Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Di Balik Bayangan Cinta
Pintu ruang ICU tertutup. Di koridor, Alya masih mematung, pandangannya kosong. Ancaman yang dilontarkan oleh orang tua angkat Rayhan terasa nyata, menusuk hingga ke tulang. Rayhan, yang kini terbaring lemah, adalah satu-satunya orang yang bisa melindunginya, tetapi kini justru dialah yang membutuhkan perlindungan. Ia merasa seolah-olah ditarik ke dalam labirin yang gelap, tanpa peta atau petunjuk.
Rio menghampiri Alya, wajahnya menunjukkan keprihatinan. “Kita harus berhati-hati, Alya. Mereka tidak main-main,” bisiknya.
Alya mengangguk, lalu menoleh ke arah Rio. “Apa yang harus kita lakukan? Apa Rayhan akan baik-baik saja?” tanyanya, suaranya bergetar.
“Rayhan adalah seorang pejuang,” jawab Rio. “Dia akan pulih. Tapi, kita harus bertindak cepat. Aku sudah memberitahu tim hukum Rayhan. Kita harus bersiap untuk pertempuran.”
Alya menatap Rio, bingung. “Pertempuran apa?”
“Pertempuran hukum dan… pertempuran untuk hidupmu, Alya,” jawab Rio, matanya serius. “Mereka akan mencoba untuk memisahkanmu dari Rayhan. Mereka akan menggunakan segala cara, termasuk ancaman dan fitnah.”
Alya merasa takut, namun ia mencoba untuk tetap tegar. Ia tidak akan membiarkan mereka menghancurkan hidupnya, dan terutama, tidak akan membiarkan mereka menyakiti Rayhan. Ia akan berjuang, apa pun risikonya.
Keesokan harinya, Alya menemani Rayhan yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Pria itu masih terlihat lemah, namun matanya memancarkan keteguhan. “Alya… kau tidak perlu berada di sini. Kau bisa pergi,” bisiknya.
“Tidak,” jawab Alya, tegas. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sudah berjanji, kita akan menghadapi ini bersama.”
Rayhan tersenyum tipis. “Terima kasih,” katanya, suaranya lemah.
Beberapa hari kemudian, Rayhan mulai pulih. Ia sudah bisa berjalan, dan pikirannya sudah jernih. Namun, ia masih tertekan. Ancaman dari orang tua angkatnya, yang adalah mafia dan penipu, terus menghantuinya. Mereka meneleponnya setiap hari, mengancam akan menyakiti Alya jika Rayhan tidak kembali kepada mereka.
“Alya, ini terlalu berbahaya. Kau harus pergi,” kata Rayhan suatu malam, saat Alya membawakan makan malam untuknya.
“Aku tidak akan pergi,” jawab Alya, bersikeras. “Aku tidak peduli dengan mereka. Aku hanya peduli padamu.”
Rayhan menghela napas. “Aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Mereka akan menyakitimu, Alya. Mereka akan membunuhmu.”
Alya terdiam, menatap Rayhan. Ia tidak menyangka ancaman itu begitu serius. Namun, ia tidak gentar. Ia mencintai Rayhan, dan ia akan melindunginya.
“Aku tidak takut,” kata Alya, menatap mata Rayhan. “Aku sudah berjanji, aku akan melindungimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan mencari cara untuk mengalahkan mereka.”
Rayhan menatap Alya, matanya berkaca-kaca. Ia memeluk Alya, erat. “Alya… kau adalah satu-satunya orang yang pernah mencintaiku apa adanya. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyakitimu. Aku akan melindungimu dengan seluruh kekuatanku.”
Beberapa minggu berlalu. Rayhan sudah bisa kembali bekerja. Ia dan Rio bekerja sama untuk mengumpulkan bukti kejahatan orang tua angkatnya. Alya juga membantu, mencari informasi di internet dan membantu menyusun dokumen. Namun, mereka tahu, itu tidak akan mudah. Keluarga mafia itu memiliki jaringan yang luas dan kekuasaan yang tak terbatas.
Suatu sore, saat Alya sedang bekerja di kantor, ia menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal. “Aku tahu di mana kamu bekerja. Aku tahu di mana kamu tinggal. Jauhi Rayhan, atau kau akan menyesal.”
Jantung Alya berdebar kencang. Ia segera menelepon Rayhan, namun tidak ada jawaban. Ia panik. Ia tahu, ancaman itu tidak main-main. Ia harus pergi dari sana. Namun, saat ia bangkit dari kursinya, seseorang masuk ke dalam kantornya. Itu adalah seorang pria bertubuh besar dengan mata dingin. Ia menatap Alya, lalu tersenyum sinis.
“Nona Alya, aku punya pesan dari bosku. Jauhi Rayhan. Jika tidak… kau tahu apa yang akan terjadi,” katanya, suaranya mengancam.
Alya merasa takut, namun ia tidak menunjukkan ketakutannya. Ia menatap pria itu, matanya tajam. “Katakan pada bosmu, aku tidak takut. Aku tidak akan pernah meninggalkan Rayhan,” jawabnya, tegas.
Pria itu tertawa. “Kau berani, Nona. Tapi, keberanianmu tidak akan menyelamatkanmu.”
Pria itu pergi, meninggalkan Alya sendirian, ketakutan. Ia segera menelepon Rayhan, dan kali ini, Rayhan menjawabnya. “Rayhan! Mereka datang! Mereka tahu di mana aku bekerja!” teriak Alya, suaranya bergetar.
“Alya, tenang. Aku akan segera ke sana. Tetap di sana. Jangan pergi ke mana pun,” kata Rayhan.
Alya menunggu Rayhan, hatinya berdebar kencang. Ia merasa seperti ada ribuan mata yang mengawasinya. Ia merasa tidak aman. Ia merasa, hidupnya berada dalam bahaya. Saat Rayhan tiba, Alya segera memeluknya. Rayhan memeluknya erat, menenangkannya.
“Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu,” katanya, suaranya meyakinkan.
Rayhan membawa Alya ke sebuah rumah aman. Itu adalah sebuah apartemen kecil di pinggir kota, yang tidak terdaftar di mana pun. “Ini adalah tempat yang aman. Tidak ada yang tahu tempat ini,” kata Rayhan.
Alya menatap Rayhan, hatinya lega. Ia merasa aman di dekatnya. Ia merasa, Rayhan adalah satu-satunya orang yang bisa melindunginya. Namun, ia juga tahu, mereka tidak bisa bersembunyi selamanya.
“Rayhan, kita harus melakukan sesuatu. Kita tidak bisa bersembunyi selamanya,” kata Alya.
Rayhan mengangguk. “Aku tahu. Aku sudah punya rencana. Aku akan menyerahkan diri ke polisi. Aku akan menceritakan semua kejahatan mereka. Aku akan memberikan semua bukti yang kita miliki.”
Alya terkejut. “Tidak! Rayhan! Kau tidak bisa melakukan itu! Mereka akan membunuhmu!” teriaknya.
“Aku tidak punya pilihan lain,” kata Rayhan. “Jika aku tidak melakukan itu, mereka akan terus memburumu. Mereka akan menyakitimu. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
Alya menatap Rayhan, air mata mengalir di pipinya. Ia tidak ingin Rayhan melakukan itu. Ia tidak ingin kehilangannya. Namun, ia juga tahu, itu adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri semuanya.
“Rayhan… aku ikut denganmu,” kata Alya.
Rayhan menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau harus tetap di sini. Ini terlalu berbahaya.”
“Aku tidak peduli!” kata Alya. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan bersamamu, apa pun yang terjadi.”
Rayhan menatap Alya, matanya memancarkan kehangatan dan rasa cinta. Ia tidak bisa menolak. Ia tahu, Alya adalah satu-satunya orang yang ia miliki. Dan ia tahu, mereka harus menghadapi ini bersama.
Mereka pergi ke kantor polisi. Rayhan menceritakan semuanya, tentang orang tua angkatnya, tentang kejahatan mereka, dan tentang ancaman mereka. Polisi merekam semua yang ia katakan, lalu menahannya. “Rayhan… kau akan aman di sini,” kata Alya, memeluknya.
Rayhan tersenyum. “Aku tahu. Kau juga akan aman, Alya.”
Namun, keesokan harinya, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Polisi melepaskan Rayhan. Orang tua angkatnya telah menyuap mereka. Mereka memiliki kekuasaan yang tak terbatas, dan mereka menggunakan kekuasaan itu untuk menghancurkan Rayhan.
“Rayhan! Bagaimana ini bisa terjadi?” teriak Alya, saat mereka bertemu.
Rayhan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu. Mereka memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Kita tidak bisa melawan mereka.”
“Tidak!” kata Alya, tegas. “Kita harus melawan mereka. Kita tidak bisa menyerah.”
Rayhan menatap Alya, hatinya hancur. Ia merasa putus asa. Ia tahu, mereka tidak akan bisa mengalahkan orang tua angkatnya. Mereka terlalu kuat. Mereka terlalu berkuasa. Dan mereka tidak akan pernah berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau.
“Alya… kau harus pergi,” kata Rayhan. “Kau harus lari. Kau harus memulai hidup baru. Aku tidak bisa melindungimu lagi.”
Alya menatap Rayhan, hatinya hancur. Ia tidak bisa percaya bahwa Rayhan menyerah. Ia tidak bisa percaya bahwa Rayhan ingin meninggalkannya. Ia tidak bisa percaya bahwa cinta mereka akan berakhir.
“Tidak, Rayhan,” bisik Alya, air mata membasahi pipinya. “Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan menghadapi ini bersama. Kita akan mencari cara untuk mengalahkan mereka. Aku mencintaimu, Rayhan. Dan cinta ini akan memenangkan segalanya.”
Rayhan menatap Alya. Ia melihat keteguhan di mata Alya, dan ia tahu, Alya tidak akan pernah menyerah. Ia tahu, Alya akan berjuang untuknya, apa pun risikonya. Namun, di dalam hatinya, Rayhan tahu, perjuangan itu akan sangat sulit, dan mereka mungkin akan kalah. Apakah cinta mereka akan cukup kuat untuk menghadapi semua bahaya yang akan datang? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Alya memegang tangan Rayhan, erat. Ia menatap matanya, berharap bisa memberikan kekuatan. Di balik mata Rayhan, ia melihat ketakutan yang dalam, sebuah ketakutan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ketakutan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Alya. Ia tahu, Rayhan akan melakukan apa saja untuk melindunginya, bahkan jika itu berarti mengorbankan dirinya sendiri. Dan itu adalah hal yang paling ditakuti Alya: Kehilangan Rayhan, selamanya.