang dengan kombo serangan cepat.
Wooosh!
Klang!
Klang!
DOR!
Kecepatan serangan dari Jenni dan Argus menyerang dengan cepat, mereka tak membiarkan sedikitpun celah. Setiap ada celah Bagas yang terbuka, mereka menyerang semua titik buta dan mencoba membunuh Bagas melalui bagian vital.
”Diam kau, James! Aku akan membunuhmu sampai berapa kalipun! Tak peduli harus membunuhmu berapa kali!” teriak Argus yang terus menyerang dengan pedangnya. Kecepatan Argus hanya sedikit di bawah kemampuan James. Dan, James tahu kekuatan Argus sangat kuat. Ditambah Jenni yang memiliki kecepatan dan akurasi tembakannya. Bagas harus mengoptimalkan konsentrasinya.
[Stat dan kemampuan meningkat mengikuti adrenalin anda]
Bagus!
Wossh!
Klang!
Bagas masih bisa mengikuti semua serangan dari Jenni dan Argus, dia mundur dua langkah tapi segera disusul oleh Jenni dan Argus yang terus membombardir dengan serangan cepat dan tembakan mematikan.
DOR!
Dari belakang.
Wooosh!
Slash!
Klang!
Saat Argus menyerang dari depan, Bagas menghindari dengan menunduk. Jenni melihat peluang dan bersiap menebas kepala Bagas yang menghindari serangan Argus.
Wosh!
Beberapa helai rambut Bagas terpotong dengan kecepatan serangan pedang Jenni. Bagas terus menghindari serangan keduanya, tapi dia melihat peluang yang tepat. Dia ingin mencari celah yang tepat. Bahu Jenni terbuka saat menyerangnya.
Peluang!
Serangan dari Argus datang, pedang bersiap menyerang Bagas kembali.
Klang!
Bagas menangis pedang, tapi dia memutar dagger yang menghadang serangan Argus. Kecepatan tangan Bagas menangkap dagger satunya dan menusuk dada atas Jenni.
Slap!
Kena!
Mata Argus menyala, ada peluang. Serangan Argus membalas, Bagas melihat hal itu dan menangkis pedang Argus dengan dagger satunya.
Klang!
Bagas mencoba menarik dagger miliknya yang tertancap di tubuh Jenni, tapi Jenni bersikeras menolak tarikan Bagas. Bagas harus mundur, Jenni memiliki tekat kuat. Dan, di saat terdesak itulah tanan kiri Jenni dengan cepat menembak tubuh Bagas.
DOR!
Tubuh Bagas terdorong dengan dorongan peluru yang menembus tubuhnya.
”James!” teriakan Khalid menandai dengan tubuh Bagas yang terdorong ke belakang.
Apakah ini sudah berakhir?