Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Jejak yang Terlupakan

Malam itu, perahu karet yang mereka tumpangi memecah keheningan air dengan suara gemericik yang nyaris tak terdengar. Lampu-lampu dari dermaga kecil di kejauhan tampak seperti kunang-kunang yang berkedip, memanggil mereka pulang. Di dalam perahu, udara dingin menusuk tulang, tetapi Alya merasa hangat dalam pelukan Rayhan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Rayhan, mendengarkan detak jantungnya yang stabil, sebuah melodi yang menenangkan setelah kekacauan yang baru saja mereka alami.

Rio, duduk di depan, mengendalikan kemudi dengan tangan yang cekatan. Wajahnya yang tegang perlahan mengendur seiring dengan semakin jauhnya mereka dari pulau itu. Ia menoleh ke belakang, tatapan matanya bertemu dengan tatapan Rayhan, sebuah pesan tanpa kata terucap di antara mereka. Sebuah rasa terima kasih dan kelegaan yang mendalam.

Setibanya di daratan, mereka menambatkan perahu di dermaga yang sepi. Udara kota yang pekat dengan bau asin laut dan asap knalpot menyambut mereka. Rayhan menggenggam tangan Alya erat, membimbingnya melangkah cepat. Mereka berjalan di antara tumpukan peti kemas dan gudang-gudang tua yang gelap, bayangan mereka memanjang di bawah cahaya lampu jalan yang redup.

"Kita akan ke mana?" Alya bertanya, suaranya pelan.

"Rumah," jawab Rayhan singkat, namun tatapannya menembus kegelapan, penuh keyakinan. "Ke tempat yang tidak pernah Santoso duga."

Mereka menaiki sebuah taksi yang sudah menunggu, disiapkan oleh salah satu orang kepercayaan Rio. Rayhan berbisik kepada sang pengemudi, "Jalan Buntu, nomor 13."

Alya mengerutkan kening. Itu bukan alamat yang biasa ia dengar. Di benaknya, Rayhan selalu identik dengan kemewahan dan pusat kota. Namun, ia diam saja, mempercayai setiap langkah yang diambil Rayhan.

Perjalanan itu membawa mereka ke pinggiran kota, melewati jalanan sempit yang dipenuhi warung remang-remang dan bangunan tua yang berdesakan. Mobil berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan cat yang sudah mengelupas. Pagar kayu yang usang dan pot-pot bunga yang tertata rapi di teras memberikan kesan sederhana dan hangat.

Saat pintu terbuka, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih menyambut mereka. Wajahnya memancarkan kehangatan dan kebaikan. Ia memeluk Rayhan erat, air mata mengalir di pipinya. "Nak, kenapa kau lama sekali? Ibu khawatir..."

Rayhan membalas pelukan itu dengan kehangatan yang sama. "Maaf, Bu. Aku baik-baik saja." Ia menoleh ke arah Alya. "Ini aku membawa Alya, Bu. Menanti Ibu. Dia pulang bersamaku."

Wanita itu tersenyum, menyambut Alya dengan tatapan mata yang lembut. "Ayo, Nak. Masuk ke dalam. Kalian pasti lelah."

Malam itu, mereka bersembunyi di tempat yang paling tidak terduga, di rumah ibu kandung Rayhan, Ibu Wiryawan. Sebuah rahasia yang ia jaga rapat-rapat, sebuah jejak yang ia yakini telah ia hapus. Ibu Wiryawan, seorang dokter yang pensiun, merawat mereka dengan penuh kasih sayang.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam ketenangan yang menipu. Rayhan dan Alya bersembunyi di rumah kecil itu, menjauh dari dunia luar. Namun, ketenangan itu tiba-tiba runtuh. Suatu malam, Ibu Wiryawan jatuh sakit. Badannya demam tinggi, napasnya tersengal-sengal, dan batuknya tak kunjung berhenti.

Alya panik. "Kita harus membawanya ke rumah sakit, Rayhan!" 

Rayhan menggeleng. "Tidak. Itu terlalu berbahaya. Santoso akan melacak kita." Ia menggenggam tangan ibunya yang gemetar. "Aku bisa merawatnya, Alya. Apa kamu lupa kalau aku ini seorang dokter? Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Pria itu menggenggam tangan sang istri. Menatapnya dengan penuh keyakinan. 

Alya balik menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Dia sampai lupa kalau suaminya ini seorang dokter terkenal. Rayhan, yang selalu ia lihat sebagai seorang yang dingin dan penuh perhitungan, kini terlihat begitu putus asa. Ia mencuci dahi ibunya dengan handuk basah, memberikan obat, dan terus-menerus memantau napasnya. Alya melihat sisi lain dari Rayhan yang belum pernah ia lihat sebelumnya: seorang anak yang ketakutan, namun bertekad untuk melindungi ibunya. Kepribadian yang dingin dan tak tersentuh selama ini berbanding terbalik dengan saat ini yang terlihat rapuh dan lemah di hadapan wanita paruh baya itu. 

Rayhan bekerja siang dan malam, merawat ibunya dengan telaten. Ia menggunakan semua kemampuan dokternya yang didapat dari kuliah bertahun-tahun serta pengalaman kerja. Ayah kandungnya juga seorang dokter bedah. Sayangnya dia tidak pernah tahu seperti apa wajahnya. Karena sang ayah meninggal secara misterius saat usianya masih 5 tahun. Namun, di tengah semua itu, sebuah kesalahan kecil terjadi.

Suatu sore, salah satu anak buah Santoso, yang secara kebetulan berpatroli di daerah pinggiran kota, melihat Rayhan sedang memapah Ibu Wiryawan di teras belakang. Ia tak yakin, jadi ia memotretnya secara diam-diam. Saat melihat potret itu dari dekat, ia melihat kemiripan yang mencolok antara wanita tua itu dan Rayhan, sebuah kemiripan yang tak bisa disangkal.

Laporan itu segera sampai ke telinga Santoso. Ia melihat potret itu, seringai kejam terukir di bibirnya. Selama ini ia berpikir telah menguasai Rayhan seutuhnya. Ia telah mengendalikan setiap aspek hidupnya, dari bisnis hingga kehidupan pribadi. Tetapi ia salah.

"Jadi, kau masih punya rahasia, Nak?" bisik Santoso, suaranya serak. "Kau masih punya titik lemah."

Ia membuang potret itu ke atas meja. "Cari tahu siapa wanita ini," perintahnya kepada anak buahnya. "Selidiki setiap inchi kehidupannya. Pastikan ini adalah ibu kandungnya." 

Santoso menerawang. Mengingat peristiwa beberapa puluh tahun yang lalu saat dirinya membuat Rayhan terpaksa mau menerima dirinya sebagai ayah angkat. 

Malam itu, ponsel Rayhan berdering. Ia melihat nama yang tidak dikenal di layar. Ada sedikit keraguan sebelum akhirnya mengangkatnya. 

"Halo?"

Suara Santoso, dingin dan penuh ancaman, menyapa telinganya. "Rayhan... aku tahu kau di mana." Hening. "Dan aku tahu kau bersama siapa."

Jantung Rayhan berdebar kencang. Ia menoleh ke arah Alya yang sedang tertidur, lalu ke arah ibunya yang masih terbaring lemah. Ia tidak tahu bagaimana Santoso bisa menemukan mereka, tetapi ia tahu bahwa hidup mereka, terutama ibunya, berada dalam bahaya besar.

"Kau salah, Santoso," kata Rayhan, suaranya berusaha terdengar setenang mungkin. "Aku tidak tahu kau bicara apa." 

Meski demikian, dada Rayhan seperti genderang sedang ditabuh. Jantung berdebar-debar.

Tawa Santoso terdengar serak. "Oh, kau tahu. Selama ini, kau selalu berpikir kau lebih cerdas dariku, Nak. Tapi kau lupa satu hal."

Rayhan mengernyit. Mencoba untuk mencerna perkataan pria tua itu. Namun karena belum menemukan jawaban yang tepat dari rasa penasarannya, akhirnya keluarlah kalimat, "Apa itu?"

"Orang yang paling kau cintai, adalah orang yang paling rentan untuk dihancurkan."

Sambungan telepon terputus. Rayhan membanting ponselnya ke lantai. Ia menoleh ke arah jendela, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam. Ia terjebak. Santoso telah menemukan kelemahan terbesarnya. Dan ia tahu, saat ini, Santoso tidak akan ragu-ragu untuk menyerang titik terlemah itu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!