Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Pelarian

Mereka terus melaju. Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah dermaga kecil. Di sana, sudah menunggu sebuah kapal kecil yang terombang-ambing di atas air. Rayhan mematikan mesin, lalu menoleh pada Alya.

“Kita harus berlayar sekarang,” katanya. “Sebelum mereka menemukan kita.”

Alya tidak berani bertanya lagi. Ia hanya mengangguk, lalu keluar dari mobil dan mengikuti Rayhan menaiki kapal. Angin malam yang dingin menusuk tulang, namun tidak sedingin ketakutan yang merayap di dalam hatinya.

Rayhan menyalakan mesin kapal. Mesin itu berbunyi dengan suara pelan dan lembut, membelah malam yang sunyi. Kapal itu perlahan bergerak menjauhi dermaga, menjauhi daratan.

“Rayhan…” Alya memanggil namanya.

Rayhan menoleh, menatapnya. Matanya terlihat sedih. “Maafkan aku, Alya. Aku sudah menyeretmu ke dalam semua ini. Seandainya aku tidak pernah bertemu denganmu…”

“Jangan bicara seperti itu,” potong Alya. Ia mendekat, meraih tangan Rayhan. “Kita hadapi ini bersama. Seperti katamu, kau tidak akan membiarkanku sendirian.”

Rayhan tersenyum tipis. Ia mengangguk.

Mereka berdua berdiri di dek kapal, menatap daratan yang semakin lama semakin menjauh. Alya tahu, ini bukanlah akhir. Ini hanyalah permulaan. Permulaan dari petualangan berbahaya, di mana mereka harus bertahan hidup. Tapi ia tidak takut. Ia berada di sisi Rayhan.

Di tengah lautan yang gelap dan luas, Alya memejamkan mata. Ia membayangkan masa lalu yang pahit, masa lalu yang ingin ia lupakan. Masa lalu yang mempertemukannya dengan seorang dokter yang kini menjadi satu-satunya harapan hidupnya. Tapi apakah dia benar-benar harapan? Atau hanya sebuah ilusi yang membawa Alya ke dalam labirin tanpa jalan keluar?

Sebuah pesan masuk ke ponsel Alya. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.

“Pernahkah kau berpikir, mengapa ayah angkatmu begitu mudah melepaskanmu? Dan mengapa Rayhan dengan begitu mudahnya menyelamatkanmu? Jerat ini terlalu besar untuk kalian, sayang. Dan kau… baru saja berjalan ke dalam perangkap yang sesungguhnya.”

Tubuh Alya menegang. Ia melihat ke arah Rayhan, yang sedang fokus mengemudikan kapal. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu siapa yang mengirim pesan itu.

Apakah ia benar-benar diselamatkan? Atau ia hanya dipindahkan dari satu jerat, ke jerat yang lain?

Lautan di bawah mereka terasa bergejolak, seakan mencerminkan badai di dalam hati Alya. Ia tidak tahu lagi siapa yang bisa ia percaya. Ia hanya bisa menatap punggung Rayhan, sosok yang ia pikir adalah penyelamatnya, dan berdoa dalam hati… bahwa semua ini bukanlah sandiwara yang lebih mengerikan dari yang ia bayangkan.

Ponsel di tangan Alya terasa panas. Bukan karena suhu, melainkan karena pesan yang baru saja ia baca. Setiap kata seolah ditorehkan dengan pisau, menggores lapisan kepercayaan yang baru saja ia bangun. Ia melirik punggung Rayhan, yang tegap mengemudikan kapal. Lautan di sekitar mereka gelap, hanya dihiasi cahaya rembulan yang sesekali tersembunyi di balik awan. Alya merasa seperti seekor ikan yang baru saja melarikan diri dari jaring nelayan, hanya untuk dilemparkan ke dalam lautan yang penuh dengan hiu.

“Pernahkah kau berpikir, mengapa ayah angkatmu begitu mudah melepaskanmu? Dan mengapa Rayhan dengan begitu mudahnya menyelamatkanmu? Jerat ini terlalu besar untuk kalian, sayang. Dan kau… baru saja berjalan ke dalam perangkap yang sesungguhnya.”

Jari Alya gemetar saat menghapus pesan itu. Ia menoleh ke belakang, ke arah daratan yang kini hanya terlihat sebagai garis tipis di cakrawala. Ia teringat Bu Ratna, ibu angkatnya yang selalu tersenyum manis namun menyembunyikan rencana keji. Ia teringat Soni, pria tua berhidung bengkak dengan tatapan mesum. Dan kini, ia tahu, mereka semua hanyalah pion. Pion yang dimainkan oleh sosok-sosok yang lebih besar, lebih kejam.

“Kenapa kamu diam saja?” suara Rayhan memecah keheningan. Ia menoleh sebentar, memindai wajah Alya yang pucat. “Kamu sakit?”

Alya menggeleng. Ia tidak bisa menjawab. Rasanya ada batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Ia ingin bertanya, ingin menuntut penjelasan, tapi ia takut. Takut akan jawaban yang akan ia dapatkan. Apa mungkin pesan itu benar? Bahwa semua ini adalah bagian dari sandiwara? Sebuah jebakan yang dibuat sedemikian rupa untuk melenyapkan mereka—atau lebih tepatnya, melenyapkan Rayhan?

Kapal terus berlayar, membelah ombak. Hujan sudah berhenti, digantikan oleh angin malam yang menusuk kulit. Alya kembali menatap punggung Rayhan. Punggung yang kokoh, yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Tetapi sekarang, punggung itu terasa asing. Ia melihat luka di bahu Rayhan, yang kini sudah mengering. Rayhan tidak mengeluh sedikit pun. Sifatnya yang kuat, yang selama ini membuatnya merasa aman, kini justru menimbulkan kecurigaan. Bagaimana mungkin seorang dokter bisa bertarung seperti itu? Bagaimana ia bisa memiliki gudang rahasia, koper berisi uang, dan dokumen-dokumen penting?

Semua potongan teka-teki itu kini terasa janggal.

“Rayhan…” panggilnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih mantap.

Rayhan menoleh, menatapnya penuh perhatian. “Ya, Alya?”

“Ceritakan semuanya padaku,” pintanya. “Dari awal. Siapa ayah angkatmu? Mengapa ia begitu membencimu? Dan… mengapa kamu memiliki semua ini?” Alya mengarahkan tangannya ke arah ransel dan dokumen yang mereka bawa. “Kamu bukan hanya seorang dokter, kan?”

Rayhan menghela napas panjang. Ia menghentikan kapal, membiarkannya mengapung di atas ombak. Lalu ia duduk di samping Alya, menatap lurus ke depan.

“Kamu benar,” katanya, suaranya pelan. “Aku bukan hanya seorang dokter. Dulu, aku adalah bagian dari dunia mereka. Dunia Ayah.”

Alya meremas tangannya, menunggu Rayhan melanjutkan.

“Ayah menemukanku di jalanan saat aku berusia sepuluh tahun,” lanjut Rayhan. “Aku tidak punya siapa-siapa. Aku… aku adalah anak yatim. Dia mengangkatku, memberiku nama keluarga, menyekolahkanku. Dia memperlakukanku seperti putranya sendiri. Tapi aku tidak tahu, semua itu ada harganya.”

“Harga apa?”

“Kesetiaan buta,” jawab Rayhan, suaranya getir. “Dia melatihku. Mengajarkanku bertarung, menggunakan senjata. Dia ingin aku menjadi penerusnya. Menjadi bagian dari kerajaan bisnis kotornya. Aku menolak.”

“Kenapa?”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!