Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Jerat Balas Budi

Hujan turun deras malam itu, menampar kaca jendela apartemen kecil yang mereka jadikan rumah aman. Suara gemuruh guntur sesekali menggetarkan langit, seakan menegaskan bahwa badai bukan hanya terjadi di luar sana, tetapi juga di dalam hidup Alya dan Rayhan.

Di ruang tamu sempit yang diterangi lampu redup, Alya duduk bersila di sofa, memeluk kedua lututnya. Ponselnya masih terbuka dengan layar pesan ancaman yang ia terima sore tadi. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, menimbulkan sensasi dingin yang merambat dari tengkuk hingga tulang belakang.

Rayhan keluar dari kamar tidur. Rambutnya masih basah, kemejanya dibiarkan terbuka dua kancing. Wajahnya terlihat letih, tapi sorot matanya tajam. Ia membawa map tebal berisi kertas-kertas yang sudah kusut karena sering dibolak-balik.

“Alya,” suaranya berat, “aku sudah memikirkan semuanya. Kita tidak bisa lagi hanya bersembunyi. Kita harus menyerang balik.”

Alya mengangkat wajahnya. “Menyerang balik? Bagaimana maksudmu?”

Rayhan duduk di sampingnya, meletakkan map di meja kecil. “Kita punya bukti, cukup banyak. Transaksi gelap, rekening siluman, nama-nama orang yang mereka beli. Kalau kita kirimkan semuanya sekaligus ke media, ke publik, mereka tidak bisa menutupinya dengan uang. Skandal sebesar ini akan meledak.”

Alya menelan ludah. Ia tahu Rayhan berani, tapi juga tahu kekuatan musuh mereka bukan main-main. “Tapi… bukankah itu sama saja mengundang mereka datang membunuh kita?”

Rayhan menatapnya lama. Ada keraguan di matanya, namun juga keberanian yang terpaksa ia kumpulkan. “Aku lebih rela mereka datang padaku daripada terus hidup dalam bayang-bayang. Kita tidak bisa menunggu sampai mereka menyerangmu lagi.”

Keheningan menggantung di antara mereka. Hanya suara hujan yang mengguyur jendela, seperti denting waktu yang terus berjalan.

Alya meraih map itu, membuka halaman demi halaman. Foto kopi dokumen transfer, catatan angka-angka, dan catatan tangan Rayhan tentang percakapan rahasia dengan Rio. Jarinya bergetar saat menyentuh kertas itu. “Rayhan… kalau kita lakukan ini, tidak ada jalan kembali. Mereka akan tahu kita yang membocorkan semuanya.”

Rayhan meraih tangan Alya, menutup map itu dengan lembut. “Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku berjanji.”

 

Keesokan paginya, suasana apartemen berubah tegang. Rio datang tergesa-gesa, mantel panjangnya basah kuyup. Ia langsung menutup pintu rapat-rapat, lalu berbisik, “Kalian harus segera pergi dari sini. Ada orang yang mengawasi gedung ini. Aku hampir ketahuan.”

Alya terperangah. “Mereka sudah menemukan kita?”

Rio mengangguk cepat. “Waktu kalian tidak banyak. Kita harus pindah sebelum malam.”

Rayhan berdiri, meninju meja. “Tidak! Kita tidak bisa terus melarikan diri. Kita harus menyerang balik, Rio. Malam ini juga, semua dokumen ini harus keluar.”

Rio menatapnya serius. “Aku tidak menentangmu, Rayhan. Tapi kau tahu siapa yang kita hadapi. Mereka bukan hanya mafia. Mereka punya tangan di kepolisian, pengadilan, bahkan media besar. Jika kita salah langkah, semua bukti ini akan hilang dan kalian… mati sia-sia.”

Suara Rio terputus oleh ketukan keras di pintu. Tiga kali, berat, teratur. Alya menegang, napasnya tercekat.

“Siapa itu?” bisiknya.

Rayhan memberi isyarat agar ia diam. Ia meraih pisau dapur yang tergeletak di meja, lalu berjalan perlahan ke pintu. Rio berdiri di belakangnya, siap dengan tongkat besi yang ia sembunyikan di dalam mantel.

Ketukan kembali terdengar. Kali ini disertai suara berat dari luar. “Rayhan… buka pintunya. Kita hanya ingin bicara.”

Alya menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya gemetar. Ia mengenali suara itu—suara pria besar yang kemarin datang ke kantornya.

Rayhan menoleh ke Alya. “Masuk kamar. Kunci dari dalam. Jangan keluar sampai aku bilang.”

“Aku tidak mau—”

“Sekarang, Alya!” suara Rayhan tajam.

Alya akhirnya menurut, meski air mata menetes di pipinya. Ia masuk ke kamar dan menutup pintu, menempelkan telinga ke kayu tipis itu.

Rayhan membuka pintu sedikit. Sosok pria besar dengan jas hitam berdiri di depan, ditemani dua orang lainnya. Mereka masuk tanpa diundang, seolah tempat itu milik mereka.

Pria besar itu tersenyum sinis. “Kau membuat bos kami kecewa, Rayhan. Kau sudah lupa siapa yang membesarkanmu? Jangan coba-coba melawan.”

Rayhan menatapnya tajam. “Aku tidak pernah lupa. Justru karena aku ingat, aku muak dengan semua yang kalian lakukan.”

Pria itu mendekat, menepuk pundak Rayhan dengan kasar. “Kau keras kepala, Nak. Tapi ingat… gadis itu bisa menghilang kapan saja. Kau tahu kami tidak bercanda.”

Rio menyela, suaranya dingin. “Kalau kalian berani menyentuhnya, semua bukti kejahatan kalian akan bocor besok pagi. Aku jamin media internasional akan memuatnya.”

Pria besar itu menoleh pada Rio, matanya menyipit. Lalu ia tertawa rendah. “Oh, jadi kalian sudah sejauh ini? Bagus. Sangat bagus. Itu artinya bos kami tidak salah. Kalian memang pengkhianat. Dan pengkhianat hanya punya dua pilihan: kembali ke kandang, atau mati di jalan.”

Ucapan itu membuat udara di ruangan seakan membeku. Rayhan mengepalkan tangan, pisau dapur masih tersembunyi di balik punggungnya.

Di balik pintu kamar, Alya mendengar semuanya. Dadanya sesak, seakan jantungnya akan pecah. Ia ingin keluar, ingin berdiri di samping Rayhan, tapi kakinya terkunci oleh ketakutan. Suara tawa pria besar itu bergema di telinganya, membuatnya semakin yakin bahwa mereka tidak akan berhenti sampai Rayhan hancur.

Tiba-tiba suara benturan keras terdengar. Alya menjerit pelan. Ia membuka sedikit pintu dan melihat Rayhan berkelahi dengan salah satu pria. Pisau berkilat di tangannya. Rio juga melawan, tongkat besi menghantam lengan lawan.

Ruangan kecil itu berubah menjadi medan pertempuran. Meja terbalik, kaca pecah, darah menetes di lantai.

Pria besar itu hanya berdiri di tengah, menonton dengan senyum puas. “Lihatlah, Rayhan. Kau tidak akan pernah menang. Kau hanya anak kecil yang lupa cara tunduk.”

Rayhan terengah, wajahnya memerah karena amarah. “Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut di bawah kalian!”

Pria besar itu akhirnya bergerak. Tangannya yang kekar mencekik Rayhan hingga tubuhnya menempel ke dinding. Alya menjerit, keluar dari kamar tanpa pikir panjang. “Lepaskan dia!”

Semua orang menoleh. Pria besar itu tertawa, lalu mengendurkan cekikannya. “Ah, nona kecil yang keras kepala. Akhirnya keluar juga.”

Rayhan berusaha menahan Alya. “Jangan dekati dia, Alya! Kembali ke kamar!”

Tapi Alya tidak mundur. Ia menatap tajam pria besar itu, meski tubuhnya gemetar. “Kalau kau menyentuh Rayhan lagi, aku bersumpah dunia akan tahu siapa kalian.”

Pria besar itu menunduk, wajahnya semakin dekat dengan Alya. Napasnya bau alkohol. “Kau cantik kalau marah. Sayang sekali keberanianmu tidak akan berguna.”

Tangannya bergerak cepat, menarik lengan Alya. Ia menjerit kesakitan. Rayhan mengamuk, melompat dengan tenaga terakhirnya, menikam bahu pria itu dengan pisau.

Suara teriakan menggema. Darah mengalir. Ruangan seketika kacau.

Rio berteriak, “Alya, lari sekarang!”

Namun sebelum Alya sempat bergerak, pintu apartemen dihantam dari luar. Suara langkah sepuluh orang lebih memenuhi lorong. Suara senjata dikokang terdengar jelas.

Alya membeku. Rayhan yang masih berlumuran darah menoleh padanya, matanya penuh kepanikan.

“Alya… sembunyi sekarang!”

Pintu apartemen terbuka lebar, dan sosok baru muncul—seorang pria tua dengan jas hitam rapi, tatapannya dingin bagai es. Alya langsung mengenalinya meski belum pernah bertemu: ayah angkat Rayhan.

Pria itu melangkah masuk dengan tenang, diiringi anak buah bersenjata. Suasana mendadak hening, seolah semua suara hujan pun terhenti.

Ia menatap Rayhan, lalu Alya. Senyum tipis terbentuk di bibirnya.

“Akhirnya… aku menemukanmu, Nak. Dan juga… perempuan yang membuatmu berani melawan.”

Alya merasakan bulu kuduknya berdiri. Dunia di sekitarnya berputar. Ia tahu, inilah awal dari mimpi buruk yang sebenarnya.

Sosok ayah angkat Rayhan muncul langsung di hadapan mereka, bersama pasukan bersenjata, menjebak Alya dan Rayhan tanpa jalan keluar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!