Kisah Semut yang Menawan
Cicak dan Semut Pembawa Air
Kali ini kita akan bercerita soal kisah semut yang membawa air pada zaman Nabi Ibrahim as.
Kita tahu cerita tentang Nabi Ibrahim as. bukan? Saat Nabi Ibrahim as. hendak dibakar di dalam api yang berkobar-kobar.
Nabi Ibrahim ditangkap oleh Raja Namrud dan tentaranya. Nabi Ibrahim diadili dan ditanyakan oleh kehancuran berhala-berhala patung yang disembah oleh penduduk saat itu. Bapaknya Nabi Ibrahim as. sendiri adalah salah satu pemahat patung yang disembah.
Nabi Ibrahim as. membiarkan dirinya ditangkap dan diadili oleh Raja Namrud sekaligus ingin berdakwah kepada Raja itu. Sebelum menghancurkan berhala-berhala, Nabi Ibrahim as. meletakkan kapak di tangan berhala yang paling besar. Ketika Nabi Ibrahim as. yang dicurigai menghancurkan patung-patung berhala itu.
Ketika ditanya apakah Nabi Ibrahim as. yang menghancurkan berhala-berhala itu, Nabi Ibrahim as. sangat cerdas dan menjawab coba tanyakan kepada berhala paling besar yang memegang kapak. Raja Namrud dan pasukannya bingung, bagaimana bisa patung ditanya soal penghancuran berhala-berhala? Nabi Ibrahim as. pun tersenyum, jika seperti itu kenapa patung-patung itu disembah ketika mereka tak bisa menolong diri mereka sendiri.
Namun, karena Raja Namrud tetap sombong, Dia pun memerintahkan pasukannya agar Nabi Ibrahim as. dibakar hidup-hidup dan disiapkan kayu bakar yang banyak dan api pun menjulang tinggi saking panasnya.
Saat Nabi Ibrahim as. diceburkan ke dalam kobaran api yang besar, Allah swt menyelamatkan Nabi Ibrahim as. dan api itu seolah dingin bagi tubuh Nabi Ibrahim as. Saat api berkobar itulah, ada semut yang membawa setetes air dan berjalan mendekati api.
Seekor burung yang terbang di angkasa melihat semut yang membawa air tersebut. Burung itu terbang merendah dan dekat dengan semut dan bertanya untuk apa dia membawa air setetes seperti itu dan mendekati api yang berkobar mencoba membakar Nabi Ibrahim as. yang berada di dalam api itu?
Semut itu pun menjawab, ”Untuk memadamkan api yang tengah membakar tubuh Nabi Ibrahim as.”
Burung itu pun merasa heran, air yang dibawa semut tentu saja sangat sedikit tak mungkin bisa memadamkan api yang membakar tubuh Nabi Ibrahim as., bahkan air sejumlah iu tidak akan mencapai api dan terkena panasnya saja sudah meleleh.
Burung yang keheranan itu pun berkata sinis, “Tahukah kamu bahwa apa yang kamu lakukan itu tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali kesia-siaan?” ujar binatang tersebut.
Semut yang membawa air itu pun menyadari hal itu dan berkata, ”Yah, tapi dengan setetes air inilah aku menegaskan bahwa dipihak siapa aku berada.”
Semut itu paham bahwa air yang dibawa dan ingin digunakan untuk membantu Nabi Ibrahim as. tidak akan bisa memadamkan api, mungkin hewan lain mengira itu adalah perbuatan sia-sia. Namun, semut itu ingin menunjukkan kepada Pemilik Kehidupan yaitu Allah swt. bahwa semut itu berada di pihak Nabi Ibrahim as., sedangkan orang yang diam saja melihat keburukan dan hanya pasrah juga bisa menjadi bagian dari keburukan itu sendiri.
Dalam kisah di atas juga, bahwa ketika Nabi Ibrahim as. dibakar dalam kobaran api itu. Ada satu hewan yang ikut meniup-niup api yang besar itu agar semakin berkobar, dia adalah cicak. Cicak ini ingin melihat Nabi Ibrahim as. hangus terbakar sehingga dia membantu Raja Namrud.
Dengan cerita di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Semut ingin menjadi bagian dari kebaikan. Cicak yang berbuat keburukan dan ikut keburukan adalah simbol kejahatan, sedangkan burung yang harusnya bisa lebih banyak membawa air daripada semut mengatakan perbuatan semut sia-sia. Burung memberi contoh kepada kita bahwa perbuatannya membiarkan keburukan adalah sama buruknya dengan perbuatan buruk itu karena tidak berdaya ikut mencegah keburukan.
Dari Hadits Nabi saw. berkisah soal hewan yang dilarang untuk dibunuh. Dari Ibnu ‘Abbaas Radhiyallahu Anhu, beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mencegah dari membunuh empat hewan: Semut, lebah, burung -hud, dan burung Shurad,” (HR. Abu Dawuud: 2490).
Berbeda kisah dengan cicak yang pernah mendekati kobaran api yang mencoba membakar Nabi Ibrahim as., Nabi Ibrahim yang merupakan kekasih Allah ini malah membuat Cicak merayap mendekati api itu.
Burung kemudian bertanya kepada cicak tersebut, “Untuk apa kamu merayap mendekati kobaran api tersebut dan membahayakan dirimu.”
Cicak itu pun kemudian menjawab, “Untuk meniup api yang tengah membakar tubuh Nabi Ibrahim agar semakin berkobar.”
“Tahukah kamu bahwa apa yang kamu lakukan itu tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali kesia-siaan?” ujar binatang tersebut.
Cicak itu kemudian mengatakan “Yah, tapi dengan itulah aku menegaskan bahwa dipihak siapa aku berada.”
Rasulullah saw kemudian bersabda setelah menukil kisah diatas, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam,” (HR. Bukhari, no. 3359).
Maka dari itu, seperti itulah manusia beriman. Allah swt dan Kitabnya yaitu Al-Quran memang tidak membutuhkan pembelaan dari manusia. Namun, dengan kita membela agama Allah dan membela Al-Quran dengan menjaga dan mengamalkan Al-Quran kita sedang menegaskan di pihak siapa kita tengah berdiri sebagai seorang muslim yang sebenarnya.
Nabi saw juga menegaskan bahwa Rasulullah saw berada di pihak para pembela Al-Quran sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah bersabda : “Kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para sahabatnya,” (HR. Muslim).
Nah, dengan kisah semut yang luar biasa ini, mari kita mengambil hikmah bahwa kita harus berada di pihak kebenaran. Menolong agama Allah swt., dan menjaga syariat Islam sehingga kita akan bahagia di akhirat kelak dan diakui Allah swt sebagai hamba-hambaNya.