Kembalinya Magic Assassin
Memberi Pelajaran dengan Cepat
”Cepat merangkak ke sini seperti anjing dan mintalah ampun!” teriak Natan lagi.
”Bagaimana kalau aku tidak mau?” kata Bagas.
Mata Natan membulat, dia tahu bagaimana kekuatan aneh yang dimiliki Bagas sebelumnya. Tiga puluh anak buahnya di sekolah dihajar dengan cepat.
”Aku akan menyiksa Nadia!”
Bagas tersenyum kecil, ”Lakukan saja, dan aku akan melepaskan kepalamu dari tubuhmu!”
Kali ini, Natan dibuat gemetaran. Dia sudah berlatih bela diri dan menjadi orang yang kuat, dia menjadi orang yang selalu bertarung dan banyak memenangkan pertarungan. Kini, dia benar-benar gemetaran pada Bagas yang dahulu tiap hari disiksanya.
”Jangan main-main denganku! Aku tidak akan membiarkanmu dan Nadia hidup tenang! Kalian semua adalah para pelayan dengan kasta rendah!”
Teriak Natan tak bisa lagi menguasai dirinya, kini dia berada di antara para preman yang sudah disewanya. Ayahnya juga mengizinkan Natan untuk menghajar Bagas, dia telah kurang ajar kepada ayahnya itu. Jadi, Natan akan menghabisi Bagas tanpa ampun.
Bagas mulai bergerak, dia melangkah ke arah para preman dan juga Nadia yang diikat. Dia tak takut sama sekali dan berjalan biasa.
Natan kaget, dia benar-benar tidak takut.
”Aku sudah memberikan peringatan padamu, Natan. Jika kamu berani mengganggu Nadia, aku akan menghabisimu!”
Pluk! Pluk!
Bagas terus berjalan mendekat.
”Hentikan dia! Apapun yang terjadi, hancurkan saja dia!” teriak Natan. Perintah itu tentu saja membuat para berandalan itu menggerakkan kepalanya, mereka bergerak bersamaan ke arah Bagas. Mereka diminta menghancurkan seorang bocah, dan itu akan sangat mudah dengan banyaknya jumlah mereka.
Pemuda itu, hanya akan hancur dan tak punya peluang. Ini sangat mudah!
Wooosshhh!
Satu orang maju, menjajaki. Mereka terlalu meremehkan Bagas yang masih pemuda dan terlihat culun. Semakin dekat, satu preman itu menggunakan pukulan tongkatnya. Namun, belum sempat tongkat itu bergerak sepuluh centimeter dari gerakannya, dia sudah terjatuh begitu saja. Tersungkur ke depan.
Wooosshh!
Brug!
Bagas berjalan biasa melewati lelaki pertama yang jatuh. Berjalan tanpa gentar, kini semua memahami. Kecepatan bocah itu, berarti dia mampu mempelajari bela diri.
”Serang semuanya!” teriak Natan.
Puluhan penjahat itu maju, Bagas mempertajam matanya. Serangan dari tiga orang maju bersamaan.
Wooossh!
Bagas menghindari tiga serangan itu dengan cepat, menghindar dan memutar tubuhnya. Bagi Bagas, hal itu mudah. Mereka hanya preman biasa di pinggir jalan.
Bug! Brak!
Bagas memutar tubuhnya di udara, satu pukulan dan dua tendangan mendarat. Ketiganya terpental beberapa meter.
Brush!
Semua preman itu tak percaya, mereka melihat sosok bocah itu terlalu gesit. Bahkan, bisa diperkirakan itu adalah ahli pertarungan. Kini, mereka semua maju bersamaan. Dan, Bagas pun tersenyum.
”Majulah dan matilah kalian semua!”
Woooosshhh!
Brush! Bug! Bug! Brak!
Tidak mungkin!
Natan tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Preman-preman yang dibayarnya, dihancurkan satu-persatu. Bagaimana bisa, Bagas yang lemah itu melakukannya? Bagas seperti menerbangkan orang-orang yang menyerangnya dengan mudah.
Tersisa dua penjahat, Bagas melompat dan mendorong tubuh kedua orang yang tersisa.
Brusshhh!
Srak!
Keduanya bergulingan dan memegangi perut mereka, mereka kesakitan dan tak bangun. Bagas melihat ke arah tiga orang tersisa; Natan dan dua temannya. Nadia masih diikat di sebelah mereka.
”Bebaskan Nadia sebelum aku hancurkan tulang kalian!”
Natan dan kedua temannya gemetar. Mereka seperti sedang melihat monster di depan mereka.
”Sial! Jangan mendekat atau aku akan melukai Nadia!”
Natan mengeluarkan sebilah pisau dari balik pinggangnya. Namun, saat hendak mengarahkan pisaunya ke Nadia untuk mengancam. Bagas sudah tidak bisa mentolerir lagi. Kecepatan gerakan digunakan, zig-zag dengan kecepatan penuh menggunakan kaki kanan dan kiri. Bagas melesat cepat.
Klap!
Sebelum pisau bergerak lebih jauh, pergelangan tangan kanan dipegang Bagas dengan cepat.
AAAAAAHHHH! Lepaskan Aku!
Krak!
Pisau terjatuh, pergelangan tangan Natan seperti hancur dan genggaman tangan Bagas membuatnya tak berdaya dan kesakitan. Dua rekan Natan sudah tak bisa berbuat apapun, mereka terjatuh lemas dan berlari tunggang langgang. Tersisa, Natan seorang diri.
”Aku sudah memberimu toleransi, tapi kamu malah membuatku marah!”
”Ampuni aku, Bagas! Kita adalah sepupu... AAAAHHH!”
Natan menjerit.
”Bagas ...,” suara Nadia terdengar pelan, ”Biarkan dia, dia pasti sudah mendapatkan balasannya.”
Bagas melepaskan genggaman tangannya, tapi bukan jalan seorang pembunuh untuk membiarkan musuh lepas begitu saja.
Brush! Bug!
Tendangan kuat mendarat di perut Natan dengan kuat, Natan kesakitan dan terpental ke belakang, bergulingan beberapa kali dan tak sadarkan diri. Bagas melepaskan ikatan Nadia, dia membawa Nadia pergi dari sana. Mereka pergi meninggalkan banyak orang yang sudah tergeletak dan juga beberapa yang merintih kesakitan.
***
Bagas bersama Nadia memasuki rumah mewah kakek Mahmud. Mereka bertemu dengan Morgan. Betapa kagetnya Morgan melihat puterinya terlihat kotor dan lusuh, dia sangat khawatir dan memeluk puterinya itu.
”Tidak apa-apa Paman, tadi ada preman yang mengganggunya. Aku sudah menghajar mereka semua.”
Bagas mengatakan hal itu sambil berlalu dan masuk ke dalam rumah. Ada kakeknya sedang duduk di ruang tengah. Nadia menganggukkan kepalanya dan mengatakan bahwa apa yang dikatakan Bagas memang benar.
Syukurlah, Bagas datang menolong.
”Duduklah, Bagas cucuku.”
Mahmud duduk sambil memegang tongkatnya, di sekitarnya ada beberapa pelayan yang berdiri dan menjaga tuan mereka. Mahmud adalah seorang tuan tanah yang baik, meskipun dia tahu bahwa beberapa keluarganya menginginkan hartanya, termasuk anak-anaknya.
”Ada apa, Kakek?” tanya Mahmud yang duduk di kursi lain di samping kakeknya.
”Aku sudah mendapatkan banyak informasi. Dan, kakek sudah mengusir pamanmu, Romi. Aku tidak ingin dia datang lagi ke rumah ini. Dia sejak awal memang telah mengincar hartaku, meskipun aku sudah memberikannya harta yang banyak!”
Mahmud terlihat kesal.
”Tenanglah Kek, hidup itu memang kejam. Kadang, hewan yang kita pelihara bisa saja menggigit tuannya.”
Bagas menenangkan kakeknya, Mahmud pun kaget mendengar kebijaksanaan dari kata-kata cucunya itu. Bagas. Cucu yang tidak pernah diperhitungkan, karena dia hanya sekedar anak dari seorang pelayan.
”Bagaimana Ibumu sekarang?” tanya Mahmud heran, dia tak melihat Karina sama sekali.
[Danger, Magic Assassin Skill. Ancaman datang]
Wooossssh!
Insting dan kemampuan mekanis sistem membuat seluruh syarat Bagas bekerja.
Tembakan dari jarak jauh, kecepatan yang tinggi dan kekuatan ledakan yang sangat lirih. Serangan pembunuh!
”Awas, Kakek!”
Brush! Dor!