Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Lolos dari Maut

Lampu mercusuar tua itu menyapu kegelapan, memutar dengan ritme yang lambat dan mengantuk, kontras dengan gemuruh helikopter yang semakin kencang. Alya mengintip dari balik celah pintu. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul dadanya seperti palu. Harapan dan ketakutan bercampur aduk menjadi satu. Ini Rayhan. Dia yakin. Dia merasakan itu.

Pintu tiba-tiba terbuka. Raka, dengan wajah datar dan mata awas, memintanya untuk tetap tenang. "Jangan coba-coba berulah," bisiknya, lalu melangkah keluar.

Di luar, hembusan angin dari baling-baling helikopter mengibaskan rambut Santoso. Sosok itu berdiri tegak, memancarkan aura kekuasaan dan kepercayaan diri. Santoso tak menyia-nyiakan waktunya, dia langsung berteriak, suaranya menggelegar menembus deru angin. “Rayhan! Tunjukkan dirimu! Jangan jadi pengecut!”

Alya menoleh, matanya mencari-cari ke segala arah. Helikopter itu mendarat di area terbuka tidak jauh dari mercusuar. Namun yang keluar dari sana bukanlah Rayhan. Melainkan puluhan pria bersenjata yang memakai seragam hitam dan membawa senjata laras panjang. Alya merasa kecewa, namun tidak terkejut. Rayhan tidak mungkin datang sendirian. Santoso sudah bersiap untuk ini.

"Mana Rayhan?" Santoso berteriak lagi. "Kau pikir aku tidak tahu rencanamu? Kau pikir aku akan membiarkanmu lolos begitu saja?"

Seorang pria di balik pasukan Santoso mengangkat tangannya. Pria itu memakai jaket kulit hitam, dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Ia berjalan pelan, dengan tenang, tidak terpengaruh oleh puluhan senjata yang mengarah padanya. Ia melepaskan tudungnya, dan rambut hitam pekatnya terlihat jelas. Itu Rayhan.

Senyum puas terukir di bibir Santoso. “Kau datang juga,” bisiknya, suaranya merendah. “Aku tahu kau tidak akan membiarkan gadis itu.”

Rayhan tidak menjawab. Tatapannya lurus, dingin, dan penuh tekad. Ia menoleh ke arah mercusuar, ke tempat di mana Alya bersembunyi. Seolah-olah mata mereka bertemu, meskipun jarak memisahkan mereka. Alya merasakan hatinya menghangat. Ia tidak sendirian. Rayhan datang.

“Serahkan gadis itu, Rayhan,” Santoso berkata, suaranya kembali menggelegar. “Dan kau bisa lolos.”

Rayhan akhirnya membuka mulutnya. “Aku tidak akan pernah meninggalkannya,” jawabnya dengan suara yang tenang namun tegas. “Dia akan pergi bersamaku.”

“Kau salah, Nak,” Santoso tertawa. “Kau tidak akan bisa pergi ke mana-mana. Kau dikepung.”

“Aku tahu,” jawab Rayhan, bahunya terangkat. “Tapi kau juga dikepung.”

Santoso mengerutkan kening. Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari hutan di belakang mereka. Bukan hanya satu, melainkan puluhan. Orang-orang Santoso jatuh, satu per satu. Pasukan Rayhan menyerbu keluar dari balik pepohonan, menembak dengan akurat dan cepat. Mereka adalah para profesional, terlatih dan terorganisir.

Raka bereaksi cepat. Ia segera melangkah masuk ke dalam mercusuar, mencengkeram lengan Alya. “Ikut aku!”

Alya menarik tangannya, meronta. “Lepaskan aku!”

“Jangan bodoh, Nona!” bentak Raka. “Kau akan jadi jaminan Rayhan!”

Alya menendang tulang kering Raka dengan sekuat tenaga. Pria itu meringis kesakitan, cengkeramannya mengendur. Alya memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri, berlari sekuat tenaga ke arah suara tembakan.

Di luar, pertempuran berkecamuk. Lampu mercusuar yang berputar-putar menciptakan bayangan-bayangan yang menari di antara pepohonan. Peluru-peluru berdesing di udara, suara tembakan yang memekakkan telinga. Alya berlari, matanya mencari-cari Rayhan. Ia melihatnya, berdiri di tengah-tengah kekacauan, memimpin pasukannya dengan tenang dan efisien.

Santoso menatap pemandangan itu, rahangnya mengeras. Ia tidak menyangka Rayhan akan datang dengan persiapan seperti ini. “Kau… berani melawanku?” bisiknya.

“Aku selalu melawamu,” jawab Rayhan, suaranya dingin. “Sejak dulu.”

Santoso tertawa, tawa yang sinis dan berbahaya. Ia mengangkat tangannya. Sebuah helikopter lain muncul dari balik bukit, terbang ke arah mereka. “Kau mungkin memiliki pasukan, tapi aku punya lebih banyak,” katanya. “Kau tidak bisa menang, Rayhan.”

Rayhan menoleh ke arah Alya yang berlari ke arahnya. Matanya memancarkan ketakutan. “Alya, pergi!” teriaknya.

Tapi Alya tidak mendengarkannya. Ia terus berlari, air mata mengalir di pipinya. Ia hanya ingin berada di dekat Rayhan. Ia tidak akan meninggalkannya. Ia tidak akan membiarkannya sendirian.

Tiba-tiba, sebuah tangan meraihnya dari belakang. Itu Raka. Ia memeluk Alya dari belakang, sebuah pistol ditempelkan ke pelipisnya. “Jangan bergerak!” bisiknya.

Rayhan melihatnya. Matanya melebar karena terkejut. Ia menurunkan senjatanya. “Jangan sakiti dia,” bisiknya.

“Berhenti, Rayhan!” teriak Santoso, suaranya penuh kemenangan. “Atau aku akan membunuh gadis itu!”

Alya gemetar. Ia menatap mata Rayhan, matanya penuh rasa sakit. “Rayhan… jangan… jangan menyerah… karenaku…”

“Aku tidak akan membiarkanmu mati,” jawab Rayhan, suaranya penuh tekad. Ia mengangkat tangannya, seolah menyerah.

Tiba-tiba, sebuah suara lain terdengar. Suara tembakan. Bukan dari pistol, melainkan dari senapan. Tembakan itu mengenai dada Santoso. Pria tua itu tersentak, matanya melebar karena terkejut. Ia menoleh ke belakang, ke arah dari mana tembakan itu berasal.

Seorang pria berdiri di atas mercusuar. Sosok itu kurus, dengan mata yang dipenuhi kebencian. Dia adalah... Rio. Rio yang sudah dinyatakan mati.

Alya menatapnya tak percaya. Rio, yang seharusnya mati, berdiri di atas mercusuar, masih memegang senapan.

Santoso menatapnya, wajahnya pucat. “Kau… tidak mungkin…”

“Kau salah, Pak Tua,” jawab Rio, suaranya serak. “Aku tidak akan membiarkanmu menang.”

Santoso jatuh tersungkur ke tanah, darah mengalir dari dadanya. Rayhan tidak menyia-nyiakan waktu. Ia berbalik, menendang lutut Raka dengan keras. Raka menjerit kesakitan, cengkeramannya mengendur. Rayhan menarik Alya ke pelukannya, memeluknya erat.

“Kau baik-baik saja?” bisiknya.

Alya mengangguk, air mata mengalir deras di pipinya. “Aku baik-baik saja. Kau… kau datang.”

“Aku janji,” bisik Rayhan. “Aku akan menemukanmu.”

Ia berbalik, menarik Alya bersamanya. “Rio!” teriaknya. “Kita pergi!”

Rio mengangguk. Ia melompat dari mercusuar, mendarat dengan mulus di tanah. Ia berlari ke arah Rayhan dan Alya. Rayhan mengangguk padanya. Mereka bertiga berlari menuju hutan, menuju perahu karet yang sudah menunggu. Mereka berlari, meninggalkan kekacauan di belakang mereka. Meninggalkan Santoso, yang sekarat, dikelilingi oleh pasukan yang kalah.

Di dalam perahu, Alya duduk diam, memeluk lututnya. Rayhan duduk di sampingnya, mengusap bahunya dengan lembut. “Kau tidak apa-apa?”

Alya menggeleng. “Rio…” bisiknya. “Dia… dia tidak mati?”

Rio yang sedang mengemudikan perahu, menoleh ke belakang, bibirnya pucat. Ia tertawa kecil. “Aku… tidak akan mati semudah itu,” katanya, suaranya serak. “Pistol yang digunakan pengkhianat itu… pelurunya sudah dimodifikasi untuk tidak mematikan.”

Alya menatapnya tak percaya. “Kau… kenapa?”

Rio menatapnya, lalu menatap Rayhan. “Aku tidak akan pernah mengkhianati Rayhan,” katanya. “Aku tahu Rayhan akan membutuhkan bantuan, jadi aku harus melakukan ini.”

Alya menatapnya, matanya berkaca-kaca. Rio telah mengorbankan segalanya untuk mereka. Ia telah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan mereka.

“Terima kasih,” bisik Alya.

Rio hanya mengangguk, lalu berbalik, fokus pada mengemudikan perahu. Mereka melaju cepat, meninggalkan pulau kecil yang gelap itu. Rayhan mengusap rambut Alya dengan lembut. “Semua akan baik-baik saja,” bisiknya.

Alya memeluknya erat. Ia akhirnya merasa aman. Di lautan yang luas dan gelap ini, ia tidak sendirian. Ia memiliki Rayhan, dan Rio. Mereka bertiga, melawan dunia.

Rayhan dan Alya akhirnya lolos dari cengkeraman ayah angkatnya. Tapi apakah mereka benar-benar aman? Ke mana mereka akan pergi sekarang?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!