Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Pengkhianat
"Sepertinya… sepertinya ada yang menyabotase mesinnya. Mungkin… ada pengkhianat di antara anak buahku…”
Rayhan menatapnya, matanya menyipit. “Kamu bilang kita akan aman.”
“Aku tahu, tapi…”
Rio tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena tiba-tiba, sebuah pistol ditembakkan. Bukan dari kapal musuh. Pistol itu dipegang oleh salah satu anak buah Rio.
Peluru itu melesat cepat, mengenai dada Rio. Rio menatapnya tidak percaya, lalu jatuh tersungkur ke lantai.
Anak buah itu menoleh pada Rayhan dan Alya. Ia tersenyum sinis. “Maafkan aku, dokter. Tapi tawaran bosmu jauh lebih menarik dari tawaranmu.”
Alya menjerit. Ia meraih tangan Rayhan, mundur perlahan. Mereka terjebak. Di tengah lautan, tanpa mesin kapal, dengan seorang pengkhianat di dalam kapal, dan puluhan kapal musuh yang mengepung mereka.
Rayhan memeluk Alya, melindunginya. Matanya menatap tajam ke arah anak buah itu, lalu ke arah lautan di sekitarnya. Ayah angkatnya tidak main-main. Ia mengirim armada untuk menangkap Rayhan.
“Serahkan gadis itu, Rayhan,” kata anak buah itu. “Bos hanya ingin dia. Kau bisa lolos.”
“Tidak akan,” jawab Rayhan, suaranya dingin.
Anak buah itu mengangkat pistolnya, mengarahkannya ke kepala Rayhan. “Kau keras kepala.”
“Lebih baik mati daripada membiarkanmu menyentuhnya,” jawab Rayhan, matanya memancarkan tekad.
Tiba-tiba, suara tembakan kembali terdengar. Anak buah itu terhuyung, lalu jatuh. Di belakangnya, berdiri seorang pria berambut abu-abu, memegang pistol.
Alya menatap pria itu. Ia mengenalinya. Pria itu adalah… Rio. Pria yang baru saja ditembak.
Rio menatapnya, bibirnya pucat, darah mengalir dari dadanya. “Aku tidak akan pernah… mengkhianatimu, Rayhan…”
Ia tersenyum tipis, lalu ambruk ke lantai, tak sadarkan diri.
Rayhan berlutut di samping Rio. Ia menyentuh nadinya. Tidak ada. Rio sudah tiada.
Alya menangis. Rio… pria yang selalu membantu mereka, yang selalu ada untuk mereka, telah mengorbankan nyawanya.
“Mereka… membunuh Rio…” bisik Alya.
Rayhan bangkit. Ia menatap ke lautan yang gelap, ke arah kapal-kapal yang mengepung mereka. Ia meraih tangan Alya, membawanya ke bagian belakang kapal.
“Kita tidak punya pilihan,” katanya. “Kita harus melompat.”
“Melompat? Ke mana?”
“Ke laut.”
Alya menatapnya tidak percaya. “Kita bisa mati kedinginan. Kita bisa tenggelam.”
“Kita juga bisa mati di sini. Kita tidak punya pilihan lain,” kata Rayhan. Ia merobek kain dari bajunya, mengikatnya ke luka di bahunya. “Dengarkan aku. Saat aku bilang, lompat.”
Alya menatapnya, matanya dipenuhi ketakutan. “Tapi… kalau kita terpisah? Bagaimana kalau kita tidak bertemu lagi?”
Rayhan menatapnya, air mata menggenang di sudut matanya. Ia mencium kening Alya, lama. “Aku janji, Alya. Aku akan menemukanmu. Aku janji.”
Lampu sorot dari kapal-kapal lain kini menyinari kapal mereka. Teriakan-teriakan dari jauh terdengar. Rayhan menoleh ke belakang, ke arah mereka.
“Sekarang!” teriaknya. Ia melompat ke laut, membawa Alya bersamanya.
Air laut yang dingin dan gelap menyelimuti mereka. Napas Alya tercekat. Ia meraih tangan Rayhan, memegangnya erat. Mereka tenggelam ke dalam kegelapan.
Ia melihat ke atas. Di permukaan, lampu-lampu sorot dari kapal musuh bertebaran. Siluet-siluet bersenjata terlihat jelas.
Alya menatap Rayhan, yang terus membawanya tenggelam. Ia tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Ia hanya tahu, di lautan tanpa batas ini, mereka sendirian.
Tiba-tiba, tangan Rayhan terlepas. Alya mencoba meraihnya. Tapi ia tidak bisa. Arus yang kuat memisahkan mereka. Alya melihat Rayhan terseret ke dalam kegelapan, jauh darinya.
Ia menjerit, tapi tidak ada suara yang keluar. Alya melihat tangannya terlepas, dan ia sendirian, di tengah lautan yang gelap dan dingin.
Lalu, sebuah tangan lain meraihnya. Alya menoleh. Itu bukan Rayhan. Itu adalah seorang pria yang tidak ia kenal. Pria itu tersenyum, menyeringai padanya. Dan Alya tahu… ia sudah masuk ke dalam perangkap yang sesungguhnya.
Pria itu menarik Alya ke atas, ke permukaan air, menjauhi kapal-kapal musuh. Tangan Alya berpegangan erat pada lengannya, mencoba melepaskan diri, tapi cengkeramannya begitu kuat. Alya meronta, berteriak, “Lepaskan aku! Rayhan! Rayhan!”
“Percuma,” bisik pria itu dengan suara serak. “Dia sudah hilang.”
Pria itu membawa Alya ke sebuah perahu karet kecil yang tersembunyi di balik tumpukan sampah laut. Begitu sampai di perahu, ia mengikat tangan dan kaki Alya. Alya terus meronta, air mata mengalir deras di pipinya. “Siapa kau?”
“Aku pengawal Ayah angkat Rayhan,” jawab pria itu, matanya berkilat di bawah cahaya remang. “Namaku Raka. Jangan khawatir, kami tidak akan menyakitimu. Bos hanya ingin bertemu denganmu.”
Raka menyalakan mesin perahu. Mereka melaju cepat, meninggalkan area di mana kapal-kapal musuh masih mencari-cari. Alya menoleh ke belakang, hatinya hancur. Ia melihat lampu sorot menyapu permukaan laut, mencari mereka. Tapi tidak ada tanda-tanda Rayhan. Janji itu… janji Rayhan untuk menemukannya…
Air mata Alya mengering, digantikan oleh amarah dan tekad. Rayhan pasti masih hidup. Ia harus bertahan. Ia harus menemukan Rayhan.
Perjalanan itu terasa sangat lama. Setelah beberapa jam, mereka tiba di sebuah pulau kecil yang gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, kecuali sebuah mercusuar tua di puncak bukit. Raka mendorong Alya menuju mercusuar itu.
Di dalam mercusuar, ada seorang pria tua duduk di kursi, memunggungi mereka. Ia memiliki rambut seputih salju dan bahu yang lebar. Ia menoleh, dan Alya melihat wajah yang familiar, wajah yang sering muncul di berita. Ia adalah Santoso, ayah angkat Rayhan.
Santoso menatap Alya dengan senyum tipis. “Selamat datang, Nona Alya.”
Alya tidak menjawab. Ia hanya menatap lelaki tua itu, kebencian membara di matanya. “Di mana Rayhan?”
“Rayhan?” Santoso tertawa kecil. “Dia… sedang dalam perjalanan menuju tempat yang seharusnya dia tuju.”
“Apa maksudmu?”
“Dia harus kembali padaku. Dia harus menerima takdirnya. Sama sepertimu,” jawab Adrian. “Kau tahu, Nona Alya, kau adalah kunci. Kunci untuk membawanya kembali padaku.”
“Aku bukan kunci,” bentak Alya.
Pria itu mengabaikan Alya, matanya menatap tajam ke luar jendela. “Rayhan selalu keras kepala. Dia selalu menentangku. Tapi aku tahu kelemahannya. Kau adalah kelemahannya.”
Alya menatapnya, lalu pada Raka yang berdiri di sampingnya. Ia menyadari sesuatu. “Kau yang menyabotase mesin kapal. Kau yang menyuruh anak buah Rio menembaknya.”
Ayah angkat Rayhan tersenyum. “Tepat sekali. Pengkhianat itu hanya pion. Aku tahu Rio setia pada Rayhan. Aku tahu dia tidak akan pernah mengkhianati Rayhan, jadi aku harus menyingkirkannya.” Santoso bangkit, berjalan mendekat, dan berjongkok di hadapan Alya. “Rayhan akan datang mencarimu.” Ia menyeringai.
Alya menatap Santoso, lalu tersenyum tipis. “Kau… meremehkannya, Pak Tua. Kau tidak tahu seberapa kuat Rayhanku.”
Pria tua itu hanya tertawa. “Kita lihat saja nanti, Nona Alya. Bocah tak tahu diri itu atau aku.”
Suara deru helikopter tiba-tiba terdengar di luar. Raka melirik bosnya yang hanya mengangguk. Alya merasakan adrenalinnya memuncak. Apakah itu Rayhan? Apakah dia benar-benar datang mencarinya?
Raka mendorong Alya ke sebuah ruangan kecil. “Jangan coba-coba lari,” bisiknya.
Alya tak merespon. Namun tekad di hatinya semakin kuat. Ia tidak akan lari. Ia akan menunggu kedatangan Rayhan. Dan ketika Rayhan datang, ia akan berjuang bersamanya.