Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Pilihan Mematikan

Keheningan yang mencekam itu pecah oleh deru serak Soni. Suaranya memantul dari pohon pinus, membawa bau busuk penjara dan dendam. "Serahkan istrimu, Rayhan! Atau kau lihat ibumu mati di sini!"

Rayhan merasakan cengkeraman Alya pada lengannya, getaran ketakutan yang menular. Ibu Wiryawan terbatuk lagi, suaranya seperti gerusan amplas yang menghancurkan hatinya. Rayhan menyentuh pinggangnya—pistolnya terasa dingin, berat, dan nyata.

"Rio, kunci van-nya! Jangan biarkan siapapun menyentuh Ibu, kau dengar?!" perintah Rayhan, suaranya rendah, setajam belati yang tersembunyi. "Hubungi siapapun yang kau kenal, kirim lokasi ini!"

Rio mengangguk, tanpa bicara, wajahnya terpahat tekad yang keras. Ia segera merunduk, memposisikan dirinya di antara pintu van dan kursi tempat Ibu Wiryawan terbaring, tubuhnya yang besar menjadi perisai.

"Dan kau, Sayang," Rayhan menoleh pada Alya, sorot matanya yang merah kini membara. Rasa sakit dan cinta beradu di sana. "Apapun yang terjadi, jangan keluar dari van."

"Tidak, Rayhan, jangan lakukan ini! Jangan sendirian!" bisik Alya, air mata sudah menggenang.

"Aku akan kembali," katanya, sebuah janji yang mungkin akan dilanggar.

Rayhan membuka pintu van dan melangkah keluar. Cahaya lampu mobil musuh yang menyilaukan menyinari sosoknya, membuatnya terlihat seperti patung perunggu yang siap bertarung di tengah gelapnya hutan. Ia bukan lagi seorang dokter; ia adalah seekor serigala yang melindungi sarangnya.

"Aku tahu kalian di sana, Santoso!" teriak Rayhan ke arah kegelapan. Nada suaranya penuh tantangan, sebuah umpan yang dilemparkan ke mulut buaya. "Hadapi aku! Bukan wanita dan orang sakit!"

Seketika, sebuah tembakan peringatan melesat, memecahkan ranting pohon di samping kepala Rayhan. Debu kayu jatuh ke rambutnya.

"Rayhan! Masuk!" jerit Alya dari dalam van.

Rayhan mengabaikannya. Tiba-tiba, dari kegelapan mobil musuh, sosok Soni melangkah maju. Cahaya lampu sorot menyorotnya, menampakkan seringai bengis yang kini dihiasi gigi emas. Ia didampingi dua pria bertopeng, postur tubuh mereka kekar dan terlatih.

"Permainan belum berakhir, Rayhan," raungnya. "Kau pikir bisa menjauhkan mainanku dariku? Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!"

"Kau salah target, Soni," suara Rayhan tenang, tetapi memiliki bobot baja. "Masalahmu denganku. Biarkan wanita itu pergi."

Soni tertawa, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Tidak bisa, Bosmu ingin dia menderita! Dan aku ingin hadiahku!"

Seketika, Rayhan tidak membuang waktu. Ia menarik pistolnya. Kilatan logam di bawah sinar lampu mobil menjadi satu-satunya peringatan. Ia tidak membidik Soni, melainkan menembak tanah di dekat kaki besar pria itu.

DOR!

Debu, kerikil, dan tanah beterbangan. Soni terperanjat mundur selangkah, seringainya menghilang, digantikan oleh kemarahan buta.

"Tembak dia! Jangan sampai mati!" perintah Soni dengan suara parau.

Hutan pinus itu seketika menjadi medan perang.

Tiga pria bertopeng bergerak cepat, membentuk formasi setengah lingkaran. Rayhan melemparkan dirinya ke balik van, mengambil napas dalam-dalam saat peluru pertama menghantam sisi van, meninggalkan penyok yang mengerikan. Ia mendengar teriakan pelan Alya dari dalam.

"Tutup telingamu, Sayang!" teriaknya.

Rayhan membalas tembakan, membidik lutut salah satu penyerang. Ia harus melumpuhkan mereka, bukan membunuh—tidak di depan ibunya yang sekarat.

DOR! DOR!

Penyerang itu menjerit, jatuh ke tanah, memegangi kakinya yang tertembak. Dua penyerang lainnya segera tiarap, membalas tembakan secara sporadis.

Soni, marah karena salah satu anak buahnya roboh, mengambil alih kendali. "Kepung dia! Van itu dikepung!"

Rayhan melihat ke belakang, melalui jendela van. Rio menggunakan senter ponsel untuk memeriksa Ibu Wiryawan, wajahnya pucat pasi. Batuk Ibu Wiryawan semakin intens, membuat tubuhnya melengkung kesakitan.

Waktu habis.

Rayhan harus membuat pilihan. Ia melihat celah di antara pohon. Jika ia bisa memancing Soni dan anak buahnya ke dalam hutan yang gelap, ia memiliki peluang. Tetapi van dan isinya akan rentan.

"Soni! Kau pengecut! Beraninya kau sembunyi di balik topeng!" teriak Rayhan.

Pancingan itu berhasil. Soni, yang ego besarnya mudah tersulut, melangkah maju. "Aku akan tunjukkan pengecut yang sebenarnya, Dokter!"

Soni mengangkat senapan semi-otomatisnya dan menembak brutal ke arah van, tidak peduli dengan orang di dalamnya.

DOR! DOR! DOR!

Jendela belakang van pecah berkeping-keping.

"IBU!" raung Rayhan.

Kemarahan yang murni dan mematikan memenuhi dirinya. Ia melompat dari persembunyiannya, menembak cepat ke arah Soni, tetapi peluru hanya mengenai rompi antipeluru pria besar itu.

"Dia sudah gila! Tangkap dia!" teriak Soni.

Rayhan berlari, bukan ke dalam hutan, melainkan ke samping van, membuka pintu pengemudi. Ia mengambil kotak P3K darurat. Ia melihat Alya meringkuk di jok belakang, matanya terpejam, air mata mengalir.

"Aku akan kembali," ulangnya. Ia menyerahkan kotak itu kepada Rio. "Ambil jarum dan cairan itu. Masukkan perlahan ke infus Ibu. Semoga itu bisa menstabilkan detak jantungnya."

Rio menerima kotak itu, tangannya gemetar. "Bos, bagaimana dengan Alya?"

Rayhan menatap mata Alya, yang kini terbuka, dipenuhi ketakutan dan cinta yang tak terucapkan. Ia mencium kening Alya, lama, seolah itu adalah perpisahan terakhir.

"Aku mencintaimu, Alya. Ingat itu."

Tanpa menunggu jawaban, Rayhan melompat keluar, berlari ke arah berlawanan, menjauh dari van.

"Dia lari! Kejar dia!" teriak Soni. "Biarkan dua orang tinggal di van! Jaga dia! Aku mau Dokter brengsek itu hidup-hidup!"

Rayhan berlari sekuat tenaga di kegelapan hutan. Ia mendengar langkah kaki berat Soni dan anak buahnya mengejarnya. Ia tahu ia hanya punya waktu beberapa menit sebelum para penjahat itu menyadari bahwa van adalah target yang lebih mudah.

Aku harus mengulur waktu.

Rayhan menemukan sebuah pohon pinus besar yang tumbang. Ia bersembunyi di baliknya, napasnya memburu. Ia mendengar Soni semakin dekat.

"Dia di sekitar sini, brengsek! Keluarlah!" Soni mengayunkan senjatanya liar.

Rayhan mengambil ponsel Rio yang tadi sempat ia pegang, memencet tombol panggilan darurat, dan melemparnya sekuat tenaga ke arah yang berlawanan. Suara ponsel jatuh di semak-semak menarik perhatian.

"Sana! Dia ada di sana!" teriak salah satu pria bertopeng.

Soni dan anak buahnya bergegas menuju suara itu. Itu adalah momen yang Rayhan tunggu-tunggu.

Ia keluar dari balik pohon tumbang, membidik, dan menembak.

DOR! DOR! DOR!

Dua penyerang yang mengejar jatuh, berteriak kesakitan. Soni, yang masih mengenakan rompi antipeluru, berbalik dengan mata merah.

"Kau akan menyesali ini, Rayhan!"

Mereka kini berhadapan, hanya terpisah oleh jarak tiga puluh meter hutan pinus yang gelap dan berbau getah. Rayhan kehabisan peluru. Ia membuang pistolnya yang kosong.

"Ayo, Soni. Kita selesaikan seperti pria," tantang Rayhan.

Soni menyeringai. "Sesuai keinginanmu, Dokter."

Soni menjatuhkan senapannya dan menarik pisau besar dari sarungnya. Ia bergerak maju, bayangan gelap di bawah rembulan yang tersembunyi.

Di dalam van, Rio dengan tangan gemetar berhasil memasukkan cairan penstabil ke infus Ibu Wiryawan. Wanita tua itu terbatuk pelan, tetapi napasnya sedikit melambat.

Rio menoleh ke Alya. "Nona, Ibu akan baik-baik saja. Tapi Bos..."

Alya menggeleng. Matanya terpaku pada dua bayangan yang tersisa di luar, menjaga van. Salah satunya berdiri di depan pintu belakang.

"Dia mengorbankan dirinya," bisik Alya, suaranya dipenuhi tekad yang mengerikan. Ketakutan di matanya berganti menjadi nyala api yang dingin. Ia tidak bisa membiarkan Rayhan mati sendirian.

Alya melihat kunci inggris di bawah kursi pengemudi. Ia mengambilnya, merasakan berat logam itu di tangannya.

"Rio," katanya, suaranya stabil, bukan lagi gadis yang ketakutan. "Tolong awasi Ibu. Aku akan mengurus dua orang ini."

Rio terkejut. "Nona, tidak! Itu terlalu berbahaya!"

Alya tersenyum dingin. "Mereka datang untukku. Aku akan memberikan apa yang mereka inginkan."

Ia tidak menunggu jawaban. Alya membuka pintu van perlahan, tanpa suara. Bayangan dari masa lalu datang untuknya, tetapi kali ini, Alya tidak akan menjadi mangsa. Ia akan menjadi pemburu.

Ia merayap keluar, kunci inggris di tangan. Angin malam berbisik di hutan, membawa aroma pinus yang tajam. Ia mengarahkan pandangannya pada pria bertopeng yang membelakanginya, menjaga pintu belakang.

Alya mengangkat kunci inggris itu tinggi-tinggi. Tidak ada keraguan, hanya kebutuhan untuk melindungi dua orang yang ia cintai.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!